
Sore hari setelah pulang dari sekolah, paman Stew langsung mengantar Ivona pulang ke kediaman Iswara. Tentunya ia sudah mendapatkan ijin dari Alexander. Kakek sudah pulang sejak siang tadi saat Ivona masih ada di sekolah.
Kedatangan Ivona disambut hangat oleh ketiga kakak laki-lakinya. Semua bergantian memeluk ivona.
"Kami sangat merindukanmu, Iv. Rasanya begitu bahagia kita bisa tinggal bersama lagi," ujar Thomas.
"Benar, Iv. Pasti sangat membahagiakan bisa berkumpul bersama lagi," timpal Tommy.
"Di mana, Kakek?" tanya Ivona yang belum melihat Kakek di antara orang yang menyambutnya.
"Ada di kamar," jawab Rio.
"Kalau begitu aku akan menemui Kakek dulu." Ivona pergi ke kamar Kakek sendiri.
Melihat Kakek sedang duduk termangu di atas kursi roda menatap senja dari jendela, membuat Ivona merasa terenyuh. Di akhir usianya, Kakek justru menderita sakit yang sangat menyiksa tubuh renta itu.
"Kek," sapa Ivona yang mendekati Kakek Iswara.
"Iv, kau kah itu?" tanya Kakek sebelum Ivona sampai di samping Kakek.
"Iya, ini Ivona, Kek." Ivona berdiri tepat di samping kursi roda Kakek. "Apa Kekek sudah lebih baik?"
"Seperti yang kau lihat."
"Maafkan Ivona tidak bisa menjemput Kakek," ujar Ivona menyesal.
"Tidak apa, aku dengar besok kau ada kompetisi fisika. Benarkah, itu?"
Ivona mengangguk.
"Pasti Tuan Muda Alberic itu yang telah membimbingmu belajar hingga kau bisa mengikuti kompetisi fisika mewakili sekolahmu. Kakek turut bahagia dengan kemampuan belajarmu yang meningkat pesat dan juga prestasimu ini."
"Tadinya aku merasa sangat bersalah padamu, tapi setelah melihat kau sangat berkembang setelah tinggal bersama Alexander aku jadi merasa lebih lega."
Ivona tidak paham dengan arah pembicaraan Kakek.
Pria tua itu menoleh menatap cucunya—Ivona. "Maafkan aku Iv, maafkan untuk keegoisanku."
Ivona semakin bingung, untuk apa kakeknya minta maaf. "Kakek bicara apa?"
"Ah ... lupakan saja. Kau tidak perlu memikirkan perasaan sentimental Kakek tua ini." Tuan Besar itu mencoba tersenyum.
Ivona akhirnya memeluk Kakek Iswara sebagai tanda kasih sayang. "Aku menyayangimu, Kek."
______________
Setelah berjuang dengan belajar setiap hari bersama Mr.Harry, akhirnya hari di mana kompetisi itu di gelar telah datang. Semua warga G-school menunggu dengan harap-harap cemas. Terutama Mr.Harry, ia yang telah memilih Ivona dia paling tidak bisa tenang karena bagaimanapun ia harus membuktikan pada semua orang jika pilihannya adalah yang terbaik.
Ivona sudah bersiap di ruang tunggu. Ia sedang menunggu acara pembukaan itu selesai, sebelum acara inti yaitu kompetisi fisika dari seluruh sekolah menengah atas di Victoria dimulai.
"Hai, Iv."
Ivona yang sedang duduk menyendiri mendongak demi melihat Jeany yang baru saja datang. "Hai," jawab Ivona.
"Kau pasti gugup, 'kan?" Jeany nampak tersenyum bersahabat. "Itu hal yang wajar, aku saja yang sudah sering ikut berkompetisi selalu gugup sebelum naik ke panggung."
__ADS_1
Ivona hanya diam memperhatikan Jeany bicara.
"Apa kau tahu bagaimana aku mengatasi rasa gugupku?" Jeany tertawa sembari menutup mulutnya sendiri.
"Aku selalu minum ini." Ia menunjukkan satu botol minuman yang ia bawa. "Ini adalah jus yang ibuku buat untuk menghilangkan rasa gugupku, dan hari ini aku ingin memberikannya padamu sebagai bentuk dukunganku padamu. Semoga kau bisa memenangkan kompetisi ini seperti aku dulu." Jeany menyerahkan botol jus itu pada Ivona.
"Terima kasih," ucap Ivona yang menerima minuman dari Jeany.
"Selamat berjuang?" ujar Jeany sebelum pergi.
Ivona menatap kepergian Jeany, kemudian beralih pada botol di tangannya. Jujur ia menaruh prasangka buruk pada Jeany, sebab selama di G-school tidak ada teman yang benar-benar tulus padanya selain Beny. Ivona terus mengamati botol jus di tangannya, hingga Beny datang dan merebut botol itu.
Tanpa ijin, Beny langsung membuka tutupnya dan menenggak habis isi botol itu. "Terima kasih, Iv," ujarnya dengan napas yang ngos-ngosan.
Ivona sedikit marah dengan sikap Beny yang menurutnya tidak sopan. Menyadari akan hal itu Beny pun berucap, "Maafkan aku, Iv. Aku benar-benar haus setelah berlari dari parkiran. Oh ... ya, aku juga membawa pesan dari kakakmu." Beny memberikan sebuah kertas pada Ivona.
Di tempat yang berbeda, Jeany yang telah menemui Ivona kembali pada Kelly dan Jessica yang tengah menunggunya.
"Bagaimana, kau sudah memberikan minuman itu pada Ivona?" tanya Kelly tak sabar.
"Ya, aku sudah melakukannya, tapi apa isi dari minuman itu, kau tidak menaruh racun dalam minuman untuk Ivona, bukan?" Jeany mencurigai Kelly.
Kelly dan Jessica seketika tertawa. "Tenanglah, itu bukan racun. Kita harus bermain cantik, kita harus berkaca pada kasus Yosua dan Vaya, juga Roy. Mereka bermain kasar pada Ivona, akhirnya mereka harus mendekam di penjara, sementara Vaya masih menjadi buronan. Aku lebih suka bermain rapi," jelas Kelly.
"Lalu minuman apa yang kau berikan padaku untuk Ivona?"
"Stttt." Kelly menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya. "Jangan keras-keras kalau kau tidak ingin ketahuan. Aku memang menaruh obat dalam minuman itu, tapi tidak akan punya efek yang berbahaya, hanya efek ringan yang akan membuat Ivona pergi dan kau akan menggantikan dirinya mewakili G-school."
Jeany nampak berpikir. "Obat apa yang kau berikan?"
"Persiapkan dirimu mulai dari sekarang, tidak lama lagi Mr.Harry pasti akan mencarimu," ujar Jessica.
"Jessica benar, bersiaplah mulai sekarang," timpal Kelly.
Jeany pun menurut apa yang Kelly dan Jessica katakan.
Di ruang tunggu, Ivona mulai membuka pesan yang tadi dibawa oleh Beny. Sebuah pesan yang tertulis dalam selembar kertas.
Semoga berhasil!
Ivona tersenyum setelah membaca pesan singkat itu. Untuk apa Alexander menuliskan sebuah pesan yang sangat singkat itu dalam secarik kertas sementara ia bisa mengirimkannya lewat ponsel.
"Secarik kertas?" pekik Ivona dalam hati. "Itu artinya?"
"Alexander, apa dia ada di sini?" tanya Ivona pada Benny. "Di mana, dia?"
Beny tak lagi mendengar pertanyaan Ivona karena saat ini ia sedang merasakan sakit yang teramat sangat pada perutnya. Beny terus memegangi perutnya beberapa saat setelah menenggak habis minuman yang ia rebut dari tangan Ivona.
"Benny, di mana Alexander?"
"Iv ... perutku sakit sekali," ujar Beny yang tak sinkron dengan pertanyaan Ivona.
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak tahan, Iv. Di mana toiletnya?" Wajah Beny terlihat ditekuk karena menahan sakit perutnya.
__ADS_1
"Toilet?" pekik Ivona.
"Iya, Iv ... di mana?" tanya Beny tak sabar.
"Di sana." Ivona menunjuk arah Toilet.
"Ayo, Iv tolong antarkan aku. Aku sudah tidak tahan untuk mencari di mana toilet." Beny terlihat gusar sembari terus memegangi perutnya.
Melihat Benny yang kesakitan, Ivona pun memilih untuk mengantar Benny ke toilet.
"Cepat, Iv ... cepat!" ujar Benny tak sabar.
Mereka pun berlari menuju toilet.
Ivona langsung akan pergi setelah mengantar Benny, tapi tak tega juga meninggalkan pria gendut itu sendiri. Akhirnya ia menunggu Benny di luar toilet pria.
Tak lama Benny keluar tapi masih memegangi perutnya. "Iv, minuman apa yang kau berikan padaku? rasanya sungguh menyiksa, Iv."
"Minuman?" Ivona berpikir soal minuman yang diberikan oleh Jeany.
"Itu bukan milik _____" Ivona belum selesai menjelaskan saat perut Benny kembali mulas dan masuk lagi ke dalam toilet.
Ivona semakin tidak tega untuk meninggalkan Benny sendiri. Setelah bolak-balik masuk ke dalam toilet, tubuh besar Benny sudah merasakan lemas karena banyaknya cairan yang keluar.
"Iv, aku sudah tidak tahan lagi," ujar Beny sebelum tubuh besar itu ambruk di depan Ivona.
"Benny!" pekik Ivona.
Ivona tak mungkin mengangkat tubuh raksasa Benny sendirian. Ia pun pergi mencari bantuan untuk membawa Benny ke pusat kesehatan terdekat. Untunglah ia segera menemukan beberapa petugas cleaning servis yang mau membantunya. Ia juga bertemu Alexander di parkiran.
"Iv ...," seru Alexander.
Ivona yang terus mengawal Benny menoleh pada pria itu.
"Kau mau ke mana?"
"Kurasa Benny keracunan," jawab Ivona.
"Ayo masuk!" ajak Alexander agar Ivona masuk ke mobilnya.
Ivona sedikit bingung.
"Aku akan mengantarmu ke rumah sakit, bawa anak gendut itu ke mari!"
Ivona pun menurut dan meminta petugas cleaning servis untuk memasukkan Beny ke dalam mobil Alexander.
Jeany, Kelly dan Jessica kembali ke ruang tunggu Ivona. Mereka melihat tidak ada orang di dalam sana, tapi mereka melihat para petugas cleaning servis dari arah toilet.
"Maaf, ada apa, ya?" tanya Kelly pada petugas toilet.
"Ada orang pingsan di toilet," jawab petugas itu.
Kelly dan Jessica langsung tersenyum pada Jeany. "Kau lihat, padahal aku hanya memberinya obat cuci perut. Baru begitu saja, dia sudah pingsan." Kelly tertawa pada Jeany dan Jessica.
"Sekarang adalah giliranmu menggantikan Ivona. Bersiaplah!"
__ADS_1
Jeany tersenyum bahagia. Akhirnya ia kembali menjadi wakil dari G-school. Ia akan pulang dengan bangga kali ini, tidak akan ada lagi kemarahan dari ibunya yang menjadi alasan ia ingin memanjat pagar rooftop sekolah.