IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.110 Serangan


__ADS_3

WARNING!!! Part ini mengandung adegan kekerasan dan umpatan. Bagi yang tidak suka silakan skip. Bagi yang belum cukup umur WAJIB SKIP!!!


________________________________________________


"Iv ... kau di mana?" seru Beny berusaha berjalan lebih cepat. Ia terus menuruni tangga dan menyusuri koridor. Tiba di lantai dua, Beny melihat Ivona berlari ke arah belakang sekolah.


"Iv ...," teriak Beny agar Ivona menunggunya tapi Ivona tidak mendengar.


Beny pun mengikuti ke mana Ivona pergi. Dengan berat tubuhnya yang tidak mendukung, Beny terus berusaha agar bisa lebih cepat untuk menyusul Ivona. Pria gendut itu terlambat, begitu sampai ke belakang gedung sekolah, ia hanya bisa melihat tubuh seseorang di seret masuk ke sebuah mobil warna silver.


"Ivona!"


Mobil itu melaju melewatinya setelah berhasil membawa tubuh tak berdaya yang sempat dilihatnya.


"Iv ...," panggil Beny saat mobil itu melintas.


"Ivona ... diculik!" pekik Beny tersadar.


"Ivona ...." Beny kembali berlari mengejar mobil itu sembari memanggil-manggil Ivona.


Kemampuan berlari Beny tentu tidak sebanding dengan kecepatan mobil. Ia sudah hampir kehabisan napas karena terus saja berlari tapi mobil sudah menghilang dari pandangannya.


Beny melihat Mr.Harry yang masih ada di perkiran, ia pun langsung menghampiri gurunya itu. "Mr.Harry tolong Ivona," ujarnya dengan napas ngos-ngosan. "Ivona ... diculik." Beny berusaha mengatur napasnya.


"Ivona ... diculik ... apa maksudmu?" Tentu saja Mr. Harry ragu karena belum lama tadi ia bertemu Ivona di ruangannya.


"Benar, Ivona diculik. Ayo Mr.Harry kita harus menyelamatkan Ivona. Cepat Mr.Harry, cepat!" Beny tak sabar meminta Mr.Harry untuk mengejar mobil yang menculik Ivona.


"Apa kau bilang tadi?" Tiba-tiba saja Alexander muncul dari arah belakang Beny.


"Kakak Ivona?" Beny terkesiap. "Ka-kau kakak Ivona, bukan?"


Tak peduli dengan pertanyaan Beny, fokus Alexander sekarang adalah kalimat Beny tentang penculikan Ivona. "Apa maksudmu Ivona diculik?"


"Kakak Ivona, ayo kita kejar mobil yang menculik Ivona. Aku tadi melihat sebuah mobil telah membawa Ivona pergi."


Tanpa pikir panjang Alexander langsung percaya. "Ayo ikut aku!" Alexander menarik Beny ke mobilnya dengan kasar.

__ADS_1


Pria itu segera melajukan mobilnya. "Katakan ke mana mobil yang membawa Ivona pergi!"


"Ke arah sana." Beny menunjuk arah jalan besar.


Alexander benar-benar tak sabar. Dalam benaknya ia harus segera menyelamatkan Ivona. Setelah berjalan menyusuri jalanan mereka tidak bisa melihat mobil dengan ciri yang Beny sebutkan.


"ke mana mereka!" sentak Alexander.


Beny bingung harus menjawab apa, karena ia sendiri kehilangan jejak dan tidak tahu ke mana lagi mobil itu membawa Ivona.


"Katakan ke mana!" sentak Alexander lagi. Ia jadi hilang akal karena tidak bisa menemukan mobil yang dimaksud Beny.


"A-aku juga tidak tahu." Beny ketakutan melihat sorot mata Alexander yang mengerikan.


Pria itu menatap marah pada Beny yang tidak bisa memberikan jawaban pasti. "Berengsek!" Alexander memukul setir dengan keras.


Ia menepikan mobilnya, kemudian menghubungi seseorang untuk membantunya.


"Halo, Rico. Selidiki CCTV dari G-school tentang mobil berwarna silver yang keluar sekitar lima belas menit yang lalu dari sekolah itu. Cari tau ke mana mobil itu diarahkan!" titahnya bak raja pada Rico.


"Ya, Tuan. Memangnya ada apa, Tuan?"


"Ma-maafkan saya, Tuan. Saya segera laksanakan!"


Rico segera menutup teleponnya dan bergegas melaksanakan perintah.


_________________


Rumah Sakit Jiwa


Suasana mulai mencekam setelah Vaya menutup pintu ruang remang-remang itu. Mendadak rasa takut menelusup masuk dalam sanubari Ivona.


"Tenang Ivona, sampah ini tidak akan bertindak jauh padamu. Pikirkan cara agar kau bisa lepas dari jerat kursi setan ini," ujar batin Ivona menenangkan.


Ivona terus mengamati apa yang akan Roy lakukan padanya selanjutnya. Ia berusaha mengatur mimik mukanya agar terlihat tenang, menyembunyikan segala ketakutan yang sempat mencuat agar tak terlihat.


Roy menatap Ivona yang masih terlihat tenang. Dengan seringai iblis, pria itu kembali mendekat. "Sekarang tinggal kita berdua, aku akan buktikan apa yang bisa aku lakukan padamu. Aku ingin lihat, apakah egomu masih berada dipuncak setelah kau merasakan siksaan yang akan aku berikan."

__ADS_1


Ivona mengangkat satu sudut bibirnya ke atas, terlihat jelas merendahkan Roy. "Dasar pecundang, sekali pecundang selamanya akan tetap jadi pecundang!" ejek Ivona.


"Diam kau, sialan!" Roy menampar pipi Ivona dengan kuat hingga wajah gadis itu berpaling.


Ivona marah, tapi ia masih bisa mengontrol emosinya. Ia kembali menegakkan wajahnya. "Kenapa kau, marah? apa kau tidak suka dengan sebutan yang aku berikan. Kalau begitu, sebutan apa yang pantas untuk laki-laki yang menyiksa wanita yang terikat. Kalau kau berani, lepaskan aku dan kita bertarung secara adil!"


Ivona sengaja melakukan semua ini, guna memanipulasi pikiran Roy. "Kau tidak akan berani, kau tahu kenapa? karena kau adalah pecundang yang takut pada wanita sepertiku!" sentak Ivona.


"Diam, kau!" Roy tidak tahan dengan ejekan Ivona.


Ia pun termakan dengan hasutan Ivona. Tanpa diminta, Roy melepaskan semua jerat di kaki dan tangan Ivona. Semua sudah terlepas, dan Ivona tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia langsung menendang Roy hingga terjengkang.


"Kurang ajar!" Roy berusaha bangkit.


Seperti Ivona yang langsung menyerangnya, kali ini Roy melakukan hal yang sama. Pria itu hendak melayangkan tinjunya pada Ivona, tapi dengan gesit Ivona bisa menghindar.


Mereka benar-benar bertarung dalam aksi baku hantam. Sama seperti Ivona yang tak ingin bermurah hati pada Roy, pria itu pun tidak lagi memikirkan gender Ivona yang merupakan seorang gadis. Pria itu membalas pukulan Ivona dengan sekuat tenaga, ketika Ivona berhasil memukulnya.


Hingga akhirnya Roy bisa menghentikan serangan Ivona, pria itu menjambak rambut Ivona dengan kuat dan membenturkan kepala gadis itu ke dinding.


Rasa pening langsung menyerang kepala Ivona, tapi pertarungan belum berakhir. Ivona masih bisa bangkit dan melawan, meski harus menahan sakit di kepala.


Kini giliran Ivona membalik keadaan, gadis itu berhasil menjatuhkan tubuh Roy dan menginjak leher pria itu. "Pergi saja kau ke neraka, dasar sampah!"


Roy memegang kuat kaki Ivona yang berada di atas lehernya, dengan sekuat tenaga Roy mendorong tubuh Ivona hingga terjatuh. Tidak Ivona sangka, jika Roy akan berbuat licik. Pria itu mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya. Lalu mengacungkannya di depan Ivona.


Roy mengarahkan pisau itu ke tubuh Ivona, tapi Ivona masih bisa menghindar dengan menggulingkan badannya ke samping.


"Kau tidak akan lepas dariku!" Roy kembali menyerang dengan pisau itu dan kembali Ivona bisa menghindar. Namun serangan yang bertubi-tubi dari Roy akhirnya berhasil melukai lengan atas Ivona.


Hal itu membuat Roy jemawa. "Ivona ... Ivona, kau bukanlah orang yang pantas untuk menjadi lawanku. Tapi harus aku akui, kau sangat berbeda. Kau bukan lagi gadis lemah seperti yang kukenal dulu, di mana kau belajar semua ini, hah?"


Rupanya luka yang digoreskan Roy cukup dalam, hingga darah segar menetes dari lengannya meski Ivona sudah berusaha menekannya. Roy tak ingin memberi Ivona kesempatan, ia kembali menyerang gadis yang sudah terluka itu dan berhasil membuat Ivona kembali terjatuh.


Napas Ivona terengah, ia merasakan bahwa tenaganya terkuras saat harus melawan Roy. Ditambah dengan darah yang keluar dari lengannya, membuat Ivona harus bertahan lebih kuat.


Melihat keadaan Ivona yang sudah kelelahan, Roy tak mengambil jeda. Ia kembali melancarkan serangan dengan mengarahkan pisau di tangannya ke dada Ivona. "Aku akan mengakhiri semuanya, Ivona. Aku tidak akan lagi mengampunimu!"

__ADS_1


"Rasakan ini, Ivona!" Dengan gerakan cepat dan beringas Roy mengarahkan pisau lipat itu ke perut Ivona.


__ADS_2