IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.132 Curiga


__ADS_3

Sam terus saja membuntuti Ivona, ia ingin tahu jawaban dari gadis itu atas pertanyaannya. Namun Ivona memilih diam, ia malas sekali berbicara tentang perasaan pada orang asing.


"Iv, kau belum menjawab pertanyaanku." Sam terus mengejar Ivona.


"Apa kau menyukaiku?"


Ivona tak peduli, ia terus berjalan menuju pintu penjemputan. Mata Ivona berbinar kala mendapati kekasihnya berdiri menyambutnya. Hatinya berdegup kencang saat setiap langkahnya membawa Ivona semakin dekat dengan Alexander. Ia sangat bahagia bisa kembali melihat wajah serupa dewa itu, meski begitu terselip malu saat Ivona sudah berada tepat di hadapan Alexander.


Pria itu merentangkan tangannya untuk menyambut sang pujaan hati. Dengan malu-malu, Ivona masuk dalam dekapan Alexander. Ia menikmati aroma candu dari tubuh kekasihnya.


"Aku merindukanmu," bisik Alexander.


Ivona tidak menjawab tapi dalam hatinya ia begitu bahagia mendengar ungkapan kerinduan dari seorang Alexander Alberic. Pelukan yang semakin erat dari Ivona menggambarkan betapa ia memiliki rasa yang sama.


Mendadak Ivona teringat akan Sam yang sejak tadi mempertanyakan perasaannya. Ivona melepaskan rengkuhan Alexander dan menoleh pada Sam yang ternyata juga melihatnya. Pria itu merasa patah hati bahkan sebelum memulai.


Ivona melihat wajah lesu Sam yang pergi meninggalkannya dengan Alexander. Gadis itu tersenyum. "Maaf, tapi aku sudah memberikan hatiku pada pria ini," batin Ivona. Ia kemudian menatap Alexander dan memeluknya lagi.


"Kita pulang," ajak Alexander, yang disetujui oleh Ivona.


Sebenarnya Alexander ingin mengajak Ivona pulang ke Vila tapi gadisnya itu menolak. Ia ingin segera bertemu keluarganya.


"Baiklah, sesuai keinginanmu, Nona. Aku akan mengantarmu ke rumah," ujar Alexander.


________________


Ditengah malam Valia berjalan memasuki sebuah bar. Ia langsung duduk di depan bar station, dan berkata pada barista di sana, "Buatkan aku satu yang paling keras."


Tanpa bantahan, sang barista langsung meracik keinginan pelanggannya. Valia memang membutuhkan minuman itu untuk menghilangkan rasa jijik pada dirinya sendiri seusai menemui orang yang sebenarnya tidak pernah ingin Valia temui. Rasanya ia ingin muntah saat harus mengingat pertemuannya tadi dengan si tua bangka.


Ia tidak pernah menyangka akan ada di titik ini. Menjadi seorang wanita rendah yang bersedia menukar tubuhnya demi ambisinya.


Valia meneguk satu sloki minuman keras itu dalam sekali teguk, lalu menyodorkannya lagi pada sang barista agar mengisinya kembali.

__ADS_1


"Kau akan membayar semua yang aku rasakan ini dengan lebih pedih," gumam Valia dengan mencengkeram gelas ketiga yang ia tenggak.


Valia terus saja minum hingga kesadarannya menurun. Ia tertidur begitu saja di meja bar setelah mengeluarkan segepok uang untuk membayar minumannya.


Di sebuah bangku ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan Valia. Melihat Valia sudah tak berdaya, orang itu mendekat.


"Bawa dia!" titahnya pada para pengawalnya.


Tubuh Valia yang ramping tak menyulitkan sama sekali pengawal itu untuk menggendong Valia dan membawanya ke dalam mobil bosnya. Valia belum sadar jika saat ini dirinya sedang ada di sebuah mobil yang memindahkannya dari bar ke tempat yang tidak ia tahu.


Orang yang berada satu mobil dengan Valia, menyandarkan kepala wanita itu di pundaknya. Ia terus mengusap surai panjang Valia, sembari terus menatap aneh wajah Valia.


"Aku yakin kau adalah dia, kau tidak akan bisa membohongiku," lirihnya sembari mengusap wajah Valia yang halus.


Senyum bahagia terus terkembang di bibir orang yang membawa Valia seiring dengan mobil yang terus melaju, dan Valia belum juga sadar jika dirinya dibawa pergi oleh orang asing.


________________


Ivona sedikit kesal dengan Alexander. Tadi dia bilang akan mengantarkannya pulang ke rumah tapi nyatanya ini sudah hampir dini hari.


Ivona mendelik marah. "Apa kau pikir masih akan ada orang yang terjaga untuk membukakan pintu untukku?"


"Kalau begitu kita kembali saja. Kita pulang ke Vila."


Ivona semakin mendelik. "Ini rencanamu, 'kan. Harusnya tadi kita tidak perlu pergi makan malam di kapal pesiar itu. Untuk pergi ke sana saja sudah membutuhkan waktu yang sangat lama."


Tadi setelah Alexander menjemputnya di bandara, Ivona meminta untuk diantarkan pulang saja dan Alexander setuju tapi dengan syarat Ivona harus pergi makan malam dulu dengannya sebelum pulang. Tanpa berpikir panjang Ivona menyanggupi keinginan Alexander. Tetapi siapa yang mengira jika makan malam yang di maksud Alexander adalah makan malam di sebuah kapal pesiar. Entah apa tujuan pria itu yang pasti hal itu membuat Ivona pulang dini hari karena jarak untuk menuju kapal pesiar tidaklah singkat.


"Tapi kau menyukainya, bukan?"


Ivon mendengkus kesal. Ia memang menyukainya tapi kalau harus pulang jam segini rasa bahagia yang tadi jadi berkurang dua persen.


Dengan malas Ivona membuka pintu mobil. Ia belum sempat keluar saat tangan Alexander mencekal tangannya. "Mau aku antar? aku akan menjelaskan pada keluargamu jika semua adalah salahku."

__ADS_1


Ivona melepaskan tangan Alexander perlahan, lalu menggeleng pelan. "Aku sendiri saja. Terima kasih," ujar Ivona kemudian turun.


Ia melangkah menuju pintu rumah keluarga Iswara. Ia tidak tahu apakah akan ada yang membukakan pintu untuknya atau tidak, tapi ia mencoba mengetuk pintu rumah itu.


Setelah beberapa saat menunggu, ternyata ada yang terbangun dan membuka pintu untuk Ivona. Dia adalah Tuan Iswara—ayah Ivona.


"Sayang, kau dari ma ____" Kalimat itu tak berlanjut ketika yang dilihatnya saat membuka pintu adalah Ivona. "Ivona?"


"Ma-maafkan aku, aku tau ini tidak sopan tapi aku baru saja pulang dari _____"


"Masuklah!" potong Tuan Iswara cepat.


Ivona langsung masuk sesuai perintah ayahnya. Melihat kekasihnya sudah masuk, Alexander kembali menstarter mobilnya dan pergi.


Langkah Ivona terhenti saat melihat ayahnya tidak ikut masuk dengannya. Pria paruh baya itu masih berdiri di ambang pintu seolah mencari sesuatu. Ivona sedikit kaget saat Tuan Iswara tiba-tiba menegurnya, "Kenapa belum naik?"


"Ah ... i-iya, aku akan naik." Ivona sedikit panik karena ketahuan memperhatikan ayahnya yang terlihat aneh. Ivona segera membawa langkahnya menaiki anak tangga, tapi rasa penasarannya pada sang ayah membuat langkahnya kembali melambat dan kembali menoleh pada pria yang kembali terlihat mencari sesuatu di luar rumah.


Karena ayahnya kembali menutup pintu, Ivona mempercepat langkahnya untuk sampai ke kamar. Ia tidak ingin lagi ketahuan sedang menaruh curiga pada sang ayah.


Di dalam kamarnya Ivona masih bertanya-tanya tentang apa yang dicari oleh sang ayah.


______________________


Matahari sudah bersinar begitu terang, dan sinarnya itu mulai mengusik tidur Valia. Wanita itu gelisah di atas ranjang karen tak tahan dengan silau cahaya matahari yang masuk melalui balkon apartemen.


Valia membuka matanya, mengerjap untuk melihat ada di mana dirinya. Valia merasa asing dengan tempat ini. Ini bukan hotel tempatnya menginap dulu, bukan juga apartemen yang ia tempati sekarang—fasilitas yang ia dapat dari Alexander. Kalau bukan di dua tempat itu, lalu di mana dirinya?


Valia buru-buru bangkit dan ingin tahu di mana ia saat ini.


"Kau sudah bangun?"


Suara seseorang yang duduk di sebuah sofa menghadap balkon membuat Valia menoleh. Orang itu berdiri mendekati Valia dengan senyum aneh dan sulit diartikan oleh Valia, tapi terlihat menakutkan.

__ADS_1


"K-kau?"


__ADS_2