IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.120 Nyonya Alberic


__ADS_3

Ivona ragu, tapi setelah mendengar penjelasan dari pria berjas hitam tentang siapa yang menyuruhnya, Ivona akhirnya bersedia ikut dengan dua pria itu. Di sini lah Ivona sekarang ini, di mansion mewah berarsitektur royal victoria.


Ivona duduk dengan gelisah di kursi berwarna golden brown, di mana alas duduk itu terbuat dari kulit dan kayu berkualitas tinggi, Ivona yakin itu. Ini memang bukan pertama kalinya ia datang ke tempat ini, tapi rasanya ia begitu gugup. Apa lagi saat harus menunggu Nyonya sang pemilik rumah, raut cemas Ivona semakin tak bisa disembunyikan. Ivona menunduk, ia lebih memilih memainkan jari-jarinya untuk membunuh sepi yang ia hadapi.


"Kukira kau tidak akan datang." Suara itu langsung membuat Ivona mendongak. Gadis itu segera berdiri untuk menyambut sang empunya rumah yang baru saja menuruni tangga memutar yang begitu elegan.


Dari atas tangga hingga sampai di hadapan Ivona, wanita itu terus menatap Ivona dengan tatapan yang sulit diartikan. Ini adalah kali ketiga, Ivona bertatap muka dengan wanita yang berdiri di hadapannya ini. Meski begitu, rasa gugup dan takut masih sama ia rasakan.


"Se-selamat sore, Nyonya," sapa Ivona.


Wanita itu tersenyum miring, sebelum ia duduk di kursi yang berseberangan dengan Ivona.


"Siapa namamu?" Nyonya itu memperhatikan Ivona yang masih saja berdiri.


"Saya Ivona, Nyonya," jawab Ivona.


Wanita itu justru menatap Ivona dari atas hingga bawah. "Apa kau akan terus berdiri?"


"Ma-maafkan saya, Nyonya." Ivona segera duduk kembali.


"Apa kau tahu apa tujuanku mengundangmu ke mari?"


Ivona menggeleng.


Sang Nyonya kembali tersenyum. "Apa hubunganmu dengan putraku?"


"Apa?" pekik Ivona. Tentu saja ia terkejut dengan pertanyaan Nyonya Alberic ini.


Apa hubungannya dengan Alexander? Memang apa hubungannya dengan pria itu, tidak ada bukan?


"Aku bertanya padamu, apa hubunganmu dengan Alexander putraku?" ulang sang Nyonya.


"Sa-saya tidak punya hubungan apa pun dengan putra Anda, Nyonya," jawab Ivona jujur.


Namun, Nyonya Alberic tidak menangkapnya demikian. Wanita yang berusia lebih dari setengah abad itu tidak percaya dengan jawaban Ivona.


"Lalu, kenapa kau tinggal di vila milik Alexander. Apa dia membayarmu untuk itu?"


Ivona tersinggung dengan ucapan Nyonya Alberic yang baru saja, ia bukan gadis bayaran seperti yang ditanyakan Nyonya Alberic. "Maaf, Nyonya. Anda salah paham, saya bukanlah gadis seperti yang Anda pertanyakan."


"Kau tidak punya hubungan dengan Alexander, tidak juga dibayar oleh Alexander, lalu apa sebenarnya hubunganmu dengan Alexander hingga kau bisa tinggal berdua dengan putraku itu, bahkan Alexander rela berbagi kamar denganmu?"


Ivona juga tidak bisa menjawab soal hal ini. Ia juga tidak bisa menyebut apa hubungannya dengan Alexander.

__ADS_1


"Sa-saya adalah adik dari salah satu teman Tuan Alexander, dan kakak saya menitipkan saya pada Tuan Alexander untuk sementara waktu."


Yah ... itu adalah jawaban paling jujur dan tepat yang harus Ivona ucapkan.


"Hanya sebatas itu? kau yakin?"


Pertanyaan Nyonya Alberic semakin membuat dahi Ivona berkerut. Ia tidak mengerti maksud ibu Alexander itu. Memang itu lah kenyataannya, ia dan Alexander hanya memiliki hubungan sebatas itu.


"Ya, Nyonya." Ivona mengangguk.


Nyonya Alberic justru mencibir. "Lalu, jika hubunganmu dengan Alexander hanya sebatas menolong, untuk apa Alexander sampai harus menggelontorkan dana yang besar untuk perusahaan keluargamu demi menahanmu di vilanya?"


Ivona terkesiap dengan apa yang ia dengar. Ia belum pernah mendengar cerita ini. "Maksud Anda apa, Nyonya?"


"Maksudku, jika Alexander tidak menganggapmu istimewa untuk apa ia harus berkorban banyak hanya untuk mempertahankanmu?"


Jujur Ivona tidak mengerti dengan kata mempertahankan itu. Ia masih mencoba berpikir keras atas pertanyaan ibu dari Alexander ini.


"Kakak!" seru seorang anak yang baru saja datang. Ia langsung berlari memeluk Ivona, di belakangnya ada Max yang juga langsung menggonggong ketika melihat sang majikan.


Anak ini membuyarkan semua apa yang Ivona pikirkan. Ditambah Max yang langsung menjilati Ivona karena rindu.


"Tuan muda kecil?" sapa Ivona.


Ivona melirik Nyonya Alberic takut. Takut jika Nyonya Alberic salah paham dengan ucapan adik dari Alexander ini.


"Aku adalah orang pertama yang akan mendukung hal itu, Kak. Aku sangat bahagia jika Kakak bisa menikah dengan Kak alexander," cerocos Tuan Muda kecil.


"Aku yakin, kau akan hidup bahagia jika menikah dengan Kakakku. Iya 'kan, Max?" anak itu menoleh pada Max—si anjing.


"Ti-tidak, bukan begitu. Aku ke sini hanya ____"


"Evan, masuklah!" potong Nyonya Alberic dengan cepat.


"Kenapa, Mom?" protes Tuan Muda kecil bernama Evan itu.


"Mommy bilang masuk ke kemarmu!" sentak Nyonya Alberic.


"Mom, aku hanya ingin berada di sini lebih lama, aku merindukan Kak Ivona," bantah Evan.


"Evander Alberic!" teriak Nyonya rumah itu.


Ivona dan Evan sama-sama tersentak dengan suara Nyonya Alberic. Ivona pun memberikan kode melalui matanya agar si Tuan Muda kecil mematuhi ucapan ibunya. Kendati terpaksa, Evan pun akhirnya menurut. Ia berjalan mendekati tangga, tapi Max tidak ingin beranjak dari sisi Ivona. Evan berhenti dan memanggil anjing itu. "Max!"

__ADS_1


Max menggonggong tapi tidak bergerak sedikit pun dari Ivona.


"Max, ayo kemari," panggil Evan.


Melihat Nyonya Alberic yang mendelik pada Evan, Ivona langsung mengusap tubuh Max. "Pergilah, Max," titahnya pada anjing itu. Ivona mencium Max sebelum anjing itu berlari mengikuti Evan.


Nyonya Alberic kembali fokus pada Ivona. Ia semakin menatap tajam Ivona, memperhatikan gadis itu lebih seksama. "Kau juga mengenal putraku Evan dan juga anjingnya?" tanyanya kemudian.


Ivona mengangguk.


"Kejutan apa lagi yang akan kau berikan padaku?"


"Saya tidak mengerti maksud, Anda?"


"Kau tinggal dengan putraku, kau tidak hanya mengenal Alexander tapi kau juga mengenal Evan, lalu apa lagi yang tidak aku ketahui tentangmu?"


"Saya memang mengenal Evan, karena saat saya bertemu dengan putra Anda, Tuan Alexander saat itu dia sedang bersama dengan Evan," jelas Ivona.


"Lalu, Max. Kenapa anjing itu bisa sedekat itu denganmu, bahkan ia menurut pada perintahmu?"


"Itu karena Max adalah milikku."


Nyonya Alberic mengembuskan napas kasar. "Ini gila, benar-benar gila!"


"Aku tidak tahu tentang wanita yang dekat dengan kedua putraku!" sambung Nyonya Alberic.


Ivona bingung harus merespon apa pada sikap Nyonya Alberic. Gadis itu menutup rapat bibirnya saat melihat ibu dari Alexander dan Evan itu memijit kedua pelipisnya.


"Otis!" teriak Nyonya Alberic.


"Ya, Nyonya," sahut seorang pria yang lari tergopoh-gopoh menghampiri Nyonya Alberic.


"Bawa gadis ini pergi dari hadapanku!"


Ivona dan Otis—si pelayan—sama-sama kaget, tapi tak bisa membantah perintah majikannya. Tanpa banyak bertanya, Otis mengajak Ivona. "Mari, Nona."


Ivona pun menurut. "Saya permisi, Nyonya," pamit Ivona.


Sesaat setelah Ivona dan Otis pergi dari ruang tamu, Alexander datang dengan emosinya yang tinggi. "Iv ...," teriak pria itu.


"Ivona!"


"Apa kau pikir rumah ini hutan hingga kau berteriak sesukamu?" sahut Nyonya Alberic yang masih duduk memijit pelipisnya.

__ADS_1


"Di mana Ivona?" tanya Alexander yang membuat ibunya meradang.


__ADS_2