IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.50 Pembuat Ulah


__ADS_3

Ivona yang mendengar hal ini, tersenyum kecil sambil bersandar di dinding dengan malas. Rupanya tidak mudah menyadarkan ayahnya ini dengan perlakuan tidak adilnya. Jadi, jangan salahkan Ivona jika ia menjadi apatis pada keluarganya sendiri. Mereka bahkan tidak pernah memikirkan perasaan Ivona barang sedikit pun. Mereka tidak peduli, jika setiap kata pujian dan pembelaan dari mereka untuk Vaya adalah pisau tajam yang mengiris jiwanya.


Ia mulai muak dengan sikap ayahnya ini, hingga tercetus dalam kalimatnya untuk mengancam Tuan Iswara. "Baiklah, aku akan membujuk kakek agar Vaya bisa kembali mendapat ijin untuk tinggal di kediaman besar, agar kakek juga bisa tahu siapa ayah kandung Vaya. Bagaimana menurut Anda, bukankah itu akan baik, jika di antara keluarga saling terbuka. Aku juga ingin melihat reaksi kakek jika ia tahu bahwa kepala rumah sakit jiwa itu adalah ayah kandung dari Vaya."


Tuan Iswara sangat marah, tidak menyangka Ivona mulai berani melawannya bahkan mengancamnya. Tentu ia tidak akan membiarkan Ivona bertindak sesuka hatinya, kakek pasti tidak akan mengampuni Vaya, dan pasti akan mengusir putri kebanggaannya itu jika tahu kebenarannya.


"Kau jangan bertindak macam-macam, karena aku tidak akan membiarkan semuanya terjadi dengan mudah!"


Keras kepala Tuan Iswara dalam membela Vaya membuat Ivona tidak ingin lagi melanjutkan pembicaraan ini, karena pastinya hanya akan menambah kebencian dirinya pada keluarganya sendiri. Ivona memilih untuk mengakhiri panggilan itu secara sepihak.


Ivona menarik napasnya dalam-dalam untuk meredam amarah yang sempat bergejolak. Ia segera memasukkan ponselnya dan meneguk chocolate ice di depannya. Ivona menatap keluar jendela, di bawah sana terlihat Rolls-Royce hitam yang masih setia menunggunya. Segera ia bergegas mengemasi barangnya yang ada di atas meja, dan membawa tas kanvas itu di pundaknya.


Ivona sedikit berlari saat keluar dari toko buku agar bisa cepat sampai pada Alexander. Ia membuka pintu mobil itu dan langsung duduk di kursi samping kemudi. Melihat wajah tampan Alexander membuat suasana hatinya menjadi jauh lebih baik. Namun, ada yang berbeda dengan penampilan pria ini dibandingkan tadi saat bertemu di sekolah. Alexander terlihat sangat berantakan dengan dasi yang sudah tidak tergantung di lehernya, Ivona bahkan mengedarkan pandangan demi mencari di mana kain panjang hitam itu terletak sekarang. Di kursi belakang rupanya, benda itu teronggok begitu saja.


Jas hitam Alexander juga sudah terlepas dari tubuh kekar itu, hingga Ivona bisa melihat jelas kemeja warna maroon yang kini lengannya telah digulung hingga siku, dua kancing atasnya juga terlepas. Menampakkan dada Alexander yang dulu pernah dilihatnya saat pertama kali ia bertemu pria ini. Ivona menggigit bibir bawahnya, melihat penampilan Alexander yang sangat berantakan. Rambut pria itu bahkan sudah tidak serapi sebelumnya.


Sejujurnya Ivona takut menanyakan hal ini, tapi tak urung jua ia membuka suara, "Apakah kau menunggu lama?"


Alexander menoleh pada gadis yang sudah duduk di sampingnya dan menjawab, "hanya empat puluh tujuh menit.” Ekspresi datar Alexander membuat Ivona terdiam, ia sadar benar jika ia telah membuat pria ini lama menunggu. Jawaban Alexander tadi adalah bentuk sindiran untuknya.

__ADS_1


Seketika hanya sunyi yang mengisi celah di antara mereka. Ivona tidak lagi ingin banyak bicara karena merasa bersalah pada Alexander, dan Alexander sendiri masih merasakan kesal karena harus menunggu selama ini.


Tiba-tiba ponsel Alexander berdering, membuat dua orang yang sedari tadi terdiam sama-sama tersentak. Alexander sempat melirik Ivona sebelum ia mengangkat panggilan itu.


"Halo, my man," sapa sebuah suara diseberang sana dengan antusias.


Alexander sampai menjauhkan sedikit ponselnya agar telinganya tidak terlaku sakit mendengar suara temannya yang begitu nyaring.


Alexander bahkan belum menjawab salam dari temannya itu, saat orang tersebut dengan tidak sabarnya kembali bersuara, "Datanglah ke kelab malam ini, kita akan bersenang-senang."


"Aku akan mentraktir anggur terbaik untukmu, dan juga wanita-wanita kelas atas yang aku yakin kali ini kau tidak akan bisa menolaknya." Orang yang menelpon Alexander itu terkekeh-kekeh setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, seolah mentertawakan Alexander yang tidak seperti pria normal pada umumnya yang menyukai wanita cantik nan menggoda.


"Apakah kau menjadi seorang pedofil sekarang?" tanya orang itu vulgar. Bagaimana tidak ia berpikir demikian, ia tahu benar temannya ini. Alexander yang biasanya tidak menyentuh wanita di kelab seketika menyukai anak dibawah umur. Bukankah pemikirannya tidak salah?


"Apa yang kau pikirkan, semua yang ada dalam otak kotormu itu tidak berlaku sama sekali padaku!" bantah Alexander.


"Benarkah?" tanya orang itu masih tidak percaya.


"Tentu saja, kau pikir aku segila itu!" jawab Alexander membela diri.

__ADS_1


"Baiklah ... baiklah, kalau kau memang benar bukan seorang pedofil, kau harus buktikan padaku dengan datang ke kelab malam ini. Aku tidak mau tahu, aku akan menunggumu untuk membuatku percaya," paksa orang di seberang.


"Kau jangan gila, aku tidak perlu membuktikan apa pun padamu karena aku memang orang yang benar!" tolak Alexander.


"Aku juga tidak mau tahu, kalau kau tidak datang malam ini, aku bisa membuat sebuah berita yang akan menjadi skandal bagi kehidupan seorang Alexander Alberic. Bagaimana jika judul di majalah halaman pertama besok adalah 'Alexander Alberic si pedofil'." Orang itu kembali tertawa dengan lelucon yang ia buat sendiri.


"Kau tidak akan seberani itu untuk menantangku," ucap Alexander tegas agar orang di sebrang sana mengerti ketidaksukaannya dengan gurauan murahan seperti tadi.


"Oh ... come on man, itu hanya sebuah lelucon," sergah pria itu sebelum Alexander benar-benar ia buat marah. "Kau akan datang, 'kan?" masih berusaha membujuk Alexander.


"Aku tidak bisa meninggalkan anak ini begitu saja, karena anak ini selalu membuatku tidak tenang." Alexander menoleh pada Ivona yang kini juga tengah menatap pada pria itu saat dirinya disebut.


"Dia selalu membuat ulah," imbuhnya di akhir kalimat. Kata yang tepat untuk membuat Ivona mendelik marah pada pria di sampingnya.


"Oh my God, aku jadi semakin penasaran dengan gadis yang bersamamu saat ini. Bagaimana jika kau mengajaknya untuk datang ke kelab bersamamu. Aku yakin semua tidak akan percaya jika Alexander menggandeng seorang gadis."


"Aku tidak bisa, aku takut pestamu akan berantakan jika aku membawanya ke sana," tolak Alexander.


Dan kali ini Ivona benar-benar mendelik tajam pada Alexander yang secara tidak langsung mengatakan jika dirinya adalah biang kerusuhan.

__ADS_1


__ADS_2