IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.126 Philip Island


__ADS_3

Ivona terus menatap wajah damai yang tengah tertidur di atas sofa di sebuah resort mewah. Di luar sana lembayung senja sudah menampakkan pesonanya, tapi pesona Alexander Alberic lebih menarik perhatian Ivona.


Alexander tertidur dengan sangat pulas, sejak tadi pagi setelah sarapan. Acara keromantisan dini hari tadi berakhir dengan melihat matahari terbit di tepi pantai. Ivona tak melewatkan kesempatan untuk bermain ombak walau hanya sesaat. Akan sangat disayangkan jika sudah sampai ke pantai tapi kaki kita tidak menjejak hamparan pasir putih, sekaligus membasahinya dengan air asin itu. Sedikit bermain untuk menciptakan kenangan bersama dengan Alexander.


Ivona tersenyum sendiri mengingat betapa konyol dirinya saat bermain ombak dengan Alexander. Berlari ke sana kemari bak anak kecil dan meminta Alexander untuk mengejarnya.


"Ayo kejar aku!" seru Ivona yang berdiri dengan jarak cukup jauh dari Alexander kala itu.


"Apa yang aku dapat jika aku menangkapmu?"


Ivona berpikir sejenak, kemudian berseru, "Apa pun yang kau mau."


Jawaban Ivona membuat pria itu bersemangat untuk bisa menangkap gadisnya.


Apa ... gadisnya?


Ya, mulai dini hari tadi status Ivona adalah gadisnya Alexander.


"Hei, apa yang kau tunggu?" teriak Ivona karena Alexander masih saja bergeming.


Pria itu tertawa melihat ketidaksabaran Ivona. Semangat untuk mendapatkan apa yang ia inginkan membuat Alexander berlari mengejar gadisnya. Namun, semua tak semudah yang Alexander kira, Ivona terlalu gesit untuk ia tangkap.


Alexander baru bisa mendekati Ivona ketika gadis itu mendadak berhenti karena merasakan sakit di kakinya. Melihat Ivona yang terus memegangi kakinya, Alexander berlari menghampiri.


"Ada apa?"


Ivona membuka kakinya yang ia tutup dengan telapak tangan.


"Kau terluka!" pekik Alexander yang melihat telapak kaki Ivona mengalirkan darah.


"Bukan luka yang serius."

__ADS_1


"Apa pun itu harus segera ditangani agar tidak memburuk." Alexander langsung berjongkok memunggungi Ivona. "Naiklah," titahnya lembut.


Awalnya Ivona hanya memandangi saja punggung Alexander.


"Naik!" seru Alexander.


Sedikit ragu, tapi Ivona naik juga ke punggung pria itu dan berakhirlah mereka di sini. Di sebuah resort mewah yang Alexander sewa. Mengingat itu semua membuat ivona tersenyum-senyum sendiri.


"Apa ada yang lucu?"


Ivona sontak kaget dengan suara Alexander, yang menariknya kembali dari kejadian tadi pagi. "Ka-kau sudah bangun?" pertanyaan bodoh itu meluncur begitu saja dari mulut Ivona. Namanya sudah membuka mata bahkan sudah mengajaknya berbicara tentu saja Alexander sudah bangun. Rasanya ingin sekali menepuk jidat sendiri.


Alexander tak perlu menjawab pertanyaan konyol Ivona. Kini pria itu yang berbalik menatap Ivona dengan senyum tipis tersungging di bibirnya. Seakan tak berkedip dan semakin lekat, tatapan Alexander itu membuat Ivona jadi salah tingkah sendiri. Pipinya yang merah semakin merona. Gugup dan malu, itu yang Ivona rasakan saat ini. Berbeda dengan Ivona, Alexander justru semakin gemas melihat kekasihnya saat ini, semakin salah tingkah Ivona semakin Alexander tak bisa menahan tawanya. Tawa itu akhirnya pecah.


Tawa Alexander itu yang justru membuat Ivona ingin kabur. Ia semakin malu. Ivona segera berdiri, tapi belum sempat ia melangkah, Alexander sudah menariknya lebih dulu hingga ia terjatuh di atas tubuh kekar pria itu. Mata mereka bersirobok. Wajah mereka begitu dekat satu sama lain, bahkan hidung mereka hampir saling menyentuh.


"Tuhan ... bawa aku menghilang sekarang juga," jerit batin Ivona. Ia benar-benar tidak tahan dengan sihir Alexander saat ini.


Meski begitu pelan tapi Ivona masih bisa mendengarnya. Ivona jadi semakin yakin kalau dia harus segera kabur. Tak bisa dibayangkan seperti apa pipinya sekarang, semerah kepiting rebus,kah, atau justru lebih merah dari itu saking malunya.


Ivona berusaha meronta agar bisa pergi dari atas tubuh Alexander. Posisi ini sungguh tidak menguntungkannya.


Tiba-tiba Alexander menarik Ivona untuk lebih merapat. Pria itu merengkuh Ivona dengan dua lengan kekarnya. Tak ada lagi yang Alexander lakukan selain mengeratkan pelukannya dan membuat nyaman Ivona dalam dekapannya. Alexander menenggelamkan wajah ivona yang memerah di atas dada bidangnya.


"Tetaplah seperti ini, jangan pernah pergi dariku," desisnya mengusap surai lembut Ivona.


Setiap ucapan Alexander selalu sukses membuat jantung Ivona bertalu-talu. Seakan ingin melompat keluar dari tempatnya.


Ivona tak bisa menjawab. Pria itu selalu berhasil menjadikan Ivona gagu dadakan. Kehilangan semua kosa kata dalam otaknya. beberapa bahasa yang ia kuasai mendadak menghilang dari memori otaknya. Kecerdasan yang ia miliki mendadak turun ke level paling rendah.


Oh ... bodohnya Ivona.

__ADS_1


Ia benar-benar mati kutu jika sudah berhadapan dengan sikap manis Alexander. Tak bisa berbuat apa pun atau berbicara apa pun.


Ivona hanya bisa mencoba tenang berada di atas tubuh sang kekasih.


Kekasih?


Teringat kata itu, membuat Ivona kembali tersenyum sendiri. Untung saja Alexander tak lagi bisa melihat senyum Ivona saat ini. Bisa-bisa pria itu meledeknya habis-habisan.


Alexander terus membuat Ivona nyaman berada di atas tubuhnya. Padahal hanya sekadar mengusap kepala Ivona, tapi entah kenapa Ivona menyukainya. Ia merasakan kedamaian berada dekat dengan Alexander. Semakin nyaman saat berada dalam pelukan pria itu. Hingga kenyamanan yang diberikan Alexander itu bisa membuat Ivona kembali tertidur.


"Iv ...," panggil Alexander lembut, tapi tidak ada respon dari Ivona. Ia pun melirik wajah Ivona di atas dadanya.


"Aku pasti begitu nyaman untukmu, baru sebentar saja kau sudah tertidur," gumamnya pada diri sendiri.


Alexander yang tadinya sudah bangun memilih untuk kembali memejamkan matanya karena tak ingin mengganggu Ivona. Ia rela menjadi kasur bagi kekasihnya yang terlelap.


Barulah setelah mentari benar-benar tenggelam dan semburat kemerahan di ufuk barat sudah tak terlihat, Ivona terbangun. Saat wajah Alexander yang terlihat pertama kali olehnya ketika membuka mata, Ivona kaget. Secara spontan ia langsung bangkit dari atas tubuh sang pria.


Sial bagi Alexander. Ivona yang gugup dan buru-buru bangkit dari atas tubuh Alexander, justru menghantam benda pusaka milik kekasihnya itu dengan lututnya. Tentu saja hal itu membuat Alexander menjerit kesakitan sembari mengamankan aset berharga miliknya dengan kedua tangannya.


"Upsss ... ma-maaf, maafkan aku." Ivona merasa bersalah sekaligus panik saat melihat Alexander meringis kesakitan.


"A-aku tidak sengaja." Saking gugup dan panik melihat Alexander yang memegangi aset berharganya, Ivona hampir saja ingin ikut menyentuhnya untuk membantu Alexander mengurangi rasa sakitnya.


Untunglah ia ingat hal itu tidak boleh dilakukan. Ivona hanya bisa terus meminta maaf karena tidak bisa membantu Alexander mengurangi rasa sakit pria itu.


"Maafkan, aku. Aku benar-benar tidak sengaja," ujarnya berkali-kali.


Alexander sendiri masih berusaha menghilangkan rasa sakit itu. Ini pertama kalinya ada yang menghantam aset berharganya dan membuatnya kesakitan setengah mati.


"Kau harus bertanggung jawab untuk semua ini," ujar Alexander dengan mendelik.

__ADS_1


"Apa?" Ivona syok mendengar permintaan pertanggung jawaban Alexander. Dengan apa ia harus bertanggung jawab, apa hanya karena terhantam lutut, Alexander perlu dibawa ke rumah sakit.


__ADS_2