IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.109 Penculikan


__ADS_3

WARNING!!! Part ini mengandung adegan kekerasan dan umpatan. Bagi yang tidak suka silakan skip. Bagi yang belum cukup umur WAJIB SKIP!!!


________________________________________________


Ivona mulai membuka matanya perlahan, secercah cahaya membuatnya ingin tahu di mana ia berada saat ini. Ia mengedarkan pandangannya, menilik setiap sudut dari tempat yang serasa tidak asing baginya. Ruangan dengan cahaya remang, ranjang yang terlihat seperti ranjang orang sakit, aroma desinfektan yang kuat, serta tiang infus yang mempertegas jika dirinya tengah berada di rumah sakit.


Apa, rumah sakit?


Mata Ivona membulat sempurna ketika tempat itu yang tercetus dalam ingatannya. Tidak salah lagi, Ivona benar-benar ingat dengan tempat ini, tempat yang menjadi neraka baginya.


Spontan Ivona ingin berdiri dan kabur, tapi di saat itu ia tersadar jika dirinya tengah terduduk di kursi listrik dengan dua tangan terkunci pada pagar kursi. Ivona langsung panik, ia berusaha bergerak agar bisa lepas dari kursi ini.


Ingatan tentang sakitnya alat penyiksa ini, membuat Ivona cemas. Ia pernah merasakan bagaimana disiksa dengan alat mengerikan ini, dan Ivona tak ingin lagi merasakannya. Ia terus bergerak, meronta agar terlepas dari jerat kursi iblis ini.


"Lakukan saja, sampai tenagamu habis. Kau tidak akan pernah terlepas dari kursi kenangan itu," ujar Vaya yang tiba-tiba masuk.


Ivona berhenti berusaha ketika mendengar suara yang tidak asing baginya. "Vaya?"


"Ya, aku." Vaya berjalan mendekat agar Ivona bisa melihat dengan jelas sosoknya.


"Apa yang kau inginkan dengan semua ini?"


Vaya tertawa terbahak-bahak. Ia berdiri dengan angkuh di depan Ivona. "Kau bertanya tentang apa yang aku inginkan?"


Vaya kembali memangkas jarak, membuatnya begitu dekat dengan Ivona. Ia sedikit membungkuk untuk mencengkeram rahang Ivona. "Aku ingin kau kembali ke tempat asalmu!" ujarnya penuh kebencian. Ia menghempas rahang Ivona begitu saja kemudian memutar tubuhnya dan sedikit menjauh.


"Harusnya kau tidak muncul dalam hidupku, Ivona. Harusnya kau tetap berada di panti asuhan," ujar Vaya dengan tangan dilipat di depan dada.


"Jangan terlalu bertele-tele, katakan saja apa yang kau inginkan!" Dalam situasi menjadi sandera pun, Ivona masih berani menyentak.


"Kau berani berteriak padaku!" Raut marah tergambar di wajah Vaya.


"Baiklah, kurasa kau tidak sabar untuk kembali mengenang rasanya berada di atas kursi listrik ini." Satu sudut bibir Vaya terangkat ke atas.


"Roy," panggil Vaya.

__ADS_1


Dalam sekejap, pria sampah itu muncul.


"Oh ... sial!" batin Ivona. "Mereka pasti bekerja sama."


Roy yang baru saja tiba langsung merangkul Vaya. "Kau memanggilku, Sayang?"


Ivona menatap jijik pada perilaku dua manusia sampah ini. Alih-alih melihat aksi murahan mereka, Ivona lebih memilih untuk membuang muka. Mengalihkan pandangannya dari dua orang yang menjijikkan ini.


"Kenapa, Ivona. Apa kau cemburu melihatku mesra dengan Vaya?" ujar Roy, yang tangannya tak lepas dari merangkul Vaya.


Pertanyaan Roy membuat perut Ivona serasa mual, ingin rasanya memuntahkan isi perutnya ke wajah pria sampah di depannya ini.


"Sudah saatnya kau tahu Ivona, jika yang aku sukai dan aku cintai bukanlah dirimu. Selama ini aku hanya memanfaatkanmu untuk membuat Vaya cemburu. Sekarang kau tahu bukan, bahwa kau adalah gadis bodoh yang hanya menjadi pion untukku!" Roy mengecup kepala Vaya dengan sengaja, ingin menunjukkan pada Ivona tentang perasaannya yang sesungguhnya.


Ivona tidak heran dengan semua ini, karena ia sudah membaca akhir dari kisah cintanya dengan Roy. Ivona hanya malas harus berurusan dengan pria over confidence seperti Roy. Setelah Ivona dari dunia nyata mengisi tubuh si pemilik tubuh asli, Ivona berusaha menunjukkan jika ia tidak peduli dan tidak akan peduli dengan pria sampah ini. Namun nyatanya, Roy—si pria sampah—terus saja menganggap Ivona adalah Ivona yang menyedihkan dengan segala cinta sendirinya.


"Roy, tunjukkan apa yang aku inginkan pada gadis gila ini. Bukankah dulu ia di rawat di rumah sakit jiwa ini, aku ingin selamanya ia berada di tempat ini. Duduk dalam kursi penyiksa itu sampai mati!" ujar Vaya dengan senyum sinisnya.


Rumah sakit jiwa?


Tempatnya dirawat?


Tunggu, Ivona tidak lagi mencari informasi tentang rumah sakit itu sejak ia diselamatkan oleh Alexander kala itu. Thomas yang katanya akan melaporkan ayah Vaya, yang tidak lain adalah kepala rumah sakit jiwa, juga tidak jelas apakah prosesnya masih berlanjut atau kah tidak. Ivona terlalu sibuk dengan urusannya hingga ia tidak pernah lagi mencari tahu tentang hal tersebut.


"Kenapa, apa yang kau pikirkan?" Vaya melihat kebingungan pada ekspresi Ivona.


"Oh ... aku tahu, kau pasti heran bukan, kenapa rumah sakit ini masih ada?"


"Kau ingin tahu kenapa?" Vaya tertawa sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Karena polisi tidak bisa menemukan kejahatan yang terjadi di rumah sakit ini. Berita tentang kepala rumah sakit yang merupakan seorang pervert tidak terbukti sama sekali. Sebab itulah, rumah sakit ini masih kokoh berdiri. Dan ... soal pria kaya bernama Alexander itu, meski ia punya kekuasaan, ia tidak akan bisa menutup apalagi menghancurkan rumah sakit jiwa ini karena bangunan ini adalah milik dari pemerintah," jelas Vaya. "Kau paham sekarang!"


Mendengar fakta dari mulut Vaya, membuat Ivona menatap marah pada kedua manusia di depannya ini. Kalau saja tangan dan kakinya tidak terikat, ia pasti sudah menerkam dan menghabisi dua orang ini.


"Kau masih berani menunjukkan wajah marahmu di depan kami?" ejek Roy.

__ADS_1


"Wah ... wah ... wah, nampaknya kau harus di beri pelajaran." Roy melepaskan diri dari Vaya, kemudian berjalan mendekati Ivona. Ia mengusap pipi Ivona, dengan tatapan melecehkan.


Tentu saja Ivona tidak terima, ia meludah tepat di wajah pria sampah itu.


Spontan Roy marah dan langsung menampar Ivona. "Berengsek!" umpat Roy.


Meski merasakan panas di pipinya, Ivona tak sedikit pun terlihat ketakutan. Melihat ekspresi Ivona itu, membuat Roy semakin marah.


"Kira-kira, hukuman apa yang harus kita berikan pada gadis nakal yang telah bersikap tidak sopan pada kekasihmu ini?" tanya Roy dengan nada bercanda pada Vaya.


"Beri saja dia kejutan dengan sengatan listrik itu, lalu kita tinggal pergi. Aku yakin saat kita kembali dia sudah menjadi daging panggang." Vaya tertawa mengejek.


Roy menggeleng. "Tidak ... tidak, aku tidak setuju, itu terlalu kejam." Roy memperhatikan Ivona dari ujung rambut hingga ujung kaki, tatapan kotor sekotor isi otaknya menghujam setiap jengkal tubuh Ivona.


"Dasar sampah, Kau hanya berani padaku yang terikat ini. Kau tahu kenapa, karena kau adalah seorang pecundang. Kau tidak akan berani menantangku jika aku dalam keadaan bebas. Benar, kan?"


"Kau bilang apa?"


"PECUNDANG!" ulang Ivona dengan keras.


Merasa tak terima Roy langsung mencekik gadis itu.


Melihat Ivona yang kesulitan bernapas, Vaya berseru mengingatkan. "Roy, jangan kotori tanganmu dengan menyentuh gadis gila itu. Biarkan kursi itu yang melakukannya!"


Roy melepaskan tangannya dari leher Ivona, gadis itu langsung terbatuk. Ia tidak bisa mengusap rasa sakit di lehernya, yang bisa ia lakukan adalah menghirup oksigen sebanyak yang ia bisa untuk menormalkan kembali napasnya yang sempat sesak.


"Kalian cocok sekali, pecundang dengan j*lang." Ivona tak ingin terlihat lemah ia terus saja memprovokasi Roy.


Roy tak terima dengan ejekan Ivona. "Vaya, tinggalkan kami berdua!" titah Roy dengan amarah di matanya.


"Untuk apa?" tanya Vaya tak mengerti.


"Aku bilang tinggalkan kami berdua!" sentak Roy.


Merasa Roy dalam amarah yang memuncak, Vaya pun menurut. Ia pergi keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Kini, di ruangan yang minim cahaya itu tinggal Roy berdua dengan Ivona. Mata Roy yang memerah, memperlihatkan rasa marah dalam dirinya.


"Kau akan lihat apa yang bisa aku lakukan!" Roy menatap lekat Ivona dengan amarah yang berkobar.


__ADS_2