IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab. 59 Darah Keluarga Iswara


__ADS_3

"Selamat malam," sapa Ivona yang baru datang.


Semua mata menatap ke arah pintu masuk di mana Ivona tengah berdiri di sana. Ivona menyadari tatapan-tatapan tidak suka dari keluarganya, tapi hal itu tidak membuatnya urung untuk melangkah masuk. Tujuannya datang ke kediaman besar ini hanyalah untuk kakeknya dan ia tidak peduli dengan orang yang tidak menyukai dirinya.


Dari semua mata yang menatap benci padanya, ada Kakek yang terlihat bahagia dengan kedatangannya. Pria tua itu langsung menyambut Ivona dengan hangat. "Selamat datang, Ivona," ucap kakek menjawab salam dari Ivona.


Ivona langsung memeluk kakeknya. "Bagaimana kabar, Kakek. Apakah lebih baik?"


"Kau bisa lihat sendiri keadaan kakekmu ini, aku masih berjuang untuk selalu sehat agar bisa melihatmu menikah," gurau Kakek.


Thomas, Kakek, dan Ivona tertawa dengan kelakar yang dibuat kakek. Tidak bagi Nyonya dan Tuan Iswara, juga Vaya, mereka terlihat kesal dengan sikap kakek pada Ivona. Terutama Vaya, orang tua itu menunjukkan sikap yang jauh berbeda dalam memperlakukan dirinya dan Ivona. Hal tersebut membuat Vaya merasa sakit hati.


"Tentu saja, Kek. Kakek harus tetap bersemangat untuk bisa mengantarku ke altar pelaminan nanti," jawab Ivona dengan gurauan yang serupa.


Thomas bahkan tertawa melihat interaksi Ivona dan kakeknya.


"Untuk semua itu, Kakek harus tetap sehat. Kakek harus mengikuti kata dokter untuk melakukan pengobatan demi kesembuhan Kakek," timpal Thomas.


Kakek menghela napas berat. "Kalau aku boleh jujur, sebenarnya aku sudah tidak ingin lagi berobat. Semua pengobatan itu menyiksaku. Obat yang sangat pahit, kemoterapi yang menyakitkan. Rasanya aku ingin menyerah saja," ucap Kakek, yang membuat Ivona dan Thomas merasa sedih.


Di usia senjanya, Kakek harus berjuang melawan penyakitnya. Meminum obat secara rutin dan suntikan yang begitu menyakitkan bagi raga tuanya.


"Kakek tidak boleh berkata seperti itu, kakek harus bersemangat untuk tetap sehat. Apa kakek tidak mau menggendong cicit dari Ivona?" ucap Thomas, berusaha untuk menghibur Kakek.

__ADS_1


Spontan Ivona mendelik ke arah Thomas. Apa maksud kakaknya ini, ia bahkan masih anak sekolah dan belum pantas membicarakan pernikahan. Sekarang malah Thomas berbicara soal anak.


"Kenapa, kau tidak perlu malu. Kau sudah besar sekarang, aku yakin akan ada banyak pemuda yang menyukaimu dan berebut untuk menjadi kekasihmu. Dan bila saat itu tiba, sudah dipastikan tidak lama lagi kau akan menikah dan memberikan cicit untuk Kakek. Bukan begitu, Kek?" tanya Thomas mencari dukungan dari kakeknya.


Tuan Besar Iswara tertawa menanggapi ucapan Thomas, sementara Ivona mencibirkan bibirnya pada sang kakak. Tawa yang sudah lama hilang dari Kakek, kini bisa kembali dilihat oleh semua anggota keluarga.


Kakek tertawa hingga terbatuk-batuk, dan itu membuat Thomas dan Ivona khawatir seketika.


"Kek, kakek tidak apa, kan?" seru Thomas dan Ivona bersamaan. Thomas yang masih berdiri di samping kakeknya langsung mengusap punggung kakek untuk meredakan batuk Kakek.


"Sudah, tidak apa-apa," Tuan Besar Iswara memberi isyarat tangan pada Thomas agar berhenti mengusap punggungnya.


"Kau lihat Ivona, aku sudah sangat lemah. Aku tidak tahu apakah bisa melihatmu menikah atau tidak. Tapi satu yang harus kau ketahui," ucap Kakek menjeda kalimatnya.


"Selama aku masih bisa bernapas, aku akan terus berusaha untuk menjagamu." Tuan Iswara mengusap lengan Ivona.


Nyonya Iswara dan Vaya semakin dibuat terkejut dengan pengakuan Tuan Besar Iswara. Bagaimana bisa ayah mertuanya ini berkata hal yang pilih kasih di hadapan Ivona dan Vaya.


"Ayah, bukan hanya Ivona yang harus ayah jaga ada Vaya juga, yang merupakan cucu ayah," sela Nyonya Iswara. Jujur saja ucapan ayah mertuanya membuat ia tidak nyaman terutama pada Vaya yang merasa disisihkan oleh kakeknya.


Tuan Iswara yang tidak suka disela kembali menatap tajam menantunya.


"Maafkan aku, Ayah. Aku hanya ingin Ayah bersikap adil pada Vaya dan Ivona. Lagi pula Vaya tidak pernah mengecewakan Ayah, bukan salah Vaya jika ia tidak memiliki darah keluarga Iswara. Tapi sejak bayi kita merawatnya dengan penuh kasih sayang," ucap Nyonya Iswara mencoba mengingatkan ayah mertuanya jika dulu ia pernah sangat menyayangi Vaya.

__ADS_1


"Dan juga, Vaya sudah sangat membanggakan keluarga ini dengan berbagai prestasinya. Tidak ada yang tidak memuji Vaya dengan bakatnya," imbuh Nyonya Iswara.


"Sementara Ivona, dia masih harus banyak belajar dari Vaya untuk mengendalikan emosinya yang tidak stabil agar tidak terus menerus membuat masalah di kemudian hari." Nyonya Iswara tersenyum kepada Vaya, memperlihatkan jika ibunya itu masih akan selalu ada untuk Vaya.


"Kau benar, Ivona memang masih harus banyak belajar dari Vaya ...."


Nyonya Iswara terlihat senang mendengar ucapan ayah mertuanya yang belum selesai. Akhirnya sang ayah mertua setuju dengan pemikirannya kali ini.


"Karena bagaimanapun, Ivonalah yang memiliki garis keturunan keluarga Iswara. Ia yang akan menyandang nama Iswara di belakang namanya, bukan Vaya."


Nyonya Iswara dan Vaya membulatkan matanya, menatap heran pada Tuan Besar Iswara yang ternyata masih saja membela Ivona.


"Kakek benar, bagaimanapun perilaku Ivona, dialah Nona Muda Iswara yang sesungguhnya. Kita harus tetap memberikan dukungan pada Ivona untuk memperbaiki diri agar bisa menunjukkan pada semua orang jika dirinyalah putri tunggal keluarga Iswara," timpal Thomas, yang semakin membuat Nyonya Iswara dan Vaya beralih menatap pemuda itu dengan tidak suka.


"Thomas, apa maksudmu? Vaya juga adikmu!" sentak Nyonya Iswara.


Thomas tertawa kecil. "Itu dulu, Ma, sebelum aku tahu siapa adik kandungku. Sekarang bagiku, adikku hanyalah Ivona. Bukankah memang demikian, aku hanya memiliki seorang adik perempuan yang Mama lahirkan," jawab Thomas.


"Thomas, jaga bicaramu!" sentak Tuan Iswara. "Kau tidak boleh berkata kasar seperti itu!" sambungnya.


Tuan Iswara tidak memungkiri apa yang Thomas katakan, karena memang benar, hanya Ivona satu-satunya putri yang dilahirkan istrinya. Namun, ia juga tidak ingin menyakiti Vaya yang saat ini tidak mendapatkan dukungan dari siapa pun selain dirinya dan istrinya.


Sejak Ivona kembali hadir dalam kehidupan mereka, Vaya seolah terlupakan. Sikap Tuan Besar Iswara berubah total, ia menjadi lebih berpihak dan menyayangi Ivona. Sekarang pun, Thomas menunjukkan sikap yang sama. Tidak lagi menyayangi Vaya seperti dulu, putra ketiga keluarga Iswara itu terlihat sangat melindungi Ivona.

__ADS_1


Dalam perdebatan yang terjadi antara anggota keluarga Iswara, mereka melupakan Vaya yang menjadi objek pembicaraan. Sedari tadi, Vaya hanya bisa mengepalkan tangannya, menahan segala amarahnya di sana. Vaya sedang berjuang keras untuk mengendalikan diri agar tidak menumpahkan segala kekesalannya atas perlakuan Kakek dan Thomas. Gadis itu tidak ingin memperlihatkan sisi buruknya pada semua anggota keluarga yang akan merugikan dirinya sendiri.


__ADS_2