IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
24. Gadis yang Berbeda


__ADS_3

Para murid punya kesan baru terhadap Ivona. Gadis cantik yang disangka bodoh dan lemah, yang akan mereka jadikan target perundungan selanjutnya ternyata adalah gadis yang lebih liar dari William. Bahkan William pun belum pernah berlaku sekurang ajar ini pada MR.Patrick—wali kelas mereka.


Namun, hari ini mereka menyaksikan tindakan Ivona yang di luar batas. Ia seolah menantang wali kelas mereka dengan sengaja melakukan tindakan arogan di depan wali kelas.


"Apa yang sedang kau lakukan, apa kau tidak menghormatiku sebagai guru!" ucap Mr.Patrick dengan berteriak.


"Justru karena saya menghormati Anda, saya tidak sampai hati melakukan tindakan kasar itu pada Anda, dan melampiaskannya pada meja Kelly," jawab Ivona tenang.


"Apa maksudmu?"


"Sebagai wali kelas Anda sudah berbuat tidak adil kepada saya, bagaimana bisa Anda menyuruh saya melupakan masalah ini sementara pelakunya tidak dihukum sama sekali, bahkan minta maaf pun tidak."


Mr. Patrick langsung berubah ekspresinya. Dalam hatinya ia sadar jika apa yang ia lakukan tidak benar tapi ia enggan juga mengakui.


"Kau juga salah di sini karena telah membuat keributan," elaknya untuk tetap menyudutkan Ivona.


Ivona menertawakan dirinya sendiri, rasanya untuk saat ini ia tidak akan mendapatkan keadilan yang ia inginkan. Ia akan selalu jadi pihak yang salah karena sangat jelas jika wali kelasnya berpihak kepada siapa.


"Jadi aku yang salah, ya?" Ivona tersenyum mengejek.


"Tentu saja kau yang salah," sahut Jessica.


Ivona langsung menghadiahi Jessica dengan tatapan tajam membunuh. Seketika Jessica menunduk takut melihat ekspresi Ivona yang mengerikan.


Wali kelas menyadari apa yang Ivona lakukan pada Jessica, dan menjadikan alasan untuk menghukumnya. "Apa kau sedang mengintimidasi temanmu?"


"Aku?" Ivona menunjuk dirinya sendiri


"Ya ... kau! aku tidak suka ada preman di sekolah ini apalagi di kelasku, kau harus di hukum untuk kesalahanmu!" tegas Mr.Patrick.

__ADS_1


Ivona menunduk, sedetik kemudian ia mendongak menatap dengan penuh rasa bersalah pada wali kelas, dan berkata, "Pak, maafkan aku yang sudah kelewat batas. Aku tau aku salah. Aku berjanji akan memperbaiki diri, tolong jangan hukum aku."


Perubahan ekspresi Ivona yang drastis membuat siapa saja yang menatapnya tak akan tega memarahinya. Raut wajahnya yang begitu memelas dengan penyesalan yang teramat jelas tergambar diwajahnya, tidak akan ada yang mengira jika beberapa menit lalu gadis ini membuat kehebohan dengan sikap arogannya.


Ivona kembali menunduk setelah pengakuannya.


Semua siswa tercengang melihat apa yang dilakukan Ivona saat ini, anak pindahan ini sangat pintar memainkan emosi. Mr.Dennis—guru bahasa Inggris—yang tidak tahu menahu itu tiba-tiba masuk ke dalam kelas dan melihat Ivona yang tertunduk seolah takut.


Ia mengernyitkan alisnya. "Mr.Patrick, apa yang terjadi? bukankah dia murid baru di sekolah ini?" Mr.Dennis menunjuk Ivona.


"Apa Anda sedang menghukumnya?" tanya Mr.Dennis lagi.


"Bu____" Mr.Patrick akan memberi penjelasan, tapi Mr.Dennis menyela lebih dulu.


"Astaga ... bagaimana bisa Anda menghukum murid pindahan ini. Dia anak baru di sini, harusnya Anda memaklumi apa yang ia lakukan karena dia belum menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah ini. Tidak seharusnya Anda memarahinya hingga seperti ini," sela Mr. Dennis.


Mr. Patrick tidak bisa membantah apa yang disangkakan Mr.Dennis padanya, karena ia tahu Mr.Dennis tidak akan percaya setelah melihat ekspresi Ivona yang menyedihkan.


Pembelaan Mr.Dennis membuat seisi kelas tiba-tiba menjadi hening. 


Ivona benar-benar hebat. Gadis kecil ini sungguh pandai membuat orang lain jadi bingung untuk menilai dirinya. Ia bisa membuat orang ketakutan dengan sorot matanya yang tajam, dan dalam sekejap ia bisa membuat orang yakin dan percaya jika ia gadis lemah yang tidak bisa disalahkan.


Wajah wali kelas jadi semakin merah padam karena menahan marah, Mr. Dennis membuatnya berubah jadi tersangka di hadapan murid-muridnya. Akhirnya ia memilih untuk benar-benar mengakhiri masalah ini dan meminta Ivona kembali duduk, serta membatalkan hukuman untuk Ivona.


Setelah Mr. Dennis keluar, wali kelas melanjutkan kegiatan belajar mengajar hingga selesai.


Di ruang guru, Mr.Patrick berniat menelepon orangtua Ivona. Ia akan mengadukan kelakuan Ivona hari ini.


Kepala pelayan yang menerima telpon dari Mr.Patrick.

__ADS_1


"Halo, kediaman kelurga Iswara di sini," sapa kepala pelayan.


"Halo, saya dari sekolah Ivona. Saya adalah wali kelasnya, bisakah saya berbicara dengan Nyonya Iswara?" tanya Mr.Pattick.


"Maaf Nyonya kami sedang tidak ada, tapi Anda bis berbicara dengan Tuan Muda Thomas," jawab kepala pelayan.


Setelah di setujui oleh wali kelas Ivona, kepala pelayan membawa telpon itu pada Thomas dan memberi tahu jika wali kelas Ivona yang menelpon. Takut terjadi sesuatu dengan adiknya, Thomas langsung menyahut telpon itu. Ia bahkan tidak peduli kalau dirinya sedang melakukan siaran langsung di base.


"Halo, apa yang terjadi dengan adikku?" tanya Thomas panik.


"Halo, selamat siang Tuan Thomas. Ini saya, Mr.Patrick, wali kelas adik Anda," jawab Mr.Patrick berbasa-basi.


"Iya, aku tahu. Ada apa kau meneleponku, apa terjadi sesuatu dengan adikku?" Thomas belum tenang kalau belum tahu kabar Ivona.


"Saya ingin melaporkan sikap adik Anda yang di luar kendali. Hari ini dia bersikap tidak sopan dan kurang ajar kepada saya selaku wali kelas. Bukan hanya itu dia juga mengancam teman sekelasnya," ucap Mr.Patrick panjang lebar. Inti dari semua ceritanya adalah menjelek-jelekkan Ivona.


Thomas yang mendengar adiknya dijelek-jelekkan merasa tidak terima. Ia justru berbalik memarahi Mr.Patrick.


"Apa yang kau lakukan untuk menghukum adikku atas tindakannya? apa kalian tahu jika adikku memiliki gangguan komunikasi sosial?" sentak Thomas.


"Kalau terjadi sesuatu pada adikku, aku tidak akan melepaskan kalian semua. Pihak sekolah atau pun kau, akan menerima akibatnya!" sambung Thomas, yang terdengar seperti mengancam.


Di tempat yang berbeda Mr.Patrick justru heran dengan sikap yang ditunjukkan Thomas. Ia melaporkan sikap buruk Ivona tapi justru ia yang akan mendapatkan hukuman.


"Ma-maafkan saya, Tuan. Saya tidak akan berani melakukannya." Mr. Patrick menjadi takut karena itu ia memilih untuk mengakhiri panggilannya.


Thomas masih diliputi rasa marah pada wali kelas yang tidak mau memahami kondisi adiknya. Tanpa ia sadari percakapannya tadi terdengar oleh para fans di siaran langsung.


Mereka langsung kagum pada sikap Thomas yang membela adiknya. Para fans hanya tahu kalau Thomas hanya punya seorang adik, yaitu Vaya, mereka tidak mengenal Ivona.

__ADS_1


Tidak sampai 2 jam, sikap tegas Thomas saat membela adiknya menjadi trending topik di media sosial. Para fans itu bahkan membuat hashtag 'DILINDUNGI KAKAK'. Semakin viral, semakin menyebar juga kehidupan Vaya yang dikagumi banyak orang.


Menjadi putri cantik keluarga Iswara satu-satunya, pandai dalam hal akademik dan juga bermain piano sejak kecil, memperoleh banyak penghargaan, juga punya kakak-kakak yang selalu melindunginya, membuat kehidupan Vaya menjadi impian semua gadis remaja di kota itu. Sungguh, kehidupan yang pantas untuk dikagumi.


__ADS_2