
Alexander mengukir seringai di bibirnya, dan menatap Vaya dengan dingin, lalu berkata, "Apa Ivona setuju kalau miliknya direbut olehmu?"
Ekspresi Vaya seketika memucat dan bibirnya gemetar, Vaya tidak sanggup berkata-kata. Ucapan Alexander benar-benar menohok hatinya.
"Tidak, Ivona tidak pernah setuju, tidak juga rela jika semua miliknya kau ambil," sambung Alexander.
Bibir Vaya langsung terkatup rapat. Tidak bisa membalas ucapan Alexander walau sekata.
"Jadi bagaimana, apakah Anda setuju dengan perjanjian yang aku tawarkan?" ucap Alexander yang sudah beralih pada Tuan Besar Iswara.
Meski sedikit ragu, karena sejujurnya ia juga belum sepenuhnya rela melepas Ivona untuk jauh darinya, tapi kakek Iswara tidak punya pilihan yang lebih baik dari ini. Yang terpenting baginya saat ini adalah keselamatan dan kebahagiaan Ivona, dan Alexander bisa memberikan keduanya untuk Ivona. "Baiklah, aku setuju dengan perjanjian ini dan juga syarat yang kau ajukan," jawab Kakek Iswara.
Tuan dan Nyonya Iswara tidak bisa membantah lagi kali ini, karena usahanya untuk membujuk ayahnya sejak tadi gagal. Mereka hanya bisa pasrah dan menerima apa pun yang Tuan Besar Iswara putuskan. Begitu pun dengan Thomas yang hanya diam menerima keputusan Kakeknya, meskipun ia begitu terluka sebagai seorang kakak. Bukan dirinya yang merupakan kakak kandung Ivona yang bisa melindungi gadis itu, tapi justru orang lain yang mampu menjadi pelindung bagi adik satu-satunya.
Setelah semua menyetujui, Alexander pamit undur diri. "Kalau begitu, pengacaraku akan mengurus semuanya, termasuk bantuan dana untuk perusahaan keluarga Iswara secepatnya."
Alexander kembali ke mobil dan melihat Ivona sedang menahan dagu di kursi penumpang samping pengemudi. Ivona yang tersentak saat Alexander membuka pintu, langsung memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.
"Kau sudah kembali, bagaimana keadaan Kakek, apa yang terjadi, apa semua baik-baik saja, apa mereka membuat kakek sakit lagi atau apakah _____"
"Ssstttt." Alexander menutup mulut Ivona dengan jari telunjuknya yang ia letakkan di depan bibir gadis itu. Ia tersenyum melihat Ivona yang gugup menunggu kabar darinya.
Ivona menyingkirkan tangan Alexander. "Katakan apa yang terjadi?" tanya Ivona tidak sabar.
Alexander masih saja tersenyum dan Ivona kesal melihatnya. Pria ini sungguh tidak memahami kegelisahannya sejak tadi. "Katakan!" Ivona menatap tajam Alexander.
"Kita jalan dulu," jawab Alexander.
"Tidak, katakan dulu apa yang terjadi di dalam," tolak Ivona, tapi Alexander seolah tidak peduli. Pria itu meraih seat belt, dan akan memasangkannya untuk Ivona. Namun, Ivona menahannya. "Berhenti melakukan hal yang tidak penting, dan katakan padaku bagaimana keadaan Kakek," desak Ivona.
Alexander yang tadinya menunduk untuk memasang seat belt, terpaksa harus mendongak untuk bisa menjawab rasa penasaran Ivona. Nampaknya Ivona salah saat menahan Alexander agar tidak memasang seat belt untuknya, harusnya ia bersabar dan membiarkan Alexander
__ADS_1
menyelesaikan tugasnya, karena kini, ia justru harus menerima posisi yang sangat tidak nyaman untuknya, saat wajah Alexander begitu dekat dengan wajahnya. Sampai ia bisa merasakan embusan napas pria itu.
Alexander tidak juga kunjung bicara, pria itu justru memaku pandangannya pada manik indah milik Ivona. Senyum tipis terukir di bibir pria itu, sengaja untuk menggoda Ivona.
Ivona baru saja akan mendorong Alexander saat pria itu berkata, "Semua baik-baik saja." Tepat bersamaan dengan Alexander yang telah mengaitkan seat belt Ivona.
Alexander langsung melajukan mobilnya meninggalkan mansion keluarga Iswara.
"Apa maksudmu semua baik-baik saja?" tanya Ivona yang kini sedikit memiringkan tubuhnya agar bisa menatap pria yang sedang mengemudi itu.
"Iya, semua baik-baik saja, kondisi Kakekmu dan kau juga bisa tenang tinggal di rumahku," jawab Alexander tanpa menoleh.
Dari kalimat Alexander, Ivona menebak jika Alexander sudah memberitahu perihal dirinya yang tinggal di rumah Alexander pada keluarga Iswara. "Apa kau mengatakan pada keluargaku jika kita tinggal bersama?" pekik Ivona.
Alexander hanya mengangguk mengiyakan dengan terus menyetir.
"Apa kau gila?" pekiknya sekali lagi.
"Maaf," ucap Ivona cepat, saat melihat Alexander yang menutup telinganya. "Tapi, kenapa kau katakan itu sekarang, lalu bagaimana tanggapan keluargaku tentangku?" tanya Ivona.
"Kau tahu kan, ini bukan hal sederhana yang bisa dikatakan begitu saja," tutur Ivona.
"Kau benar." Kali ini Alexander menoleh sekejap pada Ivona.
"Lalu?"
"Kakekmu bilang tidak pantas kau tinggal di rumahku tanpa ikatan."
Ivona langsung menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya. Apa yang ia takutkan terjadi. Pasti sekarang ini keluarganya berpikir hal buruk tentangnya dan mempertanyakan moralnya.
Melirik Ivona yang masih menutup wajahnya, membuat Alexander ingin menggodanya. "Menurutmu, ikatan apa yang pantas untuk aku berikan padamu agar kau bisa tetap tinggal di rumahku?"
__ADS_1
Sontak Ivona membuka telapak tangannya. "Kau bilang apa?" deliknya.
"Apa ikatan yang pantas aku berikan untukmu, apakah aku harus mengikatmu sebagai kekasihku, atau sebagai adikku. Tapi kurasa, tidak akan ada yang percaya jika seorang pria dan wanita tinggal bersama tanpa hubungan darah mengatakan hidup sebagai kakak beradik, bukankah begitu?" Alexander menambahkan senyum di akhir kalimatnya.
Ivona langsung memukul lengan pria itu.
"Kenapa?" tanya Alexander.
"Aku tidak suka bercanda," ketus Ivona.
Alexander melihat Ivona. "Aku juga tidak bercanda."
Ivona langsung terdiam, ia tidak ingin lagi menanggapi Alexander dengan segala kelakarnya. Ia memilih untuk membisu hingga mobil yang dikemudikan Alexander tiba di Vila milik pria itu.
Tanpa kata, tanpa pamit, Ivona langsung keluar dari mobil begitu Alexander menghentikan mobilnya di depan Vila mewah di pinggiran Victoria. Ivona terus berlari menuju kamarnya, menghempaskan tubuhnya di atas ranjang empuk yang ternyata tidak mampu membuatnya nyaman. Di atas ranjang itu, Ivona terus gelisah tanpa bisa memejamkan mata, hingga tidak ada pilihan lain selain kembali mengetuk kamar Alexander dan meminta ijin untuk tidur di kamar dengan aroma candu itu.
Wangi Alexander benar-benar ampuh membiusnya, dalam sekejap saja Ivona sudah bisa merayu mimpi untuk bisa hadir dalam ketidaksadarannya. Ia begitu lelap dalam alam bawah sadarnya, hingga pagi datang ia masih saja terlena dalam buai mimpi.
Ivona pun tidak sadar ketika ada seorang wanita asing yang masuk ke kamarnya tanpa permisi.
"Selamat pagi," sapa wanita itu tapi tidak mendapat sahutan.
Wanita cantik yang mengenakan blouse warna merah dan rok hitam ketat, dipadukan dengan stilleto yang senada dengan blouse yang ia kenakan itu, berjalan masuk ke kamar Alexander begitu saja.
"Halo, Tuan Alexander kapan Anda akan mengatur jadwal les privat untuk adik Anda?" teriak wanita itu.
Karena masih tidak ada jawaban dan melihat di atas ranjang masih ada seseorang, ia pun berjalan menuju ke sisi ranjang dengan tersenyum, tapi ia terkejut saat tidak menemukan Alexander di atas ranjang itu dan justru melihat seorang gadis yang tidak ia kenal.
Tidak mudah mendapatkan kesempatan untuknya bisa menjadi guru privat di keluarga ini, sebab itu ia ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk bisa lebih dekat dengan seorang Alexander Alberic. Pria yang tersohor dengan ketampanannya yang kharismatik. Namun, saat mendapati ada seorag gadis di ranjang Alexander, ia jadi bertanya-tanya tentang gadis ini.
"Apa ini adik dari Tuan Alexander?" tanyanya dalam hati.
__ADS_1
"Tapi, kalau dia memang adik Alexander kenapa dia tidur di ranjang milik Alexander?" Wanita itu terus bertanya pada dirinya sendiri.