IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab. 114 Cinta Yang Lain


__ADS_3

Melihat Ivona berdiri di ambang pintu bersama Alexander, Thomas langsung menghampiri. Dari raut kaget Ivona, Thomas curiga jika adiknya itu sudah mendengar percakapan ibunya dengan kakak pertamanya.


"Iv, masuklah, kami akan menjelaskan padamu," ujar Thomas.


Ivona ragu tapi Alexander justru menuntunnya untuk masuk. "Semua akan baik-baik saja, ada aku bersamamu." Alexander mengucapkan kata yang sama untuk membuat Ivona tenang.


Semua menatap Ivona yang terlihat tidak bersemangat. Pria yang sejak tadi diajak bicara oleh Nyonya Iswara, menghampiri Ivona. Dalam hati Ivona merasa pernah bertemu orang ini, tapi di mana?


"Iv, bagaimana kabarmu?" pria itu langsung memeluk Ivona. "Maafkan aku baru bisa datang ke mari, maaf juga jika waktu itu aku tidak sempat berpamitan padamu. Selepas dari rumah sakit jiwa waktu itu, aku langsung ada penerbangan ke New York."


Rumah sakit jiwa?


New York?


Ivona langsung teringat dengan wajah pria ini, yang dulu sempat ia lihat di rumah sakit jiwa saat Alexander membawanya dari sana. Kalau tidak salah, pastilah ini adalah Rio, kakak pertama Ivona—si pemilik tubuh.


"A-aku sudah lebih baik," jawab Ivona.


Rio kemudian menatap Alexander, ia ingat betul wajah pria yang dulu membawa adiknya pergi tanpa ijin darinya sebagai Kakak. Tatapan pria itu menggambarkan jelas ketidaksukaannya pada Alexander


"Syukurlah," ujar Rio Iswara menanggapi.


"Duduklah, Iv. Kita bicara soal apa yang kamu dengar tadi," ajak Thomas.


Tuan Iswara mengamati Ivona, melihat kondisi Ivona yang telah mengalami penculikan. Ia memang tidak bisa menjenguk putrinya, tapi Tuan Iswara juga merasa cemas saat tahu Ivona diculik. "Bagaimana lukamu, apa sudah sembuh?" tanya Tuan Iswara saat Ivona berjalan melewatinya.

__ADS_1


"Sudah lebih baik," jawab Ivona yang sudah duduk bersebelahan dengan Alexander.


"Iv, aku yakin kau pasti salah paham dengan Ibu, tapi kumohon dengarkanlah. Ibu tidak bermaksud tidak menganggapmu, dia hanya belum bisa menerima kenyataan tentang Vaya. Kumohon mengertilah tentang keadaan Ibu." Thomas berusaha menjelaskan.


Ivona melihat Nyonya Iswara yang terlihat malas untuk bertemu dengannya. Seperti yang Thomas katakan, Ivona berusaha memahami apa yang ibunya rasakan. Secara psikologi, sangat normal jika ibunya menyangkal semua fakta tentang Vaya. Bukan hanya ibunya, semua orang yang berada di posisi ibunya pasti juga akan menunjukkan reaksi yang sama, yaitu penyangkalan. Vaya yang diketahui baik sejak dulu, yang diberikan kasih sayang dan cinta, namun akhirnya berkhianat, hal itu pastilah tidak mudah diterima oleh ibunya. Kalaupun bisa menerima, pasti tidak serta merta. Butuh waktu sampai seseorang bisa menerima sebuah kenyataan pahit tentang seseorang yang mereka kasihi.


Ivona menarik napasnya panjang. Kemudian mengangguk pada Thomas.


"Terima kasih, Iv," ujar Thomas.


Tuan Iswara menatap Ivona yang telah berbesar hati menerima sikap istrinya yang sulit diterima. Bagi orang kebanyakan, pastilah sikap Nyonya Iswara bertentangan dengan konsep ikatan darah, di mana hubungan darah sudah pasti lebih kental dari air. Tapi tidak bagi Nyonya Iswara, perasaan emosional yang terikat antara wanita itu dengan Vaya jauh lebih kuat dari ikatan darah dengan Ivona. Dari sini Tuan Iswara bisa menilai betapa Ivona—sang putri kandung— memiliki jiwa yang besar.


"Na ... Nana," panggil Kakek Iswara yang baru terbangun, sejak tadi pria tua itu terus tertidur saat semua orang sedang berdebat.


Mendengar namanya dipanggil, Ivona langsung mendekat ke ranjang perawatan Kakek Iswara. "Kakek, ini Ivona, Kek."


"Aku merindukanmu, Nana," lirih Kakek.


"Ivona juga merindukan kakek. Kakek harus cepat sehat, supaya bisa cepat pulang, nanti Ivona yang akan merawat kakek di rumah," ujar Ivona memotivasi.


Terlihat mata kakek berbinar. Terpancar semangat di wajah tua kakek Iswara untuk bisa segera pulih.


Ivona berada di rumah sakit hingga hari menjelang malam. Kemudian ia pamit untuk pulang, saat ia berpamintan pada Rio terlihat Kakak pertamanya itu tidak suka jika Ivona tinggal bersama Alexander.


"Kenapa harus pulang ke rumah orang yang tidak punya hubungan apa pun dengan keluarga kita, Iv. Kalau kau takut Vaya akan mencelakaimu, kita bisa menambah jumlah penjaga untuk membuatmu aman," ujar Rio.

__ADS_1


Ivona tidak bisa menjawab kali ini, karena ini juga bukan kemauannya. Ia menolah pada Alexander yang ada di belakangnya.


"Untuk saat ini tempatku lah yang paling aman untuk Ivona. Kalau kalian ingin menambah penjaga untuk Ivona di rumah kalian, cari saja dulu penjaga itu, tapi untuk malam ini Ivona tetap akan pulang ke rumahku. Ayo, Iv." Alexander merangkul Ivona dan membawanya pergi dari ruang perawatan Kakek Iswara.


Tak ada yang membantah apalagi mencegah. Ia biarkan Alexander membawa Ivona pergi dari sana.


Sesampainya di Vila, Ivona langsung masuk ke kamar Alexander. Ia segera membersihkan diri dan membuka buku pelajaran, niatnya untuk mengusir perasaan mengganjal tentang ibunya. Ivona memang sudah mengatakan jika ia bisa menerima fakta tentang Ibunya, tapi sebagai anak kandung tidak bisa Ivona pungkiri jika ia cemburu dengan sikap Nyonya Iswara terhadap Vaya.


Ivona berdiri, ia membuka pintu balkon. Melihat langit malam mungkin akan membuat suasana hatinya lebih baik. Ia menatap jauh ke langit hitam yang tak berbintang. Mencoba menelaah tentang ego dirinya dan juga ibunya.


"Apa kau memikirkan tentang Ibumu?"


Ivona tersentak saat mendapati Alexander sudah berdiri di sampingnya. Pria itu berdiri bersandar pada pagar balkon menghadap Ivona.


"Jangan terpaku pada cinta yang tidak kau dapatkan, berbahagialah atas cinta yang kau terima. Jika cinta ibumu tak bisa kau raih, ingatlah ada kakak-kakakmu dan juga kakekmu yang memberimu cinta setulus hati. Jangan abaikan cinta itu demi cinta yang tak kau miliki."


Ivona membisu. Ia mulai memikirkan apa yang Alexander katakan. "Baiklah, tidak ada gunanya meratapi kesedihan karena tidak mendapatkan cinta dari satu orang. Ia harus tetap bisa bahagia karena ada cinta yang lain yang ingin membahagiakannya," ujar batin Ivona.


"Dari semua cinta yang kau dapat, ingatlah ada cinta dariku untukmu," lirih Alexander.


Sontak Ivona menoleh pada pria itu. Alisnya terangkat, dahinya berkerut dalam. "Bisa kau ulangi?"


Alexander terkekeh. "Aku tidak suka melakukan siaran ulang." Pria itu memilih pergi tapi sebelumnya ia sempat mengacak rambut Ivona.


Ivona tidak menghalangi. Ia hanya menatap Alexander yang meninggalkan kamarnya sendiri. Ivona mendengar jelas ucapan Alexander, dan tadi itu hanya untuk menguji pria itu. Bagaimanapun, jiwa Ivona adalah jiwa wanita dewasa. Ia bisa melihat ada perasaan aneh yang ia rasakan pada Alexander, begitu pun dengan pria itu. Namun, ia belum siap untuk memperjelas semuanya. Jujur saja, Ivona masih ragu dengan keadaannya. Sampai kapan ia bisa berada di dalam tubuh ini, dalam dunia ini.

__ADS_1


Akankah ia bisa kembali ke dunianya, atau kah akan selamanya terkurung dalam dunia khayalan ini?


__ADS_2