IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.141 Tamu Tak Diundag


__ADS_3

Ivona memasuki ruang tamu di vila Alexander. Wajah yang tak asing dan tentunya tak ingin ia temui sudah menunggunya di sofa ruang tamu.


"Tamu tak diundang!" batin Ivona kesal.


"Ivona," panggil Thomas ketika adiknya itu baru saja masuk.


Sejujurnya Ivona malas bertemu dengan mereka, terutama sepasang suami istri yang katanya orang tua kandungnya tapi mereka justru tega menjualnya pada penjahat seperti Greyson.


"Ada apa kalian kemari?" Ivona duduk di sofa yang berseberangan dengan keluarganya.


"Iv, Ayah dan Ibu ingin bicara padamu," jawab Thomas.


Ivona menatap kedua orang tuanya.


Sejenak, kedua orang tua Ivona itu bungkam. Mereka merasa sungkan untuk mengatakan hal yang sudah mereka rencanakan sebelumnya di rumah. Bahkan setiap kata yang dalam perjalanan tadi mereka rancang jadi buyar seketika kala berhadapan langsung dengan Ivona.


"Iv ...." Tuan Iswara yang pertama membuka suara.


"A-ayah minta maaf. Ayah sadar jika apa yang Ayah lakukan padamu adalah sebuah kesalahan besar. Ayah mohon, maafkan Ayah dan Ibu." Kepala Tuan Iswara tertunduk karena malu. Tak sanggup jika harus menatap Ivona secara langsung.


Ivona kembali memperhatikan kedua orang tuanya. Hanya Tuan Iswara yang berbicara sedangkan Nyonya Iswara hanya terdiam. Melihat sikap Nyonya Iswara yang sepertinya tak berubah membuat Ivona kecewa sekaligus marah. Mungkin sampai kapan pun ibu kandungnya itu tak akan bisa menerimanya.


"Iv, pulanglah dengan kami," bujuk Thomas. "Kakek merindukanmu, aku juga."


Ivona beralih menatap Thomas. "Aku tidak bisa pulang dengan kalian karena aku lebih memilih tinggal di sini, di mana ada Alexander yang tulus menerimaku."


Tuan dan Nyonya Iswara sedikit tersinggung dengan ucapan Ivona tapi mereka bisa apa, karena memang faktanya mereka tidak memperlakukan Ivona dengan baik.


"Iv, kembalilah ke rumah." Tuan Iswara ikut bicara.


"Untuk apa, untuk kalian manfaatkan lagi!" sarkas Ivona. Ia tidak ingin lagi memperpanjang percakapannya dengan orang tua dan kakaknya.

__ADS_1


Ivona berdiri. "Jika sudah tidak ada yang ingin dibicarakan, silakan pulang. Bibi Mina akan mengantar kalian."


Semua tercengang dengan sikap Ivona.


"Ivona," panggil Nyonya Iswara saat Ivona baru saja melangkah.


Tuan Iswara dan Thomas langsung menatap Nyonya Iswara. Tidak tahu apa yang akan wanita itu lakukan.


Nyonya Iswara mendekati Ivona. Ia meraih tangan putrinya itu dan menggenggamnya erat. "Maafkan Ibu, Iv." Wanita itu mengucapkannya dengan air mata yang berderai, ia mengecup lembut tangan putrinya. Tergambar sesal yang sangat dalam di wajah wanita yang sudah berumur itu.


"Maafkan ibu yang telah dibutakan oleh kasih sayang kepada Vaya hingga melupakanmu. Maafkan Ibu yang telah serakah dengan mengorbankanmu. Maaf ... maaf ... maaf," ujarnya dengan air mata yang semakin menderas.


Tubuh Nyonya Iswara luruh ke lantai, karena Ivona tak kunjung menjawab permintaan maafnya. "Maafkan Ibu, Ivona," mohonnya semakin mengiba.


Tuan Iswara dan Thomas seakan tak percaya jika wanita itu mampu melakukan hal itu. Merendahkan diri, memohon ampun pada Ivona.


"Bangunlah, aku tidak ingin kau melakukannya!" ujar Ivona yang masih mematung.


"Tidak, kau harus memaafkan aku lebih dulu baru aku akan bangun." Nyonya Iswara terus menggenggam tangan Ivona. "Ibu mohon maafkan Ibu."


Sekarang ibunya sendiri yang berlutut memohon ampun. Kendati ia hanya mengisi tubuh Ivona si pemilik tubuh asli, ia juga punya nurani yang tak akan tega hingga membiarkan sang ibu memohon sampai mengiba.


"Aku bilang bangun!" sentak Ivona.


Nyonya Iswara menggeleng. Ia begitu keras kepala, ia tak akan bangun sampai Ivona memaafkannya.


"Untuk apa kau lakukan semua ini, hah! Apa kau melakukannya karena desakan Thomas, atau desakan Kakek?" Ivona menatap tajam Nyonya Iswara.


"Iv, tidak ada yang mendesak Ibu untuk melakukannya. Ia tulus, Iv," sela Thomas.


Nyonya Iswara mengangkat tangannya sebagai isyarat agar Thomas diam.

__ADS_1


"Aku tahu, Ivona. Kau tidak akan mudah percaya pada kami, terlebih setelah semua yang kami lakukan padamu. Kami memperlakukanmu dengan tidak adil, memberimu kehidupan yang menjadi luka yang tak akan bisa terhapus. Tapi, Ibu mohon beri Ibu kesempatan. Aku ingin menebus semuanya, beri aku kesempatan untuk menjadi Ibu yang baik untuk mu."


Ivona menatap manik mata sang Ibu. Mencoba menelisik lebih dalam tentang ketulusan ucapannya.


"Iv, jika Ibu berbuat jahat lagi padamu kau boleh menghukum Ibu, dan saat itu aku tidak akan menghindar."


Ivona terus menatap wajah sendu Nyonya Iswara. "Bangunlah!" ujar Ivona dengan suara rendah.


"Apa kau memaafkan aku?"


Ivona akhirnya mengangguk. "Tapi jika sekali lagi kau mencoba menyakitiku, aku tidak akan menjamin jika saat itu aku masih punya nurani untuk mengingat jika kau adalah wanita yang telah melahirkan aku."


Senyum lega dan bahagia tersungging di bibir Nyonya Iswara. "Terima kasih, Iv." Nyonya Iswara pun bangkit dan langsung memeluk Ivona karena bahagia.


"Aku janji aku akan berusaha jadi Ibu yang baik untukmu," bisik Nyonya Iswara.


"Kau juga memaafkan aku, bukan?" suara Tuan Iswara membuat Nyonya Iswara mengurai pelukannya. Ia menatap serius pada putrinya, ingin tahu apa yang akan Ivona katakan pada suaminya tersebut.


Sama seperti Nyonya Iswara, Tuan Iswara pun menunjukkan penyesalan yang mendalam. Sebenarnya sejak awal, saat Ivona dibawa oleh Tuan Iswara dari panti asuhan, pria itu adalah yang paling menyayangi Ivona. Semua berubah ketika Nyonya Iswara cenderung memilih Vaya dan hal itu mempengaruhi Tuan Iswara.


Bahkan dalam kisah novel yang Ivona baca, Tuan Iswaralah yang bersikap baik padanya selain Kakek. Ketiga saudaranya yang dalam cerita dikisahkan tak pernah mendukungnya, sekarang justru menjadi orang-orang yang membelanya. Kehadiran Ivona dari dunia nyata benar-benar telah banyak merubah alur cerita.


"Aku juga telah memaafkanmu, dengan peraturan yang sama seperti yang kukatakan pada Ibu."


Tuan Iswara langsung menghambur memeluk Ivona. "Aku tahu kau punya hati yang luas untuk memaafkan Ayah dan Ibumu ini. Aku percaya bahwa kau adalah putri yang memiliki kebaikan hati," lirihnya pada Ivona.


Setelah Tuan dan Nyonya Iswara memeluk Ivona bergantian, Thomas pun tak mau ketinggalan. Ia langsung merangkul Adik dan Ayahnya, tak lupa mengajak ibunya turut serta untuk berpelukan sebagai tanda dimulainya hubungan baru dalam keluarga mereka.


"Mulai sekarang kita akan jadi satu keluarga yang utuh. Kita akan saling mendukung satu sama lain, tidak boleh ada lagi yang memecah hubungan kekeluargaan kita," ujar Thomas di sela-sela rengkuhannya pada keluarganya.


Tuan dan Nyonya Iswara mengangguk sebagai janji persetujuan atas ucapan Thomas.

__ADS_1


"Apa sedang ada pertemuan keluarga di sini?"


Suara itu sontak membuat keluarga Iswara saling melepaskan diri dan menatap kaget pada seseorang yang baru saja tiba.


__ADS_2