IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.26 Polos


__ADS_3

Gosip menyebar lebih cepat dari angin berembus. Kabar tentang perilaku Ivona yang buruk sampai juga ke telinga Vaya. Tentu saja hal itu membuat Vaya senang, tanpa ia harus bersusah payah Ivona sendiri yang justru membentuk image diri yang buruk.


Vaya sadar jika temperamen Ivona sudah berubah jauh dari sebelumnya, dari gadis introvert menjadi gadis penentang yang liar. Meski begitu, tak mengubah fakta tentang penilaian Vaya. Di mata Vaya, Ivona tetaplah gadis bodoh dengan kehidupan yang biasa saja, dan selamanya akan begitu.


Vaya menikmati sekali pemandangan di sepanjang koridor sekolah, senyum licik terukir indah di bibirnya. Para siswa membentuk gerombolan-gerombolan kecil dan asik membicarakan gosip tentang Ivona.


"Kalau bukan karena wali kelas kita, aku pasti akan membuatnya menyesal pernah masuk ke sekolah ini," ujar Kelly pada teman-teman satu gengnya.


Gadis itu menunjukkan kekesalannya sekaligus sikap sok berkuasanya agar semakin disegani teman-temannya. "Coba saja kalau tadi Mr.Patrick tidak memperingatkanku, sudah tentu aku membuat anak pindahan itu menangis memohon ampun padaku," sambungnya dengan jemawa.


"Kau tidak usah khawatir, akan ada lain kali untuk memberi pelajaran pada anak baru itu, dan kami akan selalu mendukungmu," jawab Jessica. Ia melirik kedua temannya meminta persetujuan.


Merry dan Margaretha pun mengangguk menyetujui ucapan Jessica.


"Kurasa kita harus menyusun rencana yang baru untuk membalas perlakuan anak pindahan itu," ujar Margaretha.


Kelly terlihat berpikir, rencana apa yang akan membuat Ivona tunduk kepadanya.


Vaya yang mendengar pembicaraan Kelly dan teman-temannya pun langsung ikut bergabung. "Apa kalian juga membicarakan topik yang sama?" tanya Vaya yang tiba-tiba berdiri di sebelah Kelly.


Kelly dan ketiga temannya kaget, serempak mereka terdiam.


"Tidak usah kaget begitu, kita di pihak yang sama, bukan?" Vaya tersenyum pada Kelly dan teman-temannya.


"Aku akan memberitahu satu rahasia pada kalian tentang Ivona," ucap Vaya dengan mata berbinar.


Kelly menatap curiga pada Vaya, begitupun ketiga temannya.


"Tapi ... kalian harus janji kalau kalian tidak akan menyebarkan berita ini pada siapa pun," sambung Vaya. Matanya menatap keempat orang dihadapannya secara bergantian.


Meski tak sepenuhnya yakin dengan Vaya, tapi Kelly dan ketiga temannya kompak mengangguk.


"Sebenarnya, Ivona itu adalah mantan pasien rumah sakit jiwa," ucap Vaya, yang membuat Kelly dan teman-temannya kaget tak percaya.


"Aku serius," imbuh Vaya meyakinkan.


"Bagaimana bisa ia masuk rumah sakit jiwa?" tanya Merry penasaran.

__ADS_1


"Sebenarnya ini adalah cerita lama, tapi tidak masalah. Aku akan mengulangnya untuk kalian," Vaya tersenyum sendiri, seolah memperlihatkan niatnya yang baik pada teman-temannya karena mau berbagi informasi.


"Ivona pernah mendorongku jatuh dari tangga dengan sengaja. Anak itu seperti memiliki kontrol emosi yang buruk. Terkadang dia menjadi anak yang manis dan pendiam, tapi di saat yang sama ia bisa berubah menjadi monster yang menakutkan. Seperti yang kalian lihat di kelas," ujar Vaya yang membuat cerita secara berlebih-lebihan untuk membuat teman-temannya percaya akan opini yang ia bangun.


"Karena hal itu Kakak-kakakku memasukkannya ke rumah sakit jiwa, tentu saja karena mereka tidak ingin membuatku dalam bahaya jika Ivona berada di dekatku," sambungnya.


Kelly dan teman-temannya semakin terkejut dengan pengakuan Vaya.


"Apa kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Vaya.


keempat orang di hadapannya kompak menggeleng.


"Sejak itu, Ivona semakin marah. Dia terus saja mengamuk di rumah sakit jiwa, hingga pihak rumah sakit harus memberinya suntikan penenang untuk mengendalikan Ivona."


Kelly dan ketiga temannya semakin khidmat mendengarkan cerita Vaya.


"Namun setelahnya, Ivona justru berubah menjadi gadis yang pendiam dan selalu menyendiri. Dia berubah menjadi gadis yang aneh, bahkan di sekolah lamanya dulu, dia pernah disarankan untuk keluar dari sekolah," ucap Vaya begitu meyakinkan. Terlihat raut-raut yang percaya akan apa yang Vaya ceritakan.


"Apa kejiwaannya seburuk itu?" tanya Margaretha.


"Kau pikir aku berbohong!" jawab Vaya tersinggung.


Vaya memperlihatkan raut kecewa. "Itu semua karena peran keluargaku yang sangat kasihan pada gadis menyedihkan seperti dia. Kalian tahu bukan jika keluargaku memiliki pengaruh di sekolah ini."


"Bagaimanapun, keluargaku bukanlah orang yang tidak memiliki rasa belas kasih, sebab itulah mereka memasukkan Ivona ke sekolah ini," sambungnya dengan niat sombong.


Kelly yang mendengar penuturan Vaya terhadap Ivona hanya bisa tersenyum dingin. Kelly tahu benar apa tujuan Vaya, ia merendah untuk sombong. Bahkan bisa dinilai dari ceritanya, jika Vaya begitu membenci Ivona. Inilah kesempatan Kelly untuk memanfaatkan Vaya.


"Aku tidak menyangka jika keluarga Iswara benar-benar memiliki hati yang mulia, mereka bahkan tidak segan membiayai seorang gadis gila untuk bisa satu sekolah dengan putri kesayangannya," ujar Kelly.


"Begitulah keluargaku." Vaya menggedikkan bahunya.


"Tapi ... gadis gila tetaplah gila." Kelly tersenyum meremehkan.


"Aku akan membuatnya kembali ke rumah sakit jiwa, agar dia sadar di sanalah tempat yang seharusnya ia berada. Untuk itu, kau harus membantuku." Kelly menatap Vaya dengan serius.


Mereka pun tersenyum seolah setuju untuk berkonspirasi.

__ADS_1


___________________


Saat pulang sekolah, Ivona menemukan ada panggilan tak terjawab dari nomor luar negeri yang menelepon ponselnya berkali-kali. Ini adalah nomor Marcus, pria yang sebelumnya sempat bertelepon dengannya untuk mengajaknya berimigrasi dan berkembang di negaranya. Ivona tahu mengapa orang ini begitu gigih membujuknya, karena makalah akademisnya yang terarah dan data yang visualisasi yang ia kirim.


Ivona langsung menelepon nomor tersebut dan langsung diangkat.


"Halo," sapa Marcus.


"Halo, ini aku Ivona," jawab Ivona.


"Oh ... ya, Ivona. Bagaimana, apa kau sudah memikirkan tawaranku sebelumnya?" tanya Marcus tak sabar.


"Apa yang bisa kau berikan jika aku bergabung dengan perusahaanmu?" tanya Ivona percaya diri.


"Apa pun yang kau inginkan," jawab Marcus. Pria ini sangat tertarik dengan kemampuan komputasi yang dimiliki Ivona, sebab itu ia berpikir akan sangat menguntungkan jika Ivona bisa bergabung dengan perusahaannya.


"Berikan aku gaji tiga bulan di awal," jawab Ivona tegas.


"Tidak masalah, asalkan kau bisa bergabung dengan kami di sini secepatnya," jawab Marcus.


"Kirimkan kontrak kerjanya," pinta Ivona.


"Secepatnya," jawab Marcus.


Akhirnya, Ivona setuju untuk menandatangi kontrak kerjasama sementara dengan perusahaan milik Marcus.


Ivona menutup panggilannya dan memasukkan ponselnya ke dalam tas. Saat ia berbalik akan pergi, Ia dikejutkan dengan keberadaan William yang tengah berdiri di belakangnya. Dalam hati, Ivona takut jika William mendengar semua percakapannya tadi dengan Marcus, terlebih saat tatapan William yang terarah padanya. Pria itu seolah menatapnya penuh rasa curiga.


"A-apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ivona sedikit gugup.


Bukannya menjawab William justru menatapnya lebih lekat, seolah tak ingin melewatkan satu inchi pun dari bagian tubuh Ivona. Hal ini semakin membuat Ivona gusar.


"Apa yang kau lakukan, apa kau ingin berbuat kurang ajar denganku!" sentak Ivona yang tak tahan dengan tatapan mencurigakan William.


"Kenapa kau polos sekali?" ucap William setengah sadar.


"Apa?" pekik Ivona.

__ADS_1


Apa yang dimaksud pria ini. Apa maksudnya mengatakan dirinya polos?


__ADS_2