
Saat Vaya kembali dari toilet, suasana ballroom masih begitu riuh meski acara hiburan sudah selesai. Vaya melihat jika Ivona sudah kembali ke meja di mana keluarga Iswara berkumpul.
Telinga Vaya terasa sakit mendengar setiap pujian untuk Ivona dari para tamu yang ia lalui untuk menuju meja keluarga Iswara. Namun, ia berusaha menyembunyikan kemarahannya di balik wajah cantiknya. Vaya masih bisa tersenyum dan menjawab sapaan dari orang-orang yang mengenalnya. Langkahnya semakin dekat dengan meja keluarga Iswara, dan dari jarak ini Vaya bisa mendengar dengan jelas kalau Kakek Iswara dan kedua kakaknya memuji-muji Ivona.
"Aku tidak menyangka jika kau punya bakat yang luar biasa dalam bermain piano, Nana," puji Kakek Iswara.
"Aku juga tidak menyangka, Kek, jika aku punya adik yang begitu pandai memukau semua orang," timpal Tommy.
"Dari mana kau belajar semua permainan piano tadi, Iv?" kali ini Thomas yang berbicara.
Ivona menatap canggung pada mereka semua yang penasaran pada kemampuannya. Tidak mungkin jika ia bercerita kenyataan yang sesungguhnya, jika dirinya yang datang dari dunia nyata memang memiliki bakat genetik dalam bermain musik.
"I-itu, ya. A-aku, hanya pernah melihat Vaya bermain piano dan diam-diam aku mempraktikkannya sendiri," bohong Ivona.
"Benarkah?" tanya Tommy heran. "Padahal bermain piano itu tidak mudah Iv, kami bahkan mendidik Vaya sejak kecil dan mendatangkan guru yang hebat untuk mengajari Vaya bermain piano hingga dia bisa menjadi pianis hebat seperti sekarang ini. Dan kau ...." Tommy menatap kagum pada Ivona. "Kau bisa punya kemampuan sehebat Vaya, atau justru lebih hebat dari Vaya hanya dengan belajar otodidak. Itu luar biasa, Iv," puji Tommy lagi.
Vaya yang mendengarnya semakin tidak suka. ternyata dugaannya benar, Ivona diam-diam mencuri ilmunya. "Dasar maling!"
"Lihat saja, semua kesenangan ini akan segera berakhir!" Seringai tersungging jelas di bibir Vaya.
Dengan menepiskan rasa marahnya Vaya kembali ke meja keluarga Iswara. "Selamat ya Ivona, akhirnya ada orang yang memujimu juga. Meski aku tidak tahu dari mana kau mencuri ilmu bermain piano itu," ujar Vaya lebih seperti menyindir.
"Apa maksudmu, Vaya?" Thomas tidak terima dengan ucapan Vaya.
"Kak Thomas, kita semua tahu bukan jika selama ini Ivona tidak pernah sekali pun memegang piano, tapi hari ini tiba-tiba ia mencuri perhatian semua orang dengan permainannya. Siapa yang tidak curiga jika ia telah mencuri ilmu saat aku sedang berlatih."
Semua orang baru menyadari akan hal itu. Benar kata Vaya jika Ivona telah mencuri ilmu Vaya. Berbeda dengan mereka semua, Thomas justru tertawa, ia mentertawakan kebodohan Vaya.
__ADS_1
"Kalau begitu, itu artinya Ivona adalah orang yang jenius. Dia hanya bermodalkan mendengar dan kemudian bisa melakukannya sendiri tanpa bimbingan. Mungkin kau menganggap Ivona telah mencuri ilmu dan kemampuanmu, tapi itu adalah anggapan yang salah, bahkan orang yang berpikir demikian akan aku katakan jika dia orang bodoh. Kau pikir saja sendiri, apa kau kehilangan sebagian atau bahkan semua dari ilmu yang kau miliki saat Ivona bisa melakukan hal yang sama? Tidak bukan, ilmu yang kau miliki bahkan tidak berkurang sedikit pun, jadi dari mana kau bisa menuduh Ivona telah mencuri, hah?"
Semua anggota keluarga Iswara mencerna kata-kata Thomas, dan mereka setuju dengan opini Thomas.
Vaya semakin kesal saat tidak ada satu pun yang membelanya, Tuan dan Nyonya Iswara juga hanya bisa diam. Tak bisa berkutik lagi, Vaya yang baru saja datang memilih untuk kembali pergi. Menghindari orang-orang yang selalu saja menyudutkannya.
Nyonya Iswara yang tahu sifat Vaya langsung bergegas mengejar putrinya itu. "Vaya, tunggu!"
Ivona yang merasa tidak enak hati pada seluruh keluarga Iswara juga memilih pamit. "Aku akan mengambil minuman dulu di sebelah sana," ujarnya beralasan.
Ivon pergi meninggalkan meja keluarga Iswara, awalnya hanya ingin menghindari pembicaraan soal bakat terpendamnya. Ia tidak ingin dipuji secara berlebih-lebihan karena sebenarnya ia justru ingin menyembunyikan kemampuan bermusiknya.
"Hai!" Seseorang menepuk bahu Ivona dari belakang.
"Caroline, apa lagi yang kau inginkan setelah kau mengingkari janjimu untuk menyembunyikan bakatku?" tanya Ivona ketus, tapi Caroline justru tertawa. Wanita itu memang tidak bisa serius, semua ia jadikan bahan candaan.
Caroline langsung merangkul Ivona. "Kau punya bakat dan kemampuan, Iv. Kau harus tunjukkan pada dunia. Bungkam semua mulut yang selalu meremehkanmu dengan bakatmu yang luar biasa itu. Dunia harus melihat jika ada musisi hebat sepertimu."
Ivona hanya bisa menanggapi ocehan Caroline dengan malas.
"Apa kau tahu, saat ini kita sedang menjadi perbincangan di dunia maya. Ada yang mengunggah permainan pianomu dan respon pendengar sangat bagus. Aku yakin setelah ini akan ada banyak tawaran konser untukmu." Caroline menaik turunkan alisnya, berniat menggoda Ivona.
"Bermimpilah!" ujar Ivona lalu meninggalkan artis itu seorang diri.
"Hei ... Iv, aku tidak bercanda!" seru Caroline. Kemudian ia menutup mulutnya sendiri karena malu dilihat oleh tamu lain. Ia tersenyum sendiri melihat kepergian Ivona.
Ivona baru saja akan menuju bar, tapi sialnya ia dihadang oleh pria sok tampan yang selalu ia sebut sampah.
__ADS_1
"Wah ... wah ... wah ... aku tidak menyangka kau bisa juga bermain piano. Apakah kau juga belajar piano agar bisa menyerupai Vaya untuk merebut perhatianku?" ujar Roy—si pria tak tahu diri.
Ivona malas sekali harus bertemu Roy saat ini, apalagi jika harus berdebat dengan sampah ini.
"Menyingkirlah dari jalanku!" suruh Ivona dengan nada kasar.
"Kau tidak perlu berpura-pura membenciku, padahal dalam hatimu kau begitu menginginkanku," sarkas Roy.
Ivona memutar bola matanya malas. Pria ini benar-benar tidak tahu diri. Berkali-kali sudah Ivona katakan jika ia tidak tertarik sama sekali pada pria sampah macam Roy, tapi si Roy ini masih saja berpikiran jika Ivona masih menaruh hati padanya.
"Bangunlah dari mimpimu dan lihatlah kenyataan, aku tidak tertarik sama sekali padamu. Berapa kali harus kubilang jika aku sudah memiliki kekasih yang jauh lebih baik dibandingkan denganmu."
Roy tertawa mendengar pernyataan Ivona. Ia masih tidak percaya jika pria tampan yang dilihatnya saat itu adalah kekasih dari wanita yang tergila-gila padanya. Roy mengabaikan pembicaraan Ivona tentang pria tampan yang menjadi kekasih Ivona, ia lebih memilih untuk mengingatkan Ivona tentang masa lalu.
"Kau masih ingat dengan perjanjian kita bukan?" Roy semakin mendekatkan tubuhnya pada Ivona.
Ivona sedikit kaget, lalu otaknya bekerja dengan cepat menemukan memori tentang perjanjian yang disebut si pria sampah. Ia ingat tentang perjanjian itu. Di dalam novel, Roy mengajak Ivona si pemilik tubuh untuk bersepakat. Di mana pria ini akan menikahi Ivona karena ia tahu Ivona si pemilik telah jatuh cinta padanya. Padahal Roy memiliki tujuan lain, yaitu membuat Vaya cemburu dengan hubungannya bersama Ivona.
Roy memanfaatkan cinta tulus Ivona untuk keuntungannya sendiri. Perjanjian yang membuat Ivona yang sekarang merasa jijik dengan kesepakatan itu.
Ivona mendorong tubuh Roy agar menjauh. "Aku bukan lagi Ivona yang tergila-gila padamu. Asal kau tahu saja, sampai kapan pun aku tidak akan sudi jadi pionmu, apa lagi harus menikah denganmu, jadi lupakan soal perjanjian bodohmu itu!" Ivona akan pergi meninggalkan Roy, tapi pria itu justru menahan tangan Ivona.
Mendengar Ivona membatalkan perjanjian secara sepihak, Roy menjadi murka. Bagaimanapun ia ingin selalu memanfaatkan kebodohan Ivona demi mendapatkan keuntungan untuk hubungannya dengan Vaya.
Ivona sama sekali tidak takut melihat kemarahan di wajah Roy, ia justru menyentak tangan Roy yang coba menahannya. "Jangan memasang muka monstermu padaku, karena aku tidak akan takut. Aku bahkan bisa menjadikan mu monster sungguhan jika aku mau!" delik Ivona.
"Dasar sampah!" umpat Ivona sebelum melangkah pergi.
__ADS_1
Ucapan Ivona sangat menyinggungnya, Roy benar-benar marah. Ia kembali menarik Ivona yang akan pergi. Ia bahkan memutar tubuh Ivona agar bisa menghadap dirinya dengan kasar. Tangan Roy terangkat ke atas, ingin menapar mulut gadis yang sangat lancang ini. Namun, tangan itu tertahan saat hampir menyentuh wajah Ivona. Ia melihat seseorang yang telah menghalanginya untuk memberi pelajaran pada Ivona.
"K-kau?" Mata Roy membulat, melihat siapa yang sudah berdiri di hadapannya.