IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.156 Keluarga Gila


__ADS_3

Ivona tidak tahu sejak kapan ia tertidur, yang pasti rasanya begitu lama karena sekarang ia merasakan pegal dan sakit pada tubuhnya. Terutama bagian tengkuknya. Matanya perlahan membuka, menangkap samar-samar bayangan kamar yang terasa asing baginya. Tetapi ada sesuatu yang familiar, aroma kamar ini. Sangat khas dan sangat ia hafal. Aroma Alexander.


Apa, aroma Alexander?


Mata Ivona langsung membuka sempurna. Takut jika ia kembali masuk ke dunia novel. Bukankah dulu juga begitu. Ketika ia tertidur panjang dan terbangun di dunia yang berbeda. Ivona mengedarkan pandangan, menatap ruangan yang sangat berbeda dengan tata ruang di kamar Alexander. Ivona masih ingat betul interior design kamar pria dalam novel itu. Syukurlah, semuanya berbeda. Ini jelas bukan kamar Alexander.


Ini kamar yang berbeda, tapi kamar siapa? Kenapa aromanya bisa sama persis?


Ivona ingin mencari tahu tentang kamar siapa ini, dan ia baru sadar jika tangannya dan kakinya diikat ketika ia akan bangun dari tidurnya.


"Apa-apaan ini?" batinnya berucap. matanya membulat sempurna menatap tali yang tengah melilit pergelangan tangannya. Ia meronta, berharap tali itu lepas. Namun, semua sia-sia belaka.


"Kau sudah bangun?" Suara Aldrich membuat Ivona mengalihkan pandangan pada pria itu.


"kau!" pekik Ivona tak percaya. "Apa yang kau lakukan di sini?" sentaknya pada pria yang tengah berdiri melipat tangan di ambang pintu. Pria itu berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan Ivona.


Tunggu!


Ivona mulai memikirkan sejak kapan ia mulai tertidur. Seingatnya kemarin, ia keluar kantor setelah lewat dari jam pulang kerja. Saat itu keadaan kantor memang sepi, dan pria ini—Aldrich Ryder—mendadak mencegatnya dan mengatakan hal gila. Mengajaknya untuk menikah. Ajakan yang langsung ia tolak mentah-mentah dengan mengabaikannya.


Ketika ia baru saja melangkah tiba-tiba ia merasakan seseorang memukul tengkuknya dengan keras dan ia terjatuh. Sejak itu ia merasa ia tertidur. Yah ... begitulah kejadiannya. Hingga sekarang ia terbangun dengan kondisi tangan terikat.


Melihat ekspresi Ivona yang nampak berpikir keras membuat Aldrich ingin tertawa. "Kau sudah ingat?" Aldrich menyeringai seolah tak bersalah.


"Jadi kau yang melakukan semuanya?"


Dengan jujurnya Aldrich mengangguk.


"Kenapa kau lakukan ini, hah?" Ivona kembali menaikkan intonasi suaranya.


Aldrich tampak santai menanggapi. "Aku sudah bersikap baik padamu dengan mengajakmu berbicara, tapi kau justru tak menganggapku. Jika cara halus tak bisa memenuhi apa yang aku inginkan, dengan cara kasar pun akan aku lakukan."


"Kau gila!"

__ADS_1


"Terserah padamu mau menyebutku apa pun itu, karena sekarang apa yang aku inginkan akan terwujud."


"Jangan mimpi, aku tidak sudi menikah dengan pria gila sepertimu!"


Aldrich mendekat, ia bahkan naik ke atas ranjang. Berdiri dengan lutut yang menyiku. Ia meraih dagu Ivona. "Kenapa, apa karena pria bernama Alexander kau menolakku?" lirihnya.


Ivona tersentak. Bagaimana bisa pria ini tahu tentang Alexander.


Aldrich tersenyum miring. "Jadi benar, karena pria bernama Alexander yang membuatmu tak mau menikah denganku? Aku ingin tahu, seperti apa Alexandermu itu hingga kau menolak pria setampan aku."


Ivona berdecih. "Yang pasti dia bukan pria gila sepertimu!" Ivona mengibaskan kepalanya agar tangan Aldrich yang menyentuh dagunya terlepas.


"Baiklah, karena kau sudah menganggapku gila, aku ingin kau melihat kegilaanku yang lain." Aldrich mencondongkan badannya pada Ivona, membuat wajahnya dan wajah Ivona beradu.


"A-apa yang akan kau lakukan?" Ivona panik. Jujur ia sedikit takut dengan posisi Aldrich saat ini.


"Kenapa, apa kau takut?" Pria itu tersenyum miring.


Aldrich justru tertawa. "Apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan. Kau yang terikat, jadi kau yang butuh untuk dilepaskan, bukan aku, Nona."


"Ish ...." Tangan Ivona terkepal meski terikat. Ia geram dengan sikap pria ini. "Pokoknya aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja jika kau berani menyentuhku walau sehelai rambut."


Aldrich tidak takut sama sekali dengan ancaman Ivona ia justru semakin tertarik untuk mempermainkan gadis ini. Pria itu semakin mendekatkan wajahnya, terus hingga Ivona berteriak, "Hentikan!"


Bukannya berhenti Aldrich terus saja memangkas jarak. Ivona sudah dalam posisi siaga meski kedua tangan dan kakinya terikat. Anehnya, ketika wajah mereka hampir menyentuh Aldrich justru melewatinya, tubuhnya lebih condong ke sisi lainnya dan tangannya meraih tali yang mengikat tangan Ivona untuk dilepaskan. Di saat bersamaan, Ivona yang tidak tahu maksud Aldrich yang ingin melepaskan ikatannya justru langsung menyerang Aldrich dengan menggigit leher pria itu.


Kontak Aldrich menjerit hebat saat merasakan lehernya yang terasa sakit karena gigitan Ivona. "Apa yang kau lakukan?"


Mulut Ivona masih berada di atas leher Aldrich dengan gigi yang masih menancap di kulit pria itu.


Sekonyong-konyong Helena datang ke kamar putranya tengah berteriak. Betapa terkejutnya wanita yang sudah berumur setengah abad itu. "Apa yang kalian lakukan!" suaranya melengking memenuhi seisi kamar.


"Bu, tolong aku!" teriak Aldrich. "Gadis ini ingin menjadikan aku Vampire."

__ADS_1


"A-apa?" Helena langsung panik. Ia berlari mendekat dan melihat Ivona masih menggigit leher putranya. "Hei, lepaskan! Apa yang aku lakukan pada putraku?'


Ivona tak peduli.


"Hei, Nona lepaskan putraku atau aku akan segera memanggil pendeta dan menikahkan kalian sekarang juga!"


Mendengar kata keramat itu, Ivona langsung melepaskan gigitannya. Tentu ia tak ingin menikah dengan pria gila ini. Aldrich segera bangkit dengan memegangi lehernya yang berdarah.


"Gadis gila!" umpat Aldrich pada Ivona. "Tadinya aku berniat melepaskanmu, tapi karena kau menyerangku, aku jadi berpikir akan mengikatmu selamanya!" Pria itu langsung turun dari ranjang dan pergi meninggalkan kamarnya.


Pengakuan Aldrich tentang niatnya untuk melepaskan Ivona membuat Ivona menyesal karena telah menyerang pria itu. Kalau saja Aldrich tidak bermain-main dengannya dan mengatakan akan melepaskannya, Ivona tak akan jadi liar seperti tadi. Kini hanya wajah penuh sesal yang tergurat di wajah cantik Ivona.


Helena masih berdiri di sana, ia hanya bisa menatap putranya pergi dengan menahan sakit. "Kenapa kau lakukan itu?"


Ivona melihat ketidaksukaan Helena padanya. "Aku hanya mempertahankan diri."


"Memang apa yang telah putraku lakukan, dia hanya ingin melepaskan ikatanmu, apa itu salah?"


Ivona menggeleng. "Dia tidak mengatakan sebelumnya, dia justru membuatku takut dengan sikapnya karena itu aku berusaha melawan," jelas Ivona.


Helena mendesah kasar. "Kurasa aku harus mendidikmu agar bisa melayani Aldrich dengan baik."


"Apa maksud, Anda?"


Helena tersenyum. "Aku akan mengajarimu untuk menjadi istri dan menantu yang baik, karena sebentar lagi pernikahan kalian akan segera dilaksanakan."


"Tidak, aku tidak mau!" tolak Ivona, tapi tak digubris oleh Helena. Wanita itu langsung keluar mengikuti putranya.


"Tunggu, aku ingin bicara!" Ivona meronta berharap bisa kabur.


Helena terus berjalan sembari mengulum senyum. "Kau tidak akan bisa menghindar dari takdir, Sayang," gumamnya pada diri sendiri.


"Hei ... tunggu, dengarkan aku!" Ivona terus berteriak tapi tak sedikit pun mendapat perhatian. Hingga ia lelah dan mengumpat, "Dasar keluarga gila!"

__ADS_1


__ADS_2