
Semua orang berdiri tegang di depan ruang operasi. Ini adalah hari ketiga Kakek Iswara dirawat di Royal Hospital, dan baru hari ini bisa dilakukan tindakan operasi pada Kakek Iswara.
Selain menunggu kedatangan dokter Spencer, kondisi Kakek Iswara yang tidak memungkinkan melakukan operasi juga menjadi alasan. Barulah, setelah semua terkondisi dengan baik dan dokter Spencer pun sudah tiba dari luar negeri, Kakek Iswara bisa masuk kamar operasi.
Sudah sangat lama, semua anggota keluarga Iswara menunggu dalam cemas. Bagaimanapun usia kakek tak lagi muda dan kondisi fisiknya yang ringkih juga menambah kekhawatiran seluruh anggota keluarga terutama Ivona.
Gadis itu punya dua beban di pundaknya. Pertama, hanya kakek lah yang menjadi pendukungnya di dalam keluarga Iswara selama ini, Ivona tidak bisa membayangkan jika terjadi hal buruk pada Kakeknya, pasti ia akan semakin disisihkan oleh keluarganya. Kedua, dokter yang mengoperasi Kakek Iswara adalah dokter pilihan Ivona, meski Ivona yakin dengan kemampuan dokter Spencer tapi tidak dengan keluarganya. Mereka meragukan dokter yang menurut mereka belum jelas reputasinya itu. Kalau operasinya berjalan tidak sesuai rencana, pastilah Ivona yang akan dijadikan tersangka dan bulan-bulanan oleh keluarganya sendiri.
Ivona yang berdiri menyendiri dan memilih tempat yang berjarak dari anggota keluarga yang lain, menerima pesan dari Marcus. Ia pun segera menjauh, mencari tempat yang lebih privasi.
[Aku sudah menyelidiki dan meretas nomor ponsel yang kau kirimkan kemarin. Aku akan mengirimkan rekaman percakapan yang aku dapatkan kepadamu.]
Tak lama setelah membaca pesan dari Marcus. Sebuah pesan lainnya yang mengirimkan hasil peretasan yang dilakukan Marcus diterima oleh Ivona. Ivona cukup tersentak kala mendengar percakapan yang dilakukan oleh Vaya dengan ayah kandungnya. Ivona memang sudah curiga dari awal jika anak pungut ayahnya itu lah yang menjadi biang keladi dari semua permasalahan ini.
Tapi, karena Ivona tak punya cukup waktu untuk menyelidiki, ia pun meminta bantuan Marcus untuk melakukan penyelidikan dengan meretas nomor ponsel Vaya. Sekarang terbukti dengan jelas semua kecurigaannya selama ini, dan semua itu berkat jasa Marcus.
"Aku selalu membuat semua rencana kotormu gagal, tapi rasanya kau tidak juga jera. Kau selalu mengusikku dengan berita-berita palsumu itu. Sekarang jangan salahkan aku jika aku membalasmu dengan hal yang sama," ucap batin Ivona.
Ivona baru saja mengetikkan pesan pada Marcus untuk membuat sebuah rencana, ketika Thomas datang memanggilnya, "Iv, dokter sudah selesai melakukan operasi."
"Ah ... ya, aku akan segera ke sana."
Ivona buru-buru menulis pesan pada Marcus.
[Terima kasih atas bantuanmu, tapi aku ingin kau melakukan sesuatu lagi untukku. Aku ingin kau merekayasa sebuah berita yang akan menjadi sebuah bom yang akan mengguncang Victoria. Lakukan semua dengan rapi, dan jangan pernah melibatkan namaku meski hanya satu huruf.]
Setelah mengirim pesan pada Marcus, Ivona langsung memasukkan kembali ponselnya dan menyusul Thomas ke depan ruang operasi. Ivona tiba tepat saat dokter Spencer keluar dari ruang operasi Kakek Iswara.
"Bagaimana kondisi ayahku, Dokter," tanya Tuan Iswara.
"Operasinya berjalan lancar, tapi kita harus terus memantau kondisi pasien untuk melihat perkembangannya," jawab dokter Spencer.
__ADS_1
"Bisa kita bicara di ruang dokter?" ujar dokter Spencer saat melewati Ivona.
"Baik, dokter." Ivona menatap kedua kakaknya dan juga orang tuanya, kemudian mengikuti langkah dokter spencer untuk ke ruang dokter.
"Silakan duduk," ujar Dokter Spencer.
"Terima kasih." Ivona duduk tepat di depan dokter Spencer.
"Aku ingin bicara sesuatu tentang penyakit kakekmu," ujar dokter Spencer serius.
"Kenapa dokter, ada apa dengan Kakekku."
"Aku memang sudah berhasil mengangkat tumor yang bersarang di kepala kakekmu, tapi karena usia kakekmu yang tidak lagi muda kita butuh waktu yang lebih lama untuk melakukan observasi penyembuhan. Sejujurnya proposal yang kau ajukan pada institusi kesehatan di negaraku sudah mulai dikerjakan, dan aku yakin akan sangat berguna pagi penyembuhan penyakit seperti yang kakekmu derita. Namun, kita butuh waktu yang tidak sebentar untuk meneliti dan menguji alat tersebut. Sebab itulah, untuk kasus kakekmu, aku masih menggunakan metode lama."
"Tidak apa dokter, yang terpenting kakekku bisa sembuh."
"Iv, apa kau tidak tertarik untuk pindah ke negaraku. Aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini, tapi aku tidak tahu kapan lagi aku akan bisa bertemu denganmu. Aku sangat berharap kau bisa bekerja full di institut kami. Kita bekerja sama menemukan teknologi baru dalam dunia kesehatan."
"Maafkan aku, dokter. Aku masih punya banyak urusan di sini. Lagi pula aku juga harus menyelesaikan sekolahku terlebih dahulu. Meski begitu, kita masih bisa bekerja sama sekalipun tidak satu negara. Sama seperti yang kulakukan dengan Marcus saat ini," jawab Ivona.
Ivona tersenyum menanggapi. "Jika sudah tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, saya pamit undur diri, dokter."
Dokter Spencer pun membiarkan Ivona pergi.
Ivona kembali ke ruang opersi. Sampai di sana ternyata Kakek Iswara sudah dipindahkan ke ruang perawatan intensif. Di sana Ivona melihat ayah dan ibunya, juga kedua kakaknya sedang berdiri di luar ruangan, karena memang tidak diijinkan untuk menunggui pasien di dalam ruangan kecuali satu orang saja.
"Bagaimana keadaan Kakek?" tanya Ivona pada Tommy.
"Kita masih harus menunggu. Pulanglah, Iv, kau harus istirahat. biarkan aku dan Thomas yang menjaga kakek," ujar Tommy.
"Tapi ...."
__ADS_1
"Tidak apa, kembalilah besok untuk melihat kakek."
Tommy juga mengatakan hal yang sama pada kedua orang tuanya. Pria itu melihat wajah lelah pada ayah dan ibunya karena selama tiga hari ini mereka semua menginap di rumah sakit.
"Kami pulang dulu, kabari kami jika ada sesuatu pada Ayah," pesan Tuan Iswara pada putra keduanya—Tommy.
Mereka bertiga pun pergi meninggalkan kamar perawatan Kakek Iswara. Ivona berjalan canggung di antara Ayah dan Ibunya. Mereka terlihat bukan seperti keluarga, tapi bak orang asing.
Ivona yang sadar diri, memilih untuk mengambil jalan lain dari ayah dan ibunya. Bukan ke arah parkiran tapi keluar untuk mencari taksi.
Tuan Iswara yang menyadari hal itu, langsung memanggil Ivona. "Iv, pulanglah bersama kami."
Ivona berhenti, ia menatap ayahnya yang tengah menunggu jawaban darinya. Tanpa kata, Ivona memutar langkahnya, ia mengikuti Tuan dan Nyonya Iswara menuju mobil mereka.
Nyonya Iswara terus diam, begitu pun dengan Tuan Iswara. Ivona yang duduk di bangku belakang pun melakukan hal yang sama.
"Tolong antar aku ke vila Alexander," ujar Ivona yang membuat Tuan dan Nyonya Iswara menoleh bersamaan.
"Semua barangku ada di sana," lanjut Ivona agar tidak menimbulkan salah paham.
Meski tak menjelaskannya, Tuan dan Nyonya Iswara tidak mungkin berpikir salah paham. Sesuai perjanjian yang mereka buat dengan Alexander, mereka—keluarga Iswara—tidak berhak mengusik keberadaan Ivona di rumah Alexander.
"Di mana alamatnya?" tanya Tuan Iswara.
Ivona pun memberikan arahan kemana Tuan Iswara harus melajukan mobilnya.
Sebelum sampai di Vila Alexander, Ivona menerima telepon dari Marcus.
"Halo," sapa Ivona pelan-pelan.
Nyonya Iswara hanya menoleh sekejap untuk melihat Ivona yang mengangkat panggilan, tapi tidak ingin bertanya dan tidak ingin tahu.
__ADS_1
"Aku sudah melakukan semua yang kau minta. Tunggu saja sebentar lagi, bom yang kau inginkan akan meledak di Victoria," ujar Marcus di ujung telepon.
Seringai langsung tersungging di bibir Ivona. "Terima kasih," ujar Ivona kemudian memutus panggilan itu.