
Pelajaran kembali dimulai, kali ini jam pelajaran dari Miss.Brenda, guru wanita yang selalu bergaya modis meski sudah berusia lebih dari empat puluh tahun. Guru lajang itu nenyapa dengan gayanya yang tak biasa. "Good afternoon class," sapanya dengan gayanya yang manja.
"Good afternoon, Miss," jawab seiisi kelas serempak.
"Apa kabar kalian semua, aku yakin kalian semua sehat karena masih bisa datang ke sekolah ini," ucap Miss.Brenda selanjutnya
"Ok, lets start our class. Now, open your book page twenty three," pintanya pada semua murid kelas G.
"Hari ini kita akan belajar tentang Hopes and Dreams. Kalian pasti pernah memiliki mimpi dan harapan dalam hidup kalian. Sekarang, aku ingin kalian menuliskannya, mimpi dan harapan kalian. Bahkan jika itu adalah sesuatu yang kalian pendam selama ini, buatlah kertas kalian seolah teman yang akan mendengar apa pun yang kalian katakan. Paham semuanya?" tanya Miss Brenda.
"Yes, Miss," jawab mereka semua, kecuali Ivona.
Gadis itu memikirkan tentang harapan dan mimpinya saat ini. Sungguh kalau ia bisa menulis, Ivona pasti akan mengatakan jika ia ingin kembali ke dunia nyatanya. Tapi, siapa yang akan percaya dengan hal-hal seperti ini. Sekarang saja ia sudah mendapatkan label gila, apa lagi jika ia harus bercerita jika dirinya datang dari kehidupan nyata dan masuk ke dalam kisah novel yang mustahil.
Semua murid nampak berdiskusi dengan teman sebangkunya, tentu saja kecuali Ivona. Pikirannya justru terbang memikirkan jalan hidupnya saat ini dan memikirkan jalannya untuk bisa kembali. Ia yakin pasti akan ada jalan untuknya kembali ke tubuhnya yang sebenarnya. Lamunannya membawa Ivona terbang jauh hingga menghabiskan jam pelajaran. Bel sekolah kembali berbunyi tanda akhir dari sekolah hari ini. Semua mengumpulkan tugasnya, termasuk Ivona. Ia menulis dalam selembar kertas dengan sangat cepat sebuah kata, 'Nothing'.
Semua siswa mulai keluar dari kelas untuk pulang, tapi di antara mereka masih saja ada yang bergunjing tentang Ivona. Namun, kali ini yang mereka bicarakan adalah William. Melihat sikap dan gerak-gerik William sejak Ivona datang, mereka berpikir pasti William akan perhatian pada Ivona, terlebih setelah tadi Ivona menjalani sidang di ruang kepala sekolah. Pria itu pasti akan memberikan dukungan secara moril pada anak pindahan ini.
Namun, nyatanya mereka salah besar. Hal yang mereka duga tentang William justru tidak terjadi. Pria dambaan siswi di G-school itu terlihat tak acuh pada Ivona, ia bahkan memalingkan wajahnya dan tidak menghiraukan Ivona.
William sengaja tidak langsung pulang karena ia harus menjalani hukuman dari Mr.Patrick untuk menyalin buku fisika sebanyak tiga kali. Tanpa mempedulikan Ivona, dengan cepat William mengerjakan hukumannya.
Sama seperti William, Ivona juga tidak bisa langsung pulang, ia pun mengerjakan tugas yang sama dengan William sebagai hukuman karena tidak membawa buku tugas. Ivona mengerjakannya dengan perlahan, di bangku yang berada di sebelah William.
__ADS_1
Beny yang menyadari jika Ivona sedang menjalankan hukumannya, menghampiri Ivona dan memberanikan diri berkata, "Bolehkah aku membantumu menuliskan hukumanmu?"
Ivona mendongak demi bertemu mata dengan Beny yang berdiri menjulang di samping bangkunya. "Tidak, terima kasih, aku bisa melakukannya sendiri," tolak Ivona halus sekaligus tegas.
Raut wajah Beny seketika menjadi kecewa, usahanya untuk membantu Ivona gagal. Beny pun menyeret langkahnya lemas menuju pintu keluar kelas. Hal itu tertangkap oleh William, meski ia tidak terang-terangan memperhatikan interaksi Beny dan Ivona, tapi ia memasang telinga kuat-kuat untuk mencuri dengar jawaban Ivona. Ia juga sempat menangkap raut kecewa Beny yang ditolak Ivona.
Ivona segera menyelesaikan hukumannya agar bisa segera pulang. Ia tidak ingin berlama-lama di kelas ini karena masih ada sesuatu yang harus ia kerjakan. Ia memiliki janji temu dengan Caroline Wilson, sang selebritis yang sedang di puja-puji oleh para penggemar fanatik artis itu.
"Arrghh ... akhirnya selesai juga." Ivona mengangkat kedua tangannya ke atas untuk merenggangkan otot-ototnya yang dipaksa bekerja dengan keras. Ia menghela napas lega karena berhasil menyelesaikan tugasnya lebih cepat dari waktu yang ia perkirakan.
William yang mendengar suara Ivona, sempat melirik sekilas pada gadis itu. Ia tidak menyangka Ivona cepat sekali menyelesaikan hukumannya, sementara dirinya masih kurang satu bab lagi. Ivona segera keluar kelas tanpa pamit pada William, ia seperti menganggap william tidak ada.
Beny yang tadi lebih dulu keluar, nyatanya tidak langsung pulang. Pria gendut itu ternyata menunggu Ivona di luar kelas. "Hai ... kau sudah selesai?" tanya Beny.
Ivona sedikit kaget saat mendapati Beny yang belum pulang. "Ya," jawab Ivona dengan menganggukan kepala.
Dengan takut, Beny bertanya, "A-apa kau punya acara setelah ini?" tanya Beny takut, jika itu akan menyinggyung Ivona dan membuat Ivona meninggalkannya seperti waktu di ruang kesehatan. Beny tahu, sebenarnya Ivona gadis yang baik, terbukti dari perhatiannya yang menolong Beny dari perundungan, lalu membawa pria gendut itu ke ruang kesehatan, dan memberikan obat luka untuknya. Hanya saja, yang Beny yakini, Ivona belum terbiasa dan belum bisa terbuka pada teman-teman di G-school mengingat perlakuan mereka pada Ivona.
"Kau benar aku memang ada usrusan," jawab Ivona jujur.
Kembali Beny harus menelan kecewa, tapi tidak apa ia tetap harus berjuang. Beny terus saja mengikuti langkah Ivona hingga tiba di gerbang sekolah.
Gadis itu mendadak berhenti dan terdiam mengamati sesuatu. Ivona melihat seorang pria yang tidak asing. Alexander yang mengenakan setelan jas berwana hitam dengan dalaman kemeja warna maroon serta dipadukan dengan dasi hitam bergaris itu, tengah berdiri bersandar pada Roll Royce hitam miliknya. Tak lupa kaca mata hitam yang bertengger indah di hidung mancung pria rupawan itu. Meski tak bisa melihat sorot mata dingin Alexander, namun Ivona bisa merasakan aura dingin yang mengitari pria misterius itu.
__ADS_1
Ivona langsung bersembunyi dan mengintip dari balik pohon golden wattle yang besar, ia tidak berani melangkah maju bertemu dengan Alexander. Beny yang masih belum memahami situasi, langsung mengejar di mana Ivona bersembunyi. Ivona melihat Beny yang menyusulnya langsung menariknya ke samping untuk ikut bersembunyi. Beny semakin bingung dengan Ivona. "Ada apa, kenapa kau bersembunyi?" tanya Beny penasaran.
"Sttt." Ivona meletakkan jari telunjukknya di depan bibir agar Beny mengecilkan suaranya.
Raut bingung semakin Beny tunjukkan. "Ada apa?" tany Beny lagi, kali ini dengan volume yang sangat kecil.
"Kau lihat pria yang berdiri di sana." Ivona menunjuk ke arah Alexander.
Beny mengangguk tahu.
"Aku sedang tidak ingin menemuinya," ucap Ivona.
Dahi Beny berkerut. "Memang siapa dia?" tanya Beny lagi.
Ivona menatap Beny sekejab. Tidak mungkin dia bilang jika ia tidak punya hubungan apa pun dengan Alexander kecuali pria itu adalah orang yang memberinya tumpangan tempat tinggal. "Dia kakakku," jawab Ivona berbohong.
"Lalu, kenapa kau tidak ingin menemuinya?"
"Aku sedang tidak ingin bertemu dengannya, karena aku membutuhkan waktu untuk sendiri saat ini. Kau tahu bukan Kakak dan adik kadang-kadang suka salah paham," jelas Ivona dengan menambah kebohongannya. Ia harus melakukannya agar Beny percaya.
Beny mengangguk paham, pria itu berpikir jika Ivona sedang bertengkar dengan kakaknya dan sedang tidak ingin menemuinya. Gadis itu pasti butuh waktu sendiri untuk bisa menata hatinya untuk menyelesaikan pertengakaran dengan kakaknya.
"Apa kau bisa membantuku?" tanya Ivona, yang disambut senyum bahagia oleh Beny.
__ADS_1
Inilah saat-saat yang ia tunggu, bisa membantu Ivona. Dengan senang hati Beny berkata, "Tentu saja, apa pun yang kau inginkan," jawab Beny bersemangat dan tidak lupa menambahkan senyum di bibirnya
"Maukah kau menemuinya untukku?"