IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.108 Rencana Jahat


__ADS_3

Vaya kembali berlari, ia mencari Roy. Dalam benaknya, hanya Roy lah satu-satunya harapan. Ia mencoba bertanya pada setiap siswa yang ia temui untuk mencari keberadaan Roy. Sialnya bel tanda masuk lebih dulu berbunyi sebelum ia menemukan Roy. Vaya lebih memilih untuk kembali ke kelas dan mengirimkan pesan untuk Roy.


[Temui aku di ruang musik istirahat nanti.]


Meski merasa kurang nyaman dengan semua orang di dalam kelas, Vaya tetap berusaha bertahan. Gadis itu memasang muka tebal, dengan membuat matanya buta dan telinganya tuli.


Wali kelas yang biasanya suka memujinya kini juga bersikap apatis padanya. Entah karena perasaannya yang terlalu sensitif atau kah memang demikian adanya, Vaya melihat tatapan semua orang padanya sudah berbeda, sangat berbeda.


Setelah berjuang keras berada dalam lingkungan yang tak menyukainya, akhirnya yang ia tunggu-tunggu pun tiba. Bel istirahat berbunyi, dengan segara Vaya pergi ke ruang musik. Di sana rupanya Roy sudah menunggunya.


"Ada apa kau memanggilku kemari?" tanya Roy to the point.


"Aku ingin kita bekerja sama untuk memberi pelajaran pada Ivona. Kau juga membencinya, bukan?"


Roy terkesiap dengan pertanyaan Vaya. "Apa maksudmu?" tanya Roy pura-pura.


"Jangan berpura-pura bodoh lagi, aku melihat semuanya. Di pesta keluarga Smith, Ivona telah merendahkanmu sedemikian rupa. Sebagai seorang laki-laki apa kau tidak merasa marah, hah?"


Roy mengetatkan rahangnya, mengingat kejadian itu. "Apa yang akan kau lakukan?"


"Bukan aku, tapi kita." Vaya mendekat, kemudian membisikkan sesuatu pada Roy. "Bagaimana?"


"Apa kau serius dengan rencanamu? Itu sangat berbahaya bukan hanya untuk Ivona tapi juga untuk kita, Vaya," ujar Roy mengingatkan.


"Terkadang kita harus berani mengambil resiko untuk hasil yang memuaskan."


Roy yang awalnya ragu, akhirnya menyetujui usul Vaya. Ia juga sangat kesal dengan sikap Ivona yang selalu merendahkannya ketika bertemu.


"Tunggu kami Ivona, kau akan mendapatkan kejutan besar." Vaya dan Roy sama-sama menyeringai, mengingat rencana jahat mereka.


Jam pelajaran terus berlalu, hingga tiba waktunya bel sekolah berbunyi untuk terakhir kalinya di hari itu. Mengakhiri kegiatan belajar mengajar. Semua siswa bergegas untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.


"Iv ... bolehkah kita pulang bersama hari ini?"

__ADS_1


Ivona yang sedang membereskan bukunya, mendongak menatap Beny. "Aku harus pergi ke ruangan Mr.Harry terlebih dulu untuk membicarakan soal kompetisi fisika tahun ini."


"Aku akan menunggumu," jawab Beny bersemangat.


Ivona hanya menggedikkan bahu. Ia biarkan saja si monster gendut mengikutinya ke ruang guru.


"Aku akan menunggumu di sini, Iv," ujar Beny ketika sudah sampai di depan ruangan Mr.Harry.


Ivona tidak menanggapi ucapan Beny, ia langsung mengetuk pintu ruangan guru yang akan jadi pembimbingnya itu.


"Masuklah!" terdengar suara dari dalam yang mengijinkan Ivona masuk.


"Selamat sore, Mr. Harry," sapa Ivona.


"Hai Ivona, selamat sore," jawab Mr. Harry ramah. "Duduklah!"


"Terima kasih," ucap Ivona sebelum duduk di depan Mr.Harry.


Mr.Harry langsung mengambil modul untuk diberikan kepada Ivona. "Kau bisa mempelajarinya dulu di rumah, nanti saat bimbingan belajar, kau bisa menanyakan mana saja yang tidak kau mengerti," ujar Mr.Harry.


"Ya, kau harus berusaha dengan giat untuk bisa mempertahankan gelar juara sekolah kita. Tentu aku dan juga semua warga G-school akan sangat berharap padamu pada kompetisi tahun ini."


"Terima kasih atas kepercayaannya, saya akan berusaha untuk tidak mengecewakan."


Mr.Harry tersenyum bangga melihat semangat Ivona. Ia sangat berharap pada Ivona untuk kompetisi tahun ini, pasalnya bukan jalan yang mudah ketika ia memutuskan untuk memilih Ivona, karena setelah diadakan rapat dewan guru banyak yang tidak setuju ketika dirinya menunjuk Ivona. Namun, Mr. Harry punya keyakinan besar pada Ivona, jika tahun ini Ivona akan memberikan hasil yang lebih baik dari peserta tahun sebelumnya.


"Jangan ragu untuk bertanya apa pun yang tidak kau mengerti, aku bersedia membantumu kapan pun kau butuhkan," ujar Mr.Harry.


"Sekali lagi terima kasih atas kepercayaannya Mr.Harry, jika sudah tidak ada lagi yang ingin Anda bicarakan saya mohon pamit."


"Baiklah, jangan lupa pelajari semua dengan baik."


Ivona keluar dari ruangan Mr.Harry, tapi ia tidak melihat Beny di mana pun. "Kemana orang itu, katanya menunggu," ujar batin Ivona.

__ADS_1


"Ah ... biarkan saja, aku lelah jika harus menunggunya. Sebaiknya aku segera pulang dan beristirahat." Ivona pun memutuskan untuk keluar sekolah lebih dulu. Ia berjalan sendirian melewati koridor yang sudah sepi karena memang murid-murid sudah banyak yang pulang.


Beny baru saja kembali dari toilet, ia pun duduk lagi di depan ruangan Mr.Harry. Ia tidak tahu kalau Ivona sudah lebih dulu pergi. Beny baru menyadari ketika Mr. Harry keluar dari ruangannya. Beny yang bingung mulai bertanya, "Pe-permisi Mr.Harry, a-apakah Ivona masih ada di dalam?"


Mr. Harry menatap Benny dengan aneh. "Dia sudah pergi beberapa waktu lalu."


"Apa?" pekik Beny, kemudian menutup mulutnya sendiri karena sadar sudah bersikap tidak sopan di depan gurunya. "Ma-maafkan saya, Mr.Harry. Saya hanya terkejut karena sejak tadi saya menunggu Ivona di sini. Kalau boleh saya tahu ke mana arah Ivona pergi?"


Mr. Harry mendelik. "Aku tidak tahu!" Mr. Harry langsung meninggalkan Beny, yang tidak sopan.


Beny menoleh ke kanan dan kirinya, ia bingung menentukan arah ke mana harus menyusul Ivona. "Iv, kau ke mana?"


Beny berjalan ke kanan, tapi baru beberapa langkah ia ragu, takut salah jika Ivona memilih jalan ke kiri. Ia pun berbalik dan berjalan ke arah kiri, tapi baru juga beberapa langkah keraguan kembali menyergapnya.


"Iv, kau ke mana?" batinnya bimbang. Akhirnya Beny kembali ke arah kanan, dan mencoba berlari untuk mengejar Ivona.


Ivona terus berjalan dalam lorong sepi, telinganya mendengar sesuatu yang aneh dan membuatnya curiga. Ivona berhenti dan menoleh ke belakang. Tidak ada apa pun dan siapa pun.


Ia menggelengkan kepalanya. Mungkin hanya perasaannya saja. Ivona pun kembali berjalan, tapi baru juga beberapa langkah, ia kembali merasa ada seseorang yang mengintainya.


Ivona menghembuskan napas kasar. Merasa kesal dengan orang yang berbuat iseng padanya kali ini.


"Kalau sampai aku menangkapmu, aku pasti akan mencincangmu!" geram Ivona.


Berusaha mengabaikan prasangkanya, Ivona kembali berjalan. Ia hampir sampai di pintu keluar, tapi ada sekelebatan bayangan yang membuatnya merasa harus mengikuti bayangan itu.


"Siapa itu?" seru Ivona. Ia pun berlari mengejar sosok mencurigakan itu. Tanpa Ivona sadari ia sudah berlari cukup jauh, sampai ke bagian belakang gedung sekolah.


Ivona berhenti saat merasa tak bisa mengejar sosok itu. Ia membungkuk, tangannya memegang lututnya, lalu mengatur napasnya yang terengah.


"Lihat saja, aku tidak akan mengampunimu jika kau berniat jahil padaku!" gumam Ivona.


Merasa sudah lebih baik, Ivona kembali berdiri tegak. Ia biarkan saja orang iseng itu, dan beniat untuk pergi. Saat baru akan melangkah, datang seseorang dari arah belakang Ivona secara tiba-tiba dan langsung membekap mulut Ivona.

__ADS_1


Ivona berusaha meronta, tapi tubuhnya serasa semakin lemas bersamaan dengan aroma bius yang ia hirup. Hingga akhirnya Ivona benar-benar tak sadarkan diri.


__ADS_2