IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.35 Vila Alexander


__ADS_3

Di dalam Muse Bar, Thomas masih mencari Ivona dengan panik. Ia menyibak kerumunan orang yang tengah menari tanpa beban, meliuk-liukkan tubuhnya dengan lincah.


Ia menatap setiap bangku yang terisi, berharap ada adiknya yang tengah duduk di salah satu bangku itu. Getar ponselnya membuat Thomas menepi ke sudut ruangan untuk mengangkat panggilan dari kakaknya. Tommy meneleponnya.


"Halo, Tom," sapa Thomas.


"Thomas, kau di mana?" tanya Tommy.


"Aku masih di Muse Bar mencari Ivona," jawab Thomas.


"Ivona sudah ditemukan dan dibawa pulang oleh Alexander," jelas Tommy.


"Mereka ada di mana?" tanya Thomas lagi.


"Mereka baru saja meninggalkan Muse Bar, dan akan _____"


Belum selesai Tommy berbicara, Thomas langsung menutup panggilannya dan berlari keluar dari bar. Hingga dia melihat sebuah mobil limousine Lincoln yang menjauh, terlihat jelas gurat kesedihan tergambar di wajahnya saat menatap mobil yang membawa Ivona pergi. Ia kembali merasa gagal sebagai seorang kakak, sekali lagi ia tak bisa melindungi adiknya dari perlakuan tidak adil keluarganya.


Di bawah guyuran hujan langit Victoria, Thomas menatap nanar mobil yang semakin lama menghilang dari pandangannya. Thomas merasa hatinya kosong dan sakit. 


_______________


Di dalam mobilnya yang tengah melaju, Alexander baru menyadari sikap impulsif-nya. Ia tidak habis pikir, mengapa ia membawa Ivona pulang ke rumahnya tanpa pikir panjang. Sesekali ia memandang wajah Ivona yang terlelap di pundaknya. Wajah manis ini membawa ingatannya kembali ketika pertama kali ia bertemu dengan Ivona. Saat itu, gadis ini seperti kucing kecil yang menyedihkan, yang berpura-pura patuh, tapi tidak ingin bergantung padanya.


Semakin dilihat, semakin membuat Alexander merasa Ivona cukup cantik dengan kulit seputih susu, mata bulat dan bibir yang ranum. Yah ... bibir ranum Ivona membuat tatapan Alexander beralih fokus. Bibir merah muda ini sempat membuat Alexander tergoda untuk mencicipi rasanya, tapi urung ia lakukan karena ia sadar gadis ini adalah adik dari temannya.

__ADS_1


Alexander sendiri merasa aneh pada dirinya. Sudah cukup lama ia membiarkan dirinya tak tersentuh wanita dan tidak berniat memiliki hasrat pada seorang gadis, tapi Ivona membuat keinginan terpendamnya tiba-tiba menyeruak tanpa ijin. Perlahan tangan Alexander mengusap wajah Ivona yang begitu tenang dalam sandarannya.


"Selamat malam," lirihnya seolah mengajak Ivona berbicara.


Mobil terus melaju menyusuri jalanan yang semakin basah karena diguyur hujan. Melewati deretan toko dan rumah makan yang masih memanjakan para pelanggannya. Hingga mereka tiba di sebuah Vila mewah di pinggiran Victoria.


Ivona terbangun dari tidurnya saat ia merasakan mobil yang dinaikinya berhenti. Namun, tidak langsung membuka mata sebab ia masih berusaha mengumpulkan nyawanya kembali menyatu dengan raganya. Beberapa saat kemudian ia baru mulai bereaksi, matanya mengerjap sebelum terbuka lebar.


Alexander yang menyadari Ivona telah terbangun dengan lirih berkata, "Apa aku mengagetkanmu dengan cara mengerem ku?"


Ivona hanya tersenyum tipis, sebab tidak mungkin jika mobil semewah ini memiliki sistem pengereman yang kasar. Ia terbangun karena merasa mobil sudah berhenti, bukan karena cara Alexander memberhentikan mobilnya.


"Apa kita akan bermalam di sini?" tanya Ivona setelah menengok keluar jendela.


Alexander mengangguk mengiyakan.


"Ma-maksudku kita akan tidur terpisah bukan, tidak satu kamar," jelas Ivona yang membuat Senyum Alexander tersungging indah di bibir pria dewasa itu.


Alexander tak mengira jika Ivona berpikir sejauh ini dan berterus terang di depannya. Alexander tak menjawab pertanyaan Ivona, dan membiarkan gadis itu penasaran dengan jawaban pertanyaannya.


"Ayo masuk," ajaknya yang langsung keluar.


Ivona yang tak mendapatkan jawaban hanya bisa menatap Alexander yang keluar dan berjalan memasuki Vila. Tidak ingin tinggal sendirian di dalam mobil, Ivona berlari keluar dan menyusul Alexander.


Vila milik Alexander ini terlihat berbeda dengan rumah milik keluarganya yang bergaya Klasik victoria dengan arsitektur yang megah nan mewah. Vila ini memiliki tampilan yang modern dan futuristik bebas dari detail dekorasi yang berlebihan. Tampilan dinding dengan warna putih dan gubahan massa bangunan yang mengadaptasi bentuk geometrik dan organik membuat desain vila ini begitu menarik, dan yang pasti Vila milik Alexander ini lebih besar dari pada rumah keluarga Iswara.

__ADS_1


Saat Ivona begitu sibuk mengagumi keindahan Villa, Alexander sedang menjauhkan diri dari gadis itu dan sibuk menghubungi seseorang.


"Apa suka tempat ini?" bisik Alexander tepat di telinga Ivona.


Sedikit terperanjat saat Alexander membuatnya kaget sekaligus meremang di waktu yang bersamaan.


"Apa kau tinggal sendirian di sini?" tanya Ivona untuk mengalihkan rasa canggung berada sedekat ini dengan Alexander.


"Tidak." Alexander menggeleng. "Karena ada kau yang akan menemaniku." Kalimat yang baru saja terucap oleh Alexander seketika membuat Ivona blushing.


Ivona tersenyum canggung pada pria yang baru saja membuatnya merona. Ia berpikir bagaimana caranya agar ia bisa berada di sisi Alexander sedikit lebih lama. Bukan karena perasaannya yang mulai berpikir gila tentang hubungan pria dan wanita, tapi karena selama belasan tahun ini untuk pertama kalinya dia tidur dengan sangat tenang, dan semua itu karena pria ini.


Alexander membawanya ke sebuah kamar. "Kau bisa tidur di sini," ucap Alexander saat membuka pintu kamar untuk Ivona.


Ivona masih menatap ragu pada Alexander.


"Tenanglah, aku tidak akan berada satu kamar dengan mu. Aku tidur di kamar yang itu." Alexander menunjuk kamar lainnya, yang merupakan kamarnya.


Ivona merasa tenang memasuki kamar itu, setelah mengucapkan selamat malam pada Alexander. Tidak lama kemudian pintu kamar Ivona diketuk, ia segera membukanya. Ternyata bukan Alexander seperti dugaannya, melainkan seorang pelayan wanita paruh baya yang datang dengan membawa semangkok sup.


"Selamat malam, Nona. Saya diperintahkan Tuan Alexander untuk mengantar sup penghilang mabuk ini untuk Anda," ucapnya sebelum Ivona bertanya.


"Tapi, siapa yang mabuk?" tanya Ivona. "Aku tidak sedang mabuk, untuk apa aku harus makan sup penghilang mabuk?" sambung Ivona.


"Maafkan saya, Nona, saya hanya menjalankan perintah dari Tuan Alexander. Tuan Muda juga berpesan agar Anda menghabiskan sup ini."

__ADS_1


Ivona paham dengan posisi pelayan ini, karena itu ia meminta pelayan itu membawa sup itu masuk. "Letakkan saja supnya di sana." Ivona menunjuk meja di dalam kamar.


Setelah pelayan itu pergi, Ivona memandangi sup yang dibuat khusus untuknya. Senyum tipis tersungging di bibirnya, saat mengingat bahwa sup ini adalah bentuk perhatian dari seorang Alexander Alberic.


__ADS_2