
Langit begitu gelap. Gerimis sejak semalam tak henti-hentinya menguyur tanah Victoria. Di sebuah pemakaman umum, para peziarah mengantarkan tiga jenazah dalam peristirahatan terakhirnya.
Begitu peti terkubur dalam tanah dan pendeta membacakan doa, para peziarah satu per satu meninggalkan pemakaman. Kecuali seorang pria berpakaian serba hitam dan mengenakan kaca mata dengan warna senada. Ia tengah tertunduk lesu di sebuah makam. Menatap gundukan tanah yang masih basah.
Orang terkasihnya baru saja dikebumikan di sana. Nama yang tertera dalam batu nisan membuatnya tak dapat lagi menahan kepiluan. Ivona, kekasihnya, mempelainya telah terbujur kaku di dalam tanah bersama cinta yang selalu abadi tertulis atas nama wanita itu.
Alexander, pria berpakaian serba hitam itu hampir tidak pernah menangis. Namun, kini ia tak mampu lagi menyembunyikan kesedihannya. Air mata itu tumpah dalam kebisuan yang melanda.
Ivona telah pergi membawa semua rasa yang ia miliki, menjadikannya seperti jelaga yang tak berarti.
"Aku mencintaimu, Ivona. Dalam kehidupan mana pun kau dilahirkan, aku juga akan hadir di sana." Batinnya bersuara, seolah tak terima dengan takdir cinta yang tertulis atas namanya dan Ivona.
Ia tidak rela jika pada akhirnya kematian Ivona mengakhiri kisah cintanya. Ia sudah mengusahakan yang terbaik untuk kekasihnya tapi takdir tetap tak membuatnya bersama.
__ADS_1
Alexander mengenang hari lalu. Kala itu, saat Alexander berhasil membawa Ivona naik dari kolam renang, ia segera membawa Ivona ke rumah sakit dengan harapan bisa membuat Ivonanya kembali. Pria itu terus mendekap Ivona, dan tak ingin melepaskan walau sedetik pun, ia takut tak akan bisa lagi membawa Ivona dalam dekapannya.
Berbagai kata penyemangat ia ucapkan untuk menahan gadisnya pergi. "Bangunlah Iv, bangunlah ... kita harus melanjutkan upacara pernikahan kita. Aku sudah mengucapkan ikrar atas namamu, sekarang giliranmu. Ayo bangun, Iv," ucap Alexander kala itu.
"Kau harus bertahan, kau harus menjadi pengantinku." Air mata yang selama ini tersimpan rapi harus keluar saat sang kekasih tak menjawab permintaannya.
Gadis dalam pelukannya hanya terdiam tapi Alexander terus mencoba membuat Ivona terbangun. "Bangun, Iv ... bangunlah."
Tuan Iswara menepuk bahu pria yang hampir menjadi menantunya itu. "Alexander," panggilnya.
Kalau dibilang kehilangan, Tuan Iswaralah yang harusnya merasa paling kehilangan. Tiga orang dalam hidupnya, terenggut sekaligus dalam satu peristiwa.
Istrinya—Nyonya Iswara—telah meninggal karena terlalu banyak kehabisan darah akibat luka tembak. Lalu Ivona, sang putri kandung, harus menjemput maut di hari pernikahannya. Serasa tak percaya, sebab baru saja ia mengantarkan sang putri menuju altar pernikahan. Ia serahkan pada pria pilihan putrinya, tapi kini putri kandungnya itu harus meninggal dengan cara yang tragis. Peluru yang menembus jantung gadis itu tak bisa membuatnya bertahan lebih lama, meski segala upaya telah dicoba.
__ADS_1
Tak hanya itu, Vaya, putri yang ia rawat sejak kecil justru dia lah yang menjadi monster pembunuh. Penghancur kebahagiaan keluarga yang harusnya baru dimulai. Vaya juga pergi dengan cara yang tak kalah sadis. Enam isi revolver sekaligus, Alexander tanamkan dalam tubuh pembunuh kekasihnya itu.
Tangan Tuan Iswara masih berada di bahu Alexander. "Ayo kita pulang, Ivona sudah tenang di sana," ujar Tuan Iswara.
Alexander hanya menoleh sekilas, "Anda pulang saja dulu, aku masih ingin di sini," tukas Alexander.
Tidak ada yang bisa Tuan Iswara lakukan selain meninggalkan Alexander di pusara Ivona. Ia biarkan pria itu memuaskan kesedihannya atas kehilangan sang kekasih.
Pria itu terus menatap tanah basah di depannya. "Kau tidak akan pernah sendiri, Iv ... aku akan selalu hadir menemanimu di mana pun kau terlahir."
"Ini hanya akhir dari kisah kita di sini, kita akan memulai kisah baru kita di kehidupan yang lain. Kau dan aku akan selalu bersama dalam setiap kehidupan."
Alexander tersenyum melihat nisan yang bertuliskan nama Ivona. "Tunggu aku."
__ADS_1