IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab. 144 Lamaran Resmi


__ADS_3

Ada Alexander yang langsung memalingkan muka. Ia tidak suka melihat Evan merebut perhatian kekasihnya. Ivona bahkan belum sempat melihatnya tapi Evan sudah lebih dulu mencuri perhatian gadisnya.


Demi mendapat perhatian Ivona, Alexander berdehem dengan keras. Kali ini bukan hanya Ivona yang menatapnya tapi juga semua orang yang ada di sana menatap Alexander.


"Kau tersedak?" Nyonya Alberic nampak khawatir. "Pelayan, ambilkan minum untuk Alexander," teriak Nyonya Alberic, ia lupa jika ini bukanlah rumahnya.


Semua anggota keluarga Iswara sampai menatap heran.


"Mom, aku baik-baik saja. Lagi pula ini bukan rumah kita," ujar Alexander mengingatkan.


Nyonya Alberic yang tersadar, langsung menatap canggung pada semuanya. "Maafkan aku, aku terlalu khawatir dengan putraku."


"Tidak apa, aku bisa memahami itu," jawab Kakek Iswara.


Tuan Iswara yang menyadari alasan Alexander berdehem langsung memanggil Ivona. "Iv, kemarilah!"


Ivona langsung melepaskan pelukannya pada Evan. Sebelum berdiri, Ivona mengusap Max sekali lagi.


"Ayo, Iv," ajak Nyonya Iswara.


Ivona pun menghampiri mereka. Ia duduk diapit oleh Tuan dan Nyonya Iswara. Sedangkan Evan kembali ke tempatnya semula, di dekat Mommy-nya.


Ternyata bukan Alexander saja yang terpukau dengan penampilan Ivona, tapi calon ibu mertua Ivona itu juga sama terpesonanya pada Ivona. Dalam hatinya Nyonya Alberic mengakui kecantikan Ivona. Saking terpesonanya, Ibu Alexander itu sampai lupa tujuan awalnya datang ke rumah ini.


"Mom!" bisik Alexander sembari menyenggol lengan ibunya.


"Eh ... i-iya." Nyonya Alberic berubah gugup. Sebelum memulai pembicaraan resmi, Ibu dari Alexander itu mengatur suaranya terlebih dulu dengan berdehem, tapi dengan cara yang anggun.


"Selamat malam, terima kasih sudah berkenan menyambut kami, dan langsung saja pada intinya. Kedatangan kami ke sini adalah untuk melamar putri Anda yang bernama Ivona untuk putra saya Alexander Alberic."


Setelah menunggu beberapa saat dan Nyonya Alberic tak lagi melanjutkan kalimatnya, Kakek Iswara sebagai yang paling tua di keluarga Ivona mewakili seluruh anggota keluarga mulai angkat bicara.


"Saya mewakili anak dan menantu saya, menerima dengan senang hati kedatangan Anda, Nyonya Alberic, dan dengan senang hati pula kami menerima lamaran dari Alexander," jawab Kakek Iswara.

__ADS_1


Mereka semua tersenyum bahagia. Terutama Ivona dan Alexander. Ketakutan Ivona tentang Nyonya Alberic tak terbukti, karena faktanya ibu dari Alexander itu tak mengungkit sama sekali tentang kelayakan Ivona. Ia justru langsung mengungkapkan tujuan utamanya datang ke kediaman Iswara.


"Yeaaa ... akhirnya Kak Ivona akan menikah dengan Kakakku!" seru Evan yang langsung berdiri, memperlihatkan ekspresinya yang sangat bahagia.


Nyonya Alberic menarik ujung jas putra bungsunya itu. "Duduk!" lirih Nyonya Alberic sembari mengulum senyum.


"Bagaimana jika kita lanjutkan pembicaraan kita di meja makan, kita bisa mencari tanggal baik untuk hari pernikahan mereka," usul Tuan Iswara yang disetujui oleh Nyonya Iswara dan yang lainnya.


Di meja makan mereka membicarakan tentang apakah perlu ada acara pertunangan terlebih dahulu ataukah mau langsung menikah. Di saat itu Alexander yang sedari tadi diam langsung menjawab tegas bahwa ia ingin langsung menikah saja dengan Ivona. Begitu pun dengan Nyonya Alberic, ia tak ingin menunda-nunda lagi pernikahan putranya.


Pasalnya Nyonya Alberic sudah menunggu sangat lama untuk melihat Alexander menikah. Ia bahkan sudah sering kali mencarikan jodoh untuk Alexander tapi tak ada satu pun dari wanita yang dipilihnya diterima oleh Alexander. Sampai-sampai saat itu Nyonya Alberic frustasi dan berpikir jika putranya itu adalah penyuka sesama jenis.


Namun, semua kekhawatirannya itu terpatahkan ketika ia mendengar berita besar dari pelayan di vila Alexander—Bibi Mina—jika sang putra telah membawa pulang seorang gadis. Sejak hari itu pikiran buruknya pada Alexander yang memiliki kecenderungan s*ksual sesama jenis langsung pudar dan menghilang.


Tak sampai di situ, rupanya Nyonya Alberic terus mendapatkan laporan dari orang kepercayaannya itu jika gadis yang dibawa Alexander juga tinggal di sana. Dari situ lah Nyonya Alberic langsung mencari informasi tentang asal usul gadis yang serumah dengan putranya. Nyonya Alberic semakin penasaran pada gadis yang telah membuat Alexander memberikan perhatian lebih. Lebih kaget lagi saat tahu jika gadis yang ditinggal bersama Alexander adalah gadis yang sama yang dulu ia kira adalah gadis gila, gadis yang dibawa Alexander pertama kali ke rumahnya.


"Jadi kita tentukan sekarang saja tanggalnya," usul Thomas.


"Aku yang akan menentukan tanggalnya," potong Alexander cepat.


Tuan Iswara yang tadinya akan memberikan usul soal tanggal pernikahan langsung diam. Mereka menatap Alexander serempak.


"Kalian tidak perlu repot-repot untuk menentukan tanggal, aku yang akan memilihnya. Nanti aku akan kabari kalian jika semua sudah siap."


"Baiklah." Mereka semua setuju saja dengan keinginan Alexander.


Mereka melanjutkan makan malam mereka, hingga makan malam selesai, Valia belum juga hadir di antara mereka dan hanya Ivona yang sadar jika Valia tak bersama mereka.


"Bu, di mana Valia? kita melupakannya untuk makan malam," tanya Ivona pada Nyonya Iswara.


Mereka semua baru sadar jika ada satu bangku yang kosong.


"Mungkin masih ada di kamarmu," jawab Nyonya Iswara.

__ADS_1


"Kalau begitu biar aku panggil." Ivona segera berdiri dan naik ke kamarnya.


"Valia," panggil Ivona yang melihat Valia sedang berdiri di depan cermin.


Valia kaget, ia segera mengusap wajahnya. "Ivona, ada apa?"


"Kau ... sedang apa?" tanya Ivona sedikit merasa aneh.


"A-aku sedang merapikan riasanku." Valia nampak gugup.


"Oh ... kukira ada apa, kenapa tidak segera turun."


"Ah ... itu, aku dari kamar mandi, maaf tadi aku menggunakan kamar mandimu." Valia tersenyum canggung.


"I-iya riasanku berantakan setelah dari kamar mandi, kau tahu maksudku, 'kan?"


Ivona mengangguk. "Baiklah, ayo turun semua sudah mulai makan."


"Ah ... ya, ayo."


Ivona berjalan lebih dulu. Valia kembali melihat cermin dan menatap wajahnya sendiri untuk meyakinkan jika penampilannya sudah sempurna.


"Valia." Ivona menoleh, kembali memanggil Valia yang masih sibuk di depan cermin.


"Ah ... ya, maafkan aku. Aku tidak percaya diri jika riasanku berantakan. Kau tahu lah bagaimana wanita." Valia mengulas senyum di bibirnya untuk meyakinkan Ivona.


"Ya aku tahu, kau memang sempurna dalam penampilan," puji Ivona.


Mereka pun berjalan beriringan menuju ruang makan di mana semua orang telah lebih dulu makan. Semua menatap Valia yang baru saja muncul, terutama Nyonya Iswara.


"Duduklah Valia," suruh Ivona saat menyadari ada yabg aneh dengan tatapan Valia pada ibunya.


Valia dengan canggung duduk di samping Ivona. Ia langsung mengambil makanan yang sudah tersedia. Di saat itu Ivona terus menatap Valia yang menurutnya sangat misterius. Ada sesuatu dari diri Valia yang tak ia ketahui. Ada rahasia dari wanita itu yang tersembunyi.

__ADS_1


__ADS_2