
Ivona berjalan ke arah altar digandeng oleh sang Ayah. Ia melirik sekilas pada Tuan Iswara, seakan ini adalah mimpi. Ia bisa diantarkan oleh sang ayah menuju altar pernikahan. Di depan sana sudah ada Alexander, pria yang ia cintai. Hari ini akan jadi hari bersejarah dalam hidupnya karena ia akan mengucap ikrar sehidup semati dengan sang kekasih.
"Kau gugup?" Tuan Iswara menepuk punggung tangan Ivona yang terasa dingin.
Ivona mengangguk. Ia memang sangat gugup, akhirnya kehidupan ini yang harus ia jalani, terus berada dalam dunia novel bersama orang yang ia cintai.
"Tenanglah, semua pengantin pasti gugup, karena kau akan menempuh kehidupan yang baru. Kau akan mengarungi bahtera baru dengan nahkoda yang kau pilih. Satu hal yang harus kau ingat, jadilah pendamping yang akan selalu mendukung Nahkodamu kelak dalam tenangnya ombak ataupun badai. Jadilah kompas yang akan mengingatkan ketika Nahkodamu mulai hilang arah, bawa ia kembali ke jalan ke mana bahtera kalian akan dilabuhkan."
Ivona kembali melirik Tuan Iswara yang mulai berkaca-kaca, tapi ada rasa bahagia dalam hatinya. Meski ia bukan pemilik tubuh asli, ia bisa merasakan betapa tulus semua kalimat yang baru saja terucap dari bibir sang Ayah.
"Maafkan Ayah jika belum bisa menjadi ayah terbaik untukmu." Tak disangka mata yang sebelumnya berkaca-kaca kini mulai tak terbendung, air bening itu pun lolos dari sudut mata pria setengah baya itu.
"Ayah." Ivona menoleh karena menyadari ayahnya menangis.
Tuan Iswara menepuk punggung tangan sang putri. "Selalu berbahagialah."
Ivona berusaha mengulas senyum di bibirnya meski sekarang ia pun tak bisa lagi menyembunyikan keharuan akan sikap dan kata-kata sang Ayah. Pemberkatan bahkan belum dimulai, tapi Ivona sudah mengeluarkan air mata.
Sampailah Ivona di depan altar, Tuan Iswara menyerahkan Ivona pada Alexander. Ivona menyambut uluran tangan mempelai pria yang membawanya ke hadapan pendeta. Sebelum itu ia berucap pada sang Ayah, "Terima kasih, telah mengantarku pada kehidupan baru."
Tuan Iswara menyambut hangat ucapan putri semata wayangnya dengan senyum keharuan.
Altar pernikahan mereka dihias dengan indahnya. Setting di pinggir kolam renang menambah keromantisan dekorasi altar.
Semua yang hadir menyaksikan bagaimana Alexander dan Ivona akan mengambil sumpah pernikahan mereka. Semua hening menyaksikan dan mendengarkan Alexander mengucap ikrar pernikahan di hadapan pendeta.
"Ivona Carminda, aku, Alexander Alberic mengambil engkau menjadi seorang istri bagiku untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang sangat tulus," ujar Alexander di hadapan pendeta dan seluruh hadirin.
Ivona sampai tak bisa berkata-kata mendengar ikrar yang terucap dari bibir kekasihnya.
Pendeta kemudian mempersilakan Ivona untuk mengucapkan ikrar yang sama sebagai seorang istri.
"Alexander Alberic, aku, Ivona Carminda mengambil engkau menjadi seorang ______"
"Ivonaaaa!"
__ADS_1
Belum selesai ikrar pernikahan yang diucapkan Ivona, suara letupan dari senjata api mengarah pada mempelai wanita itu. Tepat di dada sebelah kiri, menembus jantung sang mempelai.
Semua yang hadir seketika panik, suasana jadi riuh tak terkendali. Tuan Iswara, Thomas, Tommy dan Rio melihat ke arah di mana peluru itu ditembakkan. Terlihat Vaya memegang sebuah senjata. Mata mereka terbelalak, tercengang dengan kehadiran Vaya.
"Vaya?" lirih Thomas. Kakak Ivona itu langsung berlari ke arah wanita yang telah berani menembak adik kandungnya.
Vaya berusaha melepaskan kembali tembakan kedua tapi kalah cepat dengan Alexander yang langsung merampas senjata dari anak buahnya yang langsung siaga ketika terdengar suara tembakan. Tanpa ampun, Alexander memberondong tubuh Vaya dengan semua peluru yang ada dalam senjatanya.
Ivona yang menahan sakit di dadanya terhuyung kebelakang dan jatuh ke dalam kolam. Perlahan tubuhnya tenggelam.
"Ivona, aku sudah mengubah banyak alur dalam cerita hidupmu, tapi maafkan aku jika aku tidak bisa mengubah akhir dari kisahmu. Maafkan aku jika pada akhirnya kau harus mati dengan cara yang mengenaskan sesuai akhir dari kisahmu dalam novel," ucap Ivona pada Ivona, si pemilik tubuh.
Sebelum Ivona menutup mata, Ia melihat sosok Alexander yang berusaha menolongnya. Pria itu langsung terjun ke dalam kolam setelah membalas apa yang Vaya lakukan pada pengantinnya.
Alexander meraih tubuh Ivona yang semakin tenggelam. "Ivona, bertahanlah. Aku akan menyelamatkanmu," ujar batin Alexander. Ia membawa Ivona dalam dekapannya.
"Bertahanlah, Ivona. Aku mencintaimu!" pekik Alexander dalam hatinya.
Seakan tahu isi hati Alexander, Ivona menjawab dalam hati. "Aku juga mencintaimu, Alexander." Tangan Ivona meraih pipi sang kekasih untuk terakhir kalinya, ia mengusap lembut di sana sebelum akhirnya menutup mata.
Semua tamu yang tadinya khidmat menyaksikan pernikahan Alexander dan Ivona sudah mulai tak terkendali, semua sibuk menyelamatkan diri. Dari semua huru hara yang terjadi, Tuan Iswara baru menyadari jika istrinya itu tidak ada. Ia pun turut bingung mencari sang istri.
"Rio, bantu Ayah mencari Ibumu. Ayah takut terjadi sesuatu padanya. Biarkan Tommy dan Thomas yang mengurus Ivona lebih dulu, kita juga harus menyelamatkan ibumu."
Rio pun bergegas mencari Nyonya Iswara. Ia juga meminta bantuan anak buah Alexander untuk membantunya.
Setelah cukup lama mencari, seorang anak buah Alexander berteriak, "Tuan kami menemukan seorang wanita di gudang alat kebersihan."
Rio dan Tuan Iswara segera berlari untuk memastikan. Benar saja wanita yang tergeletak dengan luka tembak di kaki dan bahunya itu adalah Nyonya Iswara.
"Ibu," teriak Rio, yang langsung membawa tubuh ibunya ke pangkuannya.
Nyonya Iswara belum meninggal rupanya. Nyonya Iswara yang sempat tak sadarkan diri, perlahan membuka mata ketika mendengar suara putra pertamanya. "Ri-Rio, se-selamatkan ... I-Ivona."
Nyonya Iswara mengingat bagaimana tadi pertengkarannya dengan Vaya terjadi.
__ADS_1
Vaya meletakkan senjata di tangannya dengan permintaan yang ditentang oleh hati nuraninya.
"Ayo, Ma. Lakukan!" pinta Vaya.
"Sayang, Mama akan melakukan apa pun yang kau minta untuk menebus kesalahan Mama padamu, tapi tidak dengan membunuh Ivona," terang Nyonya Iswara.
"Kenapa, apa Mama sudah mulai memilihnya?" sentak Vaya.
"Vaya, Ivona juga anak Mama, sama sepertimu, Nak."
"Tidak, aku dan Ivona berbeda. Kau pasti akan memilihnya karena dia putri kandungmu, bukan?" Vaya masih berteriak.
"Vaya, tidak seperti itu. Bagiku kau adalah putriku, aku tak pernah menganggapmu orang lain, kau seperti putri kandungku sendiri." Nyonya Iswara mulai terisak.
"Kalau kau menganggapku demikian, sekarang singkirkan Ivona. Aku ingin hanya aku yang menjadi putrimu."
"Vaya ... maafkan Mama, Sayang. Mama tidak bisa kalau harus membunuh Ivona, Mama menyayangi Ivona seperti Mama menyayangimu, Sayang." Nyonya Iswara menggeleng keras, menolak permintaan Vaya.
Vaya lelah bicara pada wanita ini. Sampai kapan pun pembicaraan ini tak akan pernah berhasil. Vaya menatap marah pada wanita yang telah membesarkannya itu. Ia mengambil kembali senjata di tangan Nyonya Iswara.
"Baiklah, kalau kau tidak tega, biar aku saja yang berkerja. Aku akan menghabisi gadis gila itu sekarang juga!" Vaya berdiri hendak meninggalkan Nyonya Iswara.
"Vaya, jangan, Sayang. Jangan lakukan apa pun pada Ivona," mohon Nyonya Iswara yang ikut berdiri mencegah kepergian Vaya.
"Minggir!" Vaya menghempaskan tubuh Nyonya Iswara dengan kasar.
"Vaya jangan." Nyonya Iswara tetap berusaha mencegah. Kali ini ia memegangi kaki Vaya agar tidak pergi. "Vaya, Mama mohon hentikan semuanya, Sayang."
"Aku bilang minggir!" Vaya menendang Nyonya Iswara agar menjauh dari kakinya. Wanita paruh baya itu kembali akan menahan Vaya, tapi anak yang sudah ia rawat itu lebih dulu menembaknya.
Nyonya Iswara berhenti seketika, ia tersungkur karena peluru yang menembus bahunya. Tak hanya itu, untuk membuat Nyonya Iswara tak bisa ke mana-mana, Vaya menembak dua kaki ibunya. Nyonya Iswara memekik kesakitan, tapi tak ada orang yang mendengarnya. Dalam rintihannya ia hanya bisa berdoa, untuk Ivona.
Ia merasa sedih ketika ia melihat Vaya membuka topengnya dan membuangnya asal, tampang bengis tergambar di wajah yang dulu selalu ia puji kecantikannya. Nyonya Iswara ingin berteriak tapi suaranya tak mampu keluar, ia masih ingin berusaha mencegah kepergian Vaya. Namun apalah daya jika tubuhnya semakin lemah, hingga ia jatuh tak sadar.
"Bu, jangan banyak bicara dulu," cegah Rio yang ingin menyelamatkan ibunya. Ia segera menggendong Nyonya Iswara ke rumah sakit menyusul Ivona.
__ADS_1