IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.155 Bisa Jadi Gila


__ADS_3

"Aku ingin kita menikah."


Kalimat yang membuat Ivona seakan disambar petir di panasnya terik matahari. Bukan karena terharu karena dilamar dengan cara yang tak terduga, tapi lebih merasa dia akan semakin gila jika terlalu lama berdekatan dengan pria yang masih duduk menatapnya ini.


Fix ... Ivona harus segera pergi dari pria ini.


Menikah!


Dia pikir sebuah pernikahan adalah permainan. Enak saja mengajak orang menikah dengan begitu gampangnya. Sudah bisa dipastikan jika Aldrich Rayder adalah seorang dengan gangguan jiwa, Ivona tidak ingin terlibat jauh dengan orang gila ini. Ia harus segera mengambil langkah agar tidak tertular gila. Ivona langsung melengos, dan pergi begitu saja dari hadapan Aldrich. Meninggalkan pria itu tanpa kata.


"Hei ... kau mau ke mana, kau belum menjawab pertanyaanku!" teriak Aldrich, tapi Ivona tak menggubris sama sekali, Ia terus saja melangkah meninggalkan kedai es krim itu.


Dalam hati Ivona terus-terusan menggerutu. "Setelah kembali ke dunia nyata, kenapa hanya orang gila yang aku temui. Kalau seperti ini bukankah lebih baik tinggal dalam dunia novel."


Ivona tak menoleh lagi, ia benar-benar pergi dari tempat itu. Sementara Aldrich hanya bisa melihat punggung Ivona yang semakin menjauh. Tak percaya jika ia akan diabaikan seperti yang baru saja terjadi.


Pria itu mengembuskan napas kasar sembari menyugar rambut hitam legamnya. Ia pijit pelipisnya untuk mengurangi nyeri di kepalanya yang mulai berdenyut. Aldrich memang kurang beristirahat karena terlalu memikirkan wanita dalam mimpinya. Mungkin sebaiknya ia pulang dan beristirahat untuk merefresh tubuh dan jiwanya.


Baru berniat untuk pergi, mendadak seseorang datang dengan menggebrak meja dan membuat Aldrich berjingkat. "Ibu, apa yang Ibu lakukan di sini? Bukannya sudah pulang?" Aldrich syok melihat kehadiran ibunya yang sekonyong-konyong.


"Aku menunggumu dari tadi, kenapa kau tidak keluar-keluar sementara gadis itu sudah pergi dari tadi. Apa kau gagal mengajaknya menikah?"


"Stttt!" Aldrich meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. "Jangan keras-keras, apa ibu ingin mempermalukanku?"


"Tidak aku permalukan saja kau sudah membuat ayahmu malu!" Helena nampak kesal melihat Aldrich yang gagal.


"Apa hubungannya dengan ayah?" Aldrich terlihat bingung.


"Tentu saja ayahmu akan malu melihatmu, kau sudah diwarisi wajah yang tampan, tubuh yang sempurna, harta yang melimpah, tapi mengajak wanita menikah saja tidak bisa. Bagaimana ayahmu tidak malu, mau ditaruh di mana reputasi ayahmu yang dulu begitu tersohor sebagai penakluk wanita sedangkan putranya bahkan tak mampu membawa satu gadis saja," cibir Helena begitu terus terang.


Bukan Aldrich yang tak bisa menaklukkan wanita, kalau ia mau pastilah akan banyak wanita yang bertekuk lutut hanya untuk ia bawa ke atas ranjang, apa lagi menikah. Sudah barang tentu.akan banyak yang antri untuk menyandang status Nyonya Ryder. Tetapi sejak wanita dalam mimpinya hadir, ia seolah kehilangan selera terhadap wanita. Setiap kali menatap wanita yang siap untuk melayaninya, bayangan wanita bernama Ivona mendadak berkelebat dan mengacaukan semuanya. Sejak itulah, Aldrich tidak ingin lagi dekat dengan wanita mana pun. Tidak juga ingin bermain-main.

__ADS_1


"Oh ... come on, boy. Tunjukkan kalau dirimu seorang Ryder. Bawa menantu untukku," desak Helena.


"Apa kau tidak kasihan pada ibumu yang masih cantik meski sudah tua ini. Kau tidak tahu penderitaan ibumu ini jika malam telah datang. Aku sangat merindukan ayahmu, aku ingin bertemu dengannya dan membawakannya kabar bahagia tentang pernikahanmu." Helena mulai menebar tatapan sendu. Ia mulai memasang ekspresi sedih untuk menarik simpatik sang putra.


Kemampuan akting yang luar biasa mampu membuat mata Helena mengeluarkan air mata palsu dalam sekejap. "Kau harus tahu Aldrich, kau putraku satu-satunya. Harapan penerus kelurga Ryder ada padamu, jangan putuskan harapan Ibu dan ayahmu." Helena kembali mengeluarkan air mata.


"Bu, hentikan semuanya, apa yang ibu lakukan."


"Ibu akan berhenti menangis kalau kau berjanji akan membawa gadis itu sebagai menantu Ibu."


"Bu, gadis itu bahkan tak menanggapiku, bagaimana aku bisa mengajaknya menikah?"


Helena langsung menyusut air matanya. "Kau mau tahu apa yang harus kau lakukan?"


"Apa?"


Helena mulai berbisik pada Aldrich.


"Tentu saja, percayalah pada ibumu ini."


"Ibu, yakin?"


Helena mengangguk mantap. Ia langsung mengusap pipinya yang basah. "Percayalah putraku."


"Kita belum mengenal gadis itu secara mendalam, Bu."


"Semua cerita tentang mimpimu sudah cukup menjawab keyakinan Ibu. Aldrich dia adalah jodohmu, jangan sia-siakan kesempatan ini."


Tadi di kantor, Aldrich sengaja bercerita tentang mimpi yang ia alami selama setahun ke belakang tentang wanita bernama Ivona dan pria yang serupa dengannya. Juga tentang Ivona yang kembali dari tidur panjangnya. Helena yang percaya dengan reinkarnasi atau kelahiran kembali menganggap mimpi putranya adalah sebuah pertanda jika mereka berdua saat ini adalah representasi dari kisah cinta yang belum usai. Sebab itulah, Helena ingin putranya itu mewujudkan cinta yang sempat terputus itu dengan menyatukannya dalam pernikahan.


"Ibu jamin, setelah kalian menikah mimpi itu tak akan datang lagi padamu."

__ADS_1


"Apa benar begitu?"


"Hemm." Helena mengangguk.


"Tapi, bagaimana kami akan menikah sementara kami tidak saling suka, apa lagi saling cinta." Tentu Aldrich harus memikirkannya mulai dari sekarang.


"Kau jangan khawatirkan cinta yang sebenarnya sudah ada dalam hati kalian masing-masing."


Aldrich nampak memikirkan setiap ucapan ibunya. Meski ia sendiri bukan orang yang sepemikiran dengan ibunya yang percaya akan hal-hal yang bersifat takhayul, tapi ia tak pernah menyalahkan ibunya. Ia hanya bisa bertoleransi menghargainya apa yang ibunya yakini.


Ia pun berdiri setelah melewati banyak berbagai pemikiran.


"Kau mau ke mana?" sergah Helena menatap tajam putranya.


"Aku rasa aku mulai gila, Bu atau mungkin aku akan gila jika memikirkan hal yang berkaitan dengan nama Ivona itu." Aldrich kemudian berlalu pergi.


"Al ...." Helena berteriak memanggil putranya tapi tak diacuhkan.


Aldrich berjalan menuju kantornya kembali, tapi ia tidak masuk ke kantor itu. Pria memilih menunggu sampai jam pulang kantor selesai. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 petang dan Ivona belum juga keluar kantor. Aldrich masih setia menunggu wanita itu keluar. Hingga malam hari saat kantor sudah sepi, Ivona baru menampakkan batang hidungnya keluar dari gedung HT.


Kini Aldrich semakin bertambah lelah. Ia semakin tak sabar untuk melancarkan aksinya. Ketika Ivona baru keluar dari loby, pria ini langsung mencegatnya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Ivona kaget ketika mendadak Aldrich menghalangi langkahnya.


"Menikahlah denganku," ujar Aldrich lagi.


Ivona sampai geleng-geleng kepala menghadapi pria ini. Ia mengulas senyum sinis menatap Aldrich. "Menyingkirlah dari jalanku dan jangan coba-coba untuk mengajakku menikah. Karena aku tidak sudi."


Ivona menggeser tubuh Aldrich dan berlalu dari hadapan pria itu begitu saja. Melihat sikap angkuh Ivona, Aldrich semakin tidak sabar untuk segera menyelesaikan urusannya dengan Ivona.


Langkah Ivona yang belum jauh terhenti ketika mendadak kesadarannya menghilang. Dengan sigap, Aldrich langsung menangkap tubuh Ivona yang luruh.

__ADS_1


__ADS_2