IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.135 Mencoba Kabur


__ADS_3

Ivona terbangun di sebuah ranjang empuk, bukan lantai dingin atau pun kursi penyiksa seperti kebanyakan kasus penculikan. Hal pertama yang ia lihat adalah sinar cerah di luar jendela. yang tadi mengusik tidurnya.


"Kau sudah bangun rupanya, tak kusangka jika efek bius itu lama juga waktu kerjanya."


Mendengar suara itu sontak Ivona terduduk. Aneh. Ivona tidak diikat sama sekali, bahkan kondisinya saat ini bebas dari jerat apa pun. Ia menatap ke sumber suara, ada Greyson Walker yang tadi berbicara.


"Aku tidak ingin membuang banyak waktu karena aku sudah sangat membutuhkan uang untuk mengisi rekeningku," ujarnya dengan tertawa.


Ivona masih terdiam.


"Bersihkan dirimu, dan mulailah bekerja untukku!" titahnya pada Ivona lalu berpaling menuju pintu.


"Apa yang kau inginkan sebenarnya?" seru Ivona menghentikan langkah Greyson.


Pria tua itu berbalik, kemudian tersenyum miring. "Aku ingin kau mengisi rekeningku yang mulai menipis dengan kemampuan meretasmu."


"Kenapa bukan kau sendiri yang melakukannya, bukankah kau ahli komputasi di negara ini?"


Greyson terbahak-bahak mendengar sebutan untuk dirinya. "Aku sedang malas bekerja sendiri, lagi pula aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk orang tuamu, agar kau bisa bekerja denganku."


Ivona berdecih. "Kau pikir siapa kau ingin mengaturku, aku tidak ada hubungan apa pun dengan dua orang tua serakah itu. Aku tidak akan mau melakukan apa pun untukmu!" tolak Ivona tegas.


"Aku suka dengan sikap keras kepalamu, tapi lihatlah sebentar lagi kau akan menuruti apa pun yang aku mau!" Greyson kembali tertawa dan meninggalkan kamar Ivona.


Ivona turut mengejar, ia ingin keluar juga dari kamar ini. Namun penjaga segera menghalangi Ivona dan mengurungnya di dalam kamar.


"Sial!" rutuk Ivona. Ia menyugar rambutnya ke belakang. Ivona mencoba untuk tenang. Saat ini ia tidak boleh hanya mengandalkan otot, karena ia yakin sekuat apa pun dirinya tak akan sanggup melawan banyaknya anak buah dari Greyson. Apa lagi jika dilihat dari penampilan dan cara bertarungnya semalam, mereka semua pria-pria terlatih. Itu akan lebih menyulitkannya.


Ia harus putar otak untuk melumpuhkan mereka tanpa harus membuang banyak tenaga. Sehebat apa pun bela diri yang Ivona miliki, tetap ia bisa kalah jika harus melawan banyak sekali anak buah Greyson. Ia harus memperhitungan soal tenaga yang ia miliki. Jangan sampai ia kelelahan sebelum bisa keluar dari tempat ini, atau bisa keluar tapi karena kehabisan tenaga saat bertarung jadi membuatnya gagal untuk kabur.


Ivona memperhitungkan kemampuan dirinya dan juga kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi. Bagaimanapun ia masihlah manusia, yang bisa gagal meski semua sudah direncanakan dengan baik sebelumnya.


Ivona berlari mendekati jendela. "Sangat tinggi," batin Ivona.

__ADS_1


Ivona tidak tahu tempat apa ini, tapi bangunan ini bisa dibilang seperti mercusuar, atau mirip karena ketinggiannya. Ivona tidak akan mungkin mengambil langkah untuk nekad dengan terjun dari tempatnya saat ini, yang ada bukan selamat tapi justru selamat jalan pada kehidupan.


"Astaga!" pekik Ivona saat membayangkan dirinya terjatuh dari tempatnya berada saat ini. Masih akan utuh kah jasadnya, atau justru tulang belulangnya remuk redam.


Ivona kembali ke ranjang, memikirkan ulang bagaimana caranya ia akan kabur tanpa terluka, jika bisa. Kemungkinan untuk kabur melalui jendela adalah mustahil. Ia harus mencari cara lain. Ivona berkeliling kamar itu, mencari apa saja yang bisa membuatnya terinspirasi.


Belum juga menemukan sesuatu pun dari kamar itu, tapi seorang penjaga sudah masuk dan berkata, "Ikut aku!" nadanya tegas memerintah.


"Ke mana?"


"Tidak usah banyak tanya, ikut saja atau nyawamu akan melayang." Pengawal itu langsung mengacungkan senjatanya pada Ivona.


Ivona pun menurut ketika pengawal itu membawa Ivona ke sebuah ruangan yang penuh dengan banyak komputer. "Banyak sekali," batin Ivona.


"Ini, Tuan," ujar penjaga yang membawa Ivona.


Greyson Walker lantas berhenti menyesap rokoknya dan melihat Ivona yang baru saja masuk. "Duduklah di mana pun yang kau suka dan mulailah bekerja untukku."


"Lakukan sekarang, retas saja semua data Bank nasional dan isi rekeningku!" titahnya pada Ivona.


Diam-diam, Ivona melihat cela saat ahli komputasi itu sibuk dengan rokok di tangannya. Ivona segera mengoperasikan komputer dan diam-diam mengirimkan kode rahasia pada Sam dan juga Marcus. Berharap dua orang itu membaca pesannya dan membantunya keluar dari tempat ini.


"Apa yang kau ketik?"


Ivona sedikit tersentak namun segera bisa menguasai kegugupannya. "Aku sedang memproses kode untuk peretasan," bohong Ivona.


Setelah mengirim pesan untuk Sam dan Marcus, Ivona berencana mengulur waktu. Tetapi dengan cara apa?


Satu hal yang terlintas cepat di benak Ivona. Mendadak ia bangkit dan memegangi perutnya, lalu berkata, "Bolehkah aku ijin ke kamar mandi. Aku sudah tidak tahan lagi," ujar Ivona. Menampilkan mimik wajah menahan sesuatu.


"Kau kenapa?" tanya pria botak yang merupakan orang kepercayaan Greyson.


"Aku ingin buang air," jawab Ivona jujur.

__ADS_1


Pria itu justru menatap Ivona curiga.


"Kau tidak percaya, apa aku harus membuktikan dengan mengeluarkannya di sini, hah!" tantang Ivona. Saat ini tak boleh membiarkan mereka terlalu banyak berpikir, Ivona harus terus membuat mereka mengambil keputusan dengan cepat.


"Antar dia ke kamar mandi, dan awasi dia!" titah pria botak.


Greyson hanya terdiam melihat Ivona menahan sakit perutnya. Dua penjaga mengawal Ivona keluar dari ruang komputer itu dan membawanya ke kamar lain. Pengawal itu begitu patuh pada perintah pria botak, mereka benar-benar menjaga Ivona di depan pintu kamar mandi.


Ivona segera mengunci pintunya dari dalam dan memindai setiap benda dalam bilik kecil itu. Tidak ada benda tajam rupanya yang bisa ia manfaatkan. Ia pun beralih pada botol shampo yang terpajang di rak yang menempel di dinding.


"Kurasa aku bisa memanfaatkannya." Ivona mengambil botol itu dan mengeluarkan isinya sebagian, lalu mengisinya dengan air dan mengocoknya. Ia selipkan botol shampo itu kedalam saku celananya. Ia kemudian mengambil tirai penutup bathtub, lalu menggulungnya panjang dan menariknya dengan dua tangan.


"Lumayan kuat juga," lirihnya. "Ok, it's show time!"


Ivona membuka pintu kamar mandi sedikit, cukup untuk melongokkan kepala saja.


"Permisi, kurasa air kerannya tidak bisa dimatikan, apakah ada yang rusak?"


Dua penjaga itu saling tatap, kemudian meminta satu temannya untuk masuk dan melihat apa yang terjadi sedangkan yang lain menunggu di luar dengan siaga. Setelah salah satu masuk, dan sibuk dengan keran air, Ivona menutup pintunya pelan dan menguncinya dari dalam lagi


Dengan kain gorden yang sebelumnya Ivona ambil, Ivona melilitkannya ke leher pria itu dengan kuat, hingga penjaga tersebut tak mampu berteriak. Ia juga tak bisa melawan karena sebelumnya senjatanya sudah ia masukkan di dalam sabuk celananya.


Hanya menunggu waktu, hingga pria itu lemas kehabisan oksigen. Setelah tak sadarkan diri, Ivona mengambil senjata pria itu. Ia tersenyum menyeringai menatap korban pertamanya.


Perlahan Ivona keluar dari kamar mandi, tanpa disadari oleh penjaga yang sedang membelakangi pintu kamar mandi. Ivona masih belum ingin membuat keributan, masih dengan cara yang sama, Ivona melumpuhkan lawannya dengan jerat maut gorden kamar mandi. Satu lagi korban Ivona jatuh tak berdaya. Meski tadi si penjaga memegang senjata, tapi karena panik lehernya terjerat ia jadi lupa jika ia punya senjata untuk melumpuhkan Ivona, ia hanya fokus pada jerat di lehernya. pada akhirnya ia harus kehilangan senjata dan juga nyawa.


Ivona kembali mengambil senjata penjaga kedua. Kali ini, ia dengan sangat hati-hati membuka pintu kamar itu, tidak ada satu penjaga pun di depan kamarnya. Ia berjalan perlahan ke sayap kanan bangunan itu, dari tempatnya saat ini ia bisa melihat banyaknya penjaga di bawah sana.


Ivona membawa langkahnya perlahan tapi pasti untuk menuruni anak tangga yang Ivona yakini jumlahnya ratusan mengingat tingginya bangunan. Setiap kali melihat penjaga yang lalu lalang, Ivona bersembunyi. Sebisa mungkin ia harus menghindari kontak fisik yang akan menguras energinya.


Tinggal dua lantai lagi, Ivona akan sampai ke lantai dasar dan bisa pergi dari tempat ini. Namun, takdir tak membiarkannya dengan mudah lolos begitu saja, ada penjaga yang menyadari keberadaan Ivona saat sedang berpatroli.


"Hei, kau. Apa kau mau kabur?" teriak penjaga itu.

__ADS_1


__ADS_2