IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab. 161 Belajar Menerima Takdir


__ADS_3

Ivona tak ingin berkata jujur pada Aldrich tentang pria itu yang memang mengingatkannya pada sosok Alexander. Ia lebih memilih tak acuh pada pertanyaan Aldrich, dan membuang pandangannya keluar jendela.


Untunglah Aldrich bukan tipe pria detektif yang akan menindak lanjuti pertanyaanya hingga menemukan jawaban yang ia inginkan. Aldrich sendiri tak lagi ambil pusing soal pertanyaan asal yang ia ceploskan.


"Berhenti di sini saja," pinta Ivona saat ia sudah hampir sampai di depan kantor.


"Kenapa?" Meski bertanya Aldrich tetap menghentikan laju mobilnya.


"Aku tidak mau kita terlihat bersama."


"Why?" kening aldrich berkerut.


"Aku duluan, tidak enak jika dilihat karyawan kita jalan berdua," ujar Ivona yang turun lebih dulu tanpa ingin menjalaskan lebih lanjut.


Sebenarnya Aldrich tidak keberatan jika ada yang tahu soal Ivona dan dirinya, tapi demi menghormati kedamaian Aldrich ikuti mau bakal calon istrinya itu. Setelah memastikan Ivona memasuki gedung kantor yang telah ia akuisisi itu, Aldrich baru menuju basement tempat parkir khusus untuknya.


Ivona melenggang masuk ke gedung perkantoran itu. Sesekali menjawab sapaan dari karyawannya.


"Nona," seru Ren.


Ivona berbalik dan melihat sekertarisnya itu berjalan ke arahnya.


"Nona baik-baik saja?" Ren menatap Ivona dari atas sampai bawah.


"Ya, kenapa?"


"Apa Tuan Aldrich melakukan sesuatu pada Nona?"


Ivona melihat kanan dan kirinya, banyak karyawannya yang tengah berjalan wara-wiri melewatinya. "Kau tahu kalau aku bersama Aldrich?" tanya Ivona dengan suara lirih.


Ren mengangguk.


"Dari mana?"

__ADS_1


"Kemarin saya datang ke rumah Tuan Howard, Tuan besar bilang Anda sedang berada di kediaman Tuan Ryder."


"Ayahku tahu?"


Ren kembali mengangguk.


"Pria itu memberi tahu ayah kalau dia membawaku ke rumahnya dan Ayahku tidak menjemputku. Apakah Ayahku juga begitu lemah pada seorang Aldrich Ryder. Nampaknya hidupku sudah seperti kehidupan anak pengusaha pada umumnya, yang harus menikah karena pernikahan aliansi atau sebagai gadis penebus hutang ayahnya," ujar Ivona dalam hati.


"Nona, kau baik-baik saja?"


"Ya, aku baik-baik saja. Ayo kita ke atas," ajak Ivona mencoba menepis apa yang baru saja ia pikirkan.


Mereka berjalan menuju lift untuk naik ke ruangan mereka berada.


"Ini semua karena Tuan Muda Whesly itu, kalau saja bukan karena dia menjebak Tuan Besar, Nona pasti tidak harus mengikuti keinginan Tuan Rayder."


Ivona menoleh, ia mengingat nama Whesley. Kalau dipikir-pikir Ren benar. Jika bukan karena Whesley, ayahnya tak akan mengalami kebangkrutan dan Ivona tak perlu berjuang mencari investor untuk membuat agar perusahaan keluarga sang ayah tetap bertahan. Ia juga tidak perlu memgalami kecelakaan dan masuk ke dunia novel, atau yang lebih aneh sekarang adalah ia tak perlu menuruti keinginan Aldrich Ryder untuk menikah dengan prian itu dengan alasan sebagai bentuk balas budi karena pria itu membuat perusahaan sang ayah tetap bisa bertahan.


Ivona mendesah mengingat semua itu. Mungkin ia memang harus menerima takdirnya, termasuk menerima Aldrich Ryder. Jika takdirnya memang mengikatnya dengan seorang Aldrich Ryder, lari pun ia tak akan mempu menghindar. Kenapa harus disesali jika memang ini adalah jalan takdir. Ia hanya perlu mejalani dan menikmati semua alur yang sudah tertulis meski kadang banyak cerita yang sejujurnya tak ia inginkan ada dalam kisah hidupnya.


"Ya," jawab Ivona singkat. Ivona langsung berjalan ke ruangannya dan Ren segera menempati tempat dinasnya yang berada tepat di depan ruangan Ivona.


Seharian Ivona berusaha menjalani harinya tanpa berpikir tentang takdirnya yang rumit. Ia juga harus berpura-pura tidak ada hubungan apa pun dengan pemilik baru perusahaannya di depan karyawan yang lain. Kalau Ren, tanpa diberitahu pun pasti gadis itu sudah tahu. Mungkin lebih tahu dari pada Ivona sendiri.


Ivona sengaja memilih jam pulang kantor terlambat dari yang lain. Ia tidak ingin ada yang melihatnya pulang bersama Aldrich, sebab itu mereka sudah sepakat untuk pulang di saat semua keryawan sudah pulang.


Seperti pencuri, meski sudah memutuskan untuk pulang di jam sepi Ivona tetap saja waspada. Ia belum siap jika apa yang sedang ia coba jalani bersama Aldrich terendus orang asing, tapi ia janji jika nanti ia sudah yakin ia tak akan lagi sungkan membuka statusnya pada seluruh dunia.


"Kenapa lama sekali?" tanya Aldrich saat Ivona baru saja masuk ke mobil.


"Aku harus memastikan jika tidak ada satu orang pun yang melihat kita bersama," jelas Ivona sembari memasang sabuk pengamannya.


"Kau pikir ini kantor jaman apa? banyak CCTV terpasang di gedung ini, petugasnya bisa melihat kita bersama," ujar Aldrich mengingatkan.

__ADS_1


"Itu sudah aku atur, mereka tidak akan berani bergosip di luar tentang apa yang mereka lihat." Ivona tersenyum bangga.


Aldrich hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia segera menjalankan mobilnya menuju kediaman Howard.


"Ke rumahku?" tanya Ivona saat menyadari jalan yang dilaluinya.


"Kau harus berpamitan secara langsung pada ayahmu jika kau akan mulai tinggal bersamaku."


"Bukankah ayahku sudah tahu?"


"Tapi akan lebih baik aku bicara langsung juga dirimu."


Tidak butuh waktu lama menuju rumah Felix Howard. Ivona turun lebih dulu dan mengabaikan Aldrich. Setelah sampai di depan pintu, Ivona kembali lagi dan menghampiri pria itu.


"Maaf, aku terlalu senang bisa ke rumah ini lagi. Kau tahu, bukan? Ayo masuk!" ajak Ivona.


Ivona menekan bel rumahnya, dan seorang pelayan langsung membukanya. "Nona," sapa pelayan itu.


"Bibi Mia, di mana Ayah?"


"Tuan, ada di kamarnya, Nona."


Ivona kembali mengajak Aldrich, dan menuntunnya untuk menunggu di ruang kelurga saja. "Kau tunggu di sini saja."


Tanpa menunggu jawaban dari Aldrich, Ivona langsung naik ke kamar ayahnya. Di sana, Felix sedang tertidur bersandar head board ranjang dengan buku di pangkuannya. Matanya yang terpejam terbingkai kaca mata bulat dengan frame berwarna cokelat.


Ivona mendekat dengan penuh hati-hati, Ia mengambil bangku dan duduk tepat di samping ayahnya yang tertidur. Ia mengambil buku dalam genggaman sang ayah dan meletakkannya di meja kecil di samping ranjang. Ia meraih tangan tua Felix dan mengecupnya penuh rindu. Hal yang membuat Felix seketika membuka mata.


"Iv ...," lirih Felix ketika melihat wajah putrinya.


Bukan senyum yang pria tua itu tampilkan, tapi justru raut sendu yang ia persembahkan untuk menyambut putrinya. Membuat Ivona sedikit takut juga karena ia lama sekali tak melihat lagi raut sendu itu. Sudah lama sekali sejak ibunya meninggal dan sejak ayahnya menyatakan jika ia telah tertipu dan kehabisan segalanya.


"Maafkan ayah, Iv," lirih Felix.

__ADS_1


"Maafkan ayahmu yang tidak berdaya ini." Mata Felix justru berkaca-kaca. Membuat Ivona bertanya-tanya.


"Untuk apa, Ayah?"


__ADS_2