IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.164 Lelucon


__ADS_3

Ivona terkejut dengan apa yang saat ini sedang Aldrich lakukan padanya. Tanpa ijinnya pria ini menciumnya di depan umum. Logikanya menolak semua perlakuan Aldrich ini, menyadarkan tubuhnya yang tadi membeku. Secara sadar Ivona mendorong tubuh Aldrich yang menempel dengan tubuhnya. Tanpa jeda, satu tamparan keras melayang ke wajah tampan Aldrich Ryder.


Sekali lagi, para tamu undangan dibuat terkejut oleh pasangan yang sedang hangat diperbincangkan ini. Mereka terperangah tak percaya jika seorang Aldrich Ryder akan dipermalukan oleh wanita yang baru saja ia umumkan sebagai calon istrinya itu.


Tentu saja Aldrich adalah orang yang paling kaget karena harus merasakan panasnya tangan mulus Ivona. Sama seperti Ivona tadi, mata Aldrich pun membelalak lebar menatap Ivona sembari memegangi pipinya yang terasa panas. Matanya tajam menatap Ivona atas apa yang baru saja gadis itu lakukan.


"It's not funny!" tegas Ivona sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Aldrich seorang diri di atas panggung. Ia tak peduli akan kemarahan yang ia lihat di wajah calon suaminya itu.


Aldrich menatap kepergian Ivona dengan kemarahan yang bercokol di hatinya. Namun, melihat tamu undangan yang masih menjadikannya pusat perhatian, dalam sekejap pria itu mampu mengendalikan ekspresinya. Ia memang pria yang pandai menguasai keadaan. Aldrich segera meraih mikrofon, dan memasang senyum di bibirnya seolah kejadian tadi bukanlah hal luar biasa yang harus membuat mereka terperangah.


"Oh ... sorry, kurasa dia malu. Ya ... dia malu. Dia, ehm ____" Aldrich tersenyum di atas panggung mencoba mengendalikan situasi agar kejadian tadi tak menjadi perbincangan buruk bagi citranya.


"Kalian tahu, dia belum pernah punya kekasih sebelumnya. Aku adalah yang pertama dan dia tidak suka jika aku mengumbar kemesraan di depan banyak orang, ya begitu." Kini Aldrich tertawa seakan cerita yang ia sampaikan adalah kisah lucu dari gadis polos yang belum pernah berciuman.


"Baiklah, kurasa aku harus mengejar gadisku dulu sebelum dia benar-benar marah padaku dan membuatku gagal mengirimkan undangan pada kalian semua. Maafkan aku Tuan Gilbert sudah mengganggu pestamu, aku janji kau akan dapatkan kompensasi atas apa yang aku lakukan, dan untuk semua hadirin, nikmati kembali pesta kalian dan tunggu undangan dariku." Aldrich kembali mengakhiri pidatonya dengan candaan sebelum ia turun dan mengejar Ivona.


Saat ia keluar dari tempat acara Aldrich sudah tidak melihat Ivona. "Kemana dia, cepat sekali menghilang," gerutunya.


Aldrich mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Ivona. Tersambung, tapi tidak diangkat. Beberapa kali Aldrich mencoba menelepon Ivona, dan hasilnya sama saja. Gadis itu tak ingin menjawab seluruh panggilan darinya.


Aldrich pun memutuskan untuk mengambil mobil dan mencoba mencari sambil jalan. Di sepanjang jalan tak henti-hentinya Aldrich mencoba menghubungi Ivona hingga ia sudah mendapatkan separuh perjalan menuju mansion. Aldrich memilih untuk pulang saja, feeling-nya berkata jika Ivona pasti sudah di rumah. Dan benar saja, ketika sampai dirumah dan bertemu ibunya Helena langsung akan menerkamnya.


"Aldrich, apa seperti itu sikap pria sejati, hah!" omel Helena.


"Apa Ibu dan Ayahmu mengajarkanmu untuk berlaku tidak baik pada wanita? kenapa kau biarkan calon istrimu pulang sendiri dengan taksi, apa yang kau lakukan di sana. Apa kau membuatmya cemburu dan marah?" Helena terus mencecar Aldrich dengan berbagai pertanyaan.


"Bu, bisakah kita bicara nanti saja. Aku ingin bertemu dengannya sekarang, ok." Aldrich langsung pergi dan Helena tak menahannya.


Sama seperti waktu dulu Ivona marah, kali ini pun Aldrich mendapati Ivona sudah terbaring di ranjangnya. Aldrich berusaha mendekat dan naik ke atas ranjang. Ia melihat Ivona yang terbaring masih dengan riasannya, tapi sepatunya sudah terlepas, gaunnya pun sudah berganti dengan kaos oblong seadanya. Gadis ini mungkin tak sempat membersihkannya karena tahu jika Aldrich akan segera pulang, sebab itu ia biarkan riasannya masih menempel di wajahnya. Kalau sudah begini, rasa marah Aldrich karena sikap Ivona tadi di pesta lenyap sudah.


"Hei ... apa kau marah?" Aldrich mencoba mengajak berbicara meski ia tahu benar Ivona tengah marah.


"Aku tahu kau belum tidur."

__ADS_1


Ivona tak merespon, ia tetap berpura-pura memejamkan mata. Ia tak ingin ribut dengan pria ini malam-malam.


"Tapi kau marah kenapa? apa karena aku menciummu?" Aldrich tersenyum sendiri, baginya itu tidak mungkin.


"Oh ... ayolah, kau tidak akan mungkin marah karena aku menciummu, bukan? Lagi pula itu hanya sekadar ciuman, nothing special," ujarnya tanpa pikir panjang.


"Kau bukan gadis remaja yang baru pertama kali berciuman bukan, jadi kau tidak akan mungkin marah!"


"Hei ... aku tahu kau belum tidur jadi jawablah!"


Aldrich terus saja bicara seorang diri dan Ivona meski mendengar semuanya memilih untuk pura-pura tuli. Ia biarkan Aldrich Ryder lelah dengan dirinya sendiri. Hal itu berhasil, karena setelah semua pertanyaan yang terlontar dan tak ada satu pun yang dijawab oleh Ivona, Aldrich memilih untuk turun dari ranjang dan pergi dari kamar. Setelah mendengar suara pintu tertutup, Ivona membalik badan dan membuka matanya. Ia tak mengambil sikap apa pun selain memilih untuk kembali memejamkam mata dan memperbaiki moodnya.


Hingga pagi tiba, Ivona tak melihat Aldrich tidur di sofa seperti biasanya dan ia tak peduli di mana pria itu tadi malam. Setelah dari kamar mandi dan melihat wajahnya penuh riasan yang mengerikan masih menempel di wajahnya ia memilih untuk segera membersihkannya. Ivona mengambil seluruh alat pembersih make up ke atas sofa di mana biasanya Aldrich tidur.


Ia mulai dengan membersihkan wajahnya dengan water cleanser yang ia tuang ke atas kapas dan mengusapnya perlahan ke matanya yang terpejam. Hingga seseorang tiba-tiba duduk di depannya dan mengambil alih tugasnya.


Aldrich, pria itu secara mengagetkan mengambil kapas di tangan Ivona dan membantu gadis itu membersihkan wajahnya. Masih membawa kekesalan semalam, Ivona kali ini pun memilih diam dan membiarkan pria itu mengusap wajahnya dengan kapas pembersih itu.


"Kau masih marah?" tanya Aldrich yang melihat raut kesal di wajah Ivona. Meski seperti tak dianggap oleh Ivona, Aldrich tetap bertahan membersihkan wajah gadisnya. Ia bahkan mengganti kapas yang sudah kotor karena penuh dengan bekas riasaan. Ia kembali mengusapkannya pada wajah Ivona hingga bersih. Terakhir tinggal bibir Ivona yang masih terlihat merah karena lipstik, ia pun membantu Ivona hingga warna lipstik di bibir gadis itu pudar.


"Jadi benar kau marah karena aku menciummu?" Aldrich masih bisa menganggap ini lelucon. Dan kecupan tadi hanya untuk membuktikan dugaannya.


"Kenapa?"


Ivona menggeram marah, ia hempaskan tangan Aldrich yang menahan tangannya. Ia hendak berdiri tapi Aldrich menahannya.


"Duduklah, kita bisa bicarakan semuanya. Jangan bertingkah seperti anak kecil, karena itu tidak cocok denganmu. Katakan apa yang kau inginkan dan apa yang tidak kau sukai."


Ivona menatap tajam Aldrich dan berkata, "Aku tidak suka jadi bahan leluconmu!"


"Siapa yang menganggapmu lelucon? kalau itu soal ciuman, bukankah itu hal wajar. Aku calon suamimu, dan aku memperkenalkanmu di depan umum kemudian aku menciummu, lalu di mana salahnya?"


Mendengar penjelasan Aldrich membuat Ivona mengerutkan kening, pria ini masih tak merasa bersalah.

__ADS_1


"Hei, kita bukan hidup di negara yang melarang berciuman antar pasangan di depan umum. Aku sudah mengumumkan pada semua kalau kita akan menikah, lalu di mana salahnya kalau aku mencium calon istriku? Kau bukan anak kecil hingga aku akan terkena pasal penca bulan ketika aku menciummu _____"


"Kau tidak meminta ijinku!" potong Ivona cepat.


"Apa!" pekik Aldrich.


"Ya ... kenapa kau tidak meminta ijin sebelum kau melakukannya?"


"Hah ...." Aldrich ingin tertawa mendengarnya. "Jika aku ijin padamu, apa kau akan mengijinkanku menciummu?" tanya Aldrich balik.


Ivona tampak ragu menjawab.


"Belum tentu, 'kan?" Aldrich menghela napas sejenak. "So, jangan membuat sesuatu yang kecil menjadi besar. Aku hanya menciummu. Aku tidak melakukan hal lebih padamu. Kau tahu kenapa?" Aldrich terdiam, menunggu jawaban Ivona.


"Karena aku menghormatimu. Kau tahu kenapa selama ini aku memilih tidur di sofa dan bukan di ranjang bersamamu?" Mata Aldrich menatap serius Ivona.


"Itu juga karena aku menjaga privasimu."


Ivona semakin terdiam dengan semua pengakuan Aldrich. Benarkah pria itu begitu memikirkan sampai sejauh itu.


"Soal tadi malam kenapa aku menciummu, jujur saja aku kesal dengan Whesley. Aku ingin membalasnya, dan aku sudah mempertimbangkan tindakan yang kuambil saat aku menciummu. Kurasa semua akan baik-baik saja, karena aku yakin kau pasti pernah berciuman sebelumnya."


Ivona masih terdiam, kali ini nampak raut malu di wajahnya.


"Atau jangan-jangan aku adalah yang pertama?"


"Oh ... Tuhan, kau belum pernah berciuman?" goda Aldrich.


Merasa kembali jadi bahan lelucon, Ivona yang tadinya mau memaafkan setelah mendengar penjelasan Aldrich yang masuk akal jadi kembali naik darah. Ia mengambil bantal sofa yang sejak tadi ia jadikan sandaran dan melemparkannya ke muka Aldrich lalu berdiri dan akan pergi.


Aldrich bergerak lebih cepat sebelum gadis itu jauh meninggalkannya Aldrich bisa meraih pergelangan tangan Ivona dan menariknya kembali. Seperti yang ia inginkan Ivona jatuh tepat di atas pangkuannya. Ivona tak bisa berkutik lagi, meronta pun percuma karena Aldrich menahannya dengan kuat.


"Kenapa harus malu, aku justru sangat bangga bisa jadi yang pertama untukmu. Itu akan membuat hubungan kita lebih mudah ke depannya," ujar Aldrich dengan tatapan yang terpaku pada pemilik manik indah di pangkuannya.

__ADS_1


Mereka berdua saling terdiam dengan pikirannya masing-masing.


"Kau membuatku jatuh dalam pesonamu dan tenggelam dalam misteri kehadiranmu."


__ADS_2