
Melihat sikap yang ditunjukkan William membuat Kelly semakin marah. William tidak pernah peduli dengan hal begini, tapi kali ini ia bahkan berteriak untuk gadis yang baru ia kenal.
"Aku sedang bertanya, siapa yang melakukannya?" teriak William sekali lagi pada teman-teman sekelasnya karena mereka tak kunjung bicara.
Ruang kelas menjadi sangat gaduh saat teman-teman Kelly bersuara secara serempak. Bukan untuk memberi tahu siapa pelaku yang sudah mengotori meja Ivona, tapu mereka semua berusaha memberikan pembelaan untuk sahabat mereka. Satu per satu dari teman Kelly mulai menuduh Ivona telah menyakiti Kelly yang tidak bersalah. Di saat itulah, saat kegaduhan itu dimulai, wali kelas masuk dan marah karena suasana kelas yang sangat ribut.
"Diam! apa ini pasar sehingga kalian bisa berbuat ribut seenaknya?" seru Mr.Patrick.
Seketika semua terdiam.
Mr. Patrick melihat Ivona yang masih mencengkeram kuat pergelangan tangan Kelly.
"Apa yang kau lakukan, apa kau sedang berusaha menjadi preman di sekolah ini, hah!" teriak Mr.Patrick murka. "Lepaskan!" imbuhnya.
Ivona masih menghormati Mr. Patrick sebagai gurunya, sebab itu ia menghempaskan tangan Kelly begitu saja. Kelly langsung memegangi pergelangan tangannya yang masih terasa sakit, ia mendelik menatap Ivona.
"Sekarang bubar, aku tidak suka ada keributan di kelasku!"
Menuruti perintah Mr. Patrick, semua siswa kembali duduk dengan tenang kecuali Ivona dan William. Melihat William, Mr. Patrick langsung memperingatkannya, "William, ke mana saja kamu, kenapa tidak masuk di kelas Bapak tadi. Kamu tahu, 'kan, kalau kamu harus belajar dan punya nilai yang bagus, karena itu jangan membolos lagi," ucap Mr.Patrick dengan nada yang lebih lembut.
Sebenarnya bukan kali ini saja Mr.Patrick memperingatkan William agar tidak membolos, tapi setiap peringatan dan nasehatnya selalu dianggap angin lalu oleh William. Latar belakang keluarga William yang berkuasa membuat anak itu jadi seenaknya sendiri. Sampai-sampai murid-murid yang lain hafal benar kalimat yang selalu diucapkan Mr.Patrick untuk menasehati William.
"Sekarang duduklah!"
__ADS_1
Setengah hati William menuruti perintah Mr.Patrick. Setelah William duduk, pandangan Mr.Patrick beralih pada Ivona yang masih saja berdiri. Ia menatap tidak suka pada murid barunya itu. "Dan, kau, jangan membawa sikap burukmu di sekolah lama ke sekolah ini. Di sekolah ini kita belajar etika yang baik, bukan belajar menjadi seseorang yang brutal!" tunjukknya pada Ivona.
Ivona bergeming tak menanggapi.
"Kau juga duduk sekarang!" imbuh Mr.Patrick.
"Bagaimana kalau Bapak dulu yang duduk," jawab Ivona sembari menunjuk mejanya.
Mata Mr.Patrick mengikuti arah yang ditunjuk Ivona, dan melihat apa yang terjadi dengan meja Ivona. "Siapa yang melakukannya?" tanya Mr. Patrick kembali marah setelah melihat betapa meja Ivona penuh buku yang berantakan dan kotor oleh tinta.
Semua terdiam, tidak berani berkata yang sejujurnya apalagi harus menyebut nama pelakunya. Mereka lebih memilih untuk menunduk dan pura-pura tidak melihat dari pada harus mencari masalah dengan Kelly dan gengnya.
"Aku tanya siapa yang melakukannya?!" teriak Mr.Patrick.
Hening, seolah penghuni kelas ini semua bisu. Tak ada satu pun yang membuka suara.
"Apa aku harus mengadakan investigasi untuk menemukan pelakunya," ucap Mr.Patrick lantang.
Masih diam.
"Baiklah, aku akan menghukum kalian semua jika tidak ada yang mau mengaku!" ancam Mr.Patrick.
Karena merasa takut melihat sorot kemarahan di mata Mr.Patrick, Margaretha berdiri dari bangkunya dan mengakui perbuatan itu. "Maafkan saya, Pak. Saya tidak berhati-hati dan membuat tinta yang saya bawa tumpah di meja Ivona," ucapnya dengan raut menyesal.
__ADS_1
"Maaf saya tidak sengaja," imbuhnya dengan akting yang meyakinkan.
Mr. Patrick memperhatikan raut Margaretha yang sedang berbohong. Menurutnya ini pasti ulah Kelly, karena ia sempat menangkap senyum licik Kelly. Meski demikian, ia sungkan untuk memarahi Kelly karena keponakannya bekerja dengan ayah Kelly.
Mempertimbangkan hal itu, Mr.Patrick memilih untuk mengakhiri semuanya. "Ya sudah, semua sudah terjadi, jadi lupakan saja, dan untukmu, maafkan saja ketidak hati-hatian Margaretha," ujar Mr.Patrick pada Ivona.
Ivona bisa melihat sikap aneh wali kelasnya, bagaimana bisa ia menyuruh Ivona melupakan kejadian ini begitu saja. Para siswa ini sedang mencoba merundungnya dan wali kelas menyuruhnya untuk melupakan.
NO WAY!!!
Ivona tiba-tiba saja tersenyum, seolah ia menerima keputusan dari wali kelasnya. "Oh, begitu, ya?" jawab Ivona. "Baiklah."
Ia pun akan duduk sesuai perintah Mr.Patrick, tapi sebelum itu ia dengan sengaja menendang meja Kelly di hadapan semua orang, hingga membuat seisi kelas terkejut. Ivona tiba-tiba menoleh, mata indahnya mengerling dan menjilat bibirnya dengan pelan. Pandangan liar dan kurang ajar tertuju pada Kelly.
"Ups ... maaf, aku tidak sengaja. Mungkin ini efek kelebihan tenaga," ucap Ivona pura-pura.
Semua murid tercengang dengan kelakuan Ivona, sampai raut wajah Mr.Patrick pun jadi merah padam karena sikap Ivona yang tak menghormatinya.
Ada apa dengan murid pindahan ini!?
Semua siswa bertanya-tanya dengan sikap arogan Ivona di hadapan Mr.Patrick. Dalam sekejap ia berubah menjadi gadis yang arogan setelahnya ia meminta maaf dengan begitu mudah.
Semua tindakan itu Ivona lakukan dengan sadar. Ia sengaja melakukan tindakan arogan itu agar wali kelasnya meminta pelaku yang telah mengotori meja dan bukunya meminta maaf padanya. Bukan menyuruhnya untuk melupakan!
__ADS_1