IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.97 Pusat Perbelanjaan


__ADS_3

Melihat keseriusan Tommy yang ingin melindunginya, juga alasan tak ingin pulang ke rumah Alexander membuat Ivona setuju dengan ajakan Tommy.


"Baiklah."


Rasanya hari ini adalah hari keberuntungan Tommy, Ivona sudah memaafkannya—tentu semua tak lepas dari peran Alexander yang mau direpotkan—dan sekarang adiknya itu bersedia pulang bersamanya. Tommy sangat berharap keluarganya bisa berkumpul secara utuh.


"Ayo!" ajak Tommy untuk meninggalkan sekolah.


Ivona dan Tommy baru saja berjalan, saat Beny berseru memanggil-manggil Ivona. "Iv ... Ivona ... tunggu!"


Ivona yang sudah berjalan beberapa langkah terpaksa berhenti dan menatap pada pria gendut yang tengah menghampirinya. Napas Beny terengah-engah ketika tiba di hadapan gadis itu.


"Kau mau ke mana, supirku tidak menunggu di tempat ini tapi ada di luar sekolah," ujar pria gendut itu sembari mengatur napasnya.


Dengan raut menyesal Ivona berkata, "Maafkan aku Ben, aku tidak jadi menginap di rumahmu. Aku akan pulang saja bersama kakakku." Ivona menoleh pada Tommy saat menyebut kata kakak.


Tommy juga sedang menatap Ivona, dalam hati ia begitu girang mendengar Ivona menyebutkan kakak.


"Ta-tapi, Iv?" Terdengar kekecewaan dari Beny saat mengetahui hal itu.


"Maafkan aku, ya. Mungkin lain kali saja." Ivona menepuk pundak Beny sebelum pergi.


"Iv ...." Beny sungguh kecewa, melihat kenyataan tentang Ivona yang akhirnya membatalkan untuk menginap di rumahnya dan memilih pulang dengan kakaknya.


Beny berjalan lemas keluar dari gerbang G-school. Sementara William yang masih saja mengikuti Beny dan Ivona diam-diam, nampak begitu senang melihat Ivona tidak jadi menginap di rumah monster gendut itu.


Di dalam mobil, Ivona masih belum bisa akrab dengan Tommy. Anak itu lebih suka diam dari pada mengobrol dengan kakaknya. "Apa kau mau jalan-jalan dulu sebelum kita pulang?" tanya Tommy.


"Tidak usah."


Tommy hanya bisa manggut-manggut dengan penolakan Ivona.


Ponsel Tommy bergetar, pertanda ada pesan masuk. Dibukalah pesan yang ternyata dari adiknya—Thomas.


[Ayah dan Ibu mengajakmu ke acara pesta ulang tahun tetua dari keluarga Smith. Jangan sampai telat.]


Tommy pun mengetikkan balasan pesan untuk Thomas setelah ia menatap pada Ivona.


[Baiklah.]


Otaknya bekerja sangat cepat. Ia punya ide cemerlang untuk acara ulang tahun tetua dari keluarga Smith. Kali ini tidak akan ada lagi dan tidak boleh ada lagi orang-orang yang memandang rendah adiknya—Ivona.


"Iv, bagaimana jika kita pergi ke pusat perbelanjaan terlebih dulu sebelum kita pulang."


Ivona menoleh, menatap Tommy penuh tanya.


"Malam ini aku ada undangan untuk pesta, dan aku tidak memiliki stok baju untuk aku gunakan. Kau tahu bukan pekerjaanku?"


Meski tidak menjawab tapi Ivona tahu persis apa pekerjaan kakak keduanya ini.

__ADS_1


"Dan penampilan adalah hal utama bagiku yang bergerak di bidang hiburan. Aku tidak ingin mengecewakan siapa pun yang melihatku nanti malam."


Ivona masih mendengarkan.


"Bagaimana, kau mau?"


"Baiklah," lirih Ivona.


"Yes!" pekik Tommy, yang langsung mendapat tatapan dari Ivona.


"Maaf, aku terlalu senang. Ini akan menjadi agenda pertama kita untuk jalan-jalan, meskipun hanya di tempat perbelanjaan."


Menurut Ivona ini sungguh sikap yang berlebihan. Ia hanya menyetujui untuk diajak pergi memilih baju, dan Tommy menanggapinya bagaikan menang lotere. Akan tetapi ia biarkan saja, kakaknya itu bersikap demikian.


Tommy terlihat begitu bersemangat sepanjang jalan. Bibirnya bahkan tidak diam sama sekali, senandung-senandung merdu mengalun dari pria tampan ini.


Begitu sampai di pusat perbelanjaan, Tommy langsung membawa Ivona ke sebuah toko dengan brand ternama. Ia membawa Ivona di station yang menyediakan berbagai produk untuk wanita. Ivona sedikit heran, bukankah tadi yang ingin mencari baju adalah Tommy, lalu kenapa tempat ini yang dituju?


"Apa kau tidak salah tempat?" tanya Ivona saat Tommy dengan santainya mengatakan kepada pramuniaga di sana untuk menunjukkan koleksi terbaru dan termahal mereka.


"Ehmm." Tommy menggeleng.


"Bukankah tadi kau bilang ____"


"Aku akan membeli kebutuhanku nanti, sekarang aku ingin kau memilih baju yang bagus untukmu."


"Aku?" Ivona menunjuk dirinya sendiri.


"Untuk, apa?"


"Temani aku."


"Aku tidak mau pergi ke tempat seperti itu. Lagi pula aku aku tidak mengenal siapa pun di sana."


Tommy merangkul bahu Ivona. "Iv, untuk kali ini kumohon jangan menolak. Apa kau tidak kasihan pada kakakmu yang lajang ini untuk pergi sendirian?"


"Bukankah kau punya banyak teman wanita?" tebak Ivona.


"Aku sedang malas pergi dengan mereka, kali ini aku ingin pergi dengan adikku sendiri. Kumohon, jangan menolakku." Tommy memasang wajah memelasnya.


Ivona melepaskan tangan Tommy, dan berbalik akan pergi. Namun Tommy segera menyusulnya.


"Iv, kumohon," serunya sembari berjalan dengan cepat.


"Aku tidak mau!"


Tommy berjalan lebih cepat dan berhasil menghadang Ivona, ia segera berlutut di hadapan adiknya. "Iv ... please, aku ingin sekali kau menemaniku malam ini." Tommy sampai menangkupkan kedua tangannya di depan Ivona.


Kejadian itu dilihat oleh banyak orang, ada pengunjung juga pramuniaga toko itu.

__ADS_1


"Hentikan, apa yang kau lakukan. Kau akan malu dengan melakukan semua ini," ucap Ivona dengan lirih.


"Aku tidak peduli pada orang lain."


Ivona menoleh pada orang yang masih menyaksikan apa yang dilakukan Tommy. Bukan hanya itu ia juga mendengar bisikan-bisikan miring tentangnya dan kakaknya. Demi karir dan nama baik Tommy, Ivona pun menyerah.


"Baiklah, aku setuju."


Tommy segera bangkit dan memeluk Ivona lagi.


"Terima kasih," bisik Tommy.


Ivona merasa risih dilihat banyak orang saat Tommy memeluknya. Mungkin sedang berpikir tentang hubungannya dengan Tommy, sampai-sampai Tommy rela berlutut di depannya.


"Lepaskan aku!" pinta Ivona dengan nada rendah.


"Maaf." Tommy tersenyum senang. "Ayo kita pilih bajunya," ajak Tommy.


Mereka kembali ke tempat semula, di mana pakaian pesta terpajang indah pada manekin yang terlihat cantik. Seorang pelayan yang tadi diminta Tommy untuk membawakan koleksi terbaru di toko ini sudah kembali dengan berbagai gaun yang indah untuk Ivona pilih.


"Pilihlah, mana saja yang kau suka," ujar Tommy.


Tommy hanya memperhatikan saja, ia memberikan Ivona kebebasan untuk memilih gaun yang sesuai dengan selera dan gaya fashionnya. Ivona sendiri bingung pakaian seperti apa yang harus ia pilih, apa lagi ia tidak tahu pesta seperti apa yang akan ia datangi. Saking fokusnya memilih, Ivona sampai tidak sadar jika Tommy pergi meninggalkannya.


Ivona ingin bertanya pada Tommy, mereka akan menghadiri pesta apa, tapi pria yang tadi memaksanya itu tak terlihat lagi di dekatnya. Ivona celingukan mencari keberadaan kakaknya itu.


"Maaf, apa kau ke mana perginya pria yang tadi bersamaku?" tanya Ivona pada pelayan.


"Saya tidak tahu, tapi tadi saya lihat Tuan Tommy sedang menerima telepon."


"Oh ...." Ivona harus berusaha sendiri untuk menentukan gaun yang akan ia pilih. Pelayan yang bersama Ivona terus saja menatap curiga padanya, hal itu membuatnya jadi tidak nyaman.


Ia ingin sekali cepat-cepat pergi dari tempat ini. Karenanya Ivona segera memilih satu baju yang sedari tadi menarik perhatiannya, namun ragu untuk langsung memilihnya.


"Bagaimana, apa kau sudah mendapatkan bajunya?" Suara Tommy membuat Ivona merasa lega.


"Sudah." Ivona memperlihatkan gaun yang ia pilih.


"Ok." Tommy langsung mengajak Ivona membayar baju itu.


Setelah keluar dari toko, Ivona baru sadar jika Tommy belum membeli baju. "Tunggu, bukankah kau ingin membeli baju tadi?"


Tommy tersenyum dengan perhatian Ivona. "Sudah."


"Di mana?"


"Itu." Tommy menunjuk pelayan yang berdiri di belakang mereka sembari membawa beberapa paper bag.


Ivona mengerti sekarang. Mungkin karena Tommy orang terkenal atau bisa jadi dia adalah salah satu member di toko ini, sebab itu ia mendapatkan pelayanan istimewa.

__ADS_1


"Kita pulang," ajak Ivona.


Tommy menggeleng, sementara Ivona mengernyit. Pria itu punya rencana untuk Ivona sebelum pulang.


__ADS_2