
"Bagaimana bisa kau membiarkan itu terjadi, sebagai wakil direktur harusnya kau bergerak lebih cepat dari Marcus, tapi sekarang justru Marcus yang lebih dulu menemukan anak berbakat seperti anak itu. Lalu apa kerjamu selama ini?" serunya pada wakil direktur.
"Tuan, semua bisa saya jelaskan. Saya sudah _____"
Belum selesai wakil direktur berbicara tentang dirinya yang sudah berhasil menghubungi Ivona, Greyson sudah memutuskan panggilannya secara sepihak. Wakil direktur itu hanya bisa membuang napas kasar, hari ini cukup membuatnya lelah. Menghadapi dua orang penting dalam satu hari cukup untuk membuat dirinya senam jantung.
Di tempat lain, Greyson yang sudah terbawa emosi karena kabar tentang anak berbakat dan Marcus, dengan tidak sabar langsung menghubungi rivalnya itu. Ia ingin tahu, bagaimana bisa Marcus menjebak anak berbakat dari negaranya untuk diajak bergabung dalam tim Marcus. Namun, setelah beberapa kali mencoba panggilannya tak kunjung juga dijawab. Greyson semakin bertambah marah pada Marcus—si junior yang sok sibuk.
Di tempat yang berbeda, Marcus baru saja menyelesaikan pekerjaannya. "Ah ... akhirnya selesai juga." Marcus mengangkat tangannya ke atas sekadar untuk merenggangkan otot-ototnya yang kaku.
Ia segera menghampiri meja di mana ia meletakkan ponselnya. Marcus tidak menyangka jika ada puluhan panggilan tak terjawab dari rivalnya—Greyson. Tadinya mau diabaikan saja— jika Greyson tidak meneleponnya kembali—tentu ia tidak sudi jika harus menghubungi pria sombong itu terlebih dahulu. Hanya karena pria bernama Greyson itu lebih senior darinya, bukan berarti pria itu bisa seenaknya saja pada junior seperti dirinya.
Marcus ingat betul, sikap Greyson yang pernah meremehkan dan merendahkannya hanya karena usianya yang masih muda saat dulu ia mengikuti sebuah kompetisi di negara pria tua itu. Kini, Marcus bisa menunjukkan pada dunia jika ia layak dan tidak bisa dianggap remeh dalam dunia komputasi. Kemampuannya pun bisa diadu dengan Greyson, yang selalu bangga dengan gelar seniornya.
Marcus meninggalkan ponselnya begitu saja dan berlalu untuk membuat secangkir kopi. Sekembalinya dari pantry, Marcus kembali terheran dengan adanya panggilan tidak terjawab yang berasal dari nomor yang sama seperti sebelumnya—nomor Greyson.
Awalnya, masih ingin mengabaikan panggilan itu, tapi saat dering panggilan itu kembali mengusiknya, akhirnya diangkat juga oleh Marcus. "Halo," sapa Marcus malas.
"Kenapa baru kau angkat teleponku, apa sekarang kau sedang berpura-pura sibuk?" ucapan Greyson langsung membuat Marcus menyesal telah mengangkat panggilan pria itu.
__ADS_1
"Sebenarnya, apa mau mu, hah?" Seru Greyson. "Apa tujuanmu merekrut orang dari negaraku untuk kau ajak bergabung dalam institusi mu. Apakah ini tentang perang teknologi yang dulu kau utarakan, itukah alasanmu merebut orang berbakat dari negaraku. Kau ingin orang yang mengalahkan kami adalah orang-orang kami sendiri, begitu?" sambung Greyson.
Emosi Greyson kembali naik, saat membayangkan jika orang yang akan menghancurkan masa depan negaranya adalah penduduk pribumi yang sudah diracuni otaknya oleh Marcus. Setidaknya begitulah pikiran buruk yang tertanam dalam otak pria tua itu.
"Kurasa kau telah salah paham Tuan Greyson," ujar Marcus sopan. Ia masih menjaga norma kesopanan pada pria tua yang menghubunginya.
"Aku tidak punya maksud merebut Ivona dari negaramu. Aku hanya menawarinya pekerjaan karena gadis itu memiliki potensi dalam bidang komputasi. Akan sangat disayangkan jika orang berbakat seperti Ivona tidak diajak untuk bekerja sama. Terlebih gadis itu punya potensi yang sangat besar bagi dunia komputasi."
"Hah, benarkah demikian. Aku yakin kau bukan pria yang sebaik itu. Kau adalah pria dengan ambisi akan teknologi," sindir Greyson.
"Semua terserah pada penilaian Anda, Tuan Greyson. Sebab yang terpenting bagi saya, adalah tidak menyia-nyiakan bakat luar biasa dari seseorang, dan saya menemukan bakat itu ada dalam diri Ivona, yang kebetulan berasal dari negara Anda. Tapi, yang harus Anda ingat, saya bukanlah pencipta monster perusak. Saya memang berambisi pada teknologi, tapi semua itu demi kemajuan zaman," jelas Marcus.
"Ya, gadis berbakat itu bernama Ivona. Dia adalah aset berharga bagi kemajuan ilmu komputasi."
Greyson mulai memikirkan kata-kata Marcus, kini ia juga lebih tenang, tidak seemosi sebelumnya. Nampaknya Marcus begitu mengenal orang berbakat yang tadi mereka perdebatkan. "Baiklah, aku percaya padamu, jika kau tidak punya niat buruk pada negaraku, karena itu aku ingin kau mengenalkan aku pada orang itu," pinta Greyson.
Masih di tempat kerjanya, Marcus menyeringai dingin dengan permintaan Greyson. Ia berdecih menanggapi apa yang Greyson minta padanya.
Sejak tadi ia bersikap baik pada Greyson dan ditanggapi pria itu dengan kecurigaan, sekarang dengan entengnya dia minta diperkenalkan pada Ivona. Marcus tidak sudi. Ia lebih memilih untuk memutuskan sambungan telepon secara sepihak dari pada harus menanggapi Greyson.
__ADS_1
"Halo, Marcus," teriak Greyson saat permintaannya ditanggapi dengan putusnya saluran telepon. "Marcus ...!"
"Anak sialan! Dia mematikan panggilanku," gerutu Greyson menatap ponselnya.
Greyson langsung mencari cara lain agar bisa menemukan anak itu sendiri. Ia berpikir keras agar bisa mencari tahu dan bertemu dengan anak bernama Ivona itu. Tiba-tiba ia teringat dengan kata wakil direktur soal anak yang menjadi tranding topik itu. Bukankah dia diberitakan menjadi anak haram keluarga Iswara.
Sebuah pemikiran pun muncul dalam otaknya, dia akan bisa menemukan anak bernama Ivona jika menghubungi keluarga Iswara. Ia langsung tersenyum, mengingat kecerdasannya sendiri. Meski usianya tak lagi muda, tapi kecerdasannya masih mumpuni seperti dulu.
"Greyson White, senior dalam dunia komputasi," gumam Greyson memuji diri sendiri. Kemudian kembali tertawa, ia mengambil sebotol whisky dan menuangkannya ke dalam sloki, meneguknya untuk mengapresiasi dirinya dengan kecerdasannya.
"Kau memang jenius, Grey. Kau akan selalu dihormati karena kejeniusanmu." Greyson kembali tertawa seorang diri.
________________
Hari Senin kembali menyapa, masih sangat pagi saat Ivona baru sampai di sekolah. Ia berjalan melewati koridor-koridor yang panjang dengan pemandangan tatapan-tatapan sinis yang selalu terarah padanya sejak pertama kali ia masuk ke G-school. Ivona sendiri sampai heran, apakah mereka semua tidak bosan menatap Ivona dengan tatapan yang sama setiap waktunya. Ivona yang melihat saja sudah sangat muak dengan sorot mata merendahkan yang selalu dihadiahkan kepadanya.
Belum lagi gunjingan-gunjingan tentang dirinya, kedua hal itu seolah jadi makanan sehari-hari Ivona di G-school. Seperti hari ini, Ivona melihat beberapa siswa yang tengah bergerombol dan berbisik tentangnya.
Ivona mendengar, tapi ia tetap melanjutkan langkah menuju kelas G. Ia abaikan gunjingan-gunjingan orang tentang dirinya.
__ADS_1