IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.103 Ivona si Gadis Gila


__ADS_3

Ivona kembali bergabung dengan keluarga Iswara. Semua anggota lengkap kecuali Vaya, entah ke mana perginya gadis itu. Padahal Nyonya Iswara yang tadi mengejar untuk menghibur Vaya saja sudah kembali, tapi yang dihibur masih menghilang.


"Kenapa lama sekali, Iv?" tanya Thomas.


"I-itu, sewaktu aku akan mengambil minum aku bertemu dengan seorang teman." Ivona sedikit tersenyum untuk meyakinkan.


"Lihatlah, Iv, kau dan Caroline telah menjadi pembicaraan di dunia maya." Tommy menunjukkan ponselnya. "Penampilanmu bersama Caroline tadi benar-benar memukau."


"Kau cucu luar biasa, Nana. Kau sangat pandai menyembunyikan bakat luar biasamu," puji Kakek Iswara.


Tuan dan Nyonya Iswara saling tatap, mereka masih gamang untuk memutuskan apakah akan memuji Ivona atau kah tidak. Selama ini hanya Vaya yang ia anggap sangat membanggakan, tapi kali ini mereka dikejutkan oleh kemampuan luar biasa Ivona. Hal itu membuat mereka ragu untuk memuji Ivona, takut jika pujian mereka untuk Ivona akan menyakiti Vaya.


Mereka pun mengisi waktu dengan mengobrol, masih seputar bakat bermain piano Ivona. Hanya Tommy dan Kakek Iswara yang begitu bersemangat menggali informasi dari Ivona, sedangkan Tuan dan Nyonya Iswara memilih menjadi pendengar setia. Thomas sendiri pamit pergi ke kamar mandi. Mereka terlalu asik mengobrol, hingga tidak menyadari sesuatu yang besar sedang mengintai mereka.


Thomas yang baru kembali dari kamar mandi dikejutkan dengan kehebohan dari luar ballroom. Karena penasaran Thomas pun bertanya pada seseorang, "Ada apa?"


Seorang pria yang tidak dikenal Thomas itu menatap Thomas aneh, tapi menjawab juga, "Ada wartawan yang ingin masuk."


"Oh ...." Hanya itu yang keluar dari mulut Thomas.


Thomas tidak peduli, para pewarta itu pasti akan meliput acara ulang tahun tetua keluarga Smith ini, karena memang berita tentang orang kaya selalu menarik perhatian. Pesta ini contohnya, digelar dengan mewah dan mengundang para tokoh terkenal dan juga selebritis Victoria.


"Tunggu!" sergah orang yang tak dikenal itu. "Apa kau tidak ingin tahu apa yang terjadi?"


Thomas mengernyit. "Memangnya, apa?"


"Para wartawan di luar itu ingin mencari keluarga Iswara."


"Keluarga Iswara, kenapa?"


Pria itu mengeluarkan poselnya. "Lihatlah!"


Thomas melihat berita yang tersaji di platform media online. Terlihat foto-foto Ivona dengan seragam rumah sakit jiwa. Kondisi yang mengenaskan tergambar jelas di sana. Yang paling membuat marah dari berita itu adalah judulnya, mereka mencantumkan judul: IVONA, SI ANAK SAKIT JIWA YANG DIBUANG OLEH KELUARGA ISWARA.


Isi dari berita itu lebih gila lagi. Mereka menulis jika keluarga Iswara sengaja menutupi kehadiran putri mereka yang merupakan seorang gadis gila dengan memasukkannya ke rumah sakit jiwa dan tidak mengakui status Ivona. Mereka malu memiliki anak yang menderita gangguan jiwa. Gadis temperamental itu juga sering membuat ulah di sekolah. Mereka menulis berita kekacauan yang pernah dibuat Ivona, mulai dari melawan guru hingga melakukan kekerasan pada salah satu siswa hingga masuk ke rumah sakit. Semua tindakan Ivona itu didasari oleh gangguan mentalnya.

__ADS_1


"Ternyata, gadis yang tadi kita puji-puji karena kepiawaiannya bermain piano tidak lebih dari sekadar gadis gila," ujar pemilik ponsel.


Tak terima adiknya dihina, Thomas menatap tajam pria itu dan membanting ponsel pria itu dengan kasar kemudian pergi meninggalkannya begitu saja tanpa menghiraukan teriakan tidak terima dari si pemilik ponsel. Sedikit berlari, Thomas menghampiri keluarganya yang masih bercengkerama.


"Tommy, kita harus segera pergi dari tempat ini!" ajak Thomas.


"Kenapa?" Tommy bingung dengan sikap adiknya.


"Nanti aku jelaskan, sekarang kau harus melindungi Kakek, Ayah dan Ibu juga Ivona. Aku akan mencari jalan lewat pintu belakang," ujar Thomas. "Ayo, Kek." Thomas berusaha membantu Kakek Iswara.


"Ada apa ini, Thomas?" Nyonya Iswara juga ingin tahu kenapa mereka harus pergi melalui pintu belakang.


"Banyak wartawan sedang mengincar kita, jadi aku ingin membawa kalian semua pergi ke tempat yang aman."


"Wartawan?" sambung Tuan Iswara.


"Iya, Ayah, dan kita harus menghindari mereka." Thomas terus berusaha membimbing keluarganya untuk meninggalkan ballroom.


"Lewat sini," ujar Thomas mengarahkan jalan.


"Bu, lupakan Vaya. Dia akan baik-baik saja. Kita harus segera pergi dari tempat ini!" tegas Thomas.


"Tidak, Thomas. Bagaimanapun juga dia adalah adikmu." Nyonya Iswara hendak berbalik, tapi Thomas menahannya.


"Bu, kali ini percayalah padaku. Kita harus segera pergi untuk menyelamatkan keluarga kita."


Melihat keseriusan Thomas, akhirnya Nyonya Iswara luluh juga, ia terus mengikuti putra dan suaminya untuk pergi.


"Ayo, Iv." Tommy merangkul Ivona. Meski belum tahu pasti apa yang terjadi, tapi Ivona menurut saja pada Tommy dan Thomas.


Mereka baru sampai di pintu keluar, saat Thomas melihat para wartawan tengah menunggu mereka. "Sial!" umpat Thomas saat ada seorang wartawan yang memergokinya.


"Lihat, mereka di sana!" seru wartawan itu mengundang teman-temannya. Serempak, mereka berlari mengejar keluarga Iswara.


Sudah kepalang tanggung, kalau harus balik ke belakang mereka tidak akan bisa keluar lagi, pasti sebagian wartawan sudah berhasil masuk ke ballroom. Thomas pun memutuskan untuk nekat pergi keluar dan membawa keluarganya menuju mobil.

__ADS_1


"Tuan, tolong jelaskan pada kami tentang berita yang beredar!" Para wartawan sudah sampai pada mereka, dan mulai bertanya banyak hal yang belum mereka ketahui, sebab baru Thomas yang tahu.


"Apakah benar, jika Ivona adalah putri kandung Tuan Iswara?"


"Jadi berita tentang hubungan gelap Tuan Iswara itu benar adanya?"


"Ivona adalah anak haram hasil perselingkuhan?"


"Kalian sengaja menyembunyikan Ivona karena dia adalah gadis gila, kalian malu mengakui memiliki putri yang gila. Apakah begitu?"


"Bagaimana dengan foto-foto ini, tolong jelaskan!" seorang wartawan bahkan mengacungkan ponselnya, tapi tak terlihat oleh Tuan dan Nyonya Iswara.


Mereka semua bungkam, karena memang tidak tahu dengan apa yang para wartawan ini tanyakan. Thomas terus berusaha membuka jalan bersama bodyguard kakek Iswara untuk membawa keluarganya pergi.


"Jadi benar, jika keluarga Iswara telah dengan sengaja menyembunyikan putri gila mereka dari masyarakat. Putri yang sering mengamuk di mana pun berada," ujar seorang wartawan yang membuat Kakek Iswara, tiba-tiba memegangi kepalanya yang sakit.


"Thomas, apa maksud mereka?" Kakek Iswara menghentikan langkahnya, ia sudah tidak tahan dengan situasi yang terjadi. Berbagai tanya tentang keluarganya membuat kepalanya berdenyut nyeri, hingga mendadak pria tua itu tak sadarkan diri.


"Kakek!" pekik Ivona yang berada paling dekat dengan Kakek Iswara.


Tommy dan Thomas langsung mendekat, berusaha membuat Kakek bangun dengan mengguncang tubuh renta itu. "Kek, bangun, Kek!" panggil Tommy.


"Ayah, bangun, yah!" Kali ini Tuan Iswara yang memanggil.


"Kita harus segera membawa Kakek ke rumah sakit, kita harus segera menyelamatkannya!" seru Ivona.


Di saat mereka semua bingung, tiba-tiba beberapa pria bertubuh besar berpakaian serba hitam membuat para wartawan yang sedari tadi mencecar keluarga Iswara dengan pertanyaan pergi dan membuka jalan untuk keluarga Iswara.


"Masuk!" seru seseorang dari dalam mobil.


Ivona bisa melihat jika yang ada di bangku kemudi adalah Alexander. "Cepat bawa Kakek," suruh Ivona pada Tommy dan Thomas.


Kedua kakak Ivona itu membopong Kakek Iswara masuk ke dalam mobil Alexander. Di susul Ivona yang duduk di samping kursi kemudi. "Royal Hospital," ujar Ivona.


Alexander yang paham maksud Ivona, langsung memacu mobilnya menuju rumah sakit yang Ivona sebutkan. Sepanjang perjalanan hanya kekhawatiran yang mengisi batin Ivona, semoga ia masih punya kesempatan untuk menolong Kakek Iswara.

__ADS_1


Ivona segera mengambil ponselnya, dan menghubungi seseorang. "Halo, bisakah Anda datang lebih cepat dari jadwal yang sudah direncanakan. Kakekku dalam kondisi buruk," ujar Ivona.


__ADS_2