IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.80 Kekacauan 4


__ADS_3

Sama halnya dengan perusahaan telekomunikasi yang sebelumnya, di Institut komputer nasional juga langsung mengadakan rapat darurat untuk membahas masalah peretasan ini, sesaat setelah mereka mendapatkan kabar tersebut. Namun, pada rapat Institut nasional situasinya lebih memanas.


Enam di antara anggotanya saling meragukan dan saling menyalahkan. Mereka belum mencari tahu lebih mendetail siapa yang mengakibatkan kekacauan ini terjadi, itulah alasannya kenapa mereka bisa saling mencurigai. Di antara mereka tidak ada yang tahu jika ini adalah ulah Ivona, si gadis yang sedang menjadi perbincangan.


Kepala Institut itu bahkan berteriak marah dan melampiaskan kemarahannya pada salah satu anggota yang paling muda. "Apa ini ulahmu?" tuduh kepala Institut begitu saja.


"Bukankah kau selalu ingin menunjukkan kemampuanmu pada kami?" sambungnya masih dengan amarah.


Pemuda yang menjadi anggota termuda dari Institut komputer nasional itu tidak menyangka jika ia akan menjadi kambing hitam atas hal yang tidak dilakukannya. "Bu-bukan, bukan aku, Tuan. Aku tidak melakukan hal seperti itu," sanggahnya atas tuduhan kepala institut.


"Aku tidak akan mungkin melakukan kejahatan seperti itu, aku tahu di mana batasanku," jelasnya.


"Bukankah selama ini kau selalu ingin membuktikan kepada kami tentang kehebatanmu dalam meretas, dan kau membuktikannya sekarang dengan cara yang salah. Kau telah menimbulkan kekacauan publik hanya demi pembuktian diri, apa kau sudah berpikir tentang hukum yang akan kau terima jika melakukan kejahatan itu, hah!"


"Tuan, aku berani bersumpah jika aku tidak pernah melakukannya. Aku memang ingin kalian semua mengakui kemampuanku, tapi aku masih punya akal untuk tidak melakukan peretasan yang melanggar hukum," jelasnya lagi. Berharap kepala institut dan semua anggota yang hadir dalam rapat itu percaya padanya, karena memang bukan dirinya yang telah membuat kekacauan itu terjadi.


"Tuan, kau harus percaya padaku. Aku selalu menjunjung tinggi kesetiaan pada institut ini dan juga Anda. Aku tidak akan melakukan apa pun tanpa perintah dari Anda, Tuan." Pemuda itu terus menjelaskan dan meyakinkan jika ia memang berkata jujur.

__ADS_1


"Ini semua bukan perbuatanku, Tuan."


Kepala institut komputer nasional itu, menatap jelas pada si pemuda. Mencoba membaca raut wajah dari bawahannya ini, tapi yang ia lihat adalah kejujuran di mata pemuda itu. Namun ia tetap harus berhati-hati, bisa jadi penilaiannya pada pemuda ini salah. Bukankah manusia bisa saja berakting dengan ekspresi wajahnya, sebab itu ia tidak mau tertipu. Ia harus tetap waspada pada pemuda ini.


"Baiklah, aku percaya padamu," ujar kepala institut, amarahnya sudah sedikit mereda. Meski berkata demikian, kepala institut itu tidak benar-benar percaya. Semua hanya untuk membuat penyelidikannya berjalan lancar.


"Kalau begitu, aku ingin kalian menyelidiki dan menemukan siapa pelaku di balik kekacauan ini," ujarnya pada seluruh bawahannya.


"Jika benar ada orang lain di luar kita yang melakukannya, aku yakin orang itu pasti memiliki kemampuan meretas yang sangat hebat. Mungkin kita bisa merekrut orang tersebut untuk masuk ke dalam institut kita," lanjut kepala institut.


Semua bawahannya yang hadir dalam rapat tercengang dengan wacana yang dilontarkan oleh kepala institut mereka. Pembuat onar, si hacker yang membuat kekacauan bukannya dihukum atas kejahatannya di dunia maya, tapi justru hendak direkrut menjadi anggota dari mereka. Bukankah ini wacana yang aneh?


Seluruh yang hadir dalam rapat saling menatap rekan satu sama lain, mereka mencoba mencari kekompakan jawaban. "Tidak, Tuan. Tentu saja kami tidak akan berani meragukan segala keputusan Anda. Kami yakin dengan pengalaman dan pengetahuan yang Anda miliki," jawab salah seorang anak buahnya.


"Bagus, aku suka dengan jawabanmu."


Mereka kembali berdiskusi tentang awal dari kekacauan itu terjadi. Hal yang bagi mereka begitu sepele rupanya telah menimbulkan banyak masalah.

__ADS_1


"Permisi, Tuan, ada telepon untuk Anda," sela seseorang yang mendadak hadir dalam rapat.


"Siapa?"


"Katanya tadi, namanya adalah Tuan Marcus."


"Marcus?" pekik kepala Institut.


"Ya, Tuan."


"Marcus?" ucap mereka bersamaan. Mereka langsung berpikir, apakah Marcus yang sedang menelepon mereka adalah Marcus yang berasal dari institut komputer di negara tetangga.


Senyum kepala institut mengembang saat ia mulai mengangkat panggilan dari orang bernama Marcus itu. "Halo, aku kepala institut komputer nasional," sapanya pada Marcus.


"Halo, ini aku Marcus. Bisakah kita bicara sebentar tentang kejadian yang terjadi di negaramu?"


Ucapan Marcus membuat kepala institut nasional menjadi yakin jika ini adalah Marcus yang mereka maksud. Ia sangat gembira dan sulit percaya, jika Marcus yang mereka segani menghubungi mereka. Marcus adalah salah satu peneliti yang paling dihormati di negara mereka, tidak disangka jika orang itu bisa menelepon mereka.

__ADS_1


"Iya, Tuan. Adakah yang bisa kami bantu?"


Suara Marcus terdengar dingin, "Aku ingin membahas kejadian di perusahaanmu kali ini."


__ADS_2