
Vaya yang tidak mengerti maksud dari Nyonya Iswara hanya bisa mengerutkan dahi. "Maksud Mama apa?" tanya Vaya.
Terulas senyum di bibir Nyonya Iswara menyerahkan sebuah kotak hadiah yang dia siapkan untuk Vaya. "Lihatlah," suruh Nyonya Iswara.
Dengan raut yang masih bingung, Vaya menerima kotak hadiah itu, dan membukanya perlahan. Senyum bahagia langsung tersungging di bibir Vaya melihat isi kotak itu.
"Mama, ini?" tanya Vaya terkejut.
Nyonya Iswara mengangguk sembari tersenyum meyakinkan jika yang dilihat Vaya adalah nyata.
"Oh ... Mama, Vaya tidak menyangka Mama akan melakukan ini untuk Vaya." Vaya langsung memeluk Nyonya Iswara, setelah mengetahui maksud ibunya. Nyonya Iswara sengaja menyiapkan sebuah hadiah untuk menyambut kedatangan Tuan Besar Iswara yang baru pulang dari rumah sakit.
"Kau harus menyerahkannya pada kakek dan katakan jika kau sudah menyiapkan ini sedari awal. Kau bahkan sudah mempersiapkan waktu khusus untuk membeli hadiah istimewa ini untuk kakek. Mama yakin, sikap kakek akan langsing berubah padamu, dan kau tidak perlu murung lagi," ucap Nyonya Iswara yang memeluk Vaya.
"Apa kau tahu, Ma. Hanya Mama yang selalu mengerti Vaya, dan hanya Mama yang masih perhatian dengan Vaya. I love you, Mom," ucap Vaya yang merasa tersentuh dengan perlakuan Nyonya Iswara. Meski begitu tatapan Vaya terlihat merendahkan dan penuh kemenangan.
Vaya bahkan menitihkan air mata haru dengan sikap Nyonya Iswara, tapi itu bukanlah air mata tulus dari hatinya. Air mata Vaya adalah air mata kepura-puraan yang ia sengaja untuk semakin membuat Nyonya Iswara peduli padanya.
Dalam hati Vaya, ia merasa kalau Nyonya Iswara tidak benar-benar tulus padanya, begitu pun dengannya yang memiliki tujuan tersendiri untuk memanfaatkan kebaikan Nyonya Iswara.
"Thank's you, Mom," ucap Vaya yang masih berada dalam pelukan Nyonya Iswara.
"Tidak masalah, Sayang. Selama itu bisa membuatmu tidak murung lagi, Mama akan melakukan apa pun untuk putri kesayangan Mama," jawab nyonya Iswara sambil mendekap erat Vaya.
__ADS_1
Tentu saja Nyonya Iswara tidak keberatan melakukan apa pun untuk Vaya, apa lagi hanya hal remeh seperti menyiapkan hadiah kecil agar Vaya kembali mendapatkan perhatian dari ayah mertuanya, sebab ia pun mendapatkan hal besar dari Vaya. Belakangan ini Nyonya Iswara mendapat banyak pujian karena tour piano Vaya, jadi tidak akan jadi soal bagi Nyonya Iswara untuk membalas Vaya dengan menyenangkannya. Karena hal itu juga, Nyonya Iswara memutuskan akan tetap mempertahankan Vaya di sisinya.
Mereka berdua saling memeluk dan kemudian tertawa. "Sudah-sudah, nanti make up kamu berantakan karena menangis." Nyonya Iswara melepaskan pelukannya.
Dilihatnya senyum Vaya yang kini mengembang. Nyonya Iswara mengusap pipi Vaya lembut. "Kau akan selalu jadi putriku," bisiknya pelan.
Vaya tersenyum menanggapi.
"Jangan pernah berubah, Ma, karena Vaya tidak akan pernah bisa jika tanpa Mama," ucap Vaya, yang membuat Nyonya Iswara kembali memeluk Vaya, tapi kali ini hanya sebentar.
"Ayo kita bersiap, sebentar lagi pasti kakek dan ayahmu akan datang," ajak Nyonya Iswara.
Nyonya Iswara baru saja menutup mulutnya dan mereka belum sempat bersiap seperti yang tadi dikatakan, tapi tidak lama kemudian, Tuan Iswara dan Thomas sudah datang. Mereka masuk sambil memapah Tuan Besar Iswara. Nyonya Iswara langsung menarik tangan Vaya untuk menyambut kakek.
"Selamat datang kembali di rumah, Ayah," ucap Nyonya Iswara saat suami dan putranya yang memapah ayah mertuanya baru saja masuk.
"Bagaimana kondisi Ayah, sudah lebih baik, bukan?" tanya Nyonya Iswara lagi. Namun tidak ditanggapi oleh Tuan Besar Iswara.
Kakek justru mengamati seisi rumah yang cukup lama ia tinggalkan karena pengobatan di rumah sakit. Saat pandangannya jatuh pada Vaya, raut kakek langsung berubah dingin. "Di mana, Ivona?" tanya Kakek.
Hati Vaya seakan diremas oleh tangan tak kasat mata. Ia yang jelas-jelas berada di sana, dihadapan Tuan Besar Iswara, tapi kakek tua itu justru mencari Ivona yang tidak ada. Vaya tahu jika kakeknya tidak menyukai dirinya, tapi bisakah orang tua itu menjaga perasaannya walau sebentar saja. Wajah Vaya seketika menjadi murung kembali, mengingat sikap sang kakek.
Nyonya Iswara yang awalnya memasang senyum di bibirnya untuk menyambut ayah mertuanya, kini raut wajahnya langsung berubah begitu mendengar pertanyaan kakek dan menyadari perubahan raut wajah putrinya.
__ADS_1
"Untuk apa Ayah menanyakan Ivona, anak itu pergi entak ke mana. Dia memang suka menghilang seenaknya," jawab Nyonya Iswara yang sengaja membela Vaya.
"Lagi pula untuk apa Ayah mencari Ivona sementara di sini sudah ada Vaya yang siap melayani Ayah. Ayah tidak perlu lagi mengharap kedatangan anak yang tidak berbakti seperti Ivona. Sudah tahu hari ini Ayah akan pulang, tapi dia masih saja keluyuran tidak jelas," imbuh Nyonya Iswara.
"Vaya bisa menggantikan Ivona dengan lebih baik Ayah." Nyonya Iswara menatap Vaya, meyakinkan putrinya itu melalui tatapannya jika ia akan selalu membela Vaya.
"Lancang, kau!" sentak Tuan Besar Iswara.
Nyonya Iswara dan semua yang ada di sana tersentak kaget dengan sikap Tuan Iswara. Terutama Nyonya Iswara yang langsung terlihat takut saat ayah mertuanya mendelik padanya.
Thomas yang mendengar ucapan Ibunya yang begitu kentara membela Vaya dan menyudutkan Ivona raut wajahnya langsung kesal. Sebenarnya siapa putri kandung ibunya, hingga ibunya itu tidak bisa membedakan mana anak kandung sendiri dan mana anak angkat. Ucapannya pun begitu kasar dengan mengatakan Ivona adalah anak yang tidak berbakti.
Bukan hanya Thomas yang marah, tapi Kakek yang mendengar sebutan dari Nyonya Iswara untuk Ivona pun langsung murka. "Apa maksudmu mengatai cucuku dengan sebutan seperti itu?" seru Tuan Besar Iswara.
"Kau tidak pantas mengatakan bahwa putrimu sendiri adalah anak yang tidak berbakti. Bahkan kau ingin menggantikan posisi Ivona dengan anak yang tidak jelas ini!" Tuan Besar Iswara menunjuk marah pada Vaya.
Vaya tidak percaya jika kakeknya akan mengatakan jika dirinya adalah anak yang tidak jelas. Ke mana perginya kakek yang dulu begitu menyayanginya, kenapa semua orang jadi berubah bahkan bersikap kasar padanya demi Ivona. Yah ... Ivona, dia adalah sumber kekacauan hidupnya.
Tidak ada yang bisa Vaya lakukan untuk membela dirinya sendiri selain menahan perasaan benci dan kesalnya dalam amarah yang tertahan.
"Ma-maksudku bukan seperti yang Ayah sangka. Aku hanya berpendapat jika Ivona mungkin ____"
"Thomas, telepon Ivona," potong Tuan Besar Iswara saat Nyonya Iswara ingin menjelaskan maksud ucapannya.
__ADS_1
"Baik, Kek," jawab Thomas tanpa bantahan.
Thomas baru saja akan mengeluarkan ponselnya dari saku jaketnya untuk menghubungi adiknya, tiba-tiba pintu terbuka dan saat semua melihat ke arah pintu masuk, ternyata yang datang adalah Ivona.