
"Kenapa ayah meminta maaf?"
Felix menatap dalam Ivona, tak sampai hati bercerita tentang kesepakatannya dengan seorang Aldrich Ryder. "Maaf." Kata itu lagi yang keluar dari mulutnya.
"Untuk apa, Yah?"
"Untuk ketidakberdayaan Ayah, tidak seharusnya kau menjadi korban kebodohan Ayah, Iv."
Dari kalimant Felix, Ivona sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini. Ivona yang duduk di samping Felix, meraih tangan pria tua itu lalu membawanya mendekat dan menciumnya lagi.
"Jangan pernah merasa bersalah. Aku tahu, Ayah tidak akan mungkin melakukannya jika Ayah punya pilihan lain. Aku juga tahu, aku tidak mungkin jadi egois dan tidak memikirkan ayah."
Felix tertunduk malu, bagaimana bisa putrinya punya pemikiran seperti itu. Felix semakin merasa bersalah karena telah menghancurkan masa depan putrinya dengan menyerahkannya pada Aldrich Ryder sebagai imbalan dari kesepakatan mereka. "Apa kau tahu apa yang aku lakukan?"
Ivona mengangguk. "Semuanya."
Air mata penyesalan keluar begitu saja dari kelopak mata Felix Howard. "Maafkan Ayah, Sayang," lirihnya dalam.
"Seharusnya aku tak memenuhi undangan Whesley, harusnya aku tak menurutinya untuk bermain di casino, harusnya aku tak terpancing provokasinya." Felix semakin menangis mengingat semua kejadian itu.
Kejadian yang membuat semuanya hancur dalam semalam. Lebih dari dua tahun yang lalu, Felix Howard menerima undangan dari seorang pengusaha muda bernama Axton Whesley. Dia seorang pengusaha di bidang casino. Di sana, di casino milik Whesley, Felix di tantang untuk berjudi. Awalnya Felix menolak karena ia hanya ingin menghormati Whesley dengan memenuhi undangannya.
Namun, mulut Whesley yang manis mampu membujuk dan merayu Felix untuk bermain. Permainan yang awalnya hanya sekadar bersenang-senang berubah menjadi taruhan yang sesungguhnya. Dalam satu malam, Whesley membuat Felix mempertaruhkan semuanya, termasuk perusahaan. Hingga semua hartanya tergadaikan, hal terakhir yang diminta oleh Whesley adalah putri tunggal Felix—Ivona.
"Kau masih punya satu harta lagi Tuan Felix, bahkan itu adalah hartamu yang paling berharga. Jika kau mau, kau boleh menukarnya. Aku akan mengembalikan semua yang kau pertaruhkan di meja judi ini dan kau berikan harta berhargamu itu," ujar Whesley kala itu.
"Apa maksudmu?" Felix sedikit bingung sebab ia merasa sudah tak memiliki harta lagi untuk di pertaruhkan apa lagi ditukar. Semua yang ia miliki sudah ia gadaikan di meja casino malam itu.
Whesley tertawa renyah melihat kebingungan Felix. "Kau punya Ivona. Putrimu yang cantik dan pintar itu bisa kau berikan padaku dan aku akan mengembalikan semua kekayaan yang kau pertaruhkan malam ini."
Mendengar nama Ivona disebut membuat Felix Howard meradang. Sontak ia berdiri dengan menggebrak meja. "Jaga bicaramu, Whesley!" teriak Felix, membuat beberapa orang yang berada didekat meja mereka menoleh dan mencari tahu apa yang terjadi.
"Tenang ... tenanglah, Tuan Felix. Kau tidak perlu semarah itu," ujar Whesley yang pandai bermain watak.
"Aku bukanlah Ayah yang akan mempertaruhkan putriku di meja judi, apalagi untuk pria murahan sepertimu!"
Meski amarahnya tersulut karena sebuat Felix padanya, Axton Whesley tetap berusaha tenang. "Calm down Mr. Felix, aku tidak bermaksud merendahkanmu apa lagi putrimu. Aku justru ingin menjadikan putrimu ratu di istanaku," ujar Whesley.
"Aku tidak akan pernah membiarkan putriku mejadi ratu di antara ja langmu. Aku tidak akan pernah mengorbankan kebahagiaan putriku untuk pria berengsek sepertimu!" Tak ingin lagi membicarakan hal tentang Ivona, Felix Howard segera meninggalkan casino milik Whesley dengan hari yang bergemuruh—menahan amarah.
Sejak malam itu, Felix selalu gelisah dihantui kehancuran perusahaannya. Ia tidak rela, sungguh tidak rela jika bisnis keluarganya hancur di tangannya, padahal ia sudah memberikan tanggung jawab perusahaan kepada Ivona, dan putrinya telah berjuang keras memajukan perusahaan tersebut. Setiap detik yang berlalu membuat waktu tak mungkin lagi menutupi semuanya, Ivona harus tahu tentang kekalahan ayahnya malam itu.
Tak ingin perusahaannya jatuh ke tangan Whesley, Ivona berusaha mempertahankannya dengan menebus semua hutang ayahnya. Ia meminjam uang dari bank demi menyelamatkan perusahaan. Namun, tidak ada yang menyangka, jika pada akhirnya, keburukan sang ayah mempengaruhi reputasi perusahaan dan membuat perusahaan yang dulunya bonafit mengalami kemunduran akibat rendahnya kepercayaan investor. Perlahan tapi pasti, perusahaan yang tidak jatuh ke tangan Whesley harus terpuruk karena minimnya inverstor.
Kembali, Ivona harus berjuang menutup pinjaman bank dan memulihkan perusahaan. Ia bergerak kembali mencari investor baru agar mau mendukung perusahaanya, demi ayahnya dan juga demi para karyawannya. Sehingga takdir membawanya pada Aldrich Ryder kala itu. Walaupun tidak bisa bertemu saat itu ternyata itu adalah sebuah jalan untuk Aldrich menemukan Ivona. Pria itu sendiri yang menawarkan bantuan untuk perusahaan Howard Technologi dengan sebuah permintaan yaitu Ivona.
Mengingat semua itu membuat Felix semakin merasa bersalah pada Ivona. Andai saja dulu peristiwa itu tak terjadi pastilah ia sudah melihat Ivona bahagia sekarang.
"Maafkan Ayah Ivona, maafkan ayah untuk semua kebodohan Ayah." Air mata Felix semakin menderas seiring rasa bersalahnya yang semakin membuncah.
"Ayah ...." Ivona berpindah ke atas ranjang, dan memeluk pria tua itu. "Jangan lagi dipikirkan, semua sudah terjadi, dan memang begitulah takdir harus terjadi. Tolong jangan lagi menyalahkan dirimu, kau ayah terbaik, selamanya akan seperti itu."
Ivona tahu ini tak akan mudah, terutama bagi hidupnya jika nanti ia benar-benar menjalani pernikahan tanpa cinta dengan Aldrich Ryder. Tetapi ia juga tak ingin membuat ayahnya semakin terbebani dengan penyesalan dan rasa bersalah. Bagaimana juga, Felix adalah satu-satunya orang tua yang ia miliki sekarang. Ia harus bisa menjaga ayahnya itu bagaimanapun caranya.
"Aku akan baik-baik saja ayah, Aldrich orang yang lebih baik dari Whesley."
"Tapi sama saja, aku tetap menjualmu demi hutang-hutangku." Felix masih menangis
"Tidak, semua tidak sama. Setidaknya kau menyelamatkan aku dari pria berengsek seperti Whesley. Berhentilah merasa bersalah, karena kau akan tetap jadi ayah terbaik untukku. Jangan lagi kau mengatakan kalau kau menjualku. Berjanjilah."
Bak anak kecil, Felix Howard mengangguk dalam dekapan putrinya.
__ADS_1
"Doakan aku, agar hidupku dipenuhi dengan kebahagiaan," lirih Ivona.
Kembali, Felix mengangguk. Mereka tetap berpelukan untuk beberapa saat hingga Ivona tersadar ada Aldrich yang tengah menunggunya. Ivona mengurai pelukan mereka. "Ada Aldrich yang ingin bertemu Ayah."
Felix menghapus air matanya dan meminta Ivona untuk membantunya berdiri dan menemui Aldrich.
"Selamat malam, Tuan Felix," sapa Aldrich yang melihat Felix Howard mendatanginya dibantu oleh Ivona di sampirng pria tua itu.
"Selamat malam. Duduklah Tuan Ryder," jawab Felix.
"Tidak perlu sungkan, panggil saja aku Aldrich itu akan membuat suasana lebih akrab."
Felix tersenyum. Ia tidak menyangka jika Aldrich Ryder sesopan dan seramah ini. Jauh dari bayangannya sebelumnya.
________________
Dibantu oleh Ivona Felix duduk di depan Aldrich.
"Bagaimana kabarmu, Tuan Felix. Maaf aku baru menjengukmu sekarang," ujar Aldrich sopan.
Felix membalas senyum Aldrich dengan senyum yang sama ramahnya. "Apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan denganku?"
Aldrich langsung menegakkan badannya dan menatap serius pada Felix. "Begini Tuan Felix, seperti yang aku katakan di telepon tempo hari jika sudah tiba saatnya aku mengambil putri Anda, dan hari ini secara resmi aku melamar Ivona untuk menjadi istriku," ujar Aldrich tenang dan berwibawa.
Felix dan Ivona saling tatap, mereka berdua sama-sama tidak percaya jika Aldrich melamar Ivona.
"Kau bercanda, 'kan?" tanya Ivona.
"Tidak, aku memang sedang memintamu dari ayahmu."
"Apa kau sungguh-sungguh?" tanya Felix ragu.
"Seperti ucapanku tadi Tuan Felix, aku serius untuk melamar putrimu dan menjadikannya pendampingku," jawab Aldrich tegas.
Dengan yakin Aldrich menjawab, "Tentu, Tuan. Apa pun yang kau inginkan dariku akan aku lakukan dengan segenap jiwaku."
Felix menatap Ivona dengan raut bahagianya masih dengan netra yang berkaca-kaca. Ia beralih pada Aldrich dan berkata, "Berjanjilah kau akan menjaganya seumur hidupmu, dengan sepenuh cinta yang kau miliki. Jangan biarkan air matanya menetes kecuali untuk alasan kebahagian. Bisakah kau melakukannya?"
Aldrich mengangguk mantap. "Aku berjanji padamu, Tuan Felix. Aku akan selalu membuat Ivona bahagia. Aku akan mencintainya sampai kapan pun, bahkan dalam setiap kehidupan Ivona dilahirkan."
Berbeda dengan Felix yang menatap haru pada apa yang diucapkan Aldrich, Ivona justru menatap remeh pada pria itu.
"Terima kasih," ujar Felix.
"Ada satu hal lagi Tuan Felix, aku juga sudah membicarakannya kemarin pada Anda. Aku ingin Ivona tinggal di rumahku mulai sekarang."
"Kalau soal itu, aku tidak punya lagi kuasa untuk menolakmu."
Aldrich tersenyum senang karena tak sulit membuat Ivona untuk tinggal bersamanya. Pria itu segera menyuruh Ivona berkemas dan menyuruhnya membawa barang yang penting saja, kalau soal pakaian ia bisa membelikan lagi yang baru nanti. Selesai berkemas, Ivona dan Aldrich pamit untuk pulang ke mansion Ryder.
"Kau pintar sekali berakting, Ayahku bahkan begitu mudahnya percaya pada semua bualanmu," ujar Ivona saat dalam perjalanan.
Aldrich melirik Ivona sekilas. "Apa aku terlihat seperti pembual?"
"Tidak juga, hanya saja kau pintar bermain kata dan membuat mangsamu percaya," sarkas Ivona.
"Kalau begitu, apa kau sudah percaya padaku?"
"Apa?"
"Apa kau percaya jika aku akan menjagamu seumur hidupku dengan segenap jiwa dan ragaku?"
__ADS_1
"Ish ...." Ivona mendelik tajam. Bola matanya hampir saja keluar menanggapi gurauan pria di sampingnya.
Lain Ivona lain lagi Aldrich. Pria itu justru tertawa di saat Ivona tengah kesal karena merasa dipermainkan. Keadaan menjadi hening seketika kala tawa Aldrich mereda. Kebisuan mengisi ruang hampa di antara keduanya. Cukup lama, hingga perkataan Aldrich membuat Ivona tercengang dibuatnya.
"Bagaimana jika apa yang aku katakan adalah kejujuran yang berasal dari dasar hatiku?"
Aldrich menoleh, begitupun Ivona. Membuat pandangan mereka saling beradu.
"Aku yakin ada sesuatu di antara kita yang terjalin dalam waktu yang lama. Aku tidak bisa menyimpulkannya tapi aku meyakininya." Aldrich kembali fokus pada kemudinya. Sementara Ivona masih setia menatap pria di sisinya. Mencari sesuatu yang bisa membuatnya yakin akan apa yang Aldrich katakan.
"Apa kau mulai terpesona padaku, ha?" goda Aldrich saat ia menoleh dan menadapati Ivona masih menatap lekat dirinya.
"Jadi benar kau mulai tergoda dengan pesonaku? Kau juga percaya dengan apa yang baru saja aku ucapkan?" Aldrich tertawa, seolah apa yang tadi ia ucapkan memanglah permainan.
"Ternyata mudah sekali meluluhkan hati wanita, cukup dengan bualan manis akan membuat mereka percaya."
Ivona yang sadar jika telah dipermainkan tak mengalihkan pandangannya. Sorot tajamnya tak beralih dari pria yang baru saja mempermainkannya. Ia ingin marah saat itu juga, tapi rasanya tidak akan elegan menghajar pria yang sedang menyetir, karena saat ini bukam hanya keselamatan pria itu yang harus dijaga tapi keselamatan dirinya sendiri juga dipertaruhkan. Ia mendesah kasar sebelum akhirnya memilih untuk membuang muka.
"Hei ... kau marah?"
Tidak ada jawaban.
"Ayolah, aku hanya bercanda. Jangan buat hidupmu terlalu kaku tanpa senyuman."
Ivona tak merespon. Ia memilih diam dari apa pun yang Aldrich coba lakukan. Sampai di mansion pria itu pun Ivona langsung turun tanpa mau berterima kasih. Gadis itu membanting pintu mobil secara kasar dengan sengaja, sampai membuat Aldrich berjingkat.
"Hei ... tunggu!" pinta Aldrich, tapi Ivona tak peduli. Ia terus melenggang pergi, masuk ke rumah itu dan langsung menuju kamar Aldrich. Ivona bahkan mengabaikan Helena yang menyapanya. Ia menahan kesal yang bercokol di hatinya. Karena tak ingin ribut Ivona memilih untuk membanting tubuhnya ke atas ranjang, mencoba mencari ketenangan dengan caranya. Aroma kamar ini, juga tempat tidur ini begitu membuainya untuk langsung terlelap.
Aldrich yang menyusul di belakang setelah markirkan mobilnya, harus rela menjelaskan pada ibunya apa yang terjadi ketika Helena mencegatnya.
"Kenapa dengan Ivona, bukankah tadi pagi kalian berangkat bersama dan semua baik-baik saja. Apa yang terjadi?" Helena ingin tahu.
Aldrich mengangkat kedua bahunya. Tetapi Helena tak percaya, ia terus saja mencevat putranya untuk berkata yang sebenarnya.
"Dia marah hanya karena aku menggodanya," jawab Aldrich jujur pada akhirnya.
"Apa? memang apa yang kau lakukan?"
"Aku hanya bercanda, Bu. Entahlah, dia memang gadis aneh. Sudahlah tidak usah dipikirkan, aku mau istirahat." Aldrich segera berlalu menuju kamarnya.
Di sana ia melihat Ivona yang sudah terbaring di atas ranjang. Posisinya yang tengkurap tak bisa melihat kedatangan Aldrich yang menyusulnya.
Tak ingin mengganggu, Aldrich biarkan saja calon istrinya itu tidur dengan nyaman. Ia lebih memilih untuk membersihkan diri agar bisa lebih nyaman saat beristirahat. Ini memang kebiasaannya sebelum tidur, berendam air hangat untuk merilekskan otot-ototnya yang ia paksa bekerja seharian. Tak jarang pula, Aldrich bisa sampai tertidur meski sekejap. Seperti saat ini, air hangat yang membasahi tubuhnya membuat ia terlena hingga tanpa sadar ia sudah terpejam.
Entah berapa lama ia terpejam, sebab Aldrich terbangun karena teriakan seseorang yang membuat telinganya hampir pecah.
"Aaarrggghhhhh!"
Aldrich yang kaget sontak terbangun dan langsung berdiri untuk tahu situasi apa yang terjadi. Namun di saat ia berdiri, gadis yang mendadak ada dalam kamar mandinya semakin berteriak, bahkan lebih keras dari sebelumnya.
"Aaaaaarrrrrgggghhhhhhh ...."
Aldrich semakin bingung dengan apa yang terjadi.
"Hei, kau kenapa?" tanya Aldrich yang belum sadar situasi.
Gadis itu tentu saja Ivona, dia berteriak sembari menutup mata. Bukannya menjawab Ivona malah semakin kencang berteriak.
"Hei, berhenti!" sentak Aldrich, dan Ivona pun berhenti.
"Kau, kenapa?" tanyanya lebih lanjut.
__ADS_1
Masih dengan menutup matanya, Ivona menunjuk bagian bawah tubuh Aldrich.
Mengikuti arah jari Ivona, Aldrich yang masih berdiri di atas jacuzi kontan berteriak. Kini ia sendiri yang kaget melihat tubuhnya tak berbalut sehelai benang pun. Kalang kabut, Aldrich mencari bathrobe yang ada di tepi jacuzi, tapi karena panik ia jadi lupa kalau tadi ia sendiri yang menaruhnya di sana.