IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab. 145 Water Teapot


__ADS_3

Alexander memang tak terduga. Kemarin saat keluarga ingin membicarakan tanggal pernikahannya dan Ivona ia menolak tegas, katanya ia sendiri yang akan menentukannya. Kelurga berpikir pastilah waktunya masih cukup lama mengingat Ivona masih kuliah. Paling tidak menunggu Ivona sampai lulus dari universitas dulu, tapi nyatanya hanya dua minggu berselang setelah pertemuan lamaran saat itu, Alexander sudah mengumumkan pernikahannya.


Ia tak perlu menyewa hotel karena bisnis dari Alberic grop juga meliputi bisnis perhotelan. Di hotel tempat pertama kali Alexander membawanya dari rumah sakit jiwa, di sanalah pesta pernikahannya akan digelar. Saat ini Ivona sedang dibantu oleh seorang make up artis untuk merias dirinya di sebuah kamar. Sedangkan Alexander, pria itu seperti tak ingin melewatkan satu hal pun yang tak sempurna di hari bahagianya, ia terus saja berkeliling ikut memeriksa detail dari pernikahannya.


Konsep outdoor dipilih Alexander karena akan cocok dengan musim semi yang sedang berlangsung di Victoria. "Rico, kau sudah memeriksa altar pernikahannya. Aku tidak ingin ada kesalahan apa pun."


"Tuan, seharusnya Anda duduk saja sambil menghafal ikrar pernikahan Anda, semua akan saya kerjakan dengan baik," jawab Rico meyakinkan.


Benar juga kata Rico tapi semua ini ia lakukan demi mengurangi rasa gugup yang tengah melanda dirinya. Belum pernah Alexander segugup ini. Kali ini rasanya lebih menegangkan dari pada QSmenunggu hasil keputusan dari sebuah memenangkan tender.


"Baiklah, aku akan duduk dan menunggu."


Baru juga Rico akan pergi menjalankan perintah sang bos, tapi sudah dipanggil kembali. "Rico, kau jangan lupa menjemput pendeta yang akan menikahkan kami, aku tidak mau ada kata terlambat dalam acra yang sudah aku planning."


"Ya, Tuan, tenanglah semua akan beres. Duduklah, duduk di sana saja." Rico menunjuk sebuah bangku yang ada di dekat altar pernikahan.


Alexander berjalan mengikuti saran Rico, sebelum sampai ditempat yang ia tuju Alexander berpapasan dengan Nyonya Iswara. Calon ibu mertuanya itu sedang membawa water teapot di atas nampan. Alexander hampir saja menabrak ibu Ivona itu jika tidak hati-hati.


"Maafkan aku," pinta Alexander saat ia berhasil berhenti tepat sebelum menjatuhkan nampan yang dibawa oleh Nyonya Iswara.


"Ti-tidak apa," jawab Nyonya Iswara gugup.


"Anda mau ke mana?"


"Aku ... a-aku akan ke kamar Ivona. Kurasa dia pasti membutuhkan air untuk minum."


Alexander pun mempersilakan Nyonya Iswara untuk berjalan lebih dulu. Sementara ia yang ingin duduk beristirahat jadi urung karena sang Ibu memanggilnya untuk ke kamar.


"Kau harus persiapkan dirimu sekarang, Otis akan membantumu," ujar Nyonya Alberic.

__ADS_1


Calon pengantin itu pun mengikuti sang ibu untuk mempersiapkan diri.


Sementara itu Nyonya Iswara terus berjalan membawa nampan dengan teapot di atasnya. Dalam hatinya ia ragu apakah akan memberikan minuman ini untuk putri kandungnya ataukah tidak. Sangat berat harus menyakiti sang putri setelah ia berjanji akan menjadi ibu yang baik bagi putri yang telah lama hilang itu.


Namun, ia juga tak bisa mengabaikan permintaan putrinya yang lain sebagai jalan menebus kesalahannya karena tak membantu sang putri ketika diusir dari rumah. Ingatan Nyonya Iswara kembali pada malam di mana putri tersayangnya—Vaya—diusir oleh sang suami dan ia tak bisa berbuat apa pun. Sejak itulah ia tak lagi melihat Vaya, bahkan putrinya itu menjadi buronan polisi dan ia tak bisa membantu.


Ia memang merindukan Vaya hingga ia mengira Valia adalah Vaya, tapi wanita itu mematahkan semua harapannya ketika Valia menolak Nyonya Iswara dan tidak mengakui dirinya adalah Vaya. Ia seperti orang yang frustasi karena ingin sekali bertemu dengan Vaya hingga ia terus menolak Ivona.


Atas desakan Thomas, Nyonya Iswara mulai memikirkan tentang Ivona. Awalnya sulit untuk bisa dekat dengan putri yang selama tujuh belas tahun tak pernah ia sentuh, tapi kebersamaan membuatnya lama kelamaan bisa menerima Ivona, bahkan ia semakin sayang dengan putri kandungnya itu.


Kemudian, semua harus berakhir ketika malam di mana Ivona dilamar, Nyonya Iswara mengetahui fakta baru. Malam itu saat Ivona sudah keluar dari kamar, Valia membuka jati dirinya secara langsung.


"Apa kabar, Ma?" suara Valia membuat Nyonya Iswara yang sedang membereskan make up mendadak bergeming malam itu.


"Kau merindukan aku, bukan?"


Rasa penasaran di hati Nyonya Iswara semakin membuncah, ia ingin segera tahu bahwa feeling-nya selama ini benar. Ia yakin Valia itu adalah Vaya ketika mereka pertama kali bertemu, tapi ia tak punya bukti apa pun karena yang menjadikan ia yakin hanyalah feeling seorang ibu.


Dan, Setelah Ivona keluar dari kamar. Valia benar-benar membuka kedoknya.


"Ma, ini aku ... Vaya," ujar Valia yang semakin membuat Nyonya Iswara tercengang malam itu.


Perlahan Valia membuka topeng silikon yang ia gunakan selama ini.


"Ka-kau ...." Nyonya Iswara sampai menutup mulutnya sendiri saking kagetnya. Ia tak percaya jika feeling-nya benar. Valia adalah Vaya.


"Kau benar, Ma ... aku adalah Vaya."


Nyonya Iswara semakin tak percaya. Setelah sekian lama ia bisa melihat Vaya kembali. Saking tidak percayanya, Nyonya Iswara memilih untuk segera pergi dari kamar dan menyusul Ivona yang lebih dulu turun.

__ADS_1


Sejak itulah, Vaya sering menghubunginya. Anak yang telah ia besarkan selama delapan belas tahun itu kini berani menerornya. Vaya selalu menyalahkannya karena tidak membelanya ketika anak itu diusir dulu. Kini anak itu ingin ibunya menebus kesalahannya dengan membantu menyingkirkan Ivona.


Jika saja permintaan Vaya ini diucapkan saat Nyonya Iswara belum sedekat ini dengan Ivona, pasti dengan segera ibu itu akan melakukannya. Tetapi, semua sudah berubah, rasa sayang Nyonya Iswara kepada Ivona sudah cukup besar. Ia baru saja merasakan kedekatan dengan putri kandungnya sendiri, apakah sekarang ia harus rela kehilangan di hari bahagia sang putri.


Tanpa sadar langkah Nyonya Iswara sudah memasuki kamar Ivona.


"Ibu." Ivona menoleh ketika pintu kamarnya dibuka oleh Nyonya Iswara. "Apa yang Ibu bawa?"


"I-ini ... ini teh chamomile untukmu, ibu yakin kau merasa gugup saat ini. Teh ini bisa membantumu untuk lebih rileks." Nyonya Iswara membawa nampan itu dan meletakkannya di atas meja.


"Tolong, ambilkan," pinta Ivona pada make up artis yang sedang meriasnya.


Wanita itu pun mengambilkan teh yang di bawa oleh Nyonya Iswara dan memberikannya pada Ivona.


Ivona mencium wangi chamomile dalam teh buatan ibunya. "Ehm ... harum." Ia terus menghirup wangi teh itu sebelum meneguknya. "Ibu benar, dari wanginya saja, teh ini begitu menenangkan. Aku suka aromanya."


Nyonya Iswara gugup. Ia ingin tersenyum, tapi apakah ia harus tersenyum untuk melihat kesakitan putrinya, tapi jika tidak tersenyum Ivona pasti curiga.


"Kemarilah, Bu. Kita bisa minum teh ini bersama-sama."


Nyonya Iswara mendekat.


"Tolong ambilkan satu lagi untuk ibuku," pinta Ivona pada wanita yang sama.


"Ti-tidak, tidak usah. Biarkan Ivona saja yang minum, aku khusu membuat teh ini untuknya."


"Baiklah, aku akan meminumnya." Ivona menempelkan cangkir itu ke bibirnya yang belum terpoles lipstik.


Nyonya Iswara melihatnya dengan cemas dan takut.

__ADS_1


__ADS_2