IVONA: 1Nama 2Dunia

IVONA: 1Nama 2Dunia
Bab.27 Bagian dari Keluarga


__ADS_3

Ivona semakin curiga dengan William yang terus menatapnya seolah tanpa kedip.


"Kenapa kau tidak mengenakan satu aksesoris pun, bukankah para gadis menyukainya?" tanya William.


Ivona terperangah, ia bingung akan maksud dari William membicarakan aksesoris dengannya. Lagi pula, apa urusannya jika Ivona memakai aksesoris atau tidak, apa hal itu jadi masalah untuknya?


"Aku melihat Vaya dan semua gadis di sekolah ini memakai berbagai aksesoris seperti anting, gelang, atau pun jam tangan, tapi kau begitu polos tanpa satu aksesoris pun," ucap William selanjutnya.


Ivona baru mengerti arti kata polos yang dimaksud William. Ia bernapas lega, ternyata William hanya memikirkan tentang hal yang tidak penting bagi Ivona, dan kekhawatirannya soal William yang mendengar percakapannya dengan Marcus tidak terbukti. Rasanya cukup untuk menyudahi pembicaraan yang tidak ada nilainya ini, Ivona akan pergi dari tempat itu.


Namun, suara William menghentikannya. "Untuk apa kau bekerja paruh waktu?"


Seketika Ivona mengurungkan niatnya, langkahnya terhenti saat kekhawatirannya benar-benar terjadi. William mendengar apa yang tadi ia bicarakan dengan Marcus.


Ivona menoleh pada William yang terlihat bingung. "Apa yang kau dengar?" tanya Ivona dingin.


William merasa aneh dengan reaksi Ivona yang menurutnya berlebihan. Ia hanya mengetahui Ivona yang ingin bekerja paruh waktu, dan sejujurnya itu bukanlah hal yang aneh di negara ini jika seorang pelajar ingin bekerja paruh waktu.


William hanya merasa bingung, mengingat Ivona tinggal di rumah keluarga Iswara, bagaimana mungkin keluarga tersebut membiarkan Ivona bekerja paruh waktu.


"Tidak ada, aku hanya ingin tahu kenapa kau harus bekerja paruh waktu sementara keluarga Iswara mampu membiayai semua kebutuhanmu," jawab William.


"Apa itu menjadi urusanmu?" tanya Ivona sinis.


William tersenyum menanggapi sikap dingin Ivona. "Tentu saja bukan. Aku hanya ingin memberimu satu nasehat, jangan lupa belajar," jawab William tenang.


"Tidak ada yang perlu dipelajari." Selesai berucap, Ivona langsung pergi begitu saja.


Sikap dingin dan misterius Ivona, membuat William sangat penasaran. Siapa gadis itu sebenarnya. Walaupun kabar yang beredar mengatakan bahwa Ivona adalah saudara jauh keluarga Iswara, tapi yang ia lihat hubungan mereka lebih rumit dari yang sebenarnya.


Terlebih saat melihat sikap Vaya dan Ivona yang sungguh jauh berbeda. Tidak mencerminkan sama sekali jika Ivona dan Vaya benar-benar bersaudara.

__ADS_1


_____________________


Malam hari di kediaman keluarga Iswara.


Ivona baru saja tiba di rumah, saat ia melihat sepasang ibu dan anak yang sedang bermain piano dengan akrab. Pemilik tubuh sering melihat adegan seperti ini. Hal yang selalu membuat pemilik tubuh iri, tapi tak berani menyuarakan isi hatinya. Vaya dengan mulut manisnya telah membuat Ivona—si pemilik tubuh—tersisih dari cinta dan perhatian keluarganya. Di rumah ini, Ivona benar-benar sendiri.


Tak ingin meratapi nasibnya yang tak dianggap, dan membuatnya semakin sakit hati, akan lebih baik jika ia tak melihat semuanya. Ia putuskan untuk langsung ke kamar.


Saat ia baru melangkah, Thomas yang sedari tadi menunggunya dengan khawatir langsung memanggilnya. "Ivona," seru Thomas.


Seruan Thomas membuat sepasang ibu dan anak itu menyadari kehadiran Ivona. Keduanya spontan menatap ke arah masuknya Ivona. Vaya yang melihat tatapan yang ditujukan untuk Ivona, langsung menggunakan tangannya yang terluka untuk menarik kembali perhatian Nyonya Iswara.


"Awww," pekik Vaya tiba-tiba.


Nyonya Iswara langsung berbalik memperhatikan Vaya. "Kenapa, Sayang?" tanya Nyonya Iswara dengan penuh perhatian.


"Tanganku." Vaya memegangi tangannya yang terluka.


Vaya mengangguk pelan.


Nyonya Iswara meraih tangan Vaya yang sakit, lalu mengusapnya dengan lembut layaknya seorang ibu yang memenangkan putrinya yang terluka. Dari tempatnya berdiri saat ini, Ivona hanya bisa menatap masygul pertunjukan yang selalu membuat hatinya terkoyak. Ibu kandungnya lebih perhatian dan menyayangi orang luar dari pada dirinya yang merupakan anak kandung.


Tuan Iswara yang duduk di dekat Thomas melihat suasana yang canggung di ruangan ini. Ia pun berucap untuk mencairkan suasana. "Ivona, dari mana saja kau?" tanya Tuan Iswara.


"Ada sedikit urusan," jawab Ivona lugas.


"Apa kau pergi berbelanja, atau pergi merawat diri?" tanya Tuan Iswara lagi.


"Tapi, kau terlihat cantik meskipun tanpa riasan, Sayang," puji Tuan Iswara untuk menyenangkan Ivona.


Ivona diam tak menanggapi. Ia tahu semua kata-kata itu hanya basa-basi belaka, karena faktanya semua perhatian keluarga ini hanya tertuju pada Vaya.

__ADS_1


"Permisi, Tuan. Semua makan malamnya sudah siap," lapor seorang pelayan.


"Baiklah, ayo kita makan dulu," ajak Tuan Iswara pada semuanya.


"Ivona, kau juga harus makan," ajak Tuan Iswara secara khusus.


Ivona sudah kehilangan selera makannya sejak masuk dan melihat pertunjukan ibu dan anak tadi. Sebab itu ia membuat alasan.


"Kalian duluan saja, aku akan meletakkan tasku di kamar," jawab Ivona.


"Baiklah, jangan lama-lama, ya. Kau harus segera turun untuk bergabung dengan kami," pesan Tuan Iswara.


Ivona mengangguk malas. Ia benar-benar tak ingin berada di antara orang-orang yang hanya berpura-pura padanya. Ivona langsung pergi ke kamarnya dan meninggalkan mereka.


Tuan dan Nyonya Iswara, serta kedua anaknya beranjak menuju meja makan. Untuk sesaat suasana berubah sunyi, mereka hanya fokus pada piring di hadapannya dengan pikiran masing-masing.


"Ayah," panggil Vaya untuk mengalihkan pikiran Tuan Iswara.


Tuan Iswara mendongak demi melihat Vaya.


"Tadi di sekolah aku mendapatkan peringkat dua. Ayah akan datang 'kan, di acara pertemuan orang tua. Aku akan mendapatkan penghargaan," ujar Vaya bersemangat.


"Tentu saja," jawab Tuan Iswara. Bagaimana pun juga, meski mengetahui jika Vaya bukanlah putri kandungnya, Tuan Iswara tetap sangat menyayangi Vaya. Hal itu ia tunjukkan dengan tidak merubah sedikit pun perhatiannya pada Vaya.


Suasana mulai mencair, Tuan dan Nyonya Iswara terlibat obrolan yang menarik dengan Vaya. Tentu saja obrolan itu masih seputar prestasi Vaya yang membanggakan keluarga. Sedangkan Thomas, ia memilih untuk tidak mengatakan apapun sedari tadi. Suasana hatinya terlihat tidak begitu baik. Thomas masih memikirkan sikap Ivona tadi, yang membuatnya merasa tidak nyaman. Ia berpikir apakah Ivona menganggap jika dirinya hanyalah orang luar dan bukan bagian dari keluarga ini, sebab sampai saat ini Ivona belum juga turun dari kamar.


Nyonya Iswara yang menyadari putranya tengah gusar memikirkan sesuatu menyuruh Thomas untuk segera makan. "Makanlah Thomas, apa yang kau tunggu," ucap Nyonya Iswara.


"Aku akan menunggu Ivona dulu, bagaimanapun dia adalah bagian dari keluarga ini jadi kita harus menunggunya untuk makan bersama," jawab Thomas.


Tuan dan Nyonya Iswara sontak menatap Thomas, mereka seolah diingatkan jika Ivona adalah putri mereka juga. Bagian dari keluarga Iswara.

__ADS_1


__ADS_2