IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.43 Hukum Dia 2


__ADS_3

"Nyonya Iswara?" sapa Jonathan dengan sorot penuh tanya. "Apakah Anda masih ingat dengan saya? saya Jonathan, rekan bisnis suami Anda," sambungnya.


Nyonya Iswara nampak berpikir sejenak, mengingat wajah di depannya. "Oh ... Tuan Jonathan, apa kabar?" jawab dan tanya Nyonya Iswara setelah menemukan memori tentang rekan bisnis suaminya.


"Kalau boleh saya tahu, ada kepentingan apa Anda berada di sekolah ini?" tanya Jonathan.


Nyonya Iswara langsung panik saat Jonathan bertanya padanya, sekilas ia melihat pada Ivona. Hal itu diketahui oleh Jonathan, yang langsung kembali bertanya, "Mungkinkah Anda datang untuk gadis ini?"


"Ah ... i-iya," jawab Nyonya Iswara gugup.


"Benarkah?" Jonathan sedikit terkejut. "Maafkan atas kelancangan saya, Nyonya, jika Anda tidak keberatan, bisakah Anda memberitahu saya tentang hubungan Anda dengan gadis ini." Jonathan seolah penasaran dengan hubungan Nyonya Iswara dengan Ivona.


"Ka-kami, tidak ada hubungan apa pun. Suamiku membawa gadis ini ke rumah kami beberapa waktu lalu karena merasa kasihan," jawab Nyonya Iswara yang semakin gugup karena berbohong.


Ia harus melakukannya, karena ia belum siap jika harus mengakui identitas asli Ivona di depan semua orang. Selama ini hanya Vaya yang ia perkenalkan sebagai putri yang membanggakan keluarga Iswara, ia tidak ingin nama baik keluarga Iswara tercemar karena kehadiran Ivona. Terlebih sikap Ivona yang selalu membuat masalah.


Nyonya Iswara hanya memikirkan reputasi keluarganya saja, tanpa berpikir jika sikapnya telah melukai putri yang ia lahirkan. Baginya nama baik keluarga Iswara lebih di atas perasaan Ivona.


Mendengar pengakuan Nyonya Iswara yang tidak menganggapnya siapa pun, membuat Ivona hanya bisa tersenyum dingin sembari melirik wanita cantik itu. Dalam hatinya, Ivona beranggapan jika Nyonya Iswara selalu lebih menyayangi Vaya dibandingkan dirinya. Sekali lagi, Nyonya Iswara menunjukkan dengan jelas jika Ivonalah yang harus tersisih di antara keluarganya sendiri. Penolakan pengakuan yang Nyonya Iswara tunjukkan membuat rahang Ivona mengetat, aura dingin memenuhi raut wajah gadis itu.


"Jika begitu, Anda harus tahu apa yang sudah gadis ini lakukan pada putra saya," ujar Jonathan.


"Lihatlah, hasil perbuatan gadis ini. Dia telah melukai putra saya." Jonathan menunjuk luka di kaki Yosua, dan Yosua langsung memasang wajah korban yang harus mendapatkan keadilan.


"Saya tidak punya niat apa pun selain agar Anda dan suami Anda memikirkan kembali jika ingin membantu gadis brutal seperti dia," sambung Jonathan.

__ADS_1


Ivona tetap diam, tak menyangkal sedikit pun apa yang Jonathan tuduhkan padanya.


"Jika memang seperti itu, saya tidak akan keberatan jika Ivona harus bertanggung jawab sesuai dengan hukum yang ada," jawab Nyonya Iswara. Sejujurnya jika Ivona terlihat lemah sedikit saja di matanya, maka Nyonya Iswara akan turun tangan untuk menyelesaikannya, tapi Ivona justru bersikap masa bodoh, hal itu membuat jiwa Nyonya Iswara terusik untuk memberikan pelajaran kedisiplinan pada putri kandungnya ini.


"Anda lihat bukan, Nyonya Iswara selaku wali dari gadis ini sudah setuju untuk memberikan hukuman yang pantas bagi pelaku kejahatan di sekolah ini. Lalu apa lagi yang Anda tunggu Mr.Albert," ujar Jonathan memprovokasi.


Mr.Albert beralih menatap Ivona yang sedari tadi hanya diam, menjadi pendengar setia diantara orang dewasa yang berdebat. "Ivona, adakah yang ingin kau sampaikan?" tanya Mr.Albert.


Ivona belum sempat menjawab pertanyaan Mr.Albert, tiba-tiba Thomas berlari masuk ke dalam ruang kepala sekolah. Ia terkejut melihat Nyonya Iswara yang juga ada di sana bersama dengan Ivona dan yang lainnya.


"Apa yang akan kalian lakukan pada Ivona?" tanya Thomas dengan marah.


"Aku tidak akan membiarkan siapa pun berani menyentuh adikku, apa lagi berniat menghukumnya," bela Thomas.


"Bertanggung jawab seperti apa yang kalian inginkan, kalian bahkan tidak memberinya kesempatan untuk membela diri," sentak Thomas.


"Thomas!" hardik Nyonya Iswara.


"Sudahlah, jangan membuat keributan lagi. Aku memang memukul Yosua dan menjatuhkannya di atas serpihan kaca." Ivona mengakui perbuatannya. Hal itu membuat Thomas dan Nyonya Iswara kaget, begitu pun dengan kepala sekolah dan wali kelas Ivona.


Jonathan dan Yosua tersenyum menang dengan pengakuan Ivona. Akhirnya tujuannya untuk menghukum dan membalaskan sakit hatinya akan segera tercapai.


Meski sudah mendengar pengakuan dari mulut adiknya sendiri, Thomas tetap bersikeras ingin melindungi Ivona. "Kalian tetap tidak bisa menghukumnya begitu saja, kalian belum tahu alasan kenapa adikku melakukannya. Aku yakin Ivona punya alasan yang kuat hingga ia berani melukai anak ini." Thomas menunjuk Yosua.


"Alasan apa lagi yang harus kita dengar, bukti kejahatannya sudah ada. Kaki putraku terluka, dan dia sudah mengakuinya. Apa lagi yang ditunggu!" ujar Jonathan tak terima dengan pembelaan Thomas.

__ADS_1


"Aku menginginkan hukuman yang setimpal dengan apa yang dia lakukan pada putraku. Keluarkan dia dari sekolah ini atau hukum dia dengan cara yang sama saat dia melukai putraku, berlutut di atas pecahan kaca!" ucap Jonathan kembali arogan.


"Sekarang katakan, mana yang kau pilih. Keluar dari sekolah ini atau berlutut di depan putraku!" sentaknya pada Ivona.


"Kau tidak akan bisa melakukannya selama ada aku di sini!" Thomas pun bersikukuh membela Ivona.


"Kau tidak perlu ikut campur urusan ini!" Yosua ikut menyela.


Thomas bertambah geram pada Yosua yang menyela ucapannya. Emosinya memuncak, ia pun menarik kerah kemeja Yosua dan akan melayangkan tinjunya pada pemuda itu.


"Thomas hentikan, Ivona harus belajar bertanggung jawab atas kesalahan yang ia buat," sergah Nyonya Iswara.


"Kalau kau berani melukai putraku, aku jamin kau akan mendekam dalam jeruji besi," seru Jonathan.


Dengan kesal Thomas menyentak tubuh Yosua yang sempat dicengkeramnya, saat Nyonya Iswara menarik tubuhnya.


"Dasar keluarga gila!" umpat Yosua.


"Sekarang pilihlah hukumanmu dan segera selesaikan masalah ini!" ujar Jonathan pada Ivona.


Jonathan yakin, gadis ini akan memilih keluar dari sekolah ini dibandingkan harus berlutut di atas serpihan kaca. Ia sangat yakin jika Ivona tidak memiliki nyali yang besar untuk mengambil pilihan yang kedua. Namun, belum juga Ivona menjawab pilihannya, mendadak ada lima orang berseragam yang menyela masuk ke ruang kepala sekolah itu.


"Selamat siang, kami dari pihak kepolisian. Kami datang untuk mencari Tuan Jonathan," ujar salah satu dari polisi itu.


Semua orang yang ada di sana terkejut, kecuali Ivona. Jonathan bahkan syok mendengar apa yang polisi itu katakan. Mencarinya, untuk apa?

__ADS_1


__ADS_2