IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.40 Penolakan


__ADS_3

Kelly tak percaya dengan apa yang dilihatnya, wajahnya seketika memucat saat Ivona tersenyum senang menyaksikan ketidakberdayaan Yosua. Matanya membulat sempurna melihat Ivona seolah kerasukan setan.


"Apa yang kau lihat?" tanya Ivona saat matanya beralih menatap Kelly yang terperangah.


"Ka-kau tidak bisa melakukannya padaku," jawab Kelly memundurkan langkahnya.


"Kau tidak akan bisa menyakitiku, karena Ayahku adalah seorang wakil direktur. Ayahku tidak akan melepaskanku jika terjadi sesuatu padaku, ia juga bisa mengeluarkanmu dari sekolah ini," ucap Kelly setengah mengancam.


Ivona justru tertawa mendengar ancaman yang dilontarkan Kelly. "Apa kau pikir seorang yang gila itu paham dengan kedudukan ayahmu? Orang gila tidak pernah takut pada apa pun, sekali pun ayahmu pemilik sekolah ini," balas Ivona telak. Kata-kata Ivona tak lagi terbantahkan oleh Kelly. Gadis yang tadi berteriak ingin melihat Ivona diberi pelajaran dengan cara yang tragis ini, kini tak lagi punya keberanian. Di matanya hanya tergambar ketakutan yang luar biasa pada Ivona, si gadis gila.


"Be-berhenti, ja-jangan coba mendekat!" sergah Kelly dengan terbata, saat Ivona terus memangkas jarak.


"Jangan takut, aku akan memperlakukanmu dengan berbeda. Bagaimanapun kau adalah seorang gadis, jadi aku akan melakukannya dengan lembut." Senyum Ivona terlihat semakin menakutkan di mata Kelly dan teman-temannya.


"Dilihat-lihat, wajahmu cantik juga," puji Ivona yang terdengar mengerikan.


Reflek, Kelly langsung menutupi kedua pipinya dengan tangan. "Apa yang akan kau lakukan?" tanya Kelly saat Ivona membungkuk dan mengambil pecahan botol.


"Aku pernah melukis kulit seseorang dengan pisau bedah, tapi aku belum pernah melakukannya dengan pecahan kaca. Aku jadi penasaran, ingin tahu apakah hasilnya akan sama indahnya, atau kah dengan pecahan kaca akan lebih menarik?" Ivona berperan sangat bagus menjadi seorang psikopat gila.


"Kau gila!" umpat Kelly.


"Kau tak perlu mengingatkanku terus menerus dengan kegilaanku, karena aku masih ingat akan diriku yang gila ini." Ivona kembali tertawa, sementara Kelly semakin takut.


"I-iv ...," panggil Beny dengan bersusah payah.


Mendengar suara Beny yang berat, Ivona menoleh. Ia melihat napas Beni yang mulai tidak beraturan, raut wajahnya memucat, seperti sedang sakit. Ivona menyadari sesuatu yang tak beres tengah terjadi pada Beny. Ia segera meninggalkan kesenangannya dengan Kelly, dan segera menghampiri pria gendut itu.


Kelly dan yang lainnya tak menyia-nyiakan kesempatan saat fokus Ivona beralih pada pria monster itu. Mereka langsung kabur dari lorong mengerikan tersebut.


"Pe-pergilah," tolak Beny saat Ivona mendekatinya. Beny tidak ingin Ivona menganggap dirinya monster karena melihatnya dalam kondisi buruk.

__ADS_1


Namun, tidak demikian dengan Ivona. Ia justru bertanya, "Apa kau membutuhkan sesuatu?


"Seperti suntikan misalnya?" sambungnya.


Sekujur tubuh Beny langsung membeku. Beny menundukkan kepalanya, tidak berani melihat tatapan seperti apa yang dilemparkan Ivona padanya, sebab tidak ada seorang pun yang berani menatapnya saat dia sedang kambuh, bahkan orang tuanya pun merasa takut dan menjauhinya saat ia dalam kondisi terburuknya.


"Katakan, apa yang kau butuhkan. Aku akan membantumu," desak Ivona.


Beny masih tak percaya, Ivona masih saja menunggunya dan bukan kabur seperti yang lainnya. Ia justru terpaku dengan sikap Ivona yang tidak biasa.


"Kau harus berobat jika memang sakit," ujar Ivona.


Beny masih terdiam dengan perlakuan Ivona yang seakan mengkhawatirkannya. Kini pria gendut itu memberanikan diri untuk menatap Ivona. Melihat ekspresi gadis yang menawarkan pertolongan padanya. Tidak ada ketakutan atau merendahkan dalam sorot mata Ivona, gadis itu hanya terlihat sedikit malas. Mungkin karena Beny tak kunjung menjawab pertanyaannya.


Tak sabar dengan Beny yang terus terdiam, Ivona berinisiatif untuk memapah Beni. Beny sedikit tersentak saat tangan Ivona menelusup masuk dibawah lengannya. Perlahan dan hati-hati, Ivona membawa Beny berjalan menuju ruang kesehatan.


"Maafkan aku," ucap Ivona yang terus berjalan memapah Beny.


"Lain kali jika ada masalah apa pun, kau boleh bercerita padaku. Aku akan membantumu," lanjut Ivona.


Beny merasa tersentuh dengan ucapan Ivona ini. Belum pernah ada yang membuatnya merasa begitu dihargai sebagai seorang teman.


Akhirnya, sampai juga Ivona membawa Beny ke ruang kesehatan. Ivona menyerahkan Beny pada petugas medis di sana, dan meninggalkannya ke luar.


Ia teringat jika hari ini ada rapat konferensi dengan perusahaan milik Marcus. Ivona segera mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan ke kantor komputasi jika dirinya tidak bisa ikut rapat hari ini. Setelahnya ia kembali masuk ke ruang kesehatan. Petugas medis yang berjaga hari ini adalah seorang dokter wanita. Name tag di dadanya bertuliskan nama Sandra Kohler, dokter muda itu cukup menawan dengan rambut merah kecoklatan dan iris mata birunya.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Ivona pada Sandra.


Dokter itu menatap ke ruang perawatan Beny sebentar lalu beralih pada Ivona. "Kondisinya tidak cukup baik, dia membutuhkan perawatan lebih lanjut."


"Apa seburuk itu?" tanya Ivona lagi.

__ADS_1


"Ya," jawab Sandra disertai anggukan.


"Apa aku boleh menemuinya?"


"Tentu saja, kau boleh menghiburnya." Sandra meninggalkan Ivona dengan Beny di ruang perawatan.


Ivona membuka kamar perawatan dengan hati-hati. Ia melihat Beny yang terbaring lemah di ranjang perawatan. Ivona mengambil bangku dan duduk di sebelah Beny. Pria gendut itu menyadari kehadiran Ivona di sampingnya.


"Maaf, sudah merepotkan mu," ucap Beny.


Ivona menarik lurus garis bibirnya. "Tidak masalah."


Sesaat, kesunyian mengisi diantara keduanya. Beny merasa canggung dengan hadirnya seorang gadis di dekatnya. Dirinya yang selalu dianggap monster, tak pernah punya kedekatan seperti ini dengan seorang gadis. Ivona adalah yang pertama. Gadis di sampingnya ini telah membuatnya mengenal rasa yang baru dalam hatinya.


Ivona yang memperlakukannya dengan tulus sebagai sesama manusia, semakin membuatnya ingin lebih dekat dengan gadis itu.


"I-iv ...," panggil Beny hati-hati.


"Ya," jawab Ivona.


"Terima kasih untuk semua. Aku senang bisa mengenalmu. Jujur saja kau adalah siswa pertama di sekolah ini yang tidak memandangku dengan sebelah mata. Kau berbeda."


Ivona hanya tersenyum tipis menanggapi, karena baginya tak ada yang harus direndahkan hanya karena seseorang itu memiliki sesuatu yang berbeda, terlebih jika itu adalah penyakit. Sebab ia tahu, bukan keinginan orang itu untuk sakit, melainkan kehendak Tuhan yang membuatnya demikian. Dan Ivona bukanlah orang dengan pemikiran sempit untuk merendahkan orang lain karena penyakit yang diidap orang tersebut.


"Iv ... jika boleh, aku ingin jadi lebih dekat denganmu," ucap Beny takut-takut.


Ivona terlihat syok mendengar keinginan Beny. Ia memang tulus membantu seseorang, tapi bukan berarti ingin jadi lebih dekat dengan orang yang ditolongnya. Ivona tidak ingin berkata kasar pada Beny yang sedang sakit, karena takut mempengaruhi kondisi psikologisnya dan tentunya akan membuat kondisi pria gendut itu tidak baik.


"Pikirkan kesehatanmu lebih dulu," jawab Ivona, lalu pergi meninggalkan ruang perawatan.


Melihat kepergian Ivona dengan raut tidak suka karena permintaannya, Beny sadar jika itu adalah penolakan gadis itu. Beny terduduk di atas ranjang perawatan dengan tatapan yang terlihat muram. Memikirkan penolakan Ivona pada dirinya tadi sekaligus menyesali sikapnya yang gegabah karena mengutarakan keinginannya.

__ADS_1


__ADS_2