IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.95 Memaksa Pulang


__ADS_3

Ivona kembali dari toilet, tapi ia tidak menemukan keberadaan Tommy bersama Alexander. Pria dingin itu sendirian saja di ruangan yang tadi Tommy pesan. Ivona segera duduk di bangkunya yang tadi, pandangannya terus menyelidik mencari Tommy.


"Apa kau mencari Kakakmu?" suara Alexander membuat Ivona sedikit tersentak.


"Dia sudah pergi," lanjut Alexander.


Kini, Ivona menatap Alexander yang telah memegang sumpit di tangannya. Tatapannya menyiratkan kekesalannya pada pria ini.


"Makanlah, sushi di sini paling terkenal akan rasa dan kualitas bahannya," ujar Alexander.


Ivona melihat ke atas meja yang sudah dipenuhi berbagai menu yang tadi di pesan.


"Kau mau coba." Alexander menjepit satu sushi untuk Ivona dan mengarahkan ke mulut gadis itu.


Tidak langsung menerima makanan yang diberikan Alexander, Ivona justru menatap kesal pada pria yang telah bersekongkol membohongi dirinya itu. Ivona membiarkan saja sushi yang diberikan Alexander menggantung di depan mulutnya, karena detik berikutnya Ivona justru mengambil satu sushi dengan tangannya dan memasukkannya ke dalam mulut. Dengan mulut penuh ia memperlihatkan raut marahnya pada Alexander.


Alexander justru tersenyum gemas melihat tingkah Ivona. Ia menarik kembali sushi-nya dan memasukkan ke dalam mulutnya sendiri.


"Bagaimana, enak, bukan?" seloroh Alexander saat melihat Ivona mengunyah sushi dalam mulutnya.


Tak menggubris pria itu, karena Ivona sedang menikmati kelezatan sushi yang dibilang Alexander. Benar, ini sushi yang enak yang pernah ia makan, bahkan di dunia nyatanya, rasa sushi yang pernah ia cicipi tidak seenak ini. Rasa asin dan asam yang dihasilkan dari cuka beras, terasa pas di lidah Ivona.


Dari sushi, Ivona beralih ke sashimi. Dengan sumpit, ia mengambil satu slice daging ikan tuna segar dan mencelupkannya ke dalam shoyu. Raut wajah Ivona yang tadinya kesal kini berubah seketika. Nikmatnya makanan di restoran Jepang ini membuat moodnya membaik. Setidaknya untuk sementara waktu.


Alexander hanya bisa memandangi wajah Ivona yang terlihat berseri setelah makan sushi, ia tak ingin sedikit pun mengganggu keasyikan Ivona menikmati makanannya. Ia justru meletakkan sumpitnya, dan lebih memilih untuk memperhatikan gadis di sampingnya.


Ivona terlalu kalap menikmati makanannya sampai ia lupa ada Alexander yang tengah terpaku menatapnya. Semua menu ia coba, dan tidak ada satu pun yang mengecewakannya.


Tidak terasa, tak ada satu pun yang tersisa di atas meja selain wadah dari makanan itu. Makan sebanyak tadi membuat Ivona bersendawa. Gadis itu segera menutup mulutnya.


Tawa Alexander membuatnya tersadar jika bukan dirinya seorang yang berada di ruangan itu. "Apa kau mau tambah lagi?" tawar Alexander, lebih ke arah menyindir.


"Tidak usah," jawab Ivona malu.


"Baguslah, aku tidak bisa mengira sebesar apa perutmu itu kalau kau masih ingin memesan makanan lagi. Kau lihat, semua kosong." Alexander menunjuk semua piring di atas meja.

__ADS_1


"Aku akan membayarnya," ujar Ivona untuk menutupi rasa malunya.


"Tidak perlu, kakakmu sudah membayar semua makanan ini. Kurasa, kau harus memaafkan kakakmu setelah ini, karena kau sudah makan semua makanan yang ia pesan. Akan terkesan tidak tahu diri jika kau masih marah pada orang yang sudah mentraktirmu," ujar Alexander berkelakar.


"Apa maksudmu?"


"Maksudku, sudahi saja marahmu dan maafkan Tommy. Dia melakukan yang terbaik untukmu.'


"Tentu saja kau membelanya, bukannya kau juga bersekongkol dengannya," cibir Ivona.


"Aku adalah orang yang menjunjung tinggi persahabatan, lagi pula Tommy punya niat yang tulus pada adiknya karena itu aku membantunya."


"Apakah membantu itu berarti berbohong?" Ivona tetap tidak mau kalah, ia masih ingin mengajak Alexander berdebat.


"Kalau dari awal aku mengatakan jika aku disuruh oleh Tommy, apakah kau akan setuju pulang bersamaku?"


Ivona berpikir sejenak. Mungkin benar, ia tidak akan sudi diajak Alexander jika tahu pria ini adalah teman Tommy sekaligus 'suruhan' Tommy.


"Benar, 'kan? Kau pasti menolak pulang bersamaku jika tahu Tommy yang menyuruhku. Itu yang dikhawatirkan Tommy, mengingat hubungan kalian yang tidak begitu dekat." Alexander mencoba menjelaskan.


"Kau sudah selesai makan, bukan. Ayo kita pulang," ajak Alexander, menyudahi perdebatan mereka.


Ivona menatap tajam pria itu, ia masih tidak terima harus kalah bicara dengan Alexander. "Aku bisa pulang sendiri!"


Alexander tersenyum melihat Ivona yang merajuk.


"Kau jangan sok kaya, kalau ada satu mobil dengan tujuan yang sama bisa mengangkut dua orang sekaligus, itu akan menghemat bahan bakar dari pada memakai dua kendaraan. Kelangsungan sumber daya alam harus kita jaga demi anak cucu kita nanti, jadi berhematlah mulai sekarang."


Ivona mengerutkan keningnya, tidak percaya tentang apa yang pria ini katakan. Berbicara soal sumber daya alam?


Oh ... Tuhan.


"Kenapa, apa ada yang salah dengan ucapanku? Kalau ada coba kau koreksi!"


Ivona memutar bola matanya malas, ia tak ingin lagi menanggapi apa lagi berdebat panjang dengan pria ini. Ivona segera mengambil tasnya dan pergi dari ruangan itu. Meninggalkan Alexander sendiri.

__ADS_1


"Hei ... kau mau ke mana?" seru Alexander.


"Memangnya kau tahu di mana aku memarkir mobilku?" Meski tidak mendapat respon dari Ivona, Alexander tetap berdiri dan mengejar gadis itu.


"Kau jangan keras kepala, jika aku bilang pulang bersamaku ... ya pulang bersamaku!" serunya, berharap Ivona berhenti. Namun, Ivona tak acuh dengan seruan Alexander, ia terus berjalan menjauh dari pria itu.


"Dasar keras kepala!" gumam Alexander. Pria itu segera berlari agar bisa menyusul Ivona. Dengan cepat dan tanpa permisi, Alexander meraih tubuh Ivona dan memanggulnya layaknya karung beras.


Ivona yang kaget, sontak berteriak. "Hei ... apa yang kau lakukan, lepaskan aku!"


Alexander tidak peduli, pria itu terus membawa Ivona keluar dari restoran. Banyak mata menatap curiga pada Alexander, tapi itu bukan masalah untuk seorag Alexander.


"Lepaskan, aku." Ivona memukul punggung Alexander, agar pria itu menurunkannya.


"Diamlah, atau aku akan membuatmu diam dengan caraku!" sentak Alexander pada Ivona yang terus meronta.


"Turunkan aku dulu baru aku akan diam."


"Aku akan menurunkanmu kalau sudah sampai di mobil."


"Tidak, turunkan aku sekarang juga."


Alexander tidak menggubris, ia terus berjalan menuju mobilnya. Sampai di mana mobilnya di parkir, Alexander langsung mendudukkan Ivona di samping kursi kemudi. Tak lupa ia memasangkan seat belt untuk gadis itu juga.


Jantung Ivona mendadak berdegup lebih cepat saat tubuh Alexander berada dekat dengan tubuhnya. Suara teriakan Ivona yang tadi keluar mendadak hilang.


"Duduklah dengan tenang," ujar Alexander sembari mengusap pucuk kepala Ivona. Pria itu kemudian memutar untuk bisa masuk ke kursi kemudi.


Sepuluh menit pertama hanya kebisuan yang tercipta. Alexander memilih fokus pada jalanan, dan Ivona masih berusaha menetralkan degup jantungnya.


"Jangan terlalu keras kepala, lihatlah niat tulus kakakmu yang ingin menjagamu," ujar Alexander tiba-tiba.


"Tommy hanya ingin menunjukkan sikap tanggung jawabnya sebagai kakak, jika cara yang ia tempuh kau anggap salah, tidak sepenuhnya itu salah Tommy. Coba kau pikirkan jika ada di posisinya, saat adikmu menolakmu, tapi kau masih ingin peduli, tidakkah cara yang akan kau ambil pasti tidak jauh beda dengan Tommy." Alexander masih saja berusaha membujuk Ivona dengan cara yang lembut.


Ivona sendiri tidak tahu dan tidak bisa mendengar apa pun yang Alexander katakan. Otaknya saat ini hanya terfokus pada irama jantungnya yang harus segara ia netralisir.

__ADS_1


__ADS_2