IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab. 49 Dicari Saat Dibutuhkan


__ADS_3

Roy terus saja menyangkal jika pria rupawan itu adalah kekasih dari Ivona. Semua pastilah hanya cerita yang dikarang oleh Ivona untuk membuatnya cemburu. Mereka pasti telah bertemu karena kebetulan dan Ivona memanfaatkan situasi itu untuk memanas-manasinya. Tidak ingin terlalu banyak berpikir lagi, Roy memilih meninggalkan toko buku dan membuang jauh-jauh pikiran tentang Ivona.


Sementara itu, Alexander yang telah menghabiskan satu batang rokoknya kembali masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, Alexander tidak sengaja menoleh ke samping di mana tadi Ivona duduk. Ia tersenyum sendiri, ini adalah pertama kalinya bagi Alexander menunggu seseorang, dan orang itu adalah seorang gadis. Makhluk yang sudah lama ia hindari, tapi kali ini ia bahkan rela mengantar dan menunggu gadis itu.


Apa yang sudah terjadi pada dirinya, sampai-sampai ia menghabiskan waktu hanya untuk duduk di dalam mobil menunggu urusan gadis itu selesai. Ia bahkan tidak bisa membunuh waktu yang mulai membosankan.


Alexander menatap ke atas bangunan itu, " Apa yang kau lakukan, kenapa lama sekali," gumamnya sembari meletakkan kepala di atas setir. Semakin lama, mesin pendingin tidak mampu lagi meredam rasa panas karena kesal dalam hati.


Ia menarik dasinya kasar dengan tidak sabar, lalu melemparnya asal ke jok belakang. Alexander juga melepas jas yang ia kenakan, ternyata benar kata pepatah, menunggu adalah hal yang paling membosankan bahkan sangat menjengkelkan.


Senyum yang tadi sempat terukir karena mengingat Ivona kini berganti kesal. Ia jadi penasaran dengan apa yang Ivona lakukan di dalam sana, bertemu dengan siapa ia sampai lupa waktu dan melupakan dirinya yang sedari tadi menunggu.


Di Cafe lantai dua toko buku, Ivona tengah berbincang akrab dengan Caroline. Gadis itu sedang menunjukkan lagunya pada Caroline. Muncul keterkejutan di tatapan Caroline. Caroline bahkan tidak menyangka jika gadis yang baru ia kenal kemarin memiliki bakat yang luar biasa dalam menulis lagu.


Gadis ini masih terlalu muda untuk memiliki keahlian menulis lagu yang setara dengan musisi hebat di dalam atau pun luar negeri. Mungkin terdengar berlebihan pujian itu diberikan pada Ivona, tapi setelah mendengar sample lagu itu, Caroline benar-benar takjub.


"Apa kau sungguh-sungguh kalau ini adalah ciptaanmu?" tanya Caroline meragu, tapi hanya untuk menggoda Ivona.


"Apa aku terlihat seperti pencuri?" balas Ivona.


Caroline langsung terbahak-bahak mendengarnya.


"Dari mana kau dapatkan bakat sebesar ini, tidak mungkin hanya karena mengikuti kelas bermusik, dan tiba-tiba kau berubah menjadi seorang pengarang lagu yang hebat. Kau pasti punya sesuatu dalam dirimu yang membuatmu lebih bertalenta. Gen dalam darahmu misalnya?" tebak Caroline.

__ADS_1


Caroline benar, di kehidupan nyatanya, kakek Ivona adalah seorang musisi terkenal di dalam dan luar negeri, dan dia mempelajari semua itu dari kakeknya. Sejak kecil Ivona adalah anak yang sulit untuk didisiplinkan, namun karena Ivona menggemaskan dan bermulut manis, kakeknya juga tidak rela untuk memukulnya. Meski nakal, Ivona adalah cucu tersayang yang mewarisi bakat dari sang kakek dalam bermusik.


"Hei, apa kau melamun?" seru Caroline yang tidak kunjung mendapatkan jawaban.


Ivona tersentak dengan seruan Caroline. "Kurasa seperti itu, ada gen yang membuatku menjadi luar biasa dalam bermusik," jawab Ivona, masih mengenang sosok kakeknya.


"Kira-kira, apa respon semua orang jika musikmu ini dipublikasikan?" Caroline memegangi dagunya seolah berpikir.


"Mungkin mereka tidak akan percaya," jawab Ivona asal.


"Why?" tanya Caroline dengan dahi berkerut.


"Tidak pernah ada yang mempercayaiku selama ini, tidak dengan keluargaku dan juga orang lain," jawab Ivona, yang menyimpan kesedihan di dalamnya.


Ivona tidak menyangka jika respon Caroline akan sebaik ini padanya. Padahal jika diingat pertemuan pertama mereka, Ivona sendiri justru bersikap dingin sementara Caroline dengan pembawaannya yang ceria mampu bersikap ramah kepada siapa pun juga, termasuk dirinya yang kala itu baru kenal.


Mereka kembali berbincang tentang musik, hingga tidak lama kemudian ponsel Ivona bergetar. Melihat nama yang tertera di layar pipih itu, Ivona meminta Caroline untuk pulang lebih dulu.


"Kau boleh pulang dulu, aku masih ada urusan." Ivona mengangkat ponselnya agar Caroline tahu jika ada panggilan untuknya.


"Oh ... ok, see you next time," jawab Caroline mengerti. Ia pun meninggalkan Ivona sendiri di cafe tersebut.


Setelah Caroline pergi, Ivona baru mengangkat telepon. Tuan Iswara yang meneleponya.

__ADS_1


"Halo," sapa Ivona malas.


"Di mana kau?" tanya Tuan Iswara tanpa menjawab sapaan dari Ivona.


"Apa Anda perlu tahu?" Ivona balik bertanya, kali ini dengan bahasa yang formal. Ia ingin menunjukkan jika dirinya dan Tuan Iswara bagai orang asing yang berstatus ayah dan anak.


"Baiklah, kau tidak perlu mengatakannya. Aku hanya ingin kau pulang ke kediaman besar, karena Kakek ingin bertemu denganmu. Kakek tidak ingin menjalani pengobatan jika ia belum bertemu denganmu terlebih dulu."


Kakek Ivona yang sedang sakit, baru saja tahu tentang masalah Ivona yang dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Ia sangat marah mendengar cucu kandungnya diperlakukan demikian, karena itu ia mengancam tidak ingin melanjutkan pengobatan jika ia tidak bertemu dengan Ivona. Sebab itulah Tuan Iswara menghubungi Ivona untuk segera pulang.


"Apa hanya itu?" tanya Ivona.


"Tidak, kau juga harus membujuk Kakek agar membiarkan Vaya tinggal di kediaman besar, karena sebentar lagi Vaya akan mengadakan tur bermain piano, jadi media pasti akan fokus juga pada kondisi keluarganya," tutur Tuan Iswara.


Tersungging seringai di bibir Ivona, mendengar permintaan ayahnya.


"Kau tahu bukan jika selama ini Vaya tidak diijinkan masuk ke kediaman besar, ia selalu harus tinggal di hotel jika kita berkunjung ke sana, dan itu tidak baik untuk citra karirnya," sambung Tuan Iswara.


Ivona tersenyum miris mendengar setiap kata yang Tuan Iswara ucapkan mengenai Vaya. Anak itu benar-benar telah menggesernya dari status putri kandung keluarga Iswara. Ayahnya bahkan tega berbicara demikian tanpa peduli dengan perasaan Ivona. Vaya seolah menjadi prioritas bagi keluarga Iswara dibanding dirinya.


Dari sini, Ivona bisa menilai jika ia hanya akan dicari saat dibutuhkan. "Jadi, alasan inilah yang membuat Anda menghubungiku, hanya demi Vaya?" Ivona berusaha agar tak meledakkan emosinya pada benda pipih itu.


"Anda telah menunjukkan sikap yang luar biasa untuk seorang ayah yang begitu menyayangi putri orang lain, dibandingkan putri kandung Anda sendiri."

__ADS_1


Tuan Iswara yang mendengar kalimat Ivona yang menyentil jiwanya, raut wajahnya langsung berubah mengerikan dan mengatakan pada Ivona dengan kasar. "Apa kau tidak bisa menilai dirimu sendiri, Vaya telah kehilangan banyak hal sejak kau kembali!"


__ADS_2