
"Hai, Iv?" sapa Valia. Wanita yang sedang duduk bersama Alexander.
"Hai," jawab Ivona dari atas tangga.
"Kau baru bangun?" tanya Valia, yang dijawab dengan senyum datar oleh Ivona.
"Maaf jika aku mengganggu waktu kalian tapi pamanku sangat tidak sabar untuk segera memulai bisnis dengan Alexander. Karena kemarin aku tidak bisa bertemu dengan Alexander makanya aku datang kemari pagi-pagi sekali," jelas Valia. Padahal Ivona tidak butuh penjelasan apa pun dari wanita itu.
"Aku janji akan menyelesaikan urusanku dengan cepat agar tidak mengganggu kalian." Mata Valia mengerling pada Ivona.
"Lanjutkan saja, kalian tidak perlu terburu-buru. Aku akan kembali ke kamarku," jawab Ivona, lalu berbalik kembali ke kamar Alexander.
Meski sedikit kesal tapi Ivona berusaha meredamnya. Perasaannya selalu tidak suka dengan wanita bernama Valia itu. Ia tidak tahu pasti dari mana datangnya Valia, tapi firasatnya selalu menolak kehadiran wanita itu.
Apakah ia cemburu? Entahlah.
"Tidak, Ivona, itu bukan cemburu. Kau hanya tidak menyukai Valia," sangkalnya dalam hati.
Dari pada memikirkan Valia, lebih baik Ivona mandi dan menyegarkan syaraf-syarafnya yang tegang. Air hangat dengan aroma terapi akan membuatnya lebih rileks dan segar kembali.
Benar saja, setelah hampir satu jam lebih berendam Ivona merasakan kesegaran di tubuhnya. Ivona sengaja menggunakan sabun milik Alexander karena ia suka aroma pria itu. Mulai dari parfum, sampo, hingga sabun, Ivona suka.
Ivona keluar dari kamar mandi bersamaan dengan Alexander yang membuka pintu kamar. Pria itu terkesiap melihat Ivona hanya berbalut handuk yang melilit di bawah ketiaknya.
"Maaf, aku tidak tahu kalau kau sedang mandi." Alexander kembali keluar dan menutup pintu. Padahal tadi itu bukan kali pertama Alexander melihat Ivona selesai mandi. Dulu, saat ia membawa Ivona dari rumah sakit jiwa, Alexander pernah melihatnya saat di hotel. Tetapi ada yang berbeda dari Ivona yang dulu dengan yang sekarang. Status Ivona saat itu dengan saat ini telah berubah. Oleh karena itu, Alexander lebih memilih mencari aman. Dia pun memilih keluar.
Selesai berganti baju, Ivona meminta Alexander untuk mengantarnya pulang ke rumah keluarga Iswara.
"Apa kau masih marah?" tanya Alexander di sela-sela mengemudi.
"Tidak," jawab Ivona lugas.
"Lalu kenapa kau terburu-buru pulang?"
"Aku harus mempersiapkan kuliahku."
__ADS_1
Alexander mengangguk. Ia mengerti maksud Ivona. "Kulihat kakekmu sudah sembuh, itu artinya kau harus kembali ke vila dan tinggal bersamaku."
Ivona langsung menoleh, menatap Alexander yang fokus pada jalanan yang ramai.
"Tidak bisakah aku tinggal dengan keluargaku?"
"Aku akan kesepian tanpa mu."
Ivona langsung terdiam tapi dalam hatinya ia tersenyum dengan ucapan Alexander yang selalu seperti madu.
"Kau tidak masuk?" tanya Ivona saat mereka sudah sampai di mansion keluarga Iswara.
"Tidak, sampaikan saja salamku untuk keluargamu. Aku akan langsung ke kantor."
Ivona mengangguk paham. "Baiklah, aku turun dulu."
Ivona mencium pipi Alexander sebelum keluar, lalu berucap, "Terima kasih." Ia memegangi liontin di lehernya.
Alexander hanya bisa tersenyum sembari mengusap pipi yang dicium oleh Ivona. Ia melihat keluar di mana Ivona sedang melambaikan tangan padanya.
"Kau baru pulang?" tanya Kakek.
Ivona mendekati orang tua itu. "Maafkan Ivona, Kek, karena tidak memberi kabar."
"Tidak apa, kakek percaya dengan Alexander."
Ternyata benar ucapan Alexander, kalau kelurga akan percaya pada pria itu.
"Kau ke mana saja dengan pria itu, Iv?" tanya Rio
"Aku pergi ke Philip Island, lalu Alexander membawaku pulang ke vila miliknya," jelas Ivona.
"Apa Alexander yang memberimu kalung itu?" tanya Nyonya Iswara setelah pandangannya tak lepas dari benda mahal yang tergantung di leher Ivona. Kakek dan juga Rio langsung ikut mengamati apa yang Ivona pakai di lehernya.
"Iya, Alexander yang memberikannya padaku," jawab Ivona jujur.
__ADS_1
"Apa pria sombong itu melamarmu?" tanya Rio, seolah menginterogasi.
"I-itu ____" Ivona bingung harus menjawab apa. Ia belum siap jujur karena hubungannya baru saja terjalin.
"Sudah ... sudah, tidak peduli apakah Alexander melamar Ivona atau tidak. Nanti jika saatnya tiba mereka pasti akan berbicara. Sekarang biarkan Ivona ke kamarnya," tutur Kakek Iswara menyelamatkan Ivona dari situasi tidak nyaman ini.
Ivona langsung bisa bernapas lega karena tak harus menjawab pertanyaan Rio—kakak pertamanya. Tak melewatkan kesempatan yang sudah diberikan oleh kakek, Ivona segera pamit dan meninggalkan ruang tamu.
___________________
Hari-hari Ivona mulai disibukkan dengan aktifitas perkuliahan. Ia sengaja untuk tidak sering bertemu dengan Alexander agar bisa sama-sama fokus pada hal yang harus mereka prioritaskan. Untuk saat ini, fokus Ivona adalah kuliah dan prioritas Alexander adalah pekerjaan. Proyek baru yang bekerjasama dengan Valia mulai berjalan dan Ivona tak ingin menganggu itu.
Di universitas tempat Ivona menimba ilmu, tidak sedikit siswa yang berasal dari G-school. Seperti William misalnya, pria itu masih satu sekolah dengan Ivona. Hanya jurusannya saja yang berbeda. Hampir setiap hari Ivona bertemu dengan William. Namun, sikap William sudah berubah pada Ivona. Ketika mereka tanpa sengaja berpapasan, William seolah tidak kenal dengan Ivona. Jangankan menyapa, melirik Ivona saja tidak.
Untung saja Ivona tak peduli dengan hal itu. Lagi pula dari dulu ia lebih memilih untuk tidak dengan dekat siapa pun juga. Tetapi hatinya mengkhianatinya sendiri, karena sekarang ia justru menerima cinta Alexander.
Waktu berlalu dengan rutinitas Ivona yang selalu sama. Bangun tidur, kuliah, pulang, makan dan tidur kembali. Tidak jauh berbeda dengan di G-school, Ivona memilih untuk tidak banyak berteman. Waktu luang yang ia punya lebih suka ia gunakan untuk bekerja dengan Marcus dari pada pergi hang out bersama teman-temannya.
Meski memilih tak punya banyak teman, tapi Ivona berteman dengan dua gadis yang ia kenal sewaktu awal masuk ke kampus dulu. Namanya Lucia dan Selena. Dua wanita itu selalu saja membujuk Ivona untuk pergi bersenang-senang dengan mereka dan selalu ditolak oleh Ivona
Namun kali ini , Ivona tak bisa menolak karena Lucia dan Selena langsung mendatangi rumah keluarga Iswara. Kakek mendesak Ivona agar pergi.
"Pergilah, Iv. Teman-temanmu sudah datang kemari untuk menjemputmu. Tidak baik menolak ajakan teman. Lagi pula kau masih muda, nikmatilah hidupmu dan bersenang-senanglah." ujar Kakek sebelum Ivona ikut dengan Selena dan Lucia.
"Tapi, kau juga harus menjaga dirimu baik-baik. Kau sudah dewasa sekarang, kau punya hak untuk memutuskan hal dalam hidupmu tanpa andil dari kami sebagai orang tua. Pesanku, pikirkan semua dengan baik saat kau akan mengambil keputusan dalam hidupmu, apa pun itu. Pertimbangkan tentang baik dan buruk keputusan yang akan kau ambil, karena kau sendiri yang akan menanggung akibat dari apa yang kau putuskan. Ingatlah, sesuatu yang sudah kau putuskan tidak akan dapat kau putar ulang. Karena itu berhati-hatilah dalam menentukan jalan yang kau putuskan."
Pesan yang panjang, tapi akan selalu Ivona ingat. Bagaimana pun Kakek hanya ingin yang terbaik untuknya. Jangan samapi ia menyesal di kemudian hari atas kesalahan dalam mengambil keputusan. Karena sesal selalu di belakang. Sedangkan waktu tak dapat di putar ulang untuk merubah kenyataan.
Di sinilah Ivona sekarang ini. Di sebuah bar. Ivona memilih duduk di meja yang dipesan oleh dua temannya. Ia melihat dari jauh Lucia dan Selena yang sedang meliuk-liukkan tubuhnya di lantai disko.
Mata Ivona terus berkeliling memperhatikan setiap pengunjung yang ada dalam bar ini. Mendadak pandangannya tertuju pada gadis yang baru berdiri dari bar station, dan berjalan sempoyongan menuju lantai disko. Pakaiannya yang seksi mengundang mata para buaya yang lapar. Seolah tak sadarkan diri, wanita itu menari dengan euforia yang berlebihan.
Ivona penasaran dengan wajah yang ia lihat. Tapi ia yakin jika wanita itu adalah seseorang yang ia kenal. Ivona berdiri menghampiri wanita yang masih asik menari.
"Vaya?" ujarnya menghentikan gerakan tubuh wanita itu.
__ADS_1