IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab. 149 Kembali Ke Dunia Nyata


__ADS_3

Di sebuah ruang ICU, terbaring seorang gadis yang telah tertidur untuk waktu yang cukup lama. Di tubuhnya terpasang alat-alat medis penunjang kehidupan. Kamar itu begitu hening, hanya suara dari detik monitor yang mengisi ruangan itu.


Dalam tidurnya gadis itu seolah bermimpi terjun ke dalam air dengan gaun pengantin. Seseorang menyelamatkannya dan menariknya ke atas, tapi ia tak bisa melihat siapa orang itu.


Karena mimpi itu, tubuhnya yang telah lama tertidur mulai menggerakkan jari-jari yang selama ini lemah dan kaku. Angka pada layar monitor menunjukkan angka mendekati normal untuk ukuran tanda-tanda vital pada manusia.


"Al ... Ale ... Alex ... xander ...." Suara gadis itu begitu lemah sekadar untuk mengucapkan satu kata saja.


"Nona, ka-kau sudah sadar?" pekik seseorang yang baru saja masuk ke kamar perawatan intensif dan mendapati jari-jari Nona Mudanya mulai bergerak pelan. Dengan cepat ia memencet tombol nurse call guna memanggil perawat. Tak butuh waktu lama, perawat jaga segera berlari menuju kamar pasien.


"Perawat, aku melihat jari-jari Nonaku bergerak. Aku yakin dia sadar, dia juga mengucapkan sesuatu," lapor wanita itu. Dia adalah Ren, sekertaris dari gadis yang terbaring koma.


Setelah melihat tanda-tanda vital pada layar monitor, perawat itu segera memanggil dokter. Pemeriksaan berlanjut dan benar, pasien yang telah lama tertidur itu mulai menampakkan kesadarannya kembali.


"Ini keajaiban, semoga ini benar-benar terjadi," ujar dokter tersebut.


Raut bahagia tergambar pada mimik wajah Ren. "Saya akan menghubungi, Tuan Howard." Wanita bernama Ren itu keluar untuk memberikan kabar pada Tuan Besarnya jika Nona Muda sudah mulai sadar.


"Halo, Tuan Howard. Ada kabar baik tentang Nona Muda. Nona Ivona sudah kembali, Tuan."


Orang di seberang sana seakan tak percaya dengan berita yang ia dengar tapi berjanji akan segera menjenguk putrinya.


Ren sangat bahagia karena pada akhirnya ia bisa bersama lagi dengan bosnya itu. Ia ingat betul setahun yang lalu, ia masih merayakan hari ulang tahun Nona Mudanya itu. Ia bahkan memberikan kado sebuah novel untuk Ivona.


Novel yang bercerita tentang kisah hidup seorang remaja yang harus tertindas dan tersisih oleh keluarga hingga berakhir dengan kematian yang tragis itu ia pilih karena tokoh utama wanita dalam novel itu memiliki nama yang sama dengan Nona Mudanya—Ivona Carminda.


Namun, satu Minggu setelah ulang tahun, Nona Mudanya itu mengalami kecelakaan. Mobil Ivona terjun ke sungai. Meski bisa diselamatkan, tapi Ivona tak pernah sadar sejak hari itu. Ia tertidur sangat lama.


______________


waktu terus berjalan, hari demi hari keadaan Ivona semakin membaik. Semua peralatan penunjang kehidupan yang terpasang selama setahun ini sudah mulai dilepas karena Ivona menunjukkan perubahan yang sangat signifikan. Para dokter sempat heran dengan keadaan medis Ivona yang tak biasa. Bagaimana bisa orang yang terbangun dari koma yang cukup lama bisa pulih secepat ini.


Dalam waktu tiga bulan pemulihan, Ivona sudah bisa mendapatkan kehidupan normalnya kembali. Semua seperti keajaiban. Para dokter yang dulu merawat Ivona bahkan menyebut keadaan Ivona sekarang adalah mukjizat.


Hari ini ia akan meninggalkan rumah sakit. Ren, wanita itu yang mengurus semua administrasi Ivona selama dirawat.


"Kau sudah siap, Nona?" Ren membawa sebuah tas berisi baju Ivona selama masa pemulihan.


Ivona mengangguk.


"Mari, Nona."

__ADS_1


Ivona dan Rena akan keluar dari kamar yang dihuni Ivona selama lebih dari satu tahun. Sebelum pergi Ivona memindai setiap sudut ruangan. Matanya menangkap sebuah buku di atas nakas di samping ranjang.


"Tunggu, Ren."


Ren menoleh. "Ya, Nona."


Ivona kembali, ia mengambil buku tersebut. Sebuah novel berjudul "Poor Girl". Ivona tersenyum. Ia membawa novel itu bersamanya.


"Kau menyukainya?" Ren bisa melihat kebahagiaan di wajah Ivona.


"Hemmm."


Mereka pun keluar dari rumah sakit. Di dalam mobil Ivona terus mendekap novel yang telah menjadi favoritnya itu. Ia ingat betul jalan ceritanya. Ia bahkan pernah menjadi pemeran dalam kisah si gadis malang dalam tidur panjangnya, dan itu akan jadi rahasianya.


Ivona menatap ke luar jendela, ia memperhatikan tepian jalan yang sudah lama tak ia lihat. "Kita mau ke mana?" tanya Ivona. Seingatnya jalan ke apartemennya tidak melalui jalan ini.


Ren tertawa. "Apa Nona lupa, ini jalan ke mansion Tuan Besar," ujar Ren.


"Untuk apa ke sana?"


"Tuan Besar yang meminta."


Ivona menurut saja. Lagi pula sudah lama ia tak bertemu ayahnya itu. Ayahnya datang menjenguknya saat ia masih belum sehat benar saat itu, hal itu ia ketahui dari Ren yang bercerita padanya tentang kedatangan ayahnya yang sempat menjenguknya.


"Ayah, sakit?"


"Ya."


Mobil merah yang dikemudikan oleh Ren memasuki pagar tinggi sebuah mansion. Inilah rumah Felix Howard, ayah Ivona, sang pemilik Howard Technologi. Perusahaan yang telah diwariskan pada Ivona.


Ivona langsung menemui ayahnya di kamar.


"Ayah."


Felix yang sedang duduk bersandar di ranjang membaca buku, menurunkan bukunya, lalu menaruhnya di meja. "Ivona, putriku." Tangan Felix merentang, mengharap Ivona datang.


Ivona dengan senyumnya langsung menghampiri sang ayah, memeluknya, menyalurkan kerinduan karena lama tak bersua.


"Kau kembali, Sayang," ujar Felix.


"Aku merindukanmu."

__ADS_1


"Ayah juga merindukanmu."


Dalam pelukan Felix, Ivona teringat dengan Tuan Iswara, ayah Ivona dalam kisah novel. Meski berasal dari keluarga broken home dan Ivona jarang bertemu sang ayah karena ia mengikuti ibunya sejak kecil, Ivona tetap dekat dengan ayahnya ini. Kasih sayang selalu ia dapatkan dari ayah kandungnya ini walau mereka tak tinggal bersama. Nasibnya soal orang tua lebih beruntung dari Ivona dalam novel.


"Apa kau sakit?" tanya Ivona setelah melepaskan pelukan ayahnya.


"Aku sudah tua, sudah wajar jika tubuhku mulai melemah."


"Aku sudah kembali, aku akan menjagamu mulai sekarang."


Felix mengambil kedua tangan Ivona lalu mengecup lembut tangan itu. "Dulu tangan mungil ini selalu ingin digandeng olehku, dan aku tidak rela jika ada tangan lain yang menggandengnya tapi sekarang kau sudah dewasa, akan ada pria yang menggandeng tanganmu untuk berjalan bersama dalam sebuah ikatan baru. Saat itu, aku akan dengan senang hati melepaskan tangan ini." Felix kembali mengecup tangan putrinya.


"Semua itu masih sangat lama, aku akan menjaga ayah, dan aku akan kembali bekerja untuk perusahaan."


Felix tersenyum. "Tidak pernah ada yang tahu soal jodoh, bisa jadi esok hari kau bertemu dengan jodohmu."


"Ayah ...." Ivona merengek seperti anak kecil.


Mereka pun kembali tertawa dan kembali berpelukan.


Ivona memutuskan untuk tinggal bersama Felix dan merawat orang tua yang tinggal satu-satunya itu.


______________


Hari ini Ivona sudah siap kembali ke kantor. Menjadi wanita karir seperti dulu. Menikmati kesibukan di dunia kerja adalah keinginannya sejak lama. Ia tumbuh dalam lingkungan pekerjaan. Ibunya yang seorang ilmuwan selalu sibuk dengan pekerjaannya di laboratorium dan ayah yang seorang pebisnis selalu sibuk dengan urusan kantor. Kini ia pun menuruni kesibukan-kesibukan itu.


"Kau turunkan saja aku di depan, lalu kau parkirkan mobilnya," ujar Ivona pada Ren. Hari pertama kerja, Ren sengaja menjemput bosnya itu.


"Siap, Nona."


Ivona turun sesuai keinginannya, di depan loby perusahaan. Ia menatap pada perusahaan ayahnya ini. "Tidak banyak berubah," gumamnya pada diri sendiri.


Ia berjalan masuk dengan perlahan. Menikmati suasana kantor yang lama tak ia rasakan.


Semua orang menyapa dengan hormat sama seperti dulu, tapi kali ini dengan tatapan heran. Mungkin mereka kaget melihat Ivona yang sudah kembali. Ivona membalasnya dengan senyum ramah seperti biasanya.


Mendadak, ia merasa aneh ketika karyawannya menunduk hormat padanya. "Hei, apa yang kalian lakukan, kalian tidak perlu seperti itu. Aku tahu kalian kaget tapi aku masih Ivona yang sama, kalian tidak perlu berlebihan," ujar Ivona memperingatkan.


Namun, karyawannya masih saja menunduk hormat, hingga ia sadar jika penghormatan mereka sejak tadi bukanlah untuknya tapi untuk seseorang yang berjalan di belakangnya. Ivona menoleh, dan ia tercengang melihat seseorang yang berjalan dengan beberapa orang yang mengawalnya.


Mulut Ivona sampai ternganga melihat pria bersetelan jas tiga lapis yang berjalan dengan aura kharismatik yang mengelilinginya. Membuat seluruh gedung ini seolah tunduk padanya.

__ADS_1


"Alexander ...?"


__ADS_2