
"Ya, Ayah, aku lebih memilih Vaya dari pada Ivona," tegas Nyonya Iswara sekali lagi.
Kakek Iswara seketika terhuyung, dan hampir jatuh kalau saja Thomas tidak bergerak cepat untuk menopang tubuh orang tua itu. "Kakek!" pekik Thomas.
Ia langsung mendudukkan Kakek di atas sofa, dan berteriak memanggil pelayan. "Pelayan, ambilkan air untuk Kakek!" teriak Thomas.
Seorang pelayan dengan langkah cepat datang membawa segelas air yang langsung diserahkan pada Thomas. "Minumlah, Kek," ucap Thomas yang membantu Kakek Iswara untuk minum.
"Kakek harus tenang, jangan terbawa emosi seperti tadi," ucap Thomas menasehati.Thomas sempat terkejut dan syok saat melihat emosi Kakek meninggi dan puncaknya adalah kondisi Kakek saat ini, yang sebelumnya hampir pingsan karena ulah ibunya.
Tuan dan Nyonya Iswara juga sempat kaget saat tiba-tiba kondisi ayahnya menurun. Mereka tidak menyangka jika perdebatan mereka berpengaruh buruk pada kondisi ayahnya saat ini.
"Sebaiknya, Ayah dan Ibu pergi saja, jangan buat kondisi Kakek semakin buruk," usir Thomas.
"Thomas," teriak Tuan Iswara, ia tentu tak terima diusir oleh anaknya sendiri.
"Tidak, Ayah, jangan berteriak lagi di depan Kakek, jangan buat kondisi Kakek makin tidak stabil," jawab Thomas.
"Jangan lancang pada Ayahmu, Thomas," ucap Nyonya Iswara.
"Aku hanya melakukan yang terbaik untuk Kakek saat ini, dan aku rasa Ayah dan Ibu bukanlah hal yang baik untuk Kakek lihat," jelas Thomas.
"Kak, Thom ...."
"Jangan ikut campur, Vaya. Sebaiknya kau juga ikut pergi dengan Ayah dan Ibu," potong Thomas cepat.
__ADS_1
"Tapi, Kak ...." Vaya belum menyelesaikan kalimatnya saat tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di ambang pintu.
Semua mata tertuju pada Alexander yang baru saja masuk. Pria itu kembali tanpa Ivona. Jack adalah orang yang pertama dituju oleh Alexander. "Pulanglah dulu, Jack. Aku masih ada urusan yang harus aku selesaikan sendiri dengan keluarga Iswara," suruh Alexander.
Jack menatap ragu pada Alexander sebelum akhirnya ia setuju untuk pergi dari kediaman Iswara setelah ia berpamitan pada Tuan dan Nyonya Iswara. "Saya mohon undur diri, Tuan. Terima kasih banyak untuk makan malamnya," pamit Jack.
Setelah Jack pergi, Alexander menuju ke hadapan Kakek Iswara. "Bagaimana kondisi, Anda?" tanya Alexander sebelum mengutarakan niatnya.
Kakek yang terduduk lemah di sofa mengangguk. "Sudah lebih baik," jawab Kakek.
"Bolehkah aku berbicara sesuatu dengan Anda?" tanya Alexander setelah memastikan kondisi Kakek Iswara baik-baik saja. Tentu ia tidak ingin memperkeruh keadaan dan membuat kondisi Tuan Besar Iswara itu memburuk jika mendengar niat dalam hatinya.
"Sebaiknya jangan sekarang, biarkan Kakekku beristirahat dahulu. Hari ini adalah hari yang melelahkan bagi Kakek," tolak Thomas yang mencemaskan keadaan Kakek Iswara.
"Baiklah," jawab Alexander menyetujui permintaan Thomas. Alexander memilih untuk pergi, tapi sebelum itu Kakek Iswara mencegahnya.
"Kek ...," sela Thomas.
Kakek Iswara mengangkat satu tangannya pada Thomas, memberi isyarat jika ia baik-baik saja.
"Katakan apa yang ingin kau bicarakan," ulang Kakek.
Alexander menatap Thomas serta Tuan dan Nyonya Iswara terlebih dulu sebelum mengutarakan apa yang ada dalam hati dan pikirannya. Setelah mendapatkan sorot mata setuju dari mereka semua barulah Alexander berbicara.
"Aku ingin memberikan sebuah perjanjian kerja sama yang baru sebagai hadiah untuk Anda," ujar Alexander. "Tapi aku punya syarat untuk perjanjian itu," sambungnya.
__ADS_1
Kakek Iswara dan semua yang ada di ruangan itu nampak terkejut dengan apa yang baru saja Alexander katakan. Sementara Alexander terdiam sejenak, mengamati sikap dari anggota keluarga Iswara.
"Apa maksudmu?" tanya Kakek.
"Aku tahu, jika kondisi keuangan perusahaan keluarga Iswara saat ini sedang tidak baik-baik saja. Aku bisa membantu dengan memberikan suntikan dana untuk memulihkan kembali perusahaan Iswara dengan cuma-cuma," tutur Alexander. "Dan, sebagai syaratnya, ijinkan Ivona tinggal bersamaku," lanjutnya. Ini adalah cara Alexander untuk membebaskan Ivona dari keluarganya, ia ingin membantu Ivona agar dihargai di keluarga Iswara. Apabila membuat Ivona tetap tinggal bersamanya membuat Ivona lebih baik, ia akan melakukannya.
Semua anggota keluarga Iswara sangat terkejut dengan perjanjian yang diajukan oleh Alexander. Perjanjian ini sangat menguntungkan bagi keluarga Iswara. Bagaimana tidak, Alexander akan memberikan dana yang besar untuk pemulihan perusahaan Iswara yang bermasalah, itu pun secara cuma-cuma, alias gratis. Keluarga Iswara tidak perlu repot-repot mengembalikan uang yang digunakan karena Alexander tidak menganggapnya sebagai hutang.
"Tidak, aku tidak setuju!" tolak Kakek dengan tegas. Baginya, apa yang ditawarkan Alexander pada keluarganya sungguh tidak masuk akal. Ia
merasa seperti sedang menjual Ivona pada Alexander.
"Apa alasanmu melakukan semua ini, kenapa Ivona yang kau minta sebagai syarat?" tanya Nyonya Iswara. Jujur saja ia merasa aneh dengan permintaan Alexander. Tuan Muda ini rela menggelontorkan dana yang tidak sedikit untuk keluarga Iswara hanya demi Ivona. Tidak mungin, 'kan, jika seorang Alexander Alberic menyukai Ivona.
"Alasanku satu-satunya hanyalah Ivona, aku ingin dia tetap bersamaku, dan aku tidak ingin ada yang mengusiknya di kemudian hari," tegas Alexander.
"Apa maksud dari ucapanmu?" tanya Nyonya Iswara, ia ingin jawaban yang lebih jelas dari Alexander mengenai Ivona.
"Aku ingin Ivona tetap tinggal bersamaku tanpa ada yang akan mempermasalahkannya," jawab Alexander.
Dari kalimat Alexander yang baru saja terucap, Nyonya Iswara dan seluruh anggota keluarga Iswara akhirnya menyadari kalau selama ini Ivona tinggal di rumah Alexander. Selama ini mereka tidak pernah mencari tahu di mana Ivona bermalam jika anak itu tidak pulang. Dalam pikiran mereka, Ivona pasti kembali ke panti asuhan di mana dulu ia berasal, sebab gadis itu tidak memiliki teman selain di panti asuhan.
Mereka juga tidak pernah mengkonfirmasi kembali keberadaan Ivona saat gadis itu tiba-tiba menghilang.
Kini, mereka dikejutkan dengan ucapan Alexander yang ternyata menampung Ivona di rumahnya. Seakan sulit percaya dengan kenyataan yang ada, tapi semua yang di depan mata adalah fakta.
__ADS_1
"Apakah selama ini, Ivona tinggal bersamamu?" tanya Kakek Iswara.