IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.52 Dua Orang yang Saling Mendukung


__ADS_3

Ivona bangkit dan membaca nama yang tertera di layar pipih di tangannya. Ia mengangkat panggilan itu dengan malas, nada bicaranya pun terdengar dingin dan kesal.


"Halo," sapa Ivona setengah hati.


Marcus yang mendengar nada bicara Ivona seketika merasa sedikit was-was. "Halo," jawab Marcus. "Apa aku mengganggumu?" tanya Marcus.


"Menurutmu bagaimana?" Ivona balik bertanya. Ia memutar bola matanya malas, dengan pertanyaan konyol orang di seberang sana.


"Maafkan aku, aku terlalu bersemangat menghubungimu hingga tidak menyadari jika sudah mengganggumu," jawab Marcus.


"Ada apa?" tanya Ivona ketus.


Di seberang sana mata Marcus berbinar, ini yang dia sukai dari Ivona. Tidak suka basa-basi. "Begini, aku ingin kau membawa seorang pemuda yang cukup hebat yang ada di kotamu untuk bergabung dengan kita. Sebagai imbalannya aku akan membayarmu dengan bayaran lebih," jelas Marcus.


Pria bernama Marcus itu tahu jika Ivona sedang membutuhkan uang, karena itu ia memberikan penawaran di awal.


"Aku tidak mau," tolak Ivona, ia masih kesal dengan Marcus yang menggangu tidurnya.


"Namanya Roy, Roy Gibson," sela Marcus cepat sebelum Ivona menutup panggilannya.


Usaha Marcus berhasil, ia membuat Ivona urung mematikan teleponnya. Nama Roy yang familiar untuk pendengarannya ini, membuat Ivona mencibir. "Apa yang kau harapkan dari pria sampah seperti dirinya?" ucap Ivona dengan nada bicaranya yang terdengar meremehkan. Kemudian langsung menutup sambungan telepon tanpa peduli dengan Marcus.


_______________


Di negara lain, di dalam institut.


Seorang wanita di samping Marcus langsung bertanya, "Bagaimana hasilnya?"

__ADS_1


"Dia terdengar tidak ingin bekerja sama, entahlah seperti ada sesuatu yang membuatnya malas dan tidak tertarik," jawab Marcus.


Mendengar jawaban Marcus, membuat wanita itu hanya terdiam dan memutuskan untuk menyerah. "Sudahlah, tidak ada harapan untuk kita mengajak pemuda itu. Tanpa bantuan Ivona bagaimana bisa kita membawanya?"


"Kau benar, akan sulit untuk kita." Marcus berpikir sejenak. "Entah kenapa aku bisa menangkap nada bicara Ivona yang tidak bersahabat mengenai pemuda itu," imbuh Marcus mengenai penilaiannya pada Ivona saat panggilan tadi berlangsung.


"Memangnya ada apa?" tanya wanita di samping Marcus.


"Aku tidak tahu." Marcus mengangkat kedua bahunya.


Untuk sesaat mereka terdiam, Marcus dan wanita itu seolah memikirkan hal lain. Mencari cara untuk bisa membujuk Ivona.


Seorang peneliti yang berada di meja samping keduanya, mengambil alih pembicaraan. "Kalian lupa jika saat ini di negara Ivona masih dini hari. Menurut kalian, siapa yang tidak marah jika ada orang yang menelpon tanpa tahu waktu," ucap peniliti itu mengingatkan.


Markus dan wanita itu tersentak dengan ucapan teman di samping mereka. Marcus bahkan memukul meja kerja di hadapannya saat menyadari kesalahannya, ia juga memaki temannya karena tidak mengingatkannya sejak awal. "Berengsek, kenapa tidak kau katakan sejak tadi, huh!"


G-school


Keesokan harinya, Vaya sedang berada di ruang latihan piano sekolah. Jari-jarinya lincah menari di atas tuts hingga menghasilkan nada-nada yang terangkai indah dalam bingkai sebuah lagu. Tak ada yang meragukan kemampuan Vaya dalam menaklukkan benda penghasil irama tersebut, karena gadis itu terlalu mahir menguasai setiap kondimen yang ada pada tubuh piano itu. Setiap bagian dari piano itu seolah telah patuh pada titah Vaya, menuruti setiap keinginan Vaya. Vaya benar-benar luar biasa jika sudah menyangkut satu hal itu, piano.


Vaya mampu menyihir banyak orang pada sebuah pertunjukkan yang ia tampilkan melalui piano. Setiap nada yang ia hasilkan seperti menghanyutkan setiap pendengarnya untuk terlena menikmati alunan surga yang ia ciptakan. Sebuah kebanggan bagi Vaya dan keluarga Iswara akan kemampuan dan bakat yang ia miliki.


Vaya menekan tuts terakhirnya untuk mengakhiri permainan. Matanya masih terpejam, belum rela meninggalkan suasana yang tercipta dari lagu yang ia bawakan. Vaya begitu puas dengan latihannya kali ini.


Matanya membuka saat suara tepukan yang gemuruh, seolah memberikan penghargaan akan permainannya yang indah terdengar di telinganya. Ia menoleh pada seorang pemuda yang berdiri bersandar dinding di samping pintu masuk, yang masih bertepuk tangan untuknya. Pria itu kemudian berjalan ke arah Vaya tanpa menghentikan tepukan tangannya. Ia benar-benar mengagumi permainan piano Vaya.


Roy berhenti di samping Vaya. "Sempurna," ucapnya sebelum menyandarkan tubuhnya pada body piano yang baru saja Vaya mainkan. Vaya terus mengikuti ke mana pun Roy bergerak.

__ADS_1


Roy baru berhenti bertepuk tangan saat ia melihat senyum Vaya tertuju padanya. "Kau selalu memukau dengan permainanmu, Vaya," puji Roy.


"Tak pernah mengecewakan," imbuhnya.


Senyum di bibir Vaya makin merekah saat Roy melemparkan pujian yang membawanya terbang ke awang-awang. Pria ini selalu bisa menyenangkan hatinya.


"Apa kau selalu memuji wanita seperti itu, dan membuat mereka bertekuk lutut dengan mulut manismu?" goda Vaya.


Roy tertawa mendengar ucapan Vaya yang jujur.


"Kau satu-satunya gadis yang pernah aku puji," jawab Roy yang membuat wajah Vaya seketika bersemu merah. Siapa yang tidak akan melambung jika pria yang menjadi ikon G-school memujimu dengan penghargaan yang tinggi.


"Apa aku sedang tidak ada kerjaan, sehingga membuang-buang waktumu hanya untuk menungguku di sini?" tanya Vaya. Ia harus segara menghentikan Roy melanjutkan rayuannya, karena sungguh ia tidak akan sanggup lagi mendengar segala kata-kata manis namun beracun dari bibir pria satu ini.


Roy kembali tertawa. Vaya selalu membuatnya nyaman ketika bersama. Bahkan ejekan Vaya pun terdengar manis baginya. Mereka terdiam sesaat untuk saling menatap lekat. Hingga Vaya membuka suara untuk memutus benang pandangan di antara keduanya.


"Bagaimana dengan tes yang kau lakukan di lembaga penelitian asing itu?" tanya Vaya menunjukkan perhatiannya.


Dalam sekejap, tawa di bibir Roy berubah menjadi dingin.


"Ada apa, semua baik-baik saja, bukan?" tanya Vaya lagi.


Roy menggeleng. "Aku ditolak."


Vaya berdiri, ia membawa tubuhnya lebih dekat dengan Roy saat ini. Ia mengusap lengan Roy, seakan menyalurkan kekuatan agar Roy tetap semangat. "Kau bisa mencobanya lain kali, aku yakin kau akan berhasil nanti. Mengingat kemampuanmu yang tidak pernah gagal di bidang komputer."


Ucapan Vaya membuat Roy menatap bahagia pada gadis itu. Vaya membuat semangatnya terpacu untuk tidak menyerah. Muncul tekad yang kuat ditatapan Roy. "Kau benar, aku pasti akan berusaha agar lembaga tersebut menerimaku. Bagaimanapun, mereka akan menyesal jika tidak membawaku dalam tim mereka. Aku punya kemampuan yang tidak bisa mereka abaikan," ucap Roy percaya diri.

__ADS_1


Vaya mengangguk, menyetujui ucapan Roy. Tangan Roy terulur, membelai pipi gadis yang berdiri di depannya. Mereka sama-sama mengukir senyum di bibir masing-masing. Cukup lama mereka terhanyut dalam perasaan saling menguatkan dan mendukung dalam kemampuan yang mereka miliki. Hingga tiba-tiba Roy bertanya, "Bagaimana hubunganmu dengan Thomas?"


__ADS_2