
Ini pertama kalinya Ivona menginjakkan kaki di kantor Alexander. Ia tidak menyangka jika Alexander akan membawanya ke kantor ini hanya untuk mengajarinya membuat pekerjaan rumah.
Padahal ucapannya kemarin hanyalah spontanitas. Tidak ada niatan sama sekali untuk diambil serius oleh Alexander. Namun sekarang, Ivona benar-benar ada di sini, di kantor Alexander untuk mendapatkan bimbingan belajar dari pria itu.
Ivona sampai kehabisan kata-kata, saat menolak ajakan Alexander tadi, karena sungguh ia tidak seserius itu untuk bisa dibimbing oleh Alexander. Kemampuan belajarnya sendiri sudah cukup untuk bisa mengerjakan tugas-tugas sekolah tingkat menengah atas.
"Masuklah," ajak Alexander setelah membuka pintu ruang kerjanya untuk Ivona.
Ivona tersenyum canggung dengan perlakuan Alexander. "Terima kasih," ucapnya malu.
Ivona menatap ke seluruh ruangan, memindai setiap sudutnya. Ruangan yang luas dengan meja kerja yang penuh berkas di atasnya. Ada sofa besar yang biasa untuk menerima tamu.
"Duduklah," suruh Alexander. Seperti yang diminta, Ivona duduk di sofa besar itu.
Alexander sendiri menghampiri meja kerjanya. Entah apa yang ia lakukan, tapi ia terlihat sibuk. Sembari menunggu Alexander, Ivona kembali menatap serius ruangan ini. Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan pintu, yang langsung mendapat sahutan dari Alexander.
"Masuk."
Ternyata seorang office boy. "Ini kopi Anda, Tuan, juga susu dan camilan yang Anda inginkan."
"Letakkan di sana." Alexander menunjuk meja di depan Ivona.
"Apa ada lagi yang Anda butuhkan, Tuan?"
"Tidak, kau boleh pergi," jawab Alexander.
Alexander membawa beberapa berkas juga laptop ke sofa, di mana Ivona duduk. Ia pun duduk di sana, di samping Ivona.
"Keluarkan tugasmu, aku akan membantumu sambil bekerja."
Ivona mengambil bukunya dari dalam tas, dan menunjukkannya pada Alexander. Setelah membaca soal-soal di buku Ivona, Alexander mulai menjelaskan bagaimana cara menjawab soal itu. Ivona memegang pensil di tangan kanannya dan sekotak susu ditangan kirinya.
Ia menyesap susu itu sembari mendengarkan penjelasan Alexander.
__ADS_1
"Bagiamana, apa kau paham?"
Ivona mengangguk dengan mulut yang masih menyesap susu di tangan kirinya.
"Good, kerjakan sekarang, jika ada kesulitan tanyakan lagi padaku. Aku akan mengerjakan pekerjaanku sekarang."
Alexander baru saja akan membuka sebuah berkas, saat mendadak ponselnya bergetar. Ada pesan dari Rico agar Alexander segera mengikuti rapat dewan direksi yang diadakan secara online.
Rico memberi tahu jika rapat ini diadakan secara mendadak tanpa direncanakan.
Alexander segera membuka laptopnya, dan masuk ke dalam rapat melalui link yang sudah diberikan Rico melalui pesan singkatnya tadi.
Ketika Alexander sudah tergabung dalam rapat online tersebut, kamera yang mengarah pada Alexander menangkap juga gambar Ivona.
Para petinggi direksi yang mengikuti rapat, sangat terkejut saat melihat penampakan seorang gadis yang terlihat serius sedang menulis sembari memegang kotak susu. Muncul banyak pertanyaan tentang siapa gadis itu, kenapa bisa ada di ruangan Alexander. Namun, tidak ada satu pun yang berani bertanya, mereka hanya terus mendengarkan dan melihat penjelasan Alexander.
Rupanya, rapat itu tak berlangsung sebentar, sebab saat Ivona sudah menyelesaikan tugasnya pun Alexander masih setia menatap layar laptop di mana rekan-rekannya mendengarkan setiap perkataannya.
Alexander begitu serius dalam memimpin rapat. Suaranya yang tegas dan bijaksana mampu menyihir siapa pun yamg mendengarnya untuk tetap fokus pada dirinya.
Alexander begitu memesona saat sedang memimpin rapat. Kecerdasannya sangat terlihat saat ia berbicara di depan dewan direksi tanpa beban, seolah semua kata yang terucap seperti bait lagu yang ia hafal. Tak satu kata pun Alexander salah mengucapkannya. Ketegasannya membuat ia semakin nampak berwibawa.
Satu hal itu yang membuat Ivona berani menyematkan predikat pria sempurna untuk Alexander.
"Sekian yang bisa saya sampaikan, jika ada pertanyaan atau pun saran, katakan saja," ujar Alex mengakhiri pidatonya dalam rapat dewan direksi.
Ivona sampai tidak sadar, kalau Alexander sudah mengakhiri pidatonya. Kini giliran Alexander menunggu pertanyaan atau masukan dari dewan direksi.
Alexander menoleh pada Ivona, berniat menanyakan apakah tugasnya sudah selesai atau belum. Namun, yang ia dapati justru Ivona yang seolah tak sadar memandanginya.
"Apa aku begitu membuatmu terkesan, sampai-sampai kau tidak berkedip saat menatapku?" goda Alexander.
Ivona berjingkat mendengar suara Alexander tepat dihadapannya.
__ADS_1
"Apa?" Wajah Ivona sudah bersemu merah, padahal ia tidak menggunakan riasan.
"Kau pasti begitu terpesona padaku, hingga menatapku seperti tadi?" Alexander masih saja menggoda Ivona. Melihat rona di pipi Ivona membuatnya tertarik untuk menggoda gadis itu.
Ivona mendelik, tapi Alexander justru tersenyum.
"Aku sangat tampan, bukan?"
"Ish ...." Ivona merotasikan bola matanya, lalu memalingkan wajah dari Alexander. Ia tidak mau Alexander melihatnya mengakui ketampanan pria itu. Tentu saja, Ivona akan menyetujui ketampanan Alexander yang tak terbantahkan.
Alexander kini tertawa, bukan lagi tersenyum seperti sebelumnya.
"Benar, 'kan. Aku yakin kau terpesona dengan wajah tampanku," godanya sekali lagi. Ia seolah lupa jika saat ini ia masih mengikuti rapat dewan direksi. Kamera pun masih menyala dan menyorot pada mereka.
Ivona kesal terus-terusan digoda oleh Alexander. Ia memberanikan diri kembali menatap Alexander dengan wajah semerah tomat. "Apa kau bisa berhenti menggodaku!" ucap Ivona bersungut-sungut.
Alexander seketika berhenti tertawa, tapi beralih menatap lekat gadis di sampingnya. Mata mereka sengaja diadu, Alexander bergeming dan terus menatap Ivona.
"Oh ... Tuhan, apa lagi yang dilakukan pria ini?" jerit batin Ivona. Bahkan tatapannya saja sudah membuat Ivona salah tingkah. Ivona ingin kabur saja dari pria ini, menghilang secara ajaib dari pandangan yang mematikan ini. Sorot mata Alexander benar-benar membuat jiwanya berguncang. Membuatnya ingin lari dan bersembunyi.
Ivona sudah tidak tahan lagi, ia memilih untuk pergi saja dari pria ini. Memutus tali tak kasat mata yang mengikat manik matanya dengan manik si pria tampan. Ia bisa gila kalau terus-terusan berada dalam ikatan Alexander.
Ivona berdiri, ia hendak pergi meninggalkan pria ini. Setidaknya untuk sementara waktu sampai irama jantungnya kembali normal. Namun, baru saja Ivona berdiri, Alexander kembali menariknya untuk duduk. Kali ini, matilah Ivona. Jatuhnya semakin dekat dengan pria itu. Alexander terus mengikatnya dalam sorot mata indahnya, tak ingin melepaskan gadis itu begitu saja.
"Kau mau kemana?"
Tuhan ... bawa Ivona menghilang sekarang juga. Ia sudah tidak tahan lagi dengan tatapan pria ini.
"Kau mau menghindariku?" sambung Alexander.
Irama jantung Ivona semakin kacau. Suaranya tertahan sekadar untuk menjawab 'tidak'.
"Tetaplah di sini, karena kau tidak akan pernah bisa pergi dariku."
__ADS_1
Hari ini, perasaan para petinggi direksi jadi kacau balau. Mereka bukan hanya mengikuti rapat rutin yang biasa mereka lakukan, tapi mereka seolah sedang menonton drama percintaan remaja. Di mana sang gadis merasa malu-malu mengakui perasaannya. Mereka semakin penasaran dari mana gadis ini muncul, dan mempertanyakan sikap Alexander yang tak biasa?