IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
21. Jadi Bahan Omongan


__ADS_3

Melihat sikap Ivona yang berani menjawab perintahnya, membuat Mr. Patrick punya penilaian buruk pada Ivona. Bukan hanya Mr. Patrick, tapi hampir semua guru dan murid di sekolah ini kesal pada Ivona, yang merupakan anak pindahan. Belum lagi kabar yang sebelumnya mereka terima, jika Ivona adalah seorang gadis dengan kecerdasan di bawah rata-rata. Akan sangat sulit untuk mendidiknya agar mampu mengejar ketertinggalan materi di G-school. Lebih buruknya lagi, Ivona masuk ke kelas G, yang merupakan kelas pilihan.


Ditambah lagi dengan kehadirannya yang seakan membuat gempar satu sekolah. Menimbulkan salah paham dan prasangka di antara para murid. Bagaimana bisa anak dengan kecerdasaan di bawah rata-rata itu bisa masuk ke kelas G. Tentu saja hal tersebut membuat siswa yang lain berpikir tentang adanya praktik kolusi dan nepotisme di sekolah ini.


Banyak murid berbisik tentang sikap lancang Ivona pada Mr. Patrick. Namun, Ivona tidak perduli sama sekali dengan keributan yang mereka ciptakan sendiri. Baginya jika tidak ada yang menyinggungnya ia pun tidak akan membuat masalah lebih dulu.


Diam-diam Ivona mengeluarkan ponsel miliknya setelah jam pelajaran dimulai. Ia ingin mengecek email karena sedang menunggu sebuah pesan.


Baru saja Ivona membuka ponselnya, tapi langsung ketahuan. "Hei ... apa yang kau lakukan!" seru Mr.Patrick.


Wali kelas itu pun datang menghampiri Ivona. Ia bertambah murka saat melihat Ivona memegang ponsel.


"Apa kau tidak membaca peraturan di sekolah ini. DILARANG BERMAIN PONSEL SAAT JAM PELAJARAN!" teriak Mr. Patrick, menegaskan peraturan sekolah yang harus Ivona patuhi.


"Berikan ponselmu, aku akan menyitanya!" titah Mr. Patrick.


Tanpa basa-basi lagi, Ivona menyerahkan ponselnya begitu saja. Mr. Patrick langsung menyahut ponsel di tangan Ivona dan kembali ke meja guru.


"Aku tidak suka ada yang melanggar peraturan sekolah, terutama di jam pelajaranku. Ini adalah peringatan bagi kalian semua!" Meski ucapannya ditujukan untuk semua siswa, tapi tatapan tajamnya terus terarah pada Ivona.


Sejujurnya Ivona tidak takut dengan situasi seperti ini, ia hanya tidak ingin membuat keributan, karena itu dengan suka rela ia memberikan ponselnya.

__ADS_1


"Kita lanjutkan materi kita." Seperti yang dikatakan Mr. Patrick pelajaran kembali berlanjut.


Semua materi tersampaikan dengan jelas, dan para siswa bisa memahaminya dengan cepat, begitu pun dengan Ivona. Ia tidak mengalami kesulitan sama sekali karena kecerdasan yang dimiliki si pemilik tubuh saat ini berasal dari Ivona yang masuk dari dunia nyata.


Saat jam pelajaran selesai, Mr. Patrick meninggalkan ponsel Ivona di atas meja guru. Melihat ponselnya tergeletak, Ivona langsung mengambilnya dan kembali duduk.


William yang terus tidur di sampingnya sudah terbangun. Ia mengerjapkan matanya saat pandangannya melihat sosok asing di sampingnya. Merasa tidak kenal, William pun bertanya pada Ivona, "Siapa, kau?"


Ivona menoleh dan melihat William yang juga tengah menatapnya. Pria yang sedari tadi tidur itu kini telah bangun dan mengajaknya bicara. Dari penilaian Ivona, Murid ini pasti siswa yang hebat dan disegani. Terbukti dari tidak ada satu orang pun yang mengusik tidurnya, bahkan Mr. Patrick sang wali kelas pun terlihat tak berani membuat masalah dengan pria ini.


Menanggapi pertanyaan William, Ivona lebih memilih untuk mengacuhkannya dan langsung berkata, "Aku orang yang tidak punya hubungan denganmu!"


Mendengar jawaban Ivona yang terkesan ketus dan malas, membuat William tersadar tentang gadis yang duduk di sampingnya.


Ivona semakin tak acuh dengan pertanyaan William. Hal ini membuat William sedikit kesal, pasalnya belum pernah ada yang mengabaikannya, dan anak pindahan ini adalah yang pertama.


Melihat penampilan Ivona, William bisa menebak kalau Ivona akan ditindas banyak orang. Seperti berita yang beredar bahwa murid pindahan ini adalah orang yang gampang untuk dipermainkan.


Meski kesal, William bicara juga pada Ivona. "Berhati-hatilah, karena Vaya memiliki pengaruh dan koneksi yang baik di sekolah ini. Kalau kau tidak ingin menderita di sini, jangan pernah buat masalah dengannya," ucap William seolah memperingatkan Ivona.


William yakin jika sasaran perundungan berikutnya adalah gadis pindahan ini. Gadis lemah dengan disorientasi sosial. Walaupun William sudah memprediksi nasib gadis pindahan ini, tapi ia tidak berniat membantu Ivona. Dia bukan pahlawan di siang bolong, yang akan membantu orang asing, dan juga ia bukan orang yang suka terlibat masalah yang bukan urusannya.

__ADS_1


Ivona tetap tak acuh dengan peringatan yang disampaikan William. Melihat respon yang datar dari Ivona, William memilih untuk pergi meninggalkan kelas dan tak peduli lagi.


Entah ke mana pria itu pergi, Ia bahkan masih belum kembali saat jam pelajaran dimulai lagi. Kelihatannya dia anak yang suka bolos karena guru juga tidak peduli dengan kehadirannya. Tak ada yang bertanya tentang di mana William meski mereka melihat bangku pria itu kosong.


Siangnya, Ivona membuka ponselnya dan mengangguk puas setelah membaca email yang ia terima. Semenjak masuk ke dalam novel, Ivona berpikir untuk mencari pekerjaan di dunia yang baru ini. Namun, tidak ada pekerjaan yang cocok untuknya karena latar belakang dan usia dari pemilik tubuh Ivona ini. Sangat sulit baginya mencari pekerjaan yang pas sesuai keahliannya.


Ivona hanya bisa bergelut di bidang yang dikuasainya di dunia nyata, dan tentu saja pekerjaan itu tidak cocok bagi dirinya yang terkurung dalam tubuh anak SMA. Akan tetapi tidak masalah jika ia mau mencoba melakukan pekerjaan yang sesuai dengan usia Ivona, si pemilik tubuh. Mungkin pekerjaannya tidak akan serumit seperti di dunia nyata.


Ia pun memutuskan untuk keluar saat jam istirahat. Rasanya menyendiri mencari angin segar akan membuatnya bertambah baik. Begitu Ivona keluar, beberapa murid perempuan di kelas langsung berkumpul. Mereka semua layaknya ibu-ibu arisan yang sedang bergosip.


"Apa kau lihat sikapnya tadi? berani sekali dia berbicara pada William seperti itu," ucap siswi bernama Margaretha.


"Iya, kurasa ia orang yang suka cari muka," timpal temannya yang lain, bernama Merry.


"Dasar tidak tahu diri!" umpat Jessica.


"Kelly, apa kau tidak melihat bagaimana sikap kerabat miskin Vaya itu, kurasa ia sedang merasa di atas angin sekarang. Kamu dengar, 'kan, bagaimana dia berbicara dengan William? Mungkin William akan memperhatikannya mulai sekarang!" ucap salah seorang siswi bernama Grace, ia seolah sedang menjadi penyulut api kebencian.


"Benar, aku juga setuju. Anak pindahan itu pasti sedang menjadikan William sebagai target. Bukankah William memiliki pesona yang diimpikan hampir semua siswi di sekolah ini?" timpal Jessica.


"Menurutku kau harus segera bertindak dan menghentikan apa yang akan dilakukan anak pindahan itu, agar dia tahu tentang posisinya di sekolah ini." Margaretha semakin menghasut Kelly.

__ADS_1


"Ya ... kau harus melakukannya," imbuh Merry.


Gadis yang punya perasaan khusus pada William ini terlihat tengah mempertimbangkan saran dari teman-temannya. Sudut bibirnya tertarik satu ke atas, menandakan kelicikan dalam otaknya.


__ADS_2