IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.160 Mencoba Menerima


__ADS_3

Pagi ini Ivona masih berada di mansion Ryder. Aldrich sudah memberikan kebebasan untuknya, hingga ia bisa keluar ke balkon dan menghirup segarnya udara pagi di mansion mewah pria itu. Ivona menatap hijaunya rumput di bawah saja, yang terlihat basah oleh embun. Ia menengadah, memejamkan mata dan menghirup dalam-dalam oksigen untuk memenuhi rongga parunya. Pikirannya kembali ke pagi buta tadi.


"Beri aku waktu satu bulan dan aku akan membuatmu mencintaiku," ucapnya tiba-tiba.


Ivona justru menatap meremehkan pada Aldrich. "Jangan bicara cinta, lagi pula bagaimana kau akan membuatku jatuh cinta dalam waktu satu bulan?"


"Cinta bisa hadir begitu saja, tanpa alasan, tanpa isyarat bahkan tanpa pertemuan sebelumnya. Dan aku akan buktikan itu."


"Gila!"


Aldrich meraih bahu Ivona dan membawanya untuk bisa berhadapan dengannya. "Kalau kita memang diciptakan untuk selalu bersama dalam setiap kehidupan, kau tidak akan bisa lari dari takdir. Kita memang belum memiliki perasaan satu sama lain, tapi aku yakin ada tali takdir yang mengikat kita untuk bisa bersama."


Ucapan Aldrich membuat Ivona tak mampu berpaling dari pria itu. Apa yang pria ini katakan memiliki arti mendalam dalam kehidupan novel yang dulu ia jalani. Seperti pernah mendengar kata yang memiliki arti sama.


"Satu bulan dan akan aku buktikan itu."


Ivona tak tahu apa yang menjadi alasannya mengangguk. Tubuhnya seolah bergerak otomatis menyetujui apa yang Aldrich minta. Sejak itulah Ivona setuju untuk tinggal bersama di mansion pria itu bersama dengan keluarganya.


___________


Ivona sudah membersihkan diri, Aldrich sudah menyiapkan baju ganti untuknya melalui pelayan yang ia suruh. Ini pagi pertama untuknya bisa bergabung sarapan dengan keluarga Aldrich. Ivona menuruni tangga memutar dengan railling berwarna emas penuh ukiran. Flat shoes-nya menjejak anak tangga berbahan marmer berkualitas terbaik. Ia melihat ke bawah, mengamati rumah yang sama mewahnya dengan rumah milik Alexander di dalam novel.


Ivona berjalan menuju ruang makan seperti pesan pelayan yang sebelumnya mengantar baju untuknya. Dari kejauhan Ivona melihat Evan yang berlari ke arahnya.


"Mommy," teriak bocah itu. Menghambur memeluk Ivona.


"Are you ok?"


Ivona tersenyum sembari mengangguk. Bocah ini mungkin salah satu satu alasan Ivona untuk mencoba menerima Aldrich. Evan membuat hati Ivona terikat dengan kenyataan dan dunia khayal.


"Kita sarapan bersama?" Evan langsung menarik Ivona dan membawanya duduk di dekat Aldrich berhadapan dengan Helena. Sementara bocah itu duduk di sebelah Ivona.


"Makanlah." Evan mengambil selembar roti untuk Ivona.


"Terima kasih," ujar Ivona sembari tersenyum.


Helena terus memperhatikan Ivona yang berada tepat di depannya. "Aku senang kau bersedia memberi Aldrich kesempatan. Aku sangat yakin kalian memang diciptakan untuk bersama," ujar Helena.


Ivona bingung harus bereaksi seperti apa, tapi ia mencoba untuk mengalihkan pandangannya pada Aldrich. Pertama kalinya ia melihat bibir Aldrich melengkung membentuk senyuman. Sangat manis. Persis seperti Alexander.

__ADS_1


Oh ... Ivona, sadarlah dia buka Alexander. Pria ini adalah Aldrich Ryder.


Terus memandang senyum Aldrich membuat pipi Ivona merona. Hal itu tertangkap oleh Helena, hingga ibu dari pria yang berjanji akan menaklukkan hatinya itu berdehem cukup keras demi menyadarkan Ivona yang terperangkap dalam senyuman Aldrich Ryder. Evan yang duduk di sebelah Ivona ikut tersenyum juga, meski masih kecil ia tahu kepada siapa deheman neneknya tertuju.


Kini, Ivona jadi canggung sendiri sampai-sampai ia salah saat akan mengambil chocolate jam dan malah mengambil botol kecap.


"Kau makan roti dengan kecap?" tanya Alexander.


Ivona segera melihat apa yang ia pegang. Benar saja ia bukan mengambil selai coklat yang ia inginkan melainkan kecap manis yang tersedia di sana.


Ivona nyengir. "Y-ya ... aku suka makan roti dengan kecap," ujarnya yang terlanjur malu. Tak ingin juga ketahuan jika ia sedang tidak konsentrasi karena hanyut dalam senyuman manis pria yang saat ini kembali tersenyum padanya. Mentertawakan Ivona sebenarnya.


"Apa itu enak?" tanya Aldrich lagi.


"Te-tentu saja, ini adalah cara terbaru makan roti. kombinasi antara kecap dan roti sangatlah nikmat. Ka-kau boleh coba kalau tidak percaya," ujar Ivona menyakinkan.


"Oh ... tidak, terima kasih. Aku lebih suka makan roti dengan coklat atau keju."


Ivona mengulum senyum. "Begitu, ya."


Dengan gerakan tangannya Aldrich mempersilakan Ivona segera makan dan diangguki oleh Ivona. Dengan rasa takut akan rasa kecap dalam roti Ivona terus berusaha memasukkan roti yang ia ambil dari piring itu ke mulutnya.


Siapa pun dia yang telah menaruh botol kecap ini, aku bersumpah akan mengutukmu. Kau tidak akan bisa makan selama tiga hari karena sariawan di mulutmu!


Selesai menghabiskan makanan yang menyiksa lidah dan lambungnya itu, Ivona segera berangkat mengikuti Aldrich untuk ke kantor. Aldrich mengajaknya untuk satu mobil saja karena mulai hari ini mereka akan berangkat dan pulang bersama-sama.


"Kau sudah siap?" tanya Aldrich memperhatikan Ivona.


"Ya, tentu saja."


Pandangan Aldrich tak beralih. "Kau sudah siap?" tanya Aldrich lagi.


Ivona bingung bukankah baru saja pria ini bertanya dan mendapatkan jawaban darinya. "Tentu," jawab Ivona sekali lagi.


Aldrich malah menggelengkan kepala. Ia mencondongkan tubuhnya pada Ivona.


"Eh ... mau apa?" tanya Ivona kaget.


Aldrich meraih seat belt yang belum terpasang dan memperlihatkannya pada Ivona. Tanpa ragu pria itu mengaitkan seat belt bakal calon istrinya itu.

__ADS_1


Posisi mereka yang terlalu dekat membuat Ivona bisa mencium aroma tubuh Aldrich yang begitu menggoda indera penciumannya. Aroma ini seolah membawa Ivona pada Alexander. Pria yang memiliki aroma candu bagi Ivona.


Ah ... Ivona, jangan jadi gila. Pria ini bukan Alexander. Dia Aldrich, biarkan Alexander menjadi milik Ivona dalam novel dan Aldrich adalah milikmu di dunia nyata.


Apa? milikku?


"Kau kenapa?"


Ivona dibuat tersentak dengan pertanyaan Aldrich.


"Apa kau memikirkan sesuatu?" tanya Aldrich berbarengan dengan pria itu yang berhasil mengaitkan seat belt Ivona. Pria itu hanya menegakkan badannya tapi posisinya masih begitu dekat dengan Ivona. Sorot matanya bahkan tengah mengunci pandangan Ivona.


Ivona tak mampu berkata-kata. Ia hanya menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan.


"Baiklah, kita berangkat." Aldrich kembali menegakkan punggungnya ke sandaran kursi kemudi. Ia mulai menstater mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan konstan. Aldrich mulai berbicara panjang lebar pada Ivona. Mulai dari dirinya yang meminta Ivona jangan khawatir soal ayahnya, karena Aldrich sendiri yang sudah meminta ijin pada Felix Howard.


Namun dari semua perkataan Aldrich tak satu pun yang Ivona tanggapi. Entah sedang berada di mana jiwa gadis yang tengah duduk di sampingnya ini, sebab saat Aldrich menoleh pada Ivona, gadis itu justru terlihat melamun.


"Hei ...." Aldrich menyentuh lengan Ivona. Membuat Ivona tersadar seketika.


"Ya ... ada apa?"


Aldrich tersenyum. Benar dugaannya jika gadis ini tengah melamun.


"Apa yang kau pikirkan?"


"A-aku?" tanya Ivona tak paham.


"Iya, kulihat kau melamun."


"Melamun? tidak, aku tidak melamun," sangkal Ivona.


"Kalau begitu apa yang tadi kau pikirkan?"


Ivona menggeleng. "Tidak ada."


Aldrich melirik sekilas Ivona kemudian kembali fokus pada kemudinya. "Apa aku mengingatkanmu pada Alexander?"


Sontak Ivona menoleh dan menatap tajam Aldrich.

__ADS_1


__ADS_2