
Ivona mendongak saat merasa Alexander mengajaknya berbicara. "Apa?" tanya Ivona yang sedikit tersentak dengan suara Alexander.
"Apa Nana itu nama kecilmu?" ulang Alexander. "Lucu juga, ya?" imbuhnya.
Ivona mencibir. "Lucu apanya, aku bukan badut yang harus dibilang lucu."
Melihat bibir Ivona yang mengerucut membuat Alexander tidak bisa menahan tawanya. "Apa kau tahu, kau bahkan lebih lucu dari badut." Alexander terkekeh-kekeh.
Tidak suka dengan gurauan Alexander, Ivona mendelik pada pria itu. Bukannya takut, Alexander justru semakin gemas melihat Ivona. "Aku suka saat kau mendelik, matamu persis seperti mata boneka," ujar Alexander menggoda.
Seketika Ivona menutup wajahnya dengan telapak tangan. "Oh ... Ya Tuhan, apa yang dilakukan pria ini. Bisa-bisanya dia bersikap aneh di depan keluarga Iswara," geram Ivona dalam hati.
"Kenapa, bukankah aku benar. Kalau kau tidak percaya, kau boleh tanyakan pada keluargamu. Kau begitu menggemaskan dengan dua bola matamu yang besar dan bibir yang mengerucut." tatapan Alexander tak lepas dari Ivona.
Ivona membuka matanya kembali, ia menatap Alexander tajam agar pria itu menghentikan leluconnya. Semua yang ada di meja makan terperangah melihat interaksi antara Ivona dan Alexander. Terutama Nyonya Iswara, ia tidak menyangka jika Ivona bisa begitu akrab dengan Tuan Muda tampan ini. Usahanya sejak tadi untuk mempromosikan Vaya, seolah menjadi sia-sia.
"Apa kau mengenal Nana?" tanya Kakek Iswara.
Alexander langsung terdiam dan menatap hormat pada Kakek Iswara yang tengah mengajaknya berbicara. "Sebelumnya aku minta maaf, aku memang mengenal cucu Anda, Nana, dan aku juga menyukainya," jawab Alexander.
Semua mata langsung tertuju pada Ivona. Seakan tak percaya dengan apa yang baru saja Alexander ucapakan. Ivona dan Alexander saling kenal, bahkan Alexander menyukainya?
"Ish ... dasar pria aneh, kenapa juga dia harus bicara seperti itu," teriak Ivona dalam hati. Kini ia harus menyembunyikan di mana wajahnya setelah mendapat tatapan-tatapan benci dari keluarganya.
Vaya dan Nyonya Iswara yang lebih kentara memperlihatkan ketidaksukaannya akan pengakuan Alexander. Dalam hatinya semakin berkobar api kebencian pada Ivona. Kenapa harus gadis ini lagi yang mematahkan mimpinya.
"Apa itu benar, Ivona?" tanya Kakek mengkonfirmasi.
Ivona yang sempat menunduk, harus kembali menatap Kakek. "Ya?"
__ADS_1
"Apa benar kau mengenal Tuan Muda Alberic?" ulang Kakek.
Ivona bingung harus menjawab apa. "Ah ... itu, ya." Ivona menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.
"A-aku ...." Ivona menatap Alexander, meminta pertanggung jawaban atas ucapannya yang membuatnya sulit berbohong. Sedangkan pria itu hanya mengulas senyum seolah mengoloknya yang sedang bingung.
Ivona beralih menatap Kakek yang masih menunggu jawaban darinya. "I-iya, aku memang mengenalnya." Akhirnya Ivona mengaku juga.
Alexander menatap Ivona dengan senyum senang mendengar pengakuan Ivona.
"Ta- tapi ... kami tidak sengaja kenal. pertemuan kami tidak pernah direncanakan," ucap Ivona agar tidak menimbulkan salah paham.
Alexander terus saja menatap Ivona, gadis ini semakin menarik perhatiannya meski sedang gugup. Ivona yang menyadari sikap Alexander merutuk dalam hati. "Kau harus membayar semua ini, aku tidak suka dipermainkan begini, kamu membuatku salah tingkah di depan Kakek."
Vaya menyadari tatapan Alexander pada Ivona, dan ia tidak suka melihatnya. Dengan sengaja ia memutus benang tak kasat mata yang terjalin dari sorot mata Alexander dan Ivona.
Ucapan Vaya membuat Alexander tersadar, dan ia pun menoleh pada Vaya yang berada di sebelahnya.
"Apa kau suka permainan piano?" tanya Vaya lagi. "Kalau iya, aku akan memainkan sebuah lagu untukmu," tawar Vaya.
Vaya tidak tahan lagi dengan Alexander dan Ivona yang terlihat begitu dekat, karena itu ia mengambil inisiatif sendiri untuk lebih memperkenalkan dirinya pada Alexander. Pria ini harus tahu tentang kemampuannya yang luar biasa dalam bermain piano, Vaya yakin Alexander akan bisa melihatnya jika tahu kemampuannya yang mumpuni. Selama ini tidak ada yang tidak terkesan dengan musik yang ia mainkan, begitu pun dengan Alexander. Ia yakin pria itu pun akan sama saja.
"Benar, kau harus mendengar permaian piano dari Vaya. Putriku sangat pandai menyihir orang dengan alunan nada yang mainkan," timpal Nyonya Iswara.
Melihat Vaya sedang berusaha, Nyonya Iswara tak ingin tinggal diam. Ia harus membantu Vaya untuk menarik perhatian Alexander. Bagaimana pun juga ia masih ingin jika Laexander berjodoh dengan Vaya.
"Ah ... Mama, jangan terlalu memujiku. Aku tidak sehebat itu meski aku yakin Tuan Muda pasti tidak akan menolak permainan pianoku," ucap Vaya merendah untuk sombong.
"Mama tidak sedang memujimu, Sayang. Mama hanya biacara apa adanya tentang bakatmu."
__ADS_1
Thomas menatap kesal pada ibunya dan Vaya. Sangat jelas terlihat jika mereka berdua menginginkan Alexander.
"Ayo Sayang, segera mainkan musikmu," suruh Nyonya Iswara.
Vaya baru akan beranjak saat suara Alexander membuatnya urung. "Tunggu, mungkin lain kali saja kau mainkan permainan pianomu, untuk saat ini aku punya urusan yang lain di sini," tolak Alexander.
Vaya kembali duduk saat Alexander menolak mendengarkan permainan pianonya. Ini sungguh tidak adil bagi Vaya, kenapa Alexander bersikap kasar padanya dengan menolak dirinya.
"Kenapa Tuan Muda, Vaya tidak akan lama menyita waktumu. Hanya sebentar agar kau bisa melihat bakat yang dimiliki oleh putriku," ujar Nyonya Iswara.
"Sudahlah, kenapa kau memaksanya. Bukankah Tuan Muda Alexander tidak ingin mendemgar permainan piano Vaya," sergah Kakek agar Nyonya Iswara tidak memaksakan keinginannya.
"Ayah, aku hanya ingin membuat Tuan Muda Alexander lebih mengenal Vaya. Jika diijinkan, aku sangat ingin mereka berjodoh. Bukankan ini akan menjadi keberuntungan bagi dua keluarga jika mereka bisa bersatu," jawab Nyonya Iswara.
"Vaya memiliki kualitas wanita kelas atas dan itu sebanding dengan Tuan Muda Alexander, bukankah begitu?" imbuhnya masih memuji Vaya.
"Kenapa kau bersikap tidak adil, di sini juga ada Ivona yang merupakan putri keluarga ini kenapa tidak kau biarkan Tuan Muda sendiri yang memilih," ujar Kakek.
Nyonya Iswara menghela napas kasar dan memutar bola matanya. "Ayah, kalau ingin menjodohkan kita harus mencari yang sepadan. Vaya memiliki bakat, kecantikan dan sopan santun yang bisa dibanggakan. Tentu hal itu tidak akan membuat malu keluarga Alberic jika mengambilnya sebagai menantu, sementara Ivona ...." Nyonya Iswara berhenti sejenak memotong ucapannya.
"Dia masih harus banyak belajar dari Vaya agar tidak menimbulkan banyak masalah di kemudian hari. Nanti kita bisa mencarikannya pemuda yang sesuai dengan karakternya," sambung Nyonya Iswara.
"Apa maksudmu?"
"Ayah ... maafkan aku jika tidak menghormati keinginanmu, tapi kali ini aku merasa jika keputusanku adalah yang terbaik. Vaya adalah gadis yang tepat dan cocok untuk Tuan Muda Alexander."
Semua menatap Nyonya Iswara yang mengambil keputusan sepihak.
"Lancang kau, sejak kapan kau berani mendahuluiku mengambil keputusan!" sentak Kakek.
__ADS_1