
Alexander sedang duduk termenung di ruang kerjanya. Tangan Kanannya memainkan korek api yang biasa ia bawa ke mana pun. Waktu sudah berjalan dua hari sejak keberangkatan Ivona ke luar negeri.
Rindu. Tentu Alexander merasakannya. Sejak kehadiran gadis itu dalam hidupnya, dunianya benar-benar berubah. Dari yang hambar menjadi penuh rasa, dari yang monokrom menjadi banyak warna. Namun, bukan itu saja yang sedang Alexander pikirkan. Ada hal lain yang mengusik pikirannya. Hal yang sebelumnya disampaikan oleh anak buahnya yang ditugaskan untuk memata-matai keluarga Iswara khususnya Tuan dan Nyonya Iswara. Alexander memang belum bisa sepenuhnya percaya pada orang tua kekasihnya itu sebab itulah, ia menaruh orang untuk melaporkan kegiatan yang dilakukan oleh Tuan dan Nyonya Iswara.
Berita yang dilaporkan adalah tentang pertemuan Tuan dan Nyonya Iswara dengan seorang ahli komputasi senior di negara ini, yakni Greyson Walker. Juga tentang tawaran sang ilmuwan pada Tuan dan Nyonya Iswara. Alexander curiga jika ada niat terselubung dibalik tawaran Tuan Greyson pada orang tua Ivona. Ia sedang mengumpulkan bukti soal itu, juga mencari tahu motiv sebenarnya Tuan Greyson menginginkan Ivona.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dari ku, Iv. Tidak dalam kehidupan mana pun. Kau akan selalu jadi milikku," janjinya dalam hati.
Alexander terlalu fokus pada korek api di tangannya hingga ia tidak sadar jika Valia sudah masuk ke ruangannya dan melingkarkan tangannya di leher Alexander.
Alexander tersentak dengan sentuhan Valia. "Apa yang kau lakukan?" Alexander segera menyingkirkan tangan Valia yang bergelayut manja di atas pundaknya. Wanita itu sudah kehilangan malunya, setelah di tolak saat memeluk Alexander dari belakang, Valia justru semakin berani. Ia memutar kursi Alexander agar bisa memberikannya jalan untuk duduk di pangkuan pria itu. Sekali lagi, Valia merangkul mesra Alexander.
"Turun!" titahnya dengan nada sedingin es.
Valia tidak takut sama sekali. Ia justru semakin berhasrat untuk menggoda Alexander.
Valia tersenyum manja, ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Alexander. "Aku hanya ingin bersenang-senang," ujarnya dengan berbisik di telinga Alexander.
Alexander mendelik tajam menanggapi sikap Valia.
"Aku tahu kau sangat tertarik dengan anak kecil itu dan aku tidak peduli. Aku juga bisa melakukan apa pun yang anak itu lakukan. Aku bahkan bisa melakukannya jauh lebih hebat dari pada Ivona." Suara Valia sengaja dibuat-buat untuk semakin menggoda Alexander.
"Kau adalah pria matang, aku sangat yakin kau menginginkan hubungan yang panas, dan aku bisa memberikan itu." Valia semakin membuat parau suaranya.
"Aku akan bermain jauh lebih hebat dari Ivona," bisiknya sekali lagi.
Wanita itu dengan berani mendekatkan bibirnya pada bibir Alexander. Dengan sekali dorong Valia terjengkang ke lantai.
__ADS_1
Alexander sudah menahan geram sejak tadi, terlebih saat wanita murahan ini dengan sadar menuduh Ivona telah menyerahkan dirinya pada Alexander. Alexander sudah memperingatkan juga agar Valia turun dari pangkuannya sejak tadi, tapi wanita itu justru nekat merayunya.
"Jaga mulutmu!" sentak Alexander. "Dan jangan jadi murahan di depanku!"
Alexander berdiri dari kursinya. "Aku masih bersikap baik padamu karena aku menghormati pamanmu. Jangan buat rasa hormatku itu habis hingga kau tak akan pernah tahu apa yang bisa aku lakukan untuk memberi pelajaran seorang ja lang yang berani menggodaku!"
Pria itu membetulkan kancing jasnya, kemudian pergi meninggalkan ruang kerjanya.
Vali sendiri menatap marah pada kepergian Alexander. Ia memukul lantai, sembari berteriak, "Aarggh!"
Ini pertama kalinya ia direndahkan. selama ini tak ada yang bisa menolak kecantikannya, bahkan kaum pria rela bertekuk lutut untuk bisa mendapat perhatian darinya. Ia merasa terhina dengan penolakan Alexander.
"Kau akan lihat Alexander, sikapmu hari ini akan kau bayar mahal. Ivona yang kau cintai itu, aku akan membuatmu kehilangan dirinya!" Valia menyeringai.
________________
Ivona bahkan sempat berpikir kenapa orang ini yang dipilih oleh Tuan Dom sebagai wakil dirinya dalam pertemuan ini. Sam, asisten Tuan Dom yang terlihat sangat tidak meyakinkan ini justru dipilih menjadi salah satu orang pertama yang akan mendengar tentang sebuah rencana besar.
"Jadi setelah kecurigaan kami, kami telah mengusut kasus ini diam-diam, dan menemukan beberapa orang yang kami curigai sebagai otak dari rencana makar ini." Sam membagikan berkas berisi data orang-orang yang dicurigai.
Ivona cukup kaget dengan nama yang terindikasi sebagai pemberontak negara. "Greyson dan dokter Austin?"
"Kalian yakin jika mereka yang kalian curigai?" tanya Ivona.
"Ya, Nona. Data ini sangat bisa dipertanggungjawabkan." Sam kemudian mejelaskan bukti dari rencana jahat Greyson dan dokter Austin.
"Dokter Austin sedang melakukan sebuah penelitian gila, yaitu ingin menciptakan sebuah monster yang bisa dikendalikan. Sementara Tuan Greyson obsesinya untuk menguasai dunia sama gilanya. Karena itulah mereka bekerja sama, Tuan Greyson lah yang memberikan support dana pada penelitian dokter Austin."
__ADS_1
"Apa maksudmu monster itu?" Ivona penasaran.
"Dokter Austin sedang mengembangkan sebuah proyek pengendali manusia. Dia ingin bisa mengendalikan manusia berada dalam satu kendali yaitu dirinya, dan Tuan greyson sangat berminat untuk itu untuk mewujudkan keinginannya menguasai pemerintah. Dengan keahlian komputasinya, aku yakin dia mendapatkan dana yang besar dari meretas akun bank nasional maupun internasional untuk membiayai penelitian gila dokter Austin." jelas Sam.
Ivona dan Marcus sama-sama mengangguk paham dengan penjelasan Sam.
"Bukankah itu sebuah penelitian gila, bagaimana bisa dokter Austin bermimpi untuk mengendalikan seluruh umat manusia dengan sistem pengembangan sel yang ia teliti. Dia pikir apa, apa dia akan menjadikan seluruh umat manusia itu robot pesuruh untuknya?" sambung Sam.
Ivona setuju dengan pendapat Sam ini. Sebuah penelitian yang mustahil.
"Untuk itulah, Tuan Dom sebagai wakil direktur institut komputer ingin mencegah semuanya. Kita harus lebih pintar dari mereka dengan mengumpulkan bukti-bukti kejahatan mereka lebih dulu sebelum mereka berhasil menghancurkan negara. Untuk itu kita butuh seorang hacker hebat untuk meretas informasi dari aktifitas online mereka."
"Selain membongkar kejahatan Tuan Greyson, kita sekaligus bekerja untuk memperkuat sistem keamanan bank, agar tidak mudah dicuri oleh orang seperti Tuan Greyson. Bukankah ini cara kerja yang sangat efisien." Sam menatap Ivona juga Marcus.
"Baiklah, kita akan mulai bekerja dengan baik. Kita mulai dari meretas data milik dokter Austin. Kita harus tahu apa yang dikerjakannya beberapa waktu terakhir," cetus Ivona.
Ivona dan Marcus mulai memikirkan cara untuk mengumpulkan bukti yang kuat untuk mengakhiri niat jahat dokter Austin dengan Tuan Greyson. Sam juga bekerja keras dalam hal ini.
Setelah hampir satu minggu Ivona berada di pusat institut yang dipimpin oleh Marcus saatnya ia kembali. Kali ini ia pulang bersama Sam.
Di dalam pesawat, Ivona terus memperhatikan pria konyol itu. ia baru menyadari kenapa Tuan Dom memilih Sam sebagai wakil dirinya. Dalam lingkungan kerja Sam, anak itu memang tidak terlalu mencolok padahal dia punya kemampuan yang tidak bisa diragukan. Hanya Tuan Dom yang melihat dibalik sifat konyol Sam, anak muda itu adalah anak berbakat. Sebab itulah Sam dipilih untuk misi rahasia ini.
Tidak akan ada yang menanyakan keberadaaan Sam jika ia tidak ada di kantor apalagi mencurigai anak muda itu. Dalam hati Ivona memuji Tuan Dom sebagai wakil direktur institut komputer di negaranya.
Pemilihan orang yang tepat untuk menjalankan sebuah misi rahasia.
"Hai, kenapa kau terus menatapku? Apa kau menyukaiku?" tanya Sam.
__ADS_1