
Hari-hari kembali berjalan seperti biasa. Ivona sudah mulai kembali ke sekolah, dan ia pun masih tinggal di vila Alexander. Pria itu berubah jadi posesif karena Vaya belum juga tertangkap, alasan itulah yang selalu menjadi dasar Alexander untuk mengekang Ivona tetap berada di Vila miliknya. Ia bahkan menyiapkan supir khusus untuk mengantar jemput Ivona ke sekolah.
Sementara keluarga Iswara tidak berani membantah keinginan Alexander tersebut di karenakan kesepakatan yang dulu telah disetujui oleh Tuan Besar Iswara, yang tak lain adalah kakek Ivona sendiri. Sedangkan kakek masih dirawat di rumah sakit, ia masih menjalani proses pemulihan pasca operasi tumor otak yang dilakukan oleh Dr.Spencer.
Kegiatan Ivona menjadi lebih sibuk karena harus mengejar waktu untuk bimbingan fisika dengan Mr.Harry. Ijinnya yang cukup lama karena penculikan itu membuat dirinya harus sedikit bekerja keras untuk rutin bertemu dengan guru pembimbingnya itu karena kompetisi akan dilaksanakan tidak lama lagi.
Seperti hari ini, Ivona harus pulang terlambat karena mengikuti bimbingan belajar dengan Mr.Harry. Ivona tidak sendiri karena ada Beny yang selalu menemaninya. Pria gendut itu memang tidak ikut kompetisi, tapi Alexander menugaskannya untuk menjaga Ivona.
"Ayo, Iv, supirmu pasti sudah menunggu," ajak Beny pada Ivona yang baru saja keluar dari ruangan Mr.Harry.
Dengan malas Ivona mengikuti Beny yang berjalan lebih dulu. Begitu tiba di parkiran, Beny langsung berlari menghampiri Alexander.
"Hai, kakak Ivona," sapa Beny.
"Hai," jawab Alexander malas. Bukan melihat Beny yang membuat pria itu malas tapi sebutan 'Kakak Ivona' yang ditujukan padanya yang membuat Alexander malas mendengarnya. Alexander tidak suka disebut sebagai kakak Ivona, tapi dia sendiri selalu berkata begitu pada orang lain jika ada yang bertanya tentang hubungannya dengan Ivona. Sebuah alibi untuk menutupi segala rasa yang tersembunyi.
"Kenapa hari ini bukan supir yang menjemput Ivona?"
"Tugasmu hanya menjaga Ivona saat di sekolah, bukan mencari tahu yang lainnya!"
Beny nyengir. "Maaf, aku hanya ingin tahu."
"Pergilah!" usir Alexander.
"Apa aku tidak boleh ikut satu mobil dengan kalian?"
Alexander mendelik tajam mendengar permintaan Beny.
__ADS_1
"Iya ... iya, aku akan pergi. Bye ... Ivona." Beny melambaikan tangannya pada teman yang menduduki tempat spesial di hatinya tersebut.
Ivona hanya mengangguk, tak membalas lambaian tangan Beny. Setelah Beny menjauh, Ivona beralih pada Alexander. "Ke mana Paman Stew?" Ivona menanyakan tentang supir yang biasa menjemputnya.
"Apa dia begitu penting bagimu, sampai kau menanyakannya sementara aku sudah ada di hadapanmu?"
Jawaban Alexander yang serupa dengan pertanyaan membuat Ivona merotasikan bola matanya, pundaknya melemas dan bibir mencibir, dari pada harus mendengar Alexander menggodanya, lebih baik ia menghindar. Ivona segera naik ke dalam Roll Royce hitam milik pria itu tanpa diperintah.
Alexander tersenyum geli melihat sikap Ivona yang malas menanggapinya. Tak ingin ambil pusing, Alexander pun langsung masuk ke kursi kemudi dan menjalankan mobilnya.
"Kita akan ke mana?"
Alexander mengangkat kedua bahunya. "Tebaklah!"
Ivona mendengkus kesal, sikap Alexander lama-lama bisa membuatnya jadi hipertensi. Ivona sedang tidak ingin main tebak-tebakan, karena itu ia memilih untuk memalingkan wajah, terserah saja pria ini mau membawanya ke mana. Pada Alexander, Ivona tak pernah curiga. Bisa dibilang, ia percaya pada pria itu, sangat percaya.
Mata Ivona terbuka lebar. Ia langsung menatap Alexander yang masih mencari tempat parkir. "Kakek, kita akan mengunjungi kakek?" pekik Ivona antusias.
Kali ini Alexander yang hanya tersenyum tipis. Setelah menemukan tempat parkir, dengan sangat antusias Ivona bergegas keluar dari mobil. Ia langsung berlari, tak sabar bertemu dengan orang tua yang selalu mendukungnya itu.
Langkah Ivona sudah cukup jauh, saat ia tersadar jika ia tidak datang sendiri. Ia mencari Alexander di belakangnya, namun tak terlihat.
"Ke mana orang itu?" gumamnya. Ia lalu menepuk jidatnya sendiri. "Astaga, aku melupakannya!" Ivona baru berpikir akan kembali menyusul Alexander di parkiran, tapi Pria itu sudah muncul lebih dulu.
Tidak ada pikiran lain selain mengajak Alexander untuk bergegas. Ivona pun kembali menghampiri Alexander dan langsung menggamit lengan pria itu. "Ayo cepat, aku tidak sabar bertemu Kakek." Sedikit memaksa, Ivona menyeret Alexander untuk mengikuti langkahnya.
Alexander hanya menurut tanpa protes, ia ikuti apa saja yang Ivona lakukan meski harus setengah berlari dan beberapa kali ditegur oleh petugas rumah sakit karena dianggap membuat kegaduhan.
__ADS_1
"Maaf." Itu yang selalu Ivona ucapkan pada petugas yang menegurnya.
Ia sangat bahagia, karena setelah sekian lama akhirnya Alexander membawanya untuk melihat Kakeknya. "Kakek!" seru Ivona saat membuka ruang perawatan kakek Iswara, tapi belum ada yang menyadarinya karena mereka sedang sibuk berdebat.
Seketika bibirnya terkatup rapat, saat menadapati ada Tuan dan Nyonya Iswara di sana. Orang tuanya, yang kembali membuat Ivona merasa terlukai.
"Aku tidak tahu di mana Vaya sekarang. Apakah dia baik-baik saja atau kah dia dalam bahaya," ujar Nyonya Iswara mengadu pada pria di depannya.
"Dia memang bersalah, tapi bukankah selalu ada kesempatan kedua untuk setiap kesalahan." Nyonya Iswara terisak mengingat akan nasib Vaya.
Semua yang ada di sana menyaksikan bagaimana terlukanya perasaan Nyonya Iswara, Ibu yang telah membesarkan Vaya ketika tahu putrinya menjadi buronan.
"Dia memang bukan putri kandungku, tapi aku merawatnya sejak ia masih bayi, aku memberikan cinta dan kasih sayangku sepenuhnya padanya. Aku begitu sakit saat tahu dia mengkhianati keluarga yang telah merawatnya sejak kecil, tapi aku lebih sakit saat semua orang tidak ada yang peduli dengan Vaya. Kemudian ia dijadikan buronan karena kejahatan yang aku yakin bukan sepenuhnya salah Vaya. Dia pasti melakukannya hanya karena cemburu pada Ivona. Bayangkan saja jika itu adalah kau, saat semua yang kau miliki tiba-tiba diambil oleh kenyataan dan dikatakan bahwa kau tidak lagi berhak atas apa yang sudah jadi milikmu selama sejak kecil. Kau pun pasti akan melakukan hal seperti yang Vaya lakukan sekarang ini."
Nyonya Iswara tak henti-hentinya mengadu dengan mengatakan pembelaannya terhadap Vaya.
"Kau sadar dengan apa yang kau katakan, dia pengkhianat, dia juga telah berbuat kriminal, jadi wajar saja jika dia harus ditangkap. Untuk apa kau sesali semuanya!" tegas Tuan Iswara.
"Kau bisa berkata begitu di depan semua orang terutama ayah, tapi apa kau bis membohongi hatimu sendiri jika sebenarnya kau juga sangat terluka dengan keadaan yang menimpa Vaya. Tanyakan pada hatimu!" Nyonya Iswara begitu emosional ketika harus membahas Vaya. Sejujurnya ia masih belum terima dengan segala kenyataan tentang Vaya
Langkah Ivona berangsur mundur. Ia tersenyum getir mendengar pengakuan ibunya. Ivona kira saat semua kebusukan Vaya terbongkar dan bahkan diusir dari rumah akan membuat mereka sadar jika vaya tidak sebaik yang mereka sangka, tapi tidak. Nyatanya, kasih sayang dan cinta yang dipupuk sejak awal tidak mudah layu begitu saja, apalagi musnah tak bersisa.
Alexander menangkap tubuh Ivona agar tak beranjak. "Aku selalu bersamamu," lirihnya memberi kekuatan.
Thomas lah yang pertama kali menyadari kehadiran Ivona.
"Ivona," panggilnya, yang membuat seisi ruangan menoleh ke arah pintu masuk. Termasuk pria yang berdiri tepat di depan Nyonya Iswara, yang sedari tadi menjadi tempat mengadu Nyonya Iswara.
__ADS_1