IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.89 Kejadian Salah Paham


__ADS_3

Meski sudah tahu ada yang berbeda dari raut wajah Tommy, Vaya tetap nekat ingin mengambil hadiah yang dipegang Tommy. "Ini untukku, 'kan?"


Vaya baru akan meraih hadiah itu saat Tommy menjauhkan bingkisan di tangannya dari jangkauan Vaya. "Bukan!" jawab Tommy tegas.


Mata Vaya membulat sempurna, merasa ada yang salah dengan pendengarannya.


"Hadiah ini bukan untuk mu, tapi untuk adikku, Ivona," jelas Tommy.


Vaya semakin sulit percaya, apakah ini semua benar-benar nyata atau kah hanya mimpi buruknya. Setelah Thomas yang sikapnya berubah 180 derajat kepadanya, kini Tommy pun bersikap yang sama.


"Kak ... kau bercanda, 'kan?" lirih Vaya memastikan.


"Untuk apa aku bercanda, apa lagi ini tentang Ivona, adik kandungku."


Ivona ... Ivona ... Ivona! kenapa gadis gila itu merebut satu persatu kasih sayang kakaknya.


"Apa kau sadar dengan ucapanmu, Kak Tom?"


"Aku tidak sedang mabuk, untuk apa kau meragukan kesadaranku."


"Kau yang dulu, tidak akan pernah berkata sesuatu yang menyakitiku." Vaya masang wajah sedihnya.


"Kau benar, aku yang dulu tidak akan pernah berkata sesuatu yang menyakitimu karena saat itu aku dibutakan oleh cinta dan kasih sayangku, padamu."


Vaya semakin tersentak kaget. Tak sampai di situ saja, ucapan Tommy berikutnya lebih membuat Vaya bergeming layaknya patung. "Kenapa kau tidak pulang ke keluarga kandungmu sendiri, bukankah mereka pasti juga menginginkanmu. Berhentilah untuk selalu berada di keluarga Iswara."

__ADS_1


Ucapan Tommy adalah tamparan keras bagi Vaya, apakah itu artinya pria ini tidak lagi menganggap dirinya sebagai adik yang dulu paling di sayang. "Kak, kenapa tega sekali kau berkata seperti itu. Apa kau lupa dengan kasih sayangmu dulu padaku. Aku pernah menjadi adik yang selalu kau jaga."


Jujur saja, Tommy bukanlah pria yang sadis seperti tadi. Apalagi harus bersikap demikian menyakiti hati Vaya , yang notabene adalah orang yang pernah dekat dengannya. Namun, dia punya alasan untuk melakukan hal tadi. Vaya harus bisa menerima kenyataan bahwa dirinya sebenarnya bukanlah bagian dari keluarga Iswara, dan seharusnya ia segera kembali ke rumah keluarga kandungnya agar Ivona bisa mendapatkan tempatnya kembali.


Vaya masih tidak bisa berkata-kata, saat tiba-tiba Thomas turun dari mobil yang ada di belakang mobil Tommy. Raut terkejut nampak jelas dari ketiganya, Tommy, Thomas dan Vaya.


"Tommy," lirih Thomas.


Tommy dan Vaya menatap terkejut pada salah satu anggota keluarga Iswara itu, tapi yang paling terkejut adalah Vaya. Ia sangat syok mendapati dua kakak laki-lakinya ada di hadapannya.


"Apa yang kau lakukan di sini, Tom?" tanya Thomas.


"Tentu saja tujuanku datang ke sini adalah demi memberikan kejuatan untuk Ivona," jawab Tommy jujur. "Kau sendiri apa yang kau lakukan di sini?"


"A-aku?" Thomas menunjuk dirinya, dan Tommy mengangguk setuju. "Aku juga punya tujuan datang ke mari, aku ingin melihat apakah Ivona diperlakukan baik di sekolah ini atau tidak," jawab Thomas.


Tommy tak terima dengan ucapan Thomas. "Kau sendiri, kenapa tidak kau atur para penggemarmu itu agar tidak mengganggu Ivona lagi di media sosial."


Thomas ingin marah dengan kata-kata Tommy, tapi apa yang dikatakan Tommy memang benar adanya. "Sudahlah, kita tidak perlu berdebat karena tujuan utama kita sebenarnya adalah sama, yaitu menjemput sekaligus memberikan kejutan untuk Ivona."


Vaya, apakah sekarang benar-benar akhir dari dirinya yang menyandang nama Iswara dibelakang namanya. Kedua kakaknya ini bahkan sudah berterus terang mengusirnya.


Ada hal yang membuat hatinya mencelos. Tommy dan Thomas, mereka berdua berdebat tentang Ivona di hadapannya tanpa memikirkan sedikit pun perasaan Vaya.


Saat ini, murid-murid di sekitar mulai menyadari keberadaan Tommy dan Thomas sedang bersama Vaya. Mereka yang melintas selalu menatap pada ketiga orang yang cukup populer itu. Hal yang menambah iri mereka pada Vaya.

__ADS_1


"Vaya benar-benar gadis yang beruntung. Ia memiliki Kakak yang baik, selain tampan mereka juga sangat keren," ujar salah seorang siswi.


"Oh ... andai saja aku menjadi Vaya, pasti akan membuat hidupku menjadi remaja yang paling beruntung di dunia."


"Eh ... lihat-lihat, itu bukannya Kak Tommy dan Kak Thomas, anak laki-laki keluarga Iswara?"


"Mana-mana?"


"Benar, itu mereka," jawab seorang siswa setelah ditunjukkan oleh temannya.


"Ah ... ternyata aslinya lebih tampan," pekik seorang siswi.


"Mereka benar-benar perhatian kepada adik mereka Vaya, ya. Lihatlah, dari bandara Kak Tommy langsung menuju ke sekolah ini hanya untuk menjemput Vaya."


"Dia memang Kakak yang keren."


"Dia juga membawa hadiah untuk Vaya, lihatlah!"


"Kira-kira apa ya isi dari hadiah itu?" Mereka semua fokus pada bingkisan kotak bersampul merah yang dibawa oleh Tommy.


"Benar, kira-kira apa ya isinya, jadi tidak sabar ingin tahu."


"Kita tunggu besok saja, Vaya pasti mempostingnya."


"Benar, Vaya tidak akan mungkin menyimpan kebahagiaannya sendiri. Bukankah dia sangat aktif di media sosial?"

__ADS_1


"Ish ... sudah tidak sabar menunggu Vaya memperbaharui status di media sosial."


Semua orang yang menyaksikan mereka bertiga menjadi salah paham. Mereka sangka kalau Tommy dan Thomas datang ke sekolah untuk menjemput Vaya dan memberi hadiah untuk gadis itu.


__ADS_2